WHY

WHY
Sniper


__ADS_3

Bulan yang sedang duduk bersama Bintang di balkon kamar pun langsung berlari begitu mendapati mobil sang kakak yang memasuki pekarangan rumah.


Dirga tersenyum lebar saat wujud sang adik mendekat. Tangannya terangkat mengusak kepala Bulan.


"Bulan lo ngapain anj-" Bintang menatap kaget seorang lelaki tampan yang merangkul Bulan.


Oh, apakah dia keduluan?


Bulan menarik Bintang mendekat. "Ini yang gue bilang kakak baru."


Bintang tercekat. "Gue kalah ganteng anjir."


Dirga mengulurkan tangannya yang langsung dibalas oleh Bintang.


"Dirga."


"Gue Bintang."


"Oh ya Bintang, terima kasih ya." Bintang ngebug di tempat. Perasaan mereka baru kenalan 20 detik yang lalu.


Dirga terkekeh melihat raut kebingungan Bintang. Tangannya refleks terangkat mengacak surai hitam teman adiknya itu.


"Muka lo memeable banget," Bulan tertawa membuat Bintang kembali sadar dari lamunannya.


Bintang memaksakan senyumnya. "Muka ganteng gini dibilang memeable."


Dirga tertawa. "Kakak mau masuk, adek mau ikut atau lanjut main sama Bintang?"


"Lo masuk aja Lan. Jangan lupa makan."


Bulan mengangguk. "Lo juga, minum obatnya jangan lupa."


Setelah itu ketiganya berpisah masuk ke rumah masing-masing.


"Adek,"


"Emm?"


Dirga memeluk Bulan. "Adek gak sendirian. Kakak, Arghi, dan Bintang selalu sama adek. Maaf kakak gak nemenin adek semalem."


Bulan tersenyum lalu membalas pelukan Dirga tak kalah erat. "Adek sayang kakak."


"Kakak lebih sayang sama adek."


...~~~...


"Itu parah Ar, harus segera ditangani atau alam bawah sadar Bulan bisa melakukan hal yang lebih dari itu."


"Bawa ke dokter aja, tante ada temen yang lebih ahli lagi soal ini."


Arghi menggeleng lemas. "Adek gak mau tante, dan aku gak mau maksa dia. Sama aku atau Bintang aja adek gak pernah bilang apa-apa. Apalagi sama dokter yang posisinya bukan siapa-siapa."


Arina menghela nafas panjang. Ini persoalan yang cukup rumit. Seseorang yang melakukan self harm tidak boleh dipaksa terlalu keras atau dia akan hilang kendali.


"Kalo gitu yang bisa kita lakukan hanya terus ada di samping dia. Jangan sampe Bulan sendirian. Ajak Bulan jalan-jalan atau main biar pikirannya gak kosong. Dan jangan sampai biarin dia melamun."


Arina mengelus bahu Arghi. "Jangan terlalu dipikirkan, itu gak baik untuk kesehatan kamu. Tante yakin, dengan kalian terus temenin Bulan, dia gak akan melakukan itu lagi. Kamu harus ingat kalau Bulan itu kuat. Buktinya dia masih bisa bertahan sampai sekarang."


"Tapi kalau terjadi lagi?"


Arina memeluk Arghi untuk memberikan kekuatan. Dia tahu kekhawatiran Arghi begitu besar, apalagi mengenai adiknya.


"Kamu gak perlu mikir kayak gitu. Itu hanya akan membuat kamu larut dalam ketakutan. Pikirkan hal yang positif saja."


Arina melepaskan pelukannya. Menatap Arghi dalam.

__ADS_1


"Tanam ke diri kamu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bulan anak yang kuat."


Arghi mengangguk pelan.


"Oh iya tan, jadwal cuci darah Bintang kapan?"


"Sekarang."


"Sekarang? Malem?"


"Iya, dia sendiri yang minta. Katanya dia sibuk kalo siang."


Arghi tertawa geli. "Sibuk nemenin adek dia."


"Oh iya, ngomong-ngomong... Bulan sama Bintang pacaran ya?" Tanya Arina penasaran.


Arghi kembali tertawa. "Nggak."


"Yahh, padahal mereka cocok loh. Cemystrinya itu dapet walaupun mereka sering berantem." Arina mendesah kecewa.


"Bintang suka sama adek, tapi adeknya aku gak tau. Gak pernah bilang apa-apa."


"Ya kamu tanyain sana."


"Gak mau ah. Biar Bintang sendiri aja yang tanya."


"Gila lo," keduanya menoleh ke asal suara.


"Cowok kok cemen," cibir Arghi.


"Bukan cemen kok. Gue cuma gak mau Bulan dewasa terlalu cepat." Bintang menjawab dengan wajah lempeng.


"Iyain aja biar cepet."


"Bintang, mau langsung mulai?"


"Cuci darah ini sakit gak dok?" Tanya Arghi. 


"Semua pengobatan untuk penyakit berat pasti ada efek sampingnya. Dan untuk meredakan efek tersebut, pasien harus istirahat." Jawab Arina dengan penekanan di akhir kalimatnya.


Arghi tertawa mendengar sindiran Arina. Sedangkan Bintang tersenyum kaku dan dengan sigap membaringkan tubuhnya. 


Kabel-kabel itu mulai masuk ke dalam tubuh Bintang. Ruangan pun seketika hening. Arghi sendiri menatap Bintang dengan tatapan tenang. Namun hatinya berkata lain. Rasa takut itu ada. Entah apa yang dia takutkan.


195 menit kemudian pengobatan selesai. Arina melepaskan selang yang menancap di pergelangan tangan Bintang. Menatap Bintang yang sedari tadi bungkam tanpa sepatah kata pun terucap.


"Istirahat ya, dokter keluar dulu." Arina mengusap lengan Bintang pelan lalu keluar dari ruangan setelah melempar senyum ke arah Arghi.


"Kalo ada yang sakit langsung bilang, jangan diem aja." Bintang mengangguk pelan merespon ucapan Arghi. Mengarahkan kepalanya ke jendela yang menampakkan suasana gelap. Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Bintang. Dia tengah menghalau rasa mual yang perlahan menggerogoti perutnya. Sungkan memberitahu Arghi melihat wajah lelah sang sahabat yang sangat kentara. Dan sekarang dia hanya bisa membisu. Ingin tidur pun dia tidak tenang. Seperti ada yang mengganjal. Bahkan Bintang merasakan hawa yang tidak enak selepas Arghi tertidur ayam..


Tok tok


Bintang menggeser kepalanya ke arah jendela. Mendudukkan tubuhnya saat tidak ada siapa-siapa di sana. Dan lagi tempat yang Bintang tempati sekarang berada di lantai 18.


PRANG


DOR


DOR


KLONTANG


Semua terjadi begitu cepat. Bintang menatap cengo Bulan yang berdiri di samping brankar dengan kursi di tangan sebagai temeng, menghalangi sesuatu yang mengarah ke tubuh Bintang.


Bulan mengambil peluru yang tergeletak di atas perut Bintang. Mengamati benda berbahan timas tersebut lalu menatap jendela yang telah berlubang. Peluru itu bukan peluru biasa. Satu peluru saja bisa menghancurkan sebagian kaca sebesar 4×5 meter, apalagi jika Bulan terlambat 0,1 detik saja, pasti Bintang telah tergeletak tak bernyawa sekarang.

__ADS_1


"Lan-" Bulan langsung dengan sigap mengambil kresek hitam dan meletakkannya di depan mulut Bintang. Menunggu Bintang memuntahkan isi perutnya sambil mengurut tengkuk cowok itu.


Bulan mengambil segelas air lalu memberikannya kepada Bintang. Setelah itu membantu Bintang kembali berbaring.


"Jangan terlalu dipikirin." Bulan mendudukkan bokongnya ke kursi, menatap Bintang yang tengah diam tanpa ekspresi.


"Bin, lo okey?" Tanya Bulan karena Bintang hanya diam.


Bintang mengangguk pelan.


"Bin, kenapa? Kok diem aja?" Tanya Bulan mulai cemas.


Bintang menggigit bibir bawahnya. "Gapapa."


"Perut lo sakit?" Bintang memejamkan matanya erat. Hembusan nafasnya terdengar sangat berat.


Bulan menggenggam tangan Bintang yang terbebas infus. "Remet aja, bagi rasa sakit lo."


Dan setelah itu Bintang benar-benar meremat tangan Bulan. Sekujur tubuhnya terasa ngilu, apalagi perutnya. Ingin mengerang namun tak ingin membuat gadis itu semakin cemas.


Perlahan rematan itu mengendur. Bulan menghembuskan nafas lega saat mata Bintang terpejam tanpa kerutan di dahi. Nafasnya pun mulai normal. Pandangan Bulan menyendu. Banyak sekali kejadian akhir-akhir ini.


"Emang seharusnya lo gak ada di dunia Bulan."


"Mulut lo." Bintang membuka mata, menatap Bulan tak suka.


"Kenapa melek? Sana istirahat." 


"Lo nyuruh orang istirahat, tapi lo sendiri gak istirahat. Perlu gue beliin kaca biar lo tau seberapa item kantung mata lo?" 


"Iya," tidak seperti biasa, Bulan langsung mengangguk tanpa kembali membantah. Biasanya dia akan beradu argumen terlebih dahulu sampai Bintang lelah meladeninya.


Bintang menarik pelan tangan Bulan sampai kepala sang gadis tertumpu di brankarnya. Tangan berurat itu mengelus surai indah Bulan dengan perlahan.


"Maaf, tangan lo sampe merah gitu."


Bulan menggeleng. " Gue malah seneng lo mau berbagi rasa sakit." Bulan memejamkan matanya, menikmati usapan lembut Bintang.


"Dah, cepet tidur." 


"Lo yang sakit, jadi lo yang harusnya istirahat."


"Lo kalo gak istirahat juga bakalan sakit Bulan." 


"Nggak, gue kuat kok."


"Mau adu panco sekarang? Kita buktiin siapa yang paling kuat."


"Idih, lo lagi letoy gini mau sok ngajakin adu panco."


"Lemes-lemes gini gue tetep kuat ya." 


"Iyain aja, nanti bocil nangis."


"Heh, siapa yang lo bilang bocil hah? Ngaca ya! Di sini gue yang lebih tua."


"Dih, tua aja bangga."


"Ya banggalah. Gue lebih duluan makan nasi 2 tahun dari lo."


"Astaga... mending kalian tidur dari pada ribut gak jelas gini." Arghi bangkit dari sofa, menghampiri pecahan kaca yang berserakan di lantai. Bintang dan Bulan hanya diam mengamati setiap pergerakan Arghi.


"Penembak jitu, jarak dari gedung sebelah ke kamar ini 520 meter. Belum lagi kemungkinan arah angin, dan pelurunya hampir mengenai jantung."


"Kakak liat kejadian tadi?" Arghi mengangguk.

__ADS_1


"Kita buru si pelaku sampai semua kulitnya lepas dari badannya. Bahkan kalau perlu kita iris seluruh organ dan dagingnya."


__ADS_2