WHY

WHY
I'm Here


__ADS_3

"Arghi sedang beristirahat. Kamu juga sebaiknya segera istirahat ya." Ujar Cakra lalu keluar dari ruangan Arghi.


Bulan duduk di samping brankar Arghi. Menatap wajah pucat sang kakak yang tertutup masker oksigen.


Lagi-lagi karena dirinya. Jika saja dia tak mengatakan hal itu, apakah Arghi tetap akan tumbang? Sepertinya tidak. Memang pada dasarnya dia saja yang pembawa sial.


Bulan menunduk dalam. Tangannya terangkat memukul-mukul kepalanya cukup keras sambil merapalkan ucapan bodoh untuk dirinya sendiri.


"Tolol banget lo," Bulan menghentikan pukulannya sambil tertawa kosong. Baiklah, dia sudah gila sekarang.


Beberapa saat Bulan di dalam, akhirnya gadis itu keluar dari ruang rawat Arghi guna mencari angin sekaligus menjernihkan pikiran.


Di tengah perjalanannya menyusuri lorong, Bulan menangkap punggung seseorang yang sangat Bulan kenali.


"Bintang?" Panggil Bulan ragu dan untungnya lelaki itu menoleh.


"Lo ngapain di sini? Lo sakit apa sampe diinfus gini? Sejak kapan lo sakit? Kenapa gak kasih tau? Muka lo pucet banget!" Rentetan pertanyaan akhirnya keluar dari mulut Bulan.


"Anu, itu, emm, ya sakit. Sakit apa aja." Kening Bulan mengkerut.


"Jawab yang bener sih. Sakit apa? Kenapa gak bilang kalo sakit coba?"


"Lo ngapain di sini? Ada masalah?" Tanya Bintang mengalihkan topik.


Bulan langsung membisu.


"Ke taman yuk," ajak Bintang lalu menarik tangan Bulan.


Keduanya duduk di bawah pohon besar yang berada tepat di tengah taman rumah sakit. Padahal banyak bangku kosong karena hari sudah malam. Bahkan tidak ada orang lain selain mereka di sana. Namun keduanya malah memilih duduk selonjoran dengan pohon sebagai sandaran.


"Mau cerita?" Tawar Bintang.


"Kakak kambuh."


"And than?"


Bulan kembali membisu. Bintang yakin bukan hanya tentang Arghi, pasti ada sesuatu lagi.


"Lo kenapa?" Bukannya menjawab pertanyaan Bintang, Bulan malah balik bertanya.


"Gak tau, bangun-bangun gue udah di rumah sakit."


Jawaban macam apa itu. Sungguh, otak Bintang mendadak buntu mencari jawaban yang masuk akal.


"Lo sampe dirawat begini berarti cukup parah. Lo sakit apa?" Tanya Bulan sekali lagi.


"Anemia mungkin?"


"Kok ragu gitu jawabnya. Yang bener dong, dan sejak kapan lo punya anemia?"


"Kan gue udah bilang gak tau."


"Gak mungkin!"


"Yaudah kalo gak percaya."


Diam sejenak. "Lo diituin lagi?" Tanya Bintang hati-hati.


"Nggak tuh."


Bintang yakin Bulan berbohong. Terbukti dengan gerakan gadis itu saat akan bersandar ke batang pohon tadi, sangat hati-hati.


"Mau nangis?"


Bulan mencebik. "Ngapain gue nangis?"


Bintang menghela nafas panjang. Susah sekali membuat Bulan terbuka.


"Bin,"


"Why?"


"Salah ya kalo gue pengen mati?"


"Husss, gue jahit mulut lo kalo ngomong gitu lagi!"


Bulan menarik nafas panjang.


"Padahal banyak orang yang lebih menderita dari gue. Emang dasarnya gue aja kali ya yang lebay."


"Nggak Bulan. Ada masanya seseorang jenuh akan hidupnya, tapi bukan berarti harus nyerah. Masih banyak orang yang sayang sama lo."


"Salah satunya Arghi. Bahkan orang yang baru liat kalian pun bisa ngerasain kasih sayang Arghi buat lo. Dia bisa bertahan sejauh ini karena ada lo di samping dia. Pernah waktu itu, waktu di mana Arghi ada di posisi antara hidup dan matinya. Dia bangun setelah tidur panjang, dan posisinya lo udah dibawa om Cahyo entah kemana. Gue inget banget suara dia yang udah kayak orang mau mati, nanyain lo ada di mana. Gue awalnya sempet bohong, tapi lo tau sendiri Arghi kayak gimana, apalagi menyangkut tentang lo. Ya mau gak mau gue kasih tau kalo adeknya dibawa om Cahyo, dan dia nangis. Dia nyalahin diri sendiri karena gak bisa jagain lo dari amukan orang tua kalian."


Kepala Bulan tertunduk. Menahan air mata yang telah memenuhi netra.


"Kalo lo capek, lo bisa cerita. Atau kalo lo gak mau carita, lo tumpahin dengan tangisan. Nangis bukan berarti lemah, bukan berarti lo cengeng. Gue tau, dengan nangis gak akan hilangin beban berat lo. Tapi setidaknya lo ada pelampiasan atas beratnya kejadian yang lo lalui. Gue selalu siap buat jadi sandaran."


"Niat lo yang kepengen mati itu salah. Gue tau lo cuma mau mengakhiri rasa sakit yang lo rasain, gak bener-bener pengen mati. Itu karena lo udah berada di titik terendah lo. Karena itu gue bilang keluarin aja. Atau kalo lo mau, lo bisa pukul gue, gigit gue atau apa aja yang bisa bikin lo lega. Lo bisa pinjem bahu gue buat lap ingus lo di saat lo nangis. Lo bisa dateng kapan aja Bulan."


"Lo salah Bin, gue bener-bener pengen mati. Gue gak bohong."


"Mungkin ini egois, tapi gue sama Arghi butuh lo." Bintang menatap sang gadis yang masih tertunduk dalam. "Mungkin terdengar lebay, tapi lo ibarat separuh dari nyawa kami." Darah Bulan terasa berdesir mendengar ucapan tulus cowok di sampingnya itu.


Tangan Bintang terangkat mengelus pucuk kepala Bulan. Menunduk untuk melihat raut wajah sang gadis


Ekspektasinya hancur saat melihat raut kekosongan gadis itu, bukan air mata atau apa pun seperti harapannya. Sesusah itu membuat Bulan terbuka.


Bintang membawa Bulan ke dalam rangkulannya. "Terserah lo mau nangis atau mau tidur."


Dan akhirnya suasana kembali sunyi. Hanya ada suara jangkrik yang mengisi keheningan malam itu. Pandangannya mengedar ke segala penjuru yang terasa lumayan mencekam.

__ADS_1


Satu jam berlalu. Bintang melirik jam di tangan Bulan. Tepat tengah malam.


"Lan,"


"Apa?"


"Astaga, lo ngapain dari tadi?!"


"Diem aja."


"Lo gak tidur? Mata lo udah kayak panci gosong tau gak!"


"Balik yuk, udah malem banget ini. Lo lagi sakit gak boleh di sini seharusnya." Bulan menarik Bintang untuk berdiri.


"Ruangan mana?" Tanya Bulan di tengah perjalanan.


"Kepo."


"Serius anjir!"


"125," jawab Bintang malas.


Bulan pun mengantar Bintang ke ruangan yang di maksud.


"Dah, habis ini langsung tidur."


"Iye, gue pergi dulu."


Bulan berlalu dari hadapan Bintang. Kakinya terus menapaki lantai rumah sakit yang lenggang. Sedikit bingung kenapa tidak ada orang satu pun yang terlihat. Walaupun jam telah lewat tengah malam, biasanya selalu ada suster ataupun dokter yang berkeliaran satu atau dua.


Bulan mempercepat langkahnya. Bukan karena dia takut hantu, namun ada perasaan tak enak di benaknya. Seperti ada yang mengikutinya dari belakang.


Nafasnya terhembus lega setelah menutup pintu ruangan. Kembali duduk di samping brankar Arghi, menggenggam tangan kekar yang terasa dingin itu. Pikirannya kembali teringat perkataan Bintang saat di taman tadi.


"Maaf adek gak mikirin kakak. Malah seenaknya ngomong mau mati."


"PEMBAWA SIAL!"


"TAK BERGUNA!"


"GARA-GARA KAMU ORANG TUA KAMI MENINGGAL!"


"GARA-GARA KAMU ARGHI MENDERITA!"


"BUAT APA KAMU HIDUP JIKA HANYA MENJADI BENALU!"


"Rasanya saya ingin sekali membunuh kamu, tapi nanti saya tidak ada tempat pelampiasan lagi, dan nanti Arghi malah marah sama saya."


Lagi-lagi suara itu. Bulan menutup kedua telinganya erat. Tapi tetap saja suara itu terngiang-ngiang di kepala.


"Pergi," lirih Bulan.


Kepalanya serasa akan pecah. Suara itu seperti menarik rambutnya dari akar, membuat kepalanya berdengung nyeri.


Tangan itu lalu membawanya masuk ke dalam sebuah pelukan hangat. Dari aroma tubuhnya, Bulan tahu itu siapa.


"Udah pergi?" Bulan mengangguk pelan.


Bulan merasa sangat tenang saat tangan besar itu mengusap-usap rambutnya dengan lembut.


"Thank you for being a strong woman."


Pelukan mereka terlepas. Orang itu menangkup kepala Bulan ke atas hingga tatapan keduanya bertemu.


"I'm here. You can come to me anytime, anywhere, and whenever you want. I'm not leaving you."


"Makasih, Bintang."


...~~~...


Angin pagi berhembus menusuk kulit. Arghi menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku, menikmati hawa dingin dengan mata yang terpejam tenang.


"Boleh duduk sini?" Arghi sontak membuka matanya. Iris coklatnya menangkap seorang pemuda asing.


Arghi mengangguk dan tersenyum kecil.


"Kenalin, gue Jidan."


Arghi lantas menyambut uluran tangan itu. "Arghi."


"Gue sering liat lo." Ujar Jidan memulai pembicaraan.


"Serius?" Tanya Arghi tak percaya.


"Karena rumah sakit ini udah kayak rumah kedua gue. Jadi gue hafal wajah-wajah orang yang sering ke sini." Jelasnya.


"Lo sakit apa?" Tanya Jidan.


"Jantung gue rusak."


Jidan mengangguk mengerti. "Gue kanker hati."


"Stadium?"


"Dua jalan ke tiga."


Mata Arghi langsung membola.


"Katanya lo penghuni rumah sakit, lo gak pengobatan?"


"Yahh, nyawa siapa yang tahu. Walaupun udah berobat sesering apa pun kalo udah waktunya ya gimana lagi?"

__ADS_1


Arghi tertegun. Dia sering sekali memikirkan hal itu. Seketat apa pun dia menjaga tubuhnya, jika ajal telah menjemput semua perjuangan itu akan melebur.


"Gue sebenarnya pasrah aja kalo mati, lagian gue udah capek. Tapi berat banget rasanya ninggalin adek gue. Dia sendirian." Jidan menoleh ke arah Arghi. "Pasti lo juga mikir kayak gitu kan?"


Arghi terkejut. Bagaimana Jidan bisa tahu?


"Gue sering liat lo, otomatis gue juga liat adek lo. Dari cara lo perlakuin adek lo tuh, kerasa banget kalo lo sayang sama dia."


"Lo cenayang ya? Atau stalker?" Arghi menatap Jidan horor.


"Ya kagaklah! Umur gue gak lama, ngapain gue jadi stalker?"


"Hus, mulutnya. Umur gak ada yang tahu. Bisa aja gue duluan yang mati."


"Lo bisa sembuh. Nanti gue donorin jantung gue buat lo."


"Idih, mana bis-"


"Apaan sih, mati aja direbutin." Celetuk Bintang yang tiba-tiba datang dari belakang.


"Sejak kapan lo di sini?" Tanya Arghi sewot.


"Sejak Bulan lahir ke bumi." Jawab Bintang asal lalu duduk di samping Arghi.


"Oh ya, kenalin gue Bintang yang paling tampan sejagat Bintang di langit." Bintang menjulurkan tangannya ke Jidan.


"Jidan."


"KAKAK!" Ketiganya langsung menoleh ke asal jeritan cempreng yang sangat memekakkan telinga.


"Ya ampun dek, ngapain ke sini? Diem aja di kamar bisa gak sih? Lagi demem juga, masih aja kayak cacing kena deterjen!" Omel Jidan.


Perempuan tadi mencebik. "Kakak juga ngapain ke taman? Khawatir tau pas aku bangun kakak gak ada di kasur. Aku udah keliling gedung, taunya lagi di taman. Coba kasih tau dulu kalo mau pergi, nanti aku temenin. Kalo ada apa-apa gimana? Jangan kayak gitu lagi. Ayo balik!" Jidan diomeli tak kalah panjang.


Sang kakak hanya menghela nafas pasrah.


"Iya, gak lagi deh. Udah ya, kamu ke kamar duluan aja. Anginnya dingin, nanti tambah sakit." Suara Jidan melembut.


"Kakak?"


"Nanti kakak nyusul, serius deh." Perempuan tadi memajukan bibirnya.


"Awas kalo nggak." Setelah itu berlari meninggalkan Jidan.


"DEK JANGAN LAR-"


BRUK


"Dek!" Seru Arghi dan Jidan bersamaan.


Keduanya langsung menghampiri asal suara. Untung saja mereka masih mengingat tiang infus mereka.


Arghi membantu Bulan untuk berdiri. "Adek gapapa?" tanya Arghi sambil memeriksa tubuh Bulan.


"Gapapa kok."


"Kan, udah dibilangin jangan lari, jatoh kan jadinya!"


Jihan, adik dari Jidan, tidak mempedulikan omelan kakaknya. Dia malah menghampiri Bulan dengan raut bersalah.


"Kamu gapapa? Maaf ya," sesal Jihan.


Bulan tersenyum manis. "Gapapa kok, aku juga salah tadi jalannya cepet-cepet."


"Emm, yaudah kalo gitu. Kita balik dulu ya, maaf sekali lagi." Ujar Jidan lalu menarik Jihan berlalu dari sana.


Setelah dua kakak beradik tadi menghilang dari pandangan Arghi membuka suara. "Maaf udah ninggalin adek semalem."


Bulan menggeleng. "Adek yang minta maaf karena ngomong sembarangan."


Arghi pun merangkul Bulan dan membawanya duduk di bangku yang tadi dia tinggalkan.


Bintang masih berada di sana. Sebenarnya tadi dia ingin pergi karena malu. Banyak orang melihat ke arah mereka saat kejadian tumburan itu. Namun dia mengurungkan niatnya. Kapan lagi nonton drama persaudaraan secara live.


"Adek lo tidur jam empat pagi." Kompor Bintang setelah Arghi dan Bulan duduk. Dia masih ingin melihat sebuah drama.


Mata kedua kakak beradik itu membola secara bersamaan.


Arghi menatap Bulan horor. "Bener?"


Bulan merutuki Bintang dalam hati.


"Anu, itu." Bulan tidak bisa menjawab. Mulutnya kaku seketika.


"Panik gak, panik gak, panik gak? Ya paniklah, masa nggak!" Bintang semakin menjadi-jadi.


"Maaf." Gadis itu kehilangan kata-kata.


Arghi menghela nafas panjang. "Yaudah, kita balik ke ruangan ya. Lagian adek ngapain bangun? Mimpi buruk?" Tanya Arghi lembut.


"Kakak juga ngapain bangun-bangun langsung ngilang? Adek kaget jadinya. Mana pas bangun udah ada di atas ranjang, pasti kakak pelakunya." Sergah Bulan membela dirinya.


"Gapapa, gabut aja." Ujar Arghi asal. "Oh ya, lo ngapain di sini? Sakit apa lo?" Pertanyaan yang sedari tadi tersimpan dalam benak akhirnya terungkap.


"Gue gabut di rumah, jadi numpang tidur di sini." Arghi langsung menjitak kepala Bintang membuat sang empunya kepala meringis.


"Yang bener anjir!"


"Kagak tau gue! Udah mending lo balik, bawa tuh bocil tidur." Tukas Bintang.


Arghi menatap Bintang sebentar dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu pergi sambil menarik tangan Bulan. Meninggalkan Bintang yang langsung merebahkan tubuhnya di bangku taman setelah kepergian Bulan dan Arghi.

__ADS_1


Nafasnya terhembus, lega karena Arghi tidak menanyainya lebih jauh.


__ADS_2