
"Bintang..." Rengekan Bulan tak henti-hentinya memenuhi ruang kelas yang kini kosong. Bel istirahat tadi bagaikan magnet yang menarik para siswa yang telah kelaparan berlari ke kantin untuk mengisi perut setelah berjam-jam lamanya menguras isi otak. Kecuali dua muda-mudi itu. Keduanya tak sedikitpun berniat lepas dari kursinya untuk sekedar mengisi perut. Mungkin jika Arghi masuk mereka akan diseret oleh cowok keibuan yang cerewet itu untuk pergi ke kantin. Namun perdebatan panas tadi pagi dimenangkan oleh Dirga yang membuat Arghi mau tak mau menurut untuk beristirahat terlebih dahulu di rumah.
"Buat apa Rembulan Cahaya Purnama yang sangat cantik jelita? Tinggal tiga hari lagi, buang-buang waktu aja nyuci darah."
"Umur gak ada yang tau Bintang. Cepet banget lo pasrahnya."
"Gue bukan pasrah, tapi menerima keadaan."
"Ngeles aja teros."
Bintang mengedarkan pandangannya ke segala arah, lalu kembali menatap Bulan.
"Pulang sekolah jalan yuk." Bulan mencibir. Gadis itu baru ingat jika mereka tadi pagi kembali bepergian menggunakan mobil.
"Dih, diajak hd gak mau. Sekarang malah ngajak jalan."
"Ayolah... kapan lagi kan? Terakhir loh ini."
Bulan diam sejenak lalu tertawa miris. "Ini kita bener-bener nyerah ya?"
"Gimana reaksi kak Arghi nantinya ya? Baru sembuh udah dapet kabar buruk. Gimana kalo keadaannya malah memburuk nantinya?" Bintang menoyor kepala Bulan pelan.
"Nethink terus otak lo."
"Masalahnya ini nempel terus di otak gue." Bulan memegang kepalanya dengan kedua tangan. Persis seperti orang depresi.
"Makanya ayo jalan biar gak kepikiran." Bintang melepas tangan Bulan yang mulai menjambak rambut dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk mengelus bekas jambakan itu. Hal yang sangat kecil memang, tapi mampu membuat hati Bulan berdesir.
"Ya?"
Bulan menghela nafas kasar. "Ya udah iya."
Raut senang terpatri di wajah Bintang membuat Bulan mencibir. "Tapi nanti gue ke ruang dance dulu."
Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Bintang tentu dapat melihat raut kekecewaan itu. Dia mengerti apa yang sedang Bulan rasakan karena dia merasakannya terlebih dahulu. Terpaksa meninggalkan hal yang disukai dan melepaskan semua yang telah diperjuangkan itu sangatlah berat.
Bintang mengusak surai Bulan. "Nanti gue temenin."
...~~~...
Keduanya masuk beriringan ke ruang dance. Nampak orang-orang di sana menghentikan aktivitas pemanasannya melihat Bulan datang bersama Bintang.
"Lo kenapa belum ganti baju? Ini Bintang juga ngapain di sini? Mau ikut latihan ya?" Lisa datang dengan raut bingung. Ruangan pun sontak menghening. Bulan melempar senyum kecil lalu menggeser tubuhnya menghadap ke seluruh anggota dance. Helaan nafas panjang menjadi pembuka.
"Saya kemari, ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya untuk kalian semua. Barangkali saya melakukan banyak kesalahan baik secara sengaja maupun tidak disengaja. Terima kasih karena telah mendidik saya, menemani saya berlatih, bahkan memberikan saya kesempatan untuk naik ke berbagai panggung besar. Untuk kak Yohan, Jeran, dan Lisa, maaf gue gak bisa ikut kalian lanjut berjuang."
"Maksud lo apa sih?" Senyum yang biasanya terpatri di wajah manis Lisa menghilang.
Bulan tersenyum sendu. "Saya, Rembulan Cahaya Purnama, ingin mengundurkan diri dari ekskul ini."
Ruangan tersebut seketika ramai oleh riuhnya bisikan. Lisa menatap Bulan tak percaya. "Lo bercanda? Perasaan gak ada yang ultah hari ini. Lo mau ngeprank siapa?"
"Gue gak bercanda Lis," Lisa menatap manik Bulan. Mencari sedikit celah kebohongan yang dia harapkan ada. Namun tidak dia temukan. Hanya tatapan sendu yang dapat Lisa lihat di sana.
"Maaf gue harus berhenti tengah jalan gini."
"Alasan lo mundur apa?" Yohan sebagai ketua pun akhirnya angkat bicara.
"Gue gak bisa kasih tau sekarang kak. Mungkin semingguan nanti kalian bakal tahu dengan sendirinya."
"Sekali lagi saya minta maaf, dan terima kasih." Setelah mengatakan itu Bulan langsung berlari keluar. Berlama-lama di dalam sana hanya membuatnya sesak.
Bintang membungkuk sebagai tanda permisi, lalu ikut pergi menyusul Bulan. Tanpa sepatah kata pun Bintang langsung melajukan mobilnya keluar dari parkiran sekolah. Saat mobil telah berjalan jauh meninggalkan area sekolah Bulan masih saja bungkam. Nampak sekali raut muram di wajah cantik itu.
"Di kehidupan selanjutnya nanti, lo harus ajarin gue ngedance."
Bulan menoleh. "Sekarang mau?"
"Nggak ah, capek. Lari sebentar tadi aja udah ngap-ngapan, apalagi ngedance."
"Nanti, di kehidupan selanjutnya, di saat kondisi gue fit. Lo harus ajarin gue ngedance ya."
Bulan menatap wajah Bintang dari samping. Wajah tampan bak pangeran itu terlihat sendu. Walaupun senyum kecil itu terhias, Bulan masih dapat melihatnya. Tidak, bukan melihat, tetapi merasakan. Bulan merasakan kesedihan Bintang dibalik permintaan sederhana itu.
"Dan nanti, di kehidupan selanjutnya. Ajakin gue ngegym ya." Mata Bintang refleks terbelalak. Telinganya tidak salah dengar kan?
"Ngadi-ngadi lu!"
"Serius gue."
"Ngapain ngegym?! Cukup gaya dan tingkah lo aja yang lakik, badan lo jangan sampe. Sekali-kali harus jadi wanita seutuhnya dong."
"Congor lo minta gue robek ya. Cewek feminim gini lo katain lakik!" Sergah Bulan tak terima. Bintang berlagak seperti orang muntah dengan raut datar.
"Anak kecil pun tau dalam sekali liat kalo lo cewek jadi-jadian."
"Nyenyenye."
"Ngeselin ya lo," Bintang mencubit pipi Bulan sampai gadis itu mengaduh.
"Sakit njir," Bulan menjauhkan tangan Bintang lalu mengusap-usap pipinya.
"Lagian lo ngapain mau ngegym? Mau nyaingin roti gue? Jangan harap bro."
"Dih geer. Gue cuma pengen punya kotak-kotak di perut sama otot aja, kagak lebih."
Bintang menghela nafas lelah. "Lo udah punya abs Lan, gak perlu ngegym lagi."
"Dih, tau dari mana lo?! Pernah ngintip ya?!"
"Tidak baik berprasangka buruk terhadap orang tampan nona." Bulan ikut berlagak muntah seperti yang Bintang lakukan tadi.
"Selama ini lo tampil pake apa? Jubah? Gaun? Atau baju dinas?"
"Hah? Baju dinas? Baju yang coklat itu maksud lo? Ngapain gue ngadance pake itu bagong. Mau cosplay jadi guru apa?"
Bintang meringis. "Salah ngomong gue. Udah lupain aja."
Bulan berdecih. Sebal sekali jika ada orang yang berbicara setengah-setengah. Mengingat-ingat pakaian yang dia gunakan saat tampil ataupun lomba. Memang tidak jarang Bulan memakai baju yang memperlihatkan perut. Tapi hanya perut saja yang terlihat. Pinggang buriknya selalu aman tertutup kok.
"Yaudah gak jadi. Pengen tinggi aja gue." Lagi-lagi Bintang menghela nafas lelah. Lelah sekali menghadapi cewek random itu.
"Lo udah tinggi buat ukuran cewek njir. Mau setinggi apa lagi? Atau lo mau nyaingin tinggi gedung perusahaan keluarga lo?!" Nafasnya terhembus lelah untuk kesekian kali. Lelah juga nyerocos panjang lebar.
"Santuy bro santuy. Ini btw kok jalannya sepi? Mau ke mana kita?" Tanya Bulan dengan nada seperti di film kartun yang sering dia tonton.
"Nanti juga tau sendiri."
Bulan hanya mengangguk. Tangannya merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel.
"Gue udah izin ke Arghi." Bintang mengatakan itu saat panggilan telah terhubung sepenuhnya.
"Telat," dengus Bulan.
"Jadi jalannya dek?"
"Iya jadi."
"Okey, have fun ya. Jangan lupa makan."
__ADS_1
"Iyaa. Kakak juga jangan lupa minum obat."
"Oke, kakak tutup ya."
"Emm."
Setelah itu keadaan mobil hening. Bulan sibuk memandang sekitar jalan yang dipenuhi dengan hutan. Menerka-nerka kemanakah Bintang akan membawanya. Sampai sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas di otaknya.
"Bin,"
"Em?"
"Nanti... perusahaan lo gimana?"
"Ya terserah mereka. Mau biarin itu bangkrut atau di jual kek atau dikasih ke orang lain."
"Lo gak mau bilang ke mereka? Seenggaknya untuk yang terakhir?" Bulan mengatakan itu dengan sangat hati-hati. Topik seperti ini memang sangat sensitif untuk Bintang.
"Nggak deh. Lagian kalaupun gue hubungi mereka, mereka juga gak akan peduli. Bahkan sekedar lirik sedikit pun mereka enggan."
"Gak tahu kalau kabarnya udah nyebar, mereka bakal tetep pasang tembok atau gimana. Munafik kalo gue gak berharap. Gue pengen mereka datang ke rumah abadi gue walaupun sebentar."
Bulan menggigit bibir bawahnya. Sungguh bersyukur dirinya masih dapat melihat orang tuanya walaupun dicampakkan. Sedangkan Bintang. Lelaki itu benar-benar diasingkan, atau bahasa kasarnya dibuang.
Memiliki orang tua hasil dari perjodohan tidak selamanya berujung baik. Buktinya ya kisah Bintang sendiri. Terpaksa menikah tanpa adanya rasa. Bahkan hadirnya Bintang pun tak diinginkan. Hanya sebagai kolase agar publik tahu bahwa Angkasa, ayahnya Bintang, memiliki penerus.
80% hasil perjodohan mungkin berakhir baik. 20% sisanya abu-abu. Orang tua Bintang masuk ke dalam 20% itu. Ayahnya yang sering melampiaskan amarahnya ke Bintang karena terus-terusan bertengkar dengan sang istri. Ibunya yang sama sekali tak pernah ingin menyentuhnya barang sedikit pun. Bertatap sapa saja pun enggan.
Sampai akhirnya kejadian itu terjadi. Kejadian di mana Bulan menemukan Bintang dengan kondisi mengenaskan sambil berjalan linglung. Niatnya dia ingin menyelamatkan cowok itu dari mobil yang berjalan oleng. Namun karena tidak terkejar waktu, Arghilah yang berkorban. Mendorong Bintang dan Bulan yang tak lagi sempat menghindar membuat Arghi tertabrak.
Setelah semua itu, orang tua Bintang memutuskan untuk berpisah dan kembali ke dambaan hati masing-masing tanpa peduli dengan satu orang yang harusnya mereka perhatikan. Bintang tumbuh bersama Arghi sejak keduanya baru belajar berjalan. Lalu setelahnya Bulan bergabung, mengisi kebosanan Bintang yang muak melihat wajah Arghi sedari kecil. Akhirnya ada pemandangan segar setelah sekian lama, batin Bintang.
Tanpa terasa mobil pun berhenti. Senyum lebar langsung mengembang saat mata sipit itu menangkap pemandangan air jernih. Bintang ternyata membawanya ke pantai. Keduanya pun segera turun dari mobil, berjalan beriringan ke bibir laut.
Bulan melepas sepatunya terlebih dahulu. Senyuman semakin mengembang diiringi dengan getaran kedinginan saat air dingin itu menyentuh kakinya.
"Main air yuk," Bintang tentu saja menggeleng ribut.
"Gak ada. Dingin gini mau main air. Cukup kaki aja."
"Ishh," Bulan mendelik sebal. Walaupun Bintang berbicara fakta. Salju masih terlihat walau tidak setebal minggu-minggu sebelumnya.
"Ayo makan dulu, keburu sore nanti." Bintang menarik kerah mantel Bulan dari belakang, menarik gadis itu ke salah satu kedai terdekat sampai Bulan didudukkan di salah satu kursi. Gadis itu diam menatap ke tempat dia berdiri tadi.
Bintang pun mengikuti arah pandang Bulan, lalu terbahak. Ternyata sepatu gadis itu tertinggal di sana. "Napa lo gak bilang bocah?" Sambil tertawa Bintang mengambil sepatu Bulan.
"Lagian lo main tarik aja, kasihan sepatu gue terlantar." Bintang pun meletakkan sepatu Bulan di bawah meja, lalu pergi memesan makanan.
Bulan mengedarkan pandangan ke penjuru pantai. Tidak banyak orang berlalu lalang di sana. Selain karena hari ini bukan hari libur, suasana yang dingin membuat kebanyakan orang mungkin lebih memilih untuk berkelung dalam selimut di rumah sambil duduk santai di depan perapian.
"Sepi ya?" Bintang duduk di hadapan Bulan. Ikut menatap ke sekeliling. "Tapi enak. Gak harus sempit-sempitan."
Di hari libur, terutama saat musim panas, pantai ini akan sangat ramai. Apalagi saat senja. Orang-orang akan duduk berjajar di pasir, mengamati langit orange yang indah bersama orang tersayang.
"Makasih ya. Karena lo, hidup gue semakin berwarna. Yang dulunya abu-abu, sekarang berubah jadi pelangi."
Bulan tersenyum. "Makasih juga karena lo selalu jagain gue. Selalu datang di saat gue butuh bantuan. Selalu hadir jadi penyemangat. Maaf karena selalu ngerepotin."
"Siapa bilang lo ngerepotin? Jagain lo itu udah jadi janji yang gue buat sendiri. Bahkan gue berjanji, sekalipun gue lagi sekarat, gue harus ada di samping lo."
Jantung Bulan berdesir hangat. Tubuhnya merinding mendengar pernyataan Bintang. "Serem banget janjinya."
"Seberarti itu lo buat gue Lan." Bintang menatap Bulan dalam. "Nanti di sana, lo harus pegang tangan gue terus ya. Jangan dilepas."
"Kok gue jadi mau nangis." Bulan tak berbohong. Bahkan kini matanya telah berkaca-kaca.
"Nanti, apa pun keadaannya. Jangan jauh-jauh dari gue. Tolong genggam tangan gue seerat mungkin." Suara Bintang bergetar. Manik cowok itu pun ikut berkaca-kaca.
Bulan bangkit dan berpindah ke samping Bintang. Memeluk lelaki itu dengan sangat erat. "Nangis aja. Kapan lagi kita bisa nangis kan?" Tawa getir mengakhiri perkataan Bulan, lalu disusul dengan bulir bening dari netra Bintang. Pertahanannya roboh.
Robot pelayan yang baru saja ingin mengantar pesanan diam di tempat. Makanan yang telah jadi itu tertahan di sana. Membiarkan Bintang dan Bulan menangis di siang hari menjelang sore. Saling mendekap guna menetralkan sesak masing-masing.
"Jalan yang kita pilih bener kan?" Bulan melepas pelukannya. Pandangannya beralih ke hamparan laut lepas.
"Orang lain pasti bakal bilang kalau kita salah. Kita terlalu pasrah sama keadaan, tanpa tahu alasan di balik itu."
"Contoh kecil aja. Lo pernah bilang ke gue kalau gue gak bener-bener pengen mati. Tapi cuma mau mengakhiri rasa sakit. Lo bener, tapi lo juga salah. Gue emang mau akhiri rasa sakit, tapi rasa pengen mati itu lebih besar."
"Pemikiran yang salah memang, tapi semuanya terlalu berat buat gue waktu itu. Tapi lagi-lagi suara itu ganggu. Mereka sering bilang, cuma gitu doang masa mau mati. Padahal mereka juga yang ngajak gue buat mati. Dan dari situ gue juga ikut berpikir, banyak orang di luaran sana yang bebannya lebih berat. Otak gue seolah bilang, jangan sok punya beban paling berat. Kurang lebih itu yang gue tanamin sejak dulu."
"Tapi sekarang gue bodo amat sama suara-suara mereka. Waktu kita sebentar lagi. Jangan mikiran hal yang bikin lo stres. Nikmati hari-hari lo tanpa beban. Toh dengan ini, kita gak perlu repot-repot bunuh diri."
"Sesat lo," Bintang geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil. Sukses membuat Bulan juga ikut tersenyum. Suasana melow tadi sontak menghilang, dan robot pelayan itu segera mendekat untuk mengantar pesanan.
"Apa yang lo pikirin kalau mau bunuh diri?" Tanya Bintang di sela-sela mengunyah makanannya.
"Ya bunuh diri lah. Mau mikirin apa lagi?"
"Maksud gue saat lo mau ngelakuin itu, otak lo mikirin apa. Kosong atau ada sesuatu yang lo pikirin?"
Bulan diam sejenak, mengingat saat-saat dia melakukan hal buruk itu.
"Kalau yang kemarin itu seratus persen kosong. Soalnya itu di luar kesadaran gue."
"Waktu itu, gue umur delapan tahun kalo gak salah, pas gue masih di panti. Gue hampir nusuk nadi gue pake pisau. Situasinya panti lagi kosong. Semuanya pergi ke sini, ke pantai ini buat liburan. Tapi ada satu cewek, seumuran sama gue. Dia rela pura-pura sakit perut biar gak ikut buat nemenin gue yang memang gak akan pernah diajak liburan."
"Gue ke dapur, liat ada pisau nganggur. Kan gabut tuh, pengen aja nusukin pisau itu ke tangan. Tapi dia tiba-tiba muncul. Dia nangis narik gue balik ke kamar, habis itu gue diomelin panjang lebar sama dia." Bulan tersenyum mengingat wajah anak perempuan yang masih dia ingat sampai sekarang. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
"Serem banget gabutnya." Bintang geleng-geleng prihatin. Menatap Bulan yang masih mesem-mesem mengenang masa kecilnya.
"Lo gak ada niatan ceritain kisah lo di panti?"
"Males ah, nambahin beban pikiran aja."
"Nggak kok. Yang ada kalau lo gak cerita gue jadi hantu penasaran nanti."
"Biarin, kan lo gak bisa gentayangin gue. Orang kita satu dunia." Bulan mengedikkan bahunya acuh lalu lanjut makan.
"Nyebelin tapi bener juga."
Keduanya menjeda percakapan agar fokus ke makanan masing-masing. Setelah selesai makan dan berdiam sebentar, keduanya pun memutuskan untuk mengitari pantai dari ujung ke ujung. Langkah mereka lambatkan agar waktu tidak berlalu cepat.
"Selama ini lo pernah kepikiran bunuh diri gak?" Bulan memulai perbincangan dengan pertanyaan yang selama ini terus terngiang di kepala.
"Pernah."
"Kapan?"
Kening Bintang mengkerut, berusaha mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu.
"Kalau kepikiran sih sering. Tapi percobaannya cuma dua kali, dan semuanya dihalangi kakak lo." Tawa kecil menguar sebelum Bintang berdehem tanda siap untuk bercerita.
"Pertama, waktu umur delapan tahun. Gue dipukul habis-habisan sama bokap. Mungkin kalo Arghi gak dateng ke rumah gue pasti gue udah mati waktu itu. Gue dibawa tuh sama dia ke rumah sakit. Pas bangun gue melamun. Arghi gak ada di sana gak tahu ke mana tuh bocah. Dan tiba-tiba hasrat itu dateng. Gue pergi ke atap, dan dikit lagi gue jatuh Arghi tiba-tiba narik gue. Gue diseret balik ke kamar sambil diem aja dengerin dia ngomel panjang kali segi enam."
"Percobaan kedua, di sekolah. Arghi selalu ngekorin gue sampe seantero sekolah ngira kami anak kembar tuh saking nempelnya. Padahal muka gak ada mirip-miripnya. Gantengan gue soalnya."
Bulan berpura-pura muntah. Keseriusannya buyar mendengar kalimat akhir Bintang.
"Nah... hari sabtu kalo gak salah. Arghi gak masuk, sakit dia karena nemenin gue mandi hujan. Dan bodohnya dia malah mandiin gue dulu, baru dianya mandi. Kan tolol tuh. Kami masih kecil, seumuran, sama-sama berbatang, segender pula. Napa gak mandi bareng aja gituloh. Pas gue tanya dia malah mencak-mencak. Katanya gue kek cacing kena rinso gerak-gerak terus mainin air. Jadi gak ada pilihan, dia mandiin gue dulu baru dia yang mandi. Alhasil besoknya dia tumbang."
__ADS_1
Bulan terbahak mendengar cerita Bintang. Otaknya langsung membayangkan bagaimana repotnya Arghi memandikan Bintang. Ternyata cowok itu sudah grasak-grusuk sedari kecil.
"Hari itulah gue gunain kesempatan. Satu jam habis bel pulang bunyi, sekolah udah sepi juga. Gue ke gudang. Kenapa gak ke rooftop? Karena dari atap sekolah terjun ke bawah jaraknya kurang tinggi. Yang ada gue cuma sekarat aja kalo lompat. Jadi gue milih gudang. Cukup lama gue diem di kursi itu. Bacain mantra dulu kan sebelum mati. Tapi karena kelamaan bacain mantra, baru tiga detik gue ngerasain main gantungan Arghi dateng!" Bintang mulai menggebu-gebu.
"Dia dateng dengan muka pucat pasi, ngomelin gue pake nada lemes lesu letih letoy. Tarik gue ke mobil aja serasa ditarik angin saking lemesnya dia. Pulanglah kami dianter pak sayu, supir pribadinya Arghi. Tapi beliau udah gak ada dua tahun sebelum lo datang ke rumah. Gue lagi-lagi diem dengerin dia ngomel. Sebetulnya gue pengen ketawa. Lemes banget dia ngomongnya. Antara kasihan sama lucu liat dia ngomel-ngomel gitu."
"Kak Arghi kok tahu lo mau bunuh diri?"
"NAHHH INI DIA!" Bintang ngegas saking semangatnya bercerita.
"Ada cewek dari kelas lain yang rupanya liatin gue. Jadi dia nelpon Arghi karena gak berani deketin gue."
"Wajar sih dia takut. Tampang lo preman gini."
"Ohh tidak bro. Bintang kecil amat sangat menggemaskan."
"Huwek,"
"Tapi gue seneng. Beruntung banget gue punya sahabat kayak dia. Dia bisa gantiin posisi bokap nyokap gue. Bener-bener udah kayak bapak-bapak. Tapi kalo ngomel kayak emak-emak, ganas banget. Sampe pengang kuping gue diomelin dia."
Bulan mengangguk setuju. "Kak Arghi itu definisi cowok sempurna banget gak sih. Ganteng, perhatian, dan yang paling gue kagumin itu dari cara dia memperlakukan perempuan. Kak Arghi bener-bener menghargai perempuan sampe banyak banget cewek yang naksir dia karena sikapnya. Tapi kak Arghi nolak mereka tanpa menyakiti hati mereka. Yang dapetin kak Arghi nanti pasti ngerasa jadi cewek terberuntung di dunia."
Bintang mengangguk setuju. "Gue kagum sama sifat dia yang gak pernah nyerah. Sekuat itu dia nahan sakit bertahun-tahun. Gue pernah kan ceritain Arghi nyariin lo pas dia sekarat?" Bulan mengangguk.
"Logisnya, di saat orang ngerasain sakit yang teramat, kebanyakan orang ngeluh atau nangis karena gak kuat. Tapi dia nggak. Dia masih sempet-sempetnya nanyain gue, nanyain lo. Padahal jelas-jelas dia lagi kesakitan."
Bulan tersenyum nanar. Merasa beruntung sekali dia terlahir sebagai adik dari seorang Arghi Cahya Pratama.
"HACHOOO, akhh." Arghi bersin untuk yang kesekian kalinya sambil memegang dadanya yang nyeri karena jahitannya masih basah.
Dia bingung. Masalahnya sedari tadi dia bersin, namun tidak ada cairan kental yang keluar sedikit pun yang artinya dia tidak sedang flu.
"Ini siapa yang lagi gibahin gue njir." Gerutu Arghi sambil menepuk-nepuk pelan dadanya.
...~~~...
Saking banyaknya cerita yang keluar tanpa terasa langit telah berganti warna. Keduanya segera mencari tempat yang pas untuk menikmati langit senja.
Dengan pohon kelapa sebagai atap, keduanya duduk bersandar di sana. Menatap langit jingga yang tampak sangat indah sore itu. Tak peduli dengan suhu dingin yang menusuk. Tautan tangan keduanya sedari tadi tak pernah lepas seolah tidak ingin berpisah.
"Senja sore ini cantik banget, secantik cewek di samping gue." Bulan sontak membuang wajahnya ke arah lain. Bermaksud menyembunyikan rona merah yang sayangnya sudah terlihat lebih dulu oleh si penggombal.
"Gemes banget malu-malu." Bintang tertawa saat Bulan mencubit jemarinya.
"Gak usah gombal deh ya. Gak baik buat jantung."
"Tapi gue serius. Bahkan senja itu kalah di mata gue. Lo perempuan tercantik yang pernah gue temuin."
Bulan menggigit bibir bawahnya menahan gejolak panas di pipi. Sungguh sangat tidak aman untuk jantung. Rasanya dia ingin berlari sekencang mungkin. Ke mana pun, asalkan jangan di dekat Bintang. Bisa-bisa dia mati lebih awal.
"Cukup Bin, hati gue gak kuat." Bintang semakin tergelak. Tangan kekarnya mengacak rambut Bulan membuat surai panjang itu semakin berantakan karena sebelumnya tertiup angin. Tapi Bulan tidak memiliki waktu untuk mengurusi rambutnya. Hatinya masih bergejolak hebat mendengar kalimat maut Bintang.
"Gak waras gue lama-lama." Bulan geleng-geleng kepala. Berusaha mempertahankan kewarasannya yang serasa direnggut paksa oleh oknum di sampingnya itu.
"Langit senja sore ini jadi saksi kenangan terakhir kita berdua ya." Bulan menaikkan arah pandangnya ke Bintang yang kini mendongak. Menatap teduh langit jingga dengan senyum kecil yang tak pernah luntur di bibir pucat itu.
"Masih ada tiga hari lagi." Bulan berujar pelan, ikut mendongak memandang senja.
"Kita gak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
Bintang merebahkan kepalanya ke bahu sempit Bulan. "Munduran dikit coba. Cantik lo kelewatan."
Bulan kini tak ragu untuk tersenyum karena Bintang tak akan melihatnya. Cowok itu masih nyaman bersandar padanya.
Jemari kurus itu mengusap lembut tangan kekar Bintang. Dia kadang heran, sekeras apa lelaki ngegym sampai tangan Bintang seberurat ini. Bulan sendiri kadang ngeri melihat otot-otot Bintang yang menonjol padahal tidak sedang bertenaga.
"Senjanya udah hilang. Mau pulang sekarang?" Tanya Bulan menunduk menatap Bintang yang sedang memejam. Apakah cowok itu ketiduran?
"Bin, lo tidur?"
"Sebentar ya."
"Kenapa? Kambuh ya?" Tanya Bulan was-was mendengar suara kaku Bintang.
"Cuma nyeri, sedikit."
"Gak mungkin sedikit. Lo biasanya pura-pura gak sakit kalo sakitnya sedikit doang. Ayo pulang sekarang, gue gendong."
"Ngaco lo." Tapi Bulan benar-benar bangkit dan berjongkok di depan Bintang.
"Naik." Titah Bulan yang tak dihiraukan oleh Bintang. Cowok itu bangkit dengan susah payah dengan berpegang pada batang pohon, lalu menarik Bulan berdiri.
Kedua mata Bulan berotasi. Padahal tinggal naik doang apa susahnya. "Lo remehin tenaga gue hah?" Bulan menggenggam tangan Bintang lebih erat. "Kuat jalan gak?"
Bintang mengangguk. Sampai di parkiran Bulan tanpa banyak kata langsung merampas kunci mobil dari tangan Bintang. "Gue aja yang nyetir." Ujar Bulan tegas sembari membantu Bintang masuk ke dalam mobil.
Keadaan hening untuk beberapa saat. Perjalanan pun mulus tanpa hambatan. Bulan melirik ke samping mendapati Bintang yang diam membisu dengan posisi tangan mencengkeram perut kirinya. Keningnya berkerut dalam menahan sakit membuat Bulan semakin melajukan mobilnya lebih cepat.
"Gue suka lupa lo bisa bawa mobil." Setelah sekian lama akhirnya Bintang bersuara. "Sejak kapan bisa bawa mobil? Belajar sama siapa?"
"Kelas 10 kemarin. Belajar sendiri."
"Lo kalo susah ngomong mending diem deh. Jangan ngabisin tenaga."
"Galak banget." Bintang mencibir.
"Langsung ke rumah sakit ya?"
"Gak," jawab Bintang spontan.
"Masih sakit kan perutnya. Gue bukan bocah yang bisa lo bohongin."
"Jangan plis, muak gue liat rumah sakit."
Mendengar nada bicara Bintang yang sangat memohon menghasilkan helaan nafas kasar dari Bulan.
"Liat muka lo aja udah cukup ngurangin sakitnya."
"Lagi sakit masih sempet-sempetnya ngegombal."
"Bin,"
"Hmm?"
"Sakit banget ya?"
"Gak terlalu lagi."
Bulan tersenyum nanar. "Padahal lo bisa jujur ke gue Bin. Kalo sakit ya bilang sakit. Jangan ditutupi dan berpura-pura kuat. Lo selalu bilang ke gue buat keluarin semua unek-unek gue tanpa perlu ditahan. Tapi faktanya lo sendiri gak bisa ngelakuin apa yang selalu lo bilang ke gue."
"Tau alasan gue ngomong gitu?" Bulan menggeleng.
"Karena gue sakit liat lo sakit."
"Lo pikir gue nggak? Rasanya sesek liat lo kesakitan dan gue gak bisa berbuat apa-apa."
"Gue hulk, jadi tahan banting." Bintang mengacungkan jempolnya.
Pandangannya beralih menatap Bulan dalam. Cahaya purnama di langit seakan menyorot wajah cantik gadis itu. Sangat indah dan candu untuk dia pandang.
__ADS_1
"Rasa sayang gue ke lo terlalu besar untuk digambarkan dengan kata-kata. Sesayang itu sampai gue gak sanggup liat lo sakit Rembulan."