WHY

WHY
Deep Talk


__ADS_3

Tiga hari setelah Arghi membuka mata para pelajar mulai masuk sekolah kembali. Begitu juga Bulan dan Bintang. Dua anak manusia itu pergi ke sekolah tanpa Arghi, dan tentu tidak ada yang mengomel mengingatkan mereka untuk makan saat jam istirahat. Baik Bulan maupun Bintang lebih banyak diam saat di kelas. Bahkan saat Haris dan Yozi menghampiri mereka untuk ke kantin bersama pun keduanya selalu menolak.


Saat hari pertama masuk sekolah Bintang ditemani oleh Bulan menghadap ke pelatih basket untuk mengundurkan dirinya dari jabatan ketua. Hal tersebut tentu ditolak mentah-mentah oleh pelatih. Bahkan anggota basket lainnya pun tidak menyetujui keputusan Bintang. Sampai dirinya mengatakan bahwa kondisi tubuhnya sudah tidak sesehat dulu, lapangan basket yang mulanya ricuh hening seketika. Tatapan bertanya itu tidak Bintang hiraukan. Bintang hanya membungkuk dalam sambil mengucapkan maaf. Dan setelah perdebatan panjang Bintang akhirnya resmi melepas jabatannya.


Cukup lega walaupun ada rasa kecewa di hati. Bintang menyukai basket sejak dulu. Namun dia terpaksa melepaskannya karena tak lama lagi, dia tidak akan bisa menyentuh bola orange itu.


Bulan dan Bintang berjalan beriringan di koridor yang ramai. Bel pulang sekolah telah berbunyi tiga menit yang lalu. Sedari hari pertama sekolah keduanya tidak sekali pun memakai kendaraan karena jarak dari rumah sakit ke sekolah cukup dekat hingga mereka memutuskan untuk berjalan kaki. Dan mereka pun, atau lebih tepatnya Bintang, terlalu malas untuk pulang ke rumah yang sepinya sudah mengalahkan kuburan. Jadilah rumah sakit itu seperti rumah kedua mereka. Awalnya Bulan menentang, takut Bintang terlalu kelelahan jika harus berjalan kaki. Namun berdebat dengan Bintang bukanlah jalan yang benar. Dijamin akan membuat emosi jiwa dan raga.


"Lan, itu kayak punggung Arghi gak sih?" Bulan menatap apa yang Bintang tunjuk. Di depan sana terdapat sekumpulan orang yang sepertinya sedang mengerubungi laki-laki yang Bulan akui memang mirip dengan Arghi.


"Mirip sih, tapi gak mungkin ah. Orang kak Arghi masih di rumah sakit. Itu juga orangnya pake jas. Tukang promosi les kali."


Bintang menggandeng Bulan ke sekumpulan orang-orang itu. Rasa penasarannya memuncak saat melihat Haris dan Yozi juga berada di sana.


"Lah, kakak?" Bulan sampai mengucek matanya siapa tahu dia salah lihat. Tapi tetap tak ada perubahan. Wujud Arghilah yang ada di netranya sekarang.


"Lo napa di sini njir?!" Bintang pun ikut kaget. "Ini juga ngapain pake jas segala? Mau kawin lo?"


"Udah keluar kalian rupanya. Ayo pulang," Arghi melempar senyum tanpa dosanya. "Kita pamit ya. Haris Yozi, gue cabut duluan." Setelah itu Arghi segera menarik tangan Bintang dan Bulan menuju mobilnya.


"Sekarang jawab, kenapa kakak keluar?" Tanya Bulan sambil melingkarkan tangannya di leher Arghi dari kursi belakang. Senyum lebarnya agak sedikit menakutkan di mata Arghi.


Arghi pun melepaskan tangannya dari setir mobil lalu mencium pipi Bulan sekilas tanda perdamaian. "Gabut dek."


"Waktu semakin berjalan, kalian belum makan siang." Arghi segera menjalankan mobilnya ke tempat makan terdekat. Pergerakannya terasa kaku karena terus ditatap oleh Bulan dan Bintang.


Sampai mobil berhenti di restoran terdekat, ketiganya langsung mengambil tempat di pojokan. Robot pelayan pun dengan sigap mendatangi meja ketiganya.


Seperginya robot pelayan usai mencatat pesanan mereka, keadaan meja makan itu dilanda keheningan sampai deheman Arghi memecah sunyi. Dirinya merasa kikuk ditatap lamat oleh dua anak manusia itu.


"Jadi, tadi pagi, satu jam setelah kalian pergi sekolah. Kakak pulang, eh maksudnya ke kantor. Ada rapat penting perusahaan cabang luar negeri sana. Sedangkan kak Dirga ada kumpul penting sama pejabat tinggi di Golden Hall. Kak Dirga sih gak tau kalo kakak yang mimpin rapat. Jadi tolong kerja sama kalian supaya kak Dirga gak tahu ya." Arghi menyelesaikan penjelasannya dengan senyum manis. Menatap was-was Bulan dan Bintang yang masih terus menatapnya tajam.


"Nanti kalo kak Dirga pulang sabi ya, cepuin tuh anak." Bulan mengangguk setuju sambil menatap sinis kakaknya.


"Eh, jangan gitu dong. Kalian kan anak manis, baik, pintar, rajin menabung, dan tidak sombong. Tidak boleh jadi anak cepu."


"Atau sekarang aja langsung kasih tau kak Dirga ya?" Bulan ikut memanasi Arghi. Bahkan gadis itu telah mengambil ponsel dari saku jas sekolahnya.


"Ehh, adek sayang. Nanti kakak beliin es krim seharian ini mau? Gak akan kakak paksa kalo adek gak mau makan buat hari ini."


"Oke deal," Bintang cengo. Secepat itu Bulan berubah pikiran.


"Lo gimana sih? Masa sama es krim aja tergoda. Gue bisa beliin lo sekalian ama pabrik ama penjualnya kalo lo mau." Bintang misuh-misuh.


"Sorry Bin, tapi kak Arghi bolehin gue makan es krim seharian tanpa dipaksa makan itu kejadian yang sangat langka. Tidak boleh gue sia-siakan."


Arghi tertawa senang lalu mengacak rambut Bulan. "Anak pinter."


"Lagian kakak udah sehat kok. Cuma tetep harus rajin-rajin check up. Kalo ada tanda-tanda penolakan langsung dilaporin biar cepet ditangani."


"Bener loh ya, kalo ada ap-"

__ADS_1


"Pesanan anda datang." Suara robot pelayan memotong ucapan Bulan.


"Kalo ada apa-apa lang-"


"Jika membutuhkan sesuatu, harap tekan tombol di ujung meja." Lagi, Bulan harus menghentikan ucapannya.


"Langsung bilang ke-"


"Saya pamit undur diri."


"Robot anjing." Sentak Bulan kesal.


Tawa lepas meledak seketika. Arghi memeluk Bulan dari samping saking gemasnya melihat wajah yang tertekuk kesal itu. Bahkan Bintang sampai tersungkur ke lantai saking puasnya dia tertawa. Mengundang tatapan aneh pengunjung di sekitar.


"Njir perut gue kram," Bintang meringis pelan memegang perutnya yang kemarin sempat tertusuk. Membuat Arghi sontak menghentikan tawanya dan raut Bulan yang berubah drastis. Menatap Bintang dengan pandangan yang sulit untuk Bintang artikan.


"Napa liatin gue? Iya gue tau gue ganteng." Wajah Arghi dan Bulan berubah datar.


"Gak usah dijawab, kita makan aja." Bulan mengangguk setuju.


...~~~...


"Lah, lo napa di sini?!" Dirga berseru heboh di tengah malam lantaran melihat sosok Arghi telah berbaring santai di kasurnya.


"Loh, emang gak boleh?" Arghi bertanya balik dengan wajah tanpa dosa.


"Ini gue gak lagi ngigau kan?" Gumam Dirga sambil menampar pipinya sendiri. Takut-takut kalau yang dilihatnya itu adalah setan yang menyerupai Arghi.


"Baru tiga hari loh," Arghi hanya cengengesan mendengar ujaran Dirga.


"Udah sana bersih-bersih, udah lewat tengah malem nih." Dirga pun mengangguk lalu masuk ke kamar mandi.


Selesai membersihkan tubuh, Dirga langsung bergabung bersama kedua adiknya yang telah menunggunya di kasur. Setelah berhari-hari atau bahkan seminggu lebih Arghi berada di rumah sakit. Mereka memutuskan untuk siblings time malam ini. Dengan posisi Arghi berada di kanan, Bulan di tengah, dan Dirga di kiri.


"Kita deep talk aja kali ya." Arghi dan Bulan mengangguk setuju.


"Mulai dari siapa?" Tanya Bulan.


"Arghi."


Yang disebut namanya pun mengangguk sambil memindahkan pandangannya ke langit kamar. "Sejujurnya sebelum kejadian, atau lebih tepatnya sebelum ayah bunda pergi, om Cakra bilang kakak harus dapetin donor jantung segera karena udah bener-bener rusak. Di situ kakak udah pasrah. Udah dari tahun-tahun yang lalu kita nyari donor dan gak pernah dapet. Dan lagi setelah kabar tentang ayah bunda, kakak lebih sering diem di kamar. Itu karena buat berdiri aja terlalu letoy, bener-bener sakit banget. Apalagi setelah itu kita dapet kejadian gak enak, kejadian-kejadian yang bikin kita semua harus fokus ke manusia bertopeng."


"Maaf baru bilang ini semua ke kalian. Kakak gak bisa gambarin sebesar apa rasa terima kasih kakak ke kalian karena selalu nemenin kakak dua puluh empat jam."


Bulan memeluk Arghi dari samping. "Makasih udah bertahan sampe sekarang kak." Arghi tersenyum di gelapnya kamar.


"Mau marah tapi udah lewat. Habis ini kalo ada apa-apa langsung ngomong. Bukan cuma Arghi, adek juga gitu." Arghi dan Bulan mengangguk patuh.


"Selanjutnya adek."


Bulan berdehem pelan untuk mengurangi kegugupan. "Mau cerita dari mana?"

__ADS_1


"Semuanya." Dirga dan Arghi berucap berbarengan.


"Ya maksud dari semuanya itu apa? Masa adek harus cerita dari adek kecil sampe sekarang?!"


"Setelah ayah bunda meninggal." Ujar Dirga pelan.


"Malem itu, habis kak Arghi dibawa ke rumah sakit. Adek pulang sendiri ke rumah. Ngurung diri di kamar, nyayat lengan." Kalimat terakhir Bulan terdengar sangat lirih.


"Sampe akhirnya Bintang dateng, tapi adek gak tau dia ngapain. Soalnya waktu itu bener-bener gak sadar 100%. Adek ngelakuin itu semua di luar kesadaran. Taunya pagi-pagi adek bangun liat Bintang tidur di posisi duduk."


"Maaf udah ngelakuin itu," cicit Bulan.


Dirga menghela nafas gusar. "Hal itu gak seharusnya adek lakuin. Tubuh adek berharga lebih dari apa pun."


"Adek masih gak mau ke psikolog?" Tanya Arghi hati-hati.


Di temaramnya suasana kamar Bulan tersenyum sendu. "Adek gak perlu ke sana kak, semua bakal berakhir gak lama lagi." 


"Gak usah kak."


"Kenapa gak mau?"


"Karena sejatinya yang udah rusak itu sulit untuk diperbaiki seperti semula. Biarin aja kayak gini. Dengan adanya kalian dalam keadaan sehat itu udah lebih dari cukup buat adek."


Baik Dirga maupun Arghi membisu sesaat. 


"Oke, lanjut kak Dirga." Bulan memecah keheningan. Menyenggol lengan Dirga agar mulai berbicara.


"Gak ada yang khusus. Kayak biasa aja."


"Bohong..." Arghi dan Bulan berujar berbarengan dengan nada menggoda.


"Gak bisa kek gitu, kakak harus cerita juga pengalaman kakak yang sekiranya bikin kakak down. Gak mungkin gak ada." Arghi mengangguk setuju.


"Tentang ayah sama bunda sih. Waktu itu kakak suruh bawahan kakak cari mayat ayah bunda, dan katanya udah gak karuan lagi. Daging-daging manusia berhamburan di laut, dan otomatis susah buat dicari tahu yang mana jasad ayah bunda. Sama satu lagi, pelakunya. Masih belum ada titik terang siapa yang taruh peledak di jet pribadi kita."


"Peledak?!" Beo Arghi.


"Tim forensik nemuin bubuk peledak buatan di reruntuhan jet."


Suasana kamar kembali hening. Ketiganya membisu untuk waktu yang cukup lama. Diamnya mereka bukan berarti telah mengikhlaskan. Dendam itu ada, namun mereka tidak tahu siapa yang harus menerima dendam itu.


"Berarti semua itu disengaja ya," Bulan bergumam sangat pelan. Namun terdengar jelas di kamar yang hening itu.


"Kita memang gak boleh berprasangka buruk, tapi manusia bertopeng kayaknya bisa jadi pelakunya. Rekaman jet ayah yang meledak gak mustahil dilakuin oleh dia yang bukan manusia biasa."


Baik Dirga maupun Arghi membisu. Diam menatap langit kamar, memikirkan kemungkinan yang Bulan sebutkan memang cukup masuk akal.


"Apa pun itu, tugas kita sekarang cuma ikhlas dan mendoakan. Biarkan Tuhan yang mengatur orang-orang itu."


"Udah ya, sekarang tutup mata, hilangin semua pikiran kalian. Otak juga perlu istirahat."

__ADS_1


Tanpa bantahan, Arghi dan Bulan segera melaksanakan perintah Dirga. Menutup mata masing-masing tanpa ada lagi yang membuka suara.


__ADS_2