WHY

WHY
Fighter


__ADS_3

Satu bulan berlalu cepat. Bulan dan tiga lainnya telah menyelesaikan latihan mereka sedari dua minggu yang lalu. Dan khusus untuk hari ini sekolah diliburkan karena akan dilaksanakan gladi bersih besar-besaran. Hanya ada anak-anak yang berkepentingan termasuk Bulan salah satunya.


Usai mengantar Bulan ke sekolah Arghi langsung menuju ke suatu tempat untuk menemui seseorang.


Membuka pintu, mata Arghi langsung menangkap sosok lelaki yang tengah serius menatap layar.


"Ngapain lo?" Tanya Arghi.


Bintang menoleh sebentar, "Berak."


Arghi menoyor kepala Bintang. "Serius anjing!"


"Dih ngegas. Gue lagi cosplay jadi detektif."


Arghi menatap layar-layar besar di sana dengan seksama. "Lo udah berapa kali mergokin mobil ini?"


Bintang berpikir sejenak. "Lumayan sering sih. Pokoknya setiap gue cuma berdua sama Bulan. Tapi kalo kita jalan bertiga, gue gak pernah liat mobil ini."


Arghi duduk di sebelah Bintang. "Lo pernah liat di sekolah?"


"Gak."


"Ehh, pernah gak ya?"


"Keknya nggak."


"Ehh, perasaan pernah."


Bola mata Arghi berotasi malas. "Goblok."


"Gak tau deh lupa. Entar aja mikirin itu, ayo latihan." Bintang bangkit dari duduknya lalu masuk ke sebuah ruangan diikuti Arghi setelahnya.


"Kalo capek langsung istirahat aja," peringat Bintang.


"Iyee."


Mereka mulai sibuk dengan alat masing-masing. Arghi yang fokus dengan pistolnya dan Bintang yang sibuk dengan samsaknya.


Gedung inilah yang mereka tempati untuk melatih kemampuan bertarung mereka. Letaknya juga lumayan jauh dari jalan raya sehingga aman dari jangkauan khalayak ramai.


Mereka memiliki keahlian masing-masing. Arghi yang lebih condong ke dalam senjata jarak jauh baik itu senapan, panah, dan sebagainya. Sedangkan Bintang lebih condong dalam hal jarak dekat seperti bertarung dengan tangan kosong atau menggunakan pisau.


"Gue ikut nembak." Arghi yang baru saja menekan pelatuk pertamanya pun menoleh.


"Gak pake kacamata dulu?" Tanya Arghi.


Inilah faktor yang menghambat Bintang dalam senjata jarak jauh. Matanya yang minus membuatnya kesulitan dalam menembak target.


"Gak, mau nyoba tanpa kacamata." Jawab Bintang. Setelah mengambil sebuah pistol, Bintang mulai fokus kepada titik hitam yang berjarak 60 meter di depannya.


Berkali-kali Bintang mengerjap mencoba menghalau bayang -bayang yang mengganggu. Namun tetap saja kabur.


"Titik hitam itu di mata lo bayangan yang gerak-gerak atau bener-bener kabur?" Tanya Arghi.


"Burem banget." Jawab Bintang.


Setelah itu Bintang kembali berdiri tegak. Memijat pelipisnya yang terasa nyeri karena terlalu lama fokus kepada target.


"Kenapa gak pake aja sih kacamatanya."


"Kacamata gak selalu gue bawa ke mana-mana. Misalkan ada apa-apa, dan senjata yang gue pegang cuma pistol. Sedangkan gue udah gak kuat lagi berantem tangan kosong, kan susah." Jelas Bintang.


"Coba lo tembak sesuai sama yang lo liat." Perintah Arghi.


Bintang menurut, kemudian bersiap untuk menembak target dengan tepat.


DOR


Bintang menghela nafas saat melihat hasilnya.


"Coba lagi, tapi dengan arah yang berbeda." Perintah Arghi.


Bintang mengangguk, lalu kembali fokus dengan senapannya.


DOR


"Kampret," umpat Bintang.


"Coba lagi, jangan nyerah."


DOR

__ADS_1


"Bagus, dikit lagi kena sasaran. Coba lagi!" Seru Arghi.


DOR


Hampir mengenai target. Bintang kembali mengarahkan senapannya sambil membatin.


"Semoga kena,"


DOR


Hening. Bintang sendiri cengo melihat pelurunya berhasil mengenai target. Sedangkan Arghi tersenyum, persis seperti seorang ayah yang bangga melihat anaknya sukses.


"Coba lagi, tembak target gue."


Bintang menempati tempat yang sedari tadi diisi oleh Arghi. Mengarahkan senapannya sedikit ke atas seperti yang dia lakukan tadi.


DOR


Berhasil. Bintang tersenyum senang melihatnya. Sekarang dia tahu teknik menembak target dengan mata minusnya.


Arghi mengacak surai Bintang sampai membuat sang empu rambut berhenti tersenyum.


"Lo kira gue anak kecil apa? Jadi berantakan gini rambut gue." Ujar Bintang menepis tangan Arghi dari kepalanya.


"Tetep ganteng kok." Puji Arghi.


Bintang tersenyum narsis. "Iyalah, Bintang emang ganteng dari lahir." Ujar Bintang membusungkan dada.


Wajah Arghi langsung datar. "Giliran dipuji baru seneng lo."


Setelah itu mereka kembali ke urusannya masing-masing. Bintang yang masih ingin memantapkan tembakannya, dan Arghi berganti ke samsak untuk meningkatkan kemampuan bertarung tangan kosongnya.


Setelah tiga jam lamanya berlatih akhirnya mereka berhenti. Peluh membasahi tubuh keduanya. Arghi rebahan ke lantai disusul oleh Bintang setelahnya.


Diam selama beberapa saat. Bintang bangkit lalu berjalan menuju lemari pendingin yang berada di pojok ruangan. Mengambil dua botol isotonik lalu kembali ke tempatnya berbaring tadi.


Bintang menggelindingkan botol yang tadi dibawanya kearah Arghi.


"Thank you."


"Btw muka lo pucet, lo sakit?" Tanya Arghi.


Arghi mengangguk. "lo sakit?" Tanyanya lagi.


"Nggak tuh, gue sehat-sehat aja." Jawab Bintang lalu kembali meminum airnya.


"Kalo sakit bilang, jangan diem aja." Bintang tertegun lalu mengangguk.


"Gue mandi duluan." Ujar Arghi kemudian bangkit berjalan ke kamar mandi.


Selama menunggu Arghi selesai mandi Bintang sibuk menscrool layar ponselnya. Mencari tahu lebih dalam tentang penyakit yang dia derita.


Dan kesimpulan yang dapat diambil adalah cuci darah atau transplantasi ginjal. Sebenarnya Bintang sempat tidak percaya bahwa penyakitnya ini sudah lama bersarang. Hanya saja dia terlalu bodoh soal dunia medis hingga tidak menyadari bahwa ada yang salah dengan tubuhnya.


Jujur saja Bintang memang sering merasa sakit di bagian perut kirinya. Dia mengira sakit perutnya itu karena dia langsung berlari atau berolahraga setelah makan, namun ternyata salah besar.


Baik Karina maupun dokter Arina pun telah membujuknya untuk melakukan cuci darah. Tapi dia sendiri masih ragu.


"Woy!" Bintang tersentak sesaat setelah tepukan keras pada bahunya.


"Gue panggil dari tadi gak nyahut. Sana mandi!" Bintang mencebik kesal lalu bangkit masuk ke kamar mandi.


"Lo kenapa Bin?" Gumam Arghi usai Bintang menutup pintu kamar mandi.


Arghi sempat melirik layar ponsel Bintang tadi dan itu membuatnya semakin khawatir. Bintang sakit? Atau sekedar iseng? Dan banyak lagi pertanyaan yang ada di otaknya.


"Nggak, harus positif thinking dong," gumam Arghi kepada diri sendiri.


Arghi pun mengambil ponselnya, memilih untuk bermain game ketimbang berpikiran buruk. Beberapa menit kemudian Bintang keluar dari kamar mandi. Telinganya langsung disuguhi umpatan kasar Arghi yang sibuk dengan ponsel.


"Bangsat anying, noob banget lo tai!" Serunya hampir membanting benda persegi panjang tersebut. Untung saja tidak benar-benar terbanting.


"Gabung-gabung." Bintang mengambil tempat di samping sambil membuka ponselnya.


Dan setelah itu keduanya pun tenggelam dalam ponselnya masing-masing.


"Lo laper gak?" Tanya Bintang.


"Emm, lumayan."


"Makan kuy."

__ADS_1


"Gas."


Arghi dan Bintang keluar dari gedung, masuk ke mobil masing masing. Melaju pergi meninggalkan gedung hitam tersebut sampai berhenti di salah satu kedai ramen langganan. Untungnya belum terlalu ramai karena masih jam 11.20 pagi.


"Bu, ramen 2 yang kaya biasa."


"Siap."


"Gladi selesai jam berapa?" Tanya Bintang.


"Belum tau, nanti di chat kalo udah selesai katanya."


Tepat setelah itu ponsel Arghi berbunyi.


"Halo dek, udah selesai?"


"Iya ini baru selesai. Tapi Lisa ngajakin adek makan bareng, boleh gak?"


"Boleh, nanti kalo udah selesai kabarin aja. Kakak juga lagi makan sama Bintang. Hati-hati perginya, makan yang banyak."


"Siap. Adek tutup ya, Lisa udah nunggu."


"Oke."


Arghi kembali meletakkan ponselnya ke atas meja.


"Bulan ke mana?" Tanya Bintang.


"Pergi sama Lisa katanya."


Bintang diam sejenak, mengingat siapa saja teman-temannya yang memiliki nama Lisa.


"Ohh, Lisa anak dance bukan?"


"Mungkin, kelas mana?"


"IPA 2."


Arghi mengangguk mengerti.


"Pikiran gue kayak ada yang ganjal, tapi gak tau apaan." Bintang menatap Arghi.


"Kena santet kali." Ujar Bintang asal.


"****** lo, amit-amit gue kena santet."


"Dua bujang ini melamun aja." Arghi dan Bintang kompak tersentak akan kedatangan si pemilik kedai.


"Ibu ngagetin aja." Ujar Arghi.


"Habisnya kalian bengong aja. Di sini banyak penunggunya loh," setelah mengatakan itu bu Indah pergi sambil cekikikan.


"Anjir merinding gue."


"Alay lo," cibir Arghi lalu memakan ramennya.


"Loh kakak, Bintang?" Yang dipanggil pun menoleh.


"Lah, adek katanya mau makan?" Tanya Arghi menghentikan suapannya.


"Ini kan tempat makan ogeb." Celetuk Bintang.


"Oh iya lupa. Duduk di sini aja."


Bulan mengangguk lalu menarik tangan Lisa untuk duduk.


"Ini gapapa sama kakak lo?" Bisik Lisa.


"Gapapa, santuy aja sama kita." Celetuk Bintang dengan mulut penuh.


"Kenalin, Arghi kakaknya Bulan."


"Gue Bintang."


Lisa tersenyum kikuk, "Lisa kak."


"Aduh, demi apa gue duduk sama pangeran sekolah? Eh astaga sadar Lisa, lo udah punya Jeran!" Batin Lisa meronta-ronta.


Akhirnya makanan yang ditunggu pun datang. Lisa bisa mengalihkan pandangannya dari kedua lelaki tampan itu sebelum hatinya benar-benar bergeser dari sang pacar.


Selesai makan mereka langsung berpisah. Lisa pergi dengan pacarnya, sedangkan Bulan, Arghi, dan Bintang pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2