
Suara pintu yang digedor tak sabaran mampu membuat Dirga terbangun. Diliriknya Arghi yang masih terlelap nyenyak di samping. Dengan perlahan Dirga turun dari ranjang, berlari ke bawah untuk membuka pintu.
"Loh, kak Dirga kan?" Tanya gadis berponi dengan nafas terengah-engah. Dirga menatap Lisa dari atas sampai ke bawah. Dilihat dari penampilannya, sepertinya gadis itu baru saja selesai tampil. Ditambah dengan piala yang menjulang tinggi di tangan kiri gadis itu.
"Iya, kenapa?"
"Bulan ada? Anak-anak sekolah pada ngeprank kak, katanya Bulan sama Bintang udah meninggal. Mentang-mentang mereka gak suka sama Bulan, main seenaknya aja bercanda bawa-bawa nyawa."
Dirga menatap sendu Lisa yang tengah menunggu jawabannya. "Ayo masuk."
Dirga menggiring Lisa ke lantai dua. Sampai di sana terlihat Arghi di ambang pintu. Sepertinya lelaki itu ikut terbangun.
"Kak Arghi pucet banget. Kak, Bulan ada kan?" Kini gantian Arghi yang menatap Lisa sendu. "Anak-anak sekolah keterlaluan banget tau kak. Masa sampe bawa-bawa nyawa cuma buat ngeprank!"
"Sini," Arghi menarik pergelangan tangan Lisa masuk ke kamar Bulan. Memberikan sebuah amplop dengan ukiran nama Lisa di sana.
"Makasih ya udah jadi temannya Bulan. Kakak sangat menghargai kamu sebagai teman pertama Bulan di sekolah. Selamat atas kemenangan kalian. Bulan pasti seneng liat kalian bawa piala itu. Kakak harap kamu bisa ikhlas setelah ini." Arghi berlalu meninggalkan perempuan itu seorang diri di sana. Memberi waktu untuk Lisa yang masih mematung tanpa ada niatan untuk bergerak.
"Rupanya bukan prank ya?" Tanyanya pada angin.
Setelah Lisa pamit pulang Arghi kembali masuk ke kamar Bulan. Walaupun rasanya menyakitkan setiap kali dia menginjakkan kakinya di sana Arghi tetap saja datang. Karena di sanalah dia seolah merasakan keberadaan sang adik. Seolah Bulan masih duduk di meja belajar, mencoret-coret kertas untuk menemukan jawaban dari soal-soal yang memusingkan kepala.
Arghi merebahkan tubuhnya ke kasur. Bayang-bayang Bulan yang terbaring di sampingnya seolah hadir. Jujur saja ini masih terasa seperti mimpi. Belum berganti hari semenjak kabar kepergian mereka, Arghi sudah rindu berat.
"Kalian lagi ngapain?" Tanyanya entah pada siapa.
"Bin, lo lagi ngetawain gue ya?"
"Dek, kakak kangen."
...~~~...
Malam berlalu sangat lama bagi Arghi yang tidak bisa menutup mata untuk tidur barang sejenak. Hanya diam di kamar Bulan tanpa melakukan apa pun. Setiap satu jam sekali Arghi akan membaca surat dari Bulan, lalu kembali menangis. Seperti itu terus berulang-ulang sampai matahari bertengger gagah di langit.
Arghi memaksakan tubuhnya bangkit ke kamar mandi, bersiap untuk pergi ke makam. Pagi-pagi sekali tadi Dirga mendatanginya dengan raut tergesa-gesa. Pamit pergi ke Amerika kembali karena urusannya di sana sebenarnya belum selesai. Arghi pun mengangguk, dan setelahnya diam mendengarkan berbagai nasihat Dirga. Sekitar sepuluh menit barulah Dirga menyelesaikan omelannya, berlalu cepat pergi keluar.
Arghi merapikan kerah kemejanya. Menilik wajahnya dari kaca. Kantung mata hitam dan sembab, bibir pucat, tegak pun tak tegap. Arghi menggeleng tak peduli untuk segera berjalan keluar rumah. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tak perlu waktu lama untuknya sampai di pemakaman. Arghi berjalan lambat menuju nisan dua remaja kesayangannya. Namun langkahnya terhenti sesampainya di sana.
Ada seorang perempuan yang tengah menangis tersedu-sedu di samping nisan sang adik. Tangisan itu terdengar menyakitkan di rungu pendengarannya. Siapakah gadis itu? Setahunya Bulan hanya memiliki Lisa sebagai teman perempuan.
__ADS_1
Arghi pun memilih diam, menunggu gadis itu selesai dengan tangisnya.
"Caya, aku pulang ya." Gadis itu akhirnya bangkit. Saat berbalik pandangan keduanya bertemu. Cukup lama mereka diam sampai suara gadis itu memecah keheningan.
"Mas mau ke sini?"
"Kamu siapanya Bulan?" Tanya Arghi tanpa basa-basi.
"Saya kakaknya Bulan." Lanjut Arghi yang mengerti dengan diamnya gadis itu.
"Ah, saya teman Caya di panti."
Seketika Arghi teringat dengan cerita Bulan. Gadis baik hati yang selalu menemani Bulan, bahkan rela tak ikut jalan-jalan demi menemani Bulan.
"Bisa ikut saya? Saya mau tanya sesuatu." Gadis itu mengangguk ragu.
Arghi berjalan terlebih dahulu, membawa gadis itu ke sebuah cafe terdekat. Memesan dua coklat panas untuk menemani perbincangan.
"Saya Arghi." Tangannya terulur ke depan.
"Lya." Ujar gadis itu kikuk menyambut uluran tangan Arghi.
"Adik saya itu tertutup. Dia tidak pernah menceritakan kehidupannya di panti. Apakah dia bahagia, ataukah sengsara. Jadi tolong, ceritakan dengan jujur bagaimana kehidupan Bulan di sana."
"Kehidupannya sangat buruk..."
"Ibu, dia mengambil uang ibu. Kami melihatnya menyelusup ke kamar dan mengambil banyak sekali uang!" Ujar seorang anak menggebu-gebu. Yang lain tentu mengangguk setuju. Tak membiarkan Bulan berujar sedikit pun untuk membela diri.
Ibu panti menatap Bulan tajam. Hujan deras di luar sana menambah kesan horor untuk Bulan yang sibuk menggeleng, menyangkal semua tuduhan itu. Ingin berbicara namun mereka seolah tak membiarkan Bulan membela diri.
"Ibu, aku nggak ambil uang ibu!"
"Maling mana ada yang ngaku."
"Pencuri!"
"Munafik ya, pura-pura baik di depan ibu."
Berbagai cacian menyakitkan itu keluar. Bulan semakin terpojok.
"Diam semuanya!" Seru ibu panti.
__ADS_1
"Dan kamu, ke halaman sekarang. Berdiri di sana sampai malam!"
Petir menggelegar seolah menjadi backsound di sebuah film. Bulan menatap ibu panti tak percaya.
"CEPAT REMBULAN!" Bentaknya.
"Dari situlah awal mulanya. Saat itu saya dan Caya berumur 6 tahun. Dan semenjak itulah Bulan dijauhi dan selalu diperlakukan buruk oleh anak-anak lain, juga ibu panti."
"Sampai seminggu setelah kejadian itu. Saya tak sengaja mendengar rencana mereka yang ingin semakin membuat Caya dibenci oleh ibu panti. Caya sebenernya gak ngambil uang sepeser pun. Merekalah yang menjebak Caya. Mereka gak suka ibu panti yang selalu menomorsatukan Caya. Disitu saya merasa bodoh sekali. Ikut mendiamkan Caya yang tidak tahu apa-apa. Saya langsung nemuin Caya di halaman belakang buat ceritain apa aja yang saya dengar sampai ke rencana busuk mereka. Tapi Caya melarang saya untuk berbuat apa-apa. Caya juga melarang saya untuk bilang ke ibu panti kalo itu cuma jebakan."
"Saya pernah diam-diam nemuin ibu panti buat kasih tau semuanya. Tapi ibu panti gak percaya. Dan setelah itu semua, hidup Caya gak pernah tenang. Dia sering sekali dihukum berdiri di halaman belakang saat hujan lebat dan petir. Caya juga cuma dikasih makan satu kali sehari."
Arghi terhenyak. Seburuk itu ternyata kehidupan sang adik. Bahkan setelah keluar dari panti pun Bulan masih saja diperlakukan buruk. Kini dia mengerti kenapa Bulan takut sekali saat hujan deras turun. Apalagi ditambah dengan petir dan kilat, gadis itu bisa sampai menangis ketakutan.
"Maaf, saya tidak bisa berbuat apa-apa dulu."
Arghi kembali ke kenyataan. Menatap Lya yang menunduk dengan raut bersalah. Arghi tersenyum lembut.
"Bukan salah kamu. Saya malah berterima kasih karena kamu telah menemani Bulan. Bahkan kamu rela melewatkan acara jalan-jalan kamu hanya untuk menemani Bulan. Saya juga sangat berterima kasih karena telah mencegah Bulan mengakhiri hidupnya."
Lya mengangkat arah pandangnya. Menatap Arghi yang tengah tersenyum teduh ke arahnya.
"Sekali lagi, saya sangat berterima kasih."
...~~~...
Arghi menghentikan mobilnya di taman yang terakhir kali dia datangi bersama Bulan dan Bintang. Suasananya masih sama, sepi. Arghi duduk di bangku panjang di tempat yang sama pula dengan hari itu.
Bedanya kini dia hanya sendirian.
Arghi menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku. Menutup matanya erat saat hembusan angin menusuk ke tulang walaupun dia telah memakai mantel super tebal. Segala kenangan terputar di otaknya bak kaset rusak.
Bulan, perempuan yang paling dia jaga, telah hilang dari dekapannya. Sulit sekali untuknya menghilangkan bayang-bayang Bulan. Di mana pun dia berada, kehadiran Bulan selalu dia rasakan. Ikhlas tak semudah yang dikatakan. Arghi lebih baik kehilangan harta daripada sahabat dan adiknya. Bahkan Arghi lebih suka jika dirinya yang mati.
Arghi menghela nafas lelah. Tidak seharusnya dia berpikir seperti itu.
Dirinya mengingat curhatan Bintang sewaktu mereka duduk di rooftop tengah malam. Sahabatnya itu mengaku memiliki perasaan khusus untuk adiknya. Arghi berulang kali menyuruh Bintang untuk jujur, namun lelaki itu terlalu pengecut.
"Kayaknya lo tau masa depan ya, makanya gak mau jujur." Arghi tertawa kecil.
Bintang dan Bulan memang saling menyimpan rasa, tapi tak ada dari mereka yang mengutarakan. Keduanya hanya diam, membiarkan rasa itu bertambah setiap harinya. Hingga sekarang Tuhan yang menyatukan keduanya.
__ADS_1
Arghi mengangguk pelan. Tuhan lebih tahu hal apa yang terbaik untuk mereka. Tugasnya sekarang hanya mengikhlaskan, menjalani kehidupan seperti biasa, dan menunggu waktunya habis.
"Beristirahatlah dengan damai kalian."