
Pintu utama terbuka menampilkan sepasang suami istri yang terlihat harmonis dengan seorang pemuda di antara mereka.
"Bi, tolong panggilkan Arghi sama Bulan." Perintah Cahyo yang langsung dilaksanakan oleh bi Ani.
Tak lama kemudian Arghi dan Bulan datang. Keduanya lantas duduk di hadapan Cahyo dan Mentari dengan tatapan intens ke seseorang yang berada di tengah orang tuanya.
Mata Bulan bertemu tatap dengan pemuda tersebut. "Kok dia di sini?" Gumamnya pelan.
Cahyo berdehem. "Kenalin, Dirgantara Cahya Pratama, kakak kalian."
Arghi dan Bulan tercengang. Apa maksudnya?
"Maksud ayah, apa?" Tanya Arghi pelan.
Cahyo menghela nafas terlebih dahulu lalu menatap kedua anaknya.
"Dulu, ayah tidak direstui menikah dengan Zara, mamanya Dirga. Jadi ayah nekat kawin lari. Tapi di saat Zara tengah mengandung Dirga, kakek memaksa ayah menikah dengan bunda. Ayah tentu menolak, ayah bilang bahwa ayah telah menikahi Zara. Tapi kakek tetap bersikeras menyuruh ayah menikah dengan bunda. Jadi kesimpulannya, ayah memiliki dua istri. Tapi sayang, Zara berpulang disaat Dirga baru berusia satu minggu. Dia dibunuh."
Bulan tertegun, mencoba mencerna penjelasan dari ayahnya. Kepalanya menoleh ke arah Arghi yang sepertinya sama terkejut dengannya.
"Selama ini Dirga tinggal di Amerika, mengurus semua perusahaan ayah yang berada di luar. Tapi mulai sekarang Dirga akan tinggal di sini bersama kita."
Setelahnya suasana ruang keluarga sunyi tanpa ada yang berucap.
Hingga suara deheman Mentari memecah kesunyian. "Kami pergi sebentar. Beradaptasilah kalian."
Sampai Cahyo dan Mentari tidak lagi terlihat, ruang keluarga tetap saja sunyi. Canggung sekali.
"Emm, mau jalan-jalan?"
Ketiganya terus melangkah menyusuri komplek perumahan yang sepi tanpa adanya percakapan.
Bulan merasa dejavu.
"Kak Dirga," cicit Bulan.
Dirga menoleh. "Hm?"
"Nggak, manggil aja."
Dirga terkekeh. "Pasti kaget ya? Maaf muncul tiba-tiba."
"Kakak kayaknya udah tau, kenapa gak bilang kemarin?" Tanya Bulan.
Arghi mengernyit. "Tunggu, ini maksudnya gimana?" Dia merasa seperti orang bodoh yang tidak tau apapun.
"Kakak koreografer Bulan di ulang tahun sekolah kemarin." Jawab Dirga santai.
Entah sudah keberapa kalinya Arghi terkejut hari ini.
"Beli es krim yuk." Ajak Dirga.
Bulan langsung mengangguk semangat. Rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan nikmatnya sensasi dingin es krim.
Ketiganya pun masuk ke sebuah supermarket terdekat untuk membeli tiga buah es krim.
"Umur kakak berapa?" Tanya Arghi canggung. Lidahnya terasa kelu memanggil Dirga kakak karena biasanya dialah yang menjadi kakak.
"Ulang tahun tanggal berapa?" Bulan ikut bertanya.
"1 Juli, 25 tahun." Arghi dan Bulan mengangguk.
Dalam suasana diam tanpa sadar mereka telah sampai di rumah. Sebentar lagi jam makan malam. Ketiganya pun naik ke lantai dua, masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan tubuh.
__ADS_1
Ada empat buah kamar di lantai dua. Dengan adanya Dirga berarti satu kamar terpakai, menyisakan satu lagi kamar kosong untuk cadangan. Sedangkan di lantai satu ada tiga kamar. Satu kamar utama yaitu kamar Cahyo dan Mentari serta dua kamar tamu.
Setelah mandi Arghi pun berpindah tempat mengunjungi adiknya.
Bulan yang tengah mengeringkan rambutnya pun menoleh begitu pintu terbuka.
Arghi duduk di tepi ranjang. "Duduk sini, kakak keringin."
Bulan menurut, duduk di lantai tepat di depan Arghi.
"Kakak canggung sama kak Dirga." Ucap Arghi di tengah kegiatannya mengeringkan rambut Bulan.
"Kan baru kenal. Pasti lama-lama deket kok." Sahut Bulan. "Tapi, kakak kan orangnya friendly, tumben canggung banget kayak tadi."
"Kakak gak biasa punya kakak."
Otak Bulan melambat seketika.
"Maksudnya, kakak kan selama ini hidup jadi seorang kakak, jadi agak aneh."
Pintu kamar Bulan kembali terbuka, menampilkan sosok Dirga dengan setelan santainya. Rambutnya pun masih setengah basah membuatnya semakin terlihat manly.
"Makan dulu." Ajak Dirga.
Arghi dengan berat hati beranjak dari duduknya. Mendekati Dirga yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
"Adek?" Panggil Dirga lagi.
"Ah, nanti adek nyusul." Jawab Bulan sambil tersenyum kaku.
Arghi pun langsung menarik tangan Dirga menuju ke ruang makan. Bulan menghela nafas lega lalu menutup pintu kamarnya.
"Ar, kok adek gak diajak?" Tanya Dirga menahan tarikan Arghi.
Dahi Dirga berkerut.
"Gue janji bakal jelasin semuanya, nanti." Setelah itu Arghi kembali menarik pergelangan tangan Dirga menuju ke ruang makan.
"Dirga, Arghi, kok lama banget?" Tanya Mentari.
"Hehe, maaf bun. Tadi baju kak Dirga nyangkut di paku, jadi agak lama."
Dirga otomatis menatap Arghi horor. Sedangkan yang ditatap hanya menunjukkan raut tak berdosanya.
Cahyo dan Mentari geleng-geleng kepala. Mungkin jika Arghi dan Dirga semakin dekat, rumah ini akan ramai dengan suara pertengkaran mereka.
Keempat keluarga yang harmonis itu pun mulai menyantap makanan tanpa tahu ada yang menatap mereka sendu dari atas. Ingin sekali rasanya bergabung ke meja, tapi takut merusak suasana.
Di tengah suasana hening Dirga melirik kedua orang tuanya. Berharap ada yang menanyakan keberadaan si bungsu yang belum menampakkan diri. Tapi tidak ada. Matanya bergeser ke Arghi yang berada di sebelahnya. Pemuda dengan wajah teduh itu pun tidak bersuara. Terus menyantap makanannya dengan pandangan kosong.
Cahyo dan Mentari menyelesaikan acara makan mereka dengan cepat. Keduanya bangkit membuat Arghi dan Dirga menoleh dengan tatapan bertanya.
"Perusahaan bunda di Brazil sedang ada masalah. Jadi kami harus ke sana. Jaga diri kalian baik-baik ya. Arghi, jangan lupa minum obatnya."
"Kak, gue panggil adek dulu." Ujar Arghi setelah Cahyo dan Mentari pergi.
Tak lama kemudian Arghi datang bersama dengan Bulan.
"Kakak," panggil Bulan dengan nada merayu.
Arghi menggeleng tegas. "Makan adek! Dikit aja gapapa, yang penting makan."
Bulan pasrah. Tangannya menyendokkan nasi ke atas piring dengan porsi yang membuat Arghi geram sendiri. Ingin sekali dirinya protes melihat porsi makan sang adik. Namun mengingat perjuangannya menarik Bulan ke ruang makan, Arghi mengurungkan niatnya. Toh dia sendiri yang bilang makan sedikit saja tidak apa-apa.
__ADS_1
"Kok dikit banget makannya?" Tanya Dirga.
"Kenyang kak."
Mata Dirga membola. "Kenyang apa?! Perasaan adek gak ada makan apa-apa?"
"Makan es krim tadi." Jawab Bulan singkat.
"Mulai sekarang lo harus bantuin gue kalo adek gak mau makan. Susah banget nyuruh adek makan, sesusah nunggu kucing bertelur."
"Emangnya ada kucing bertelur?" Tanya Bulan.
"Itu cuma perumpamaan adek," Arghi greget. Tangannya terangkat lalu menekan kedua pipi Bulan gemas.
Dirga tertawa. Lucu sekali melihat interaksi kedua adiknya itu. "Udah, selesain dulu makannya."
Makan malam pun usai. Bulan langsung pamit masuk kembali ke kamar karena ada banyak tugas yang harus dia kerjakan.
Sedangkan Dirga menarik Arghi masuk ke dalam kamarnya. Duduk berdampingan di lantai balkon menanti penjelasan Arghi.
Arghi berdehem, kemudian mulai menjelaskan semua kejadian di masa lalu tanpa ada yang tertinggal. Dari Bulan yang dimasukkan ke dalam panti, kecelakaan Arghi hingga merusak kerja jantungnya, dan ketidaksukaan dua orang dewasa itu pada anak perempuan.
Dirga termenung setelah Arghi menyelesaikan ceritanya. Dia baru tahu orang tuanya sekejam itu.
"Jadi, kalo kita belain adek, ayah sama bunda bakal nambah hukuman adek?" Tanya Dirga pelan dan Arghi mengangguk.
"Waktu itu, saat pertama kalinya gue liat dengan mata gue sendiri adek dipukul ayah. Gue langsung berdiri di depan dia. Otomatis ikat pinggang ayah kena badan gue. Muka ayah langsung berubah lembut, nanyain gue, meriksa badan gue. Sedangkan adek..." Arghi menghela nafas. Tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Pokoknya ayah marah banget, langsung narik Bulan ke ruang kerjanya. Dan habis itu, adek sampe harus dioperasi." Suara Arghi memelan di akhir.
"Kalo kita bawa adek pergi jauh dari ayah sama bunda?"
Arghi menggeleng. "Koneksi ayah sama bunda terlalu besar. Kita gak akan bisa. Adek juga gak akan mau."
Keduanya menghela nafas.
"Bintang yang lo ceritain tadi siapa?" Tanya Dirga.
"Sahabat, dan udah gue anggap saudara. Rumahnya di depan rumah kita." Dirga mengangguk paham.
"Dia anak broken home. Tinggal cuma sama asisten dan satpam. Orang tuanya gak pernah pulang, cuma ngirim uang sampe dia bingung mau dikemanain tuh uang. Makanya kita sering bolak-balik ke sana. Tapi dia yang lebih sering ke sini, bahkan sering nginep."
"Bintang juga suka sama adek."
Dirga menoleh. "Kalo adek?"
"Gak tau. Mereka tuh kayak tom and jerry kalo ketemu." Arghi tertawa kecil mengingat momen konyol Bulan dan Bintang.
"Lo udah pacaran?"
Arghi tersedak air liurnya sendiri membuat Dirga terbahak melihat raut wajah adik tirinya itu.
"Gitu banget muka lo. Biasa aja kali, gak ada yang ngelarang."
Arghi berdehem, merubah raut wajahnya dengan cepat. "Gak ada." Jawab Arghi singkat.
Dirga semakin terbahak. Tangannya terangkat mengusak rambut Arghi gemas.
"Gue bukan anak kecil ya." Rutuk Arghi sembari menepis tangan Dirga dari kepalanya.
"Lo kan lebih kecil dari gue."
"Iyain, jangan gak bahagia aja lo."
__ADS_1