
Pagi hari ini Dirga berlari panik ke ruangan Bintang guna mencari adik bungsunya. Namun setelah sampai di sana dirinya hanya menemukan sosok Bintang seorang. Wujud Rembulan tidak ada di sana.
"Kenapa?"
"Ah, nggak. Cuma mau mastiin keadaan lo aja." Tak ingin membuat Bintang kepikiran, Dirga berbohong.
"Istirahat lagi ya, gue pergi dulu." Setelah menutup pintu Dirga kembali berlari ke ruangan Abian.
"Ngapain lari? Badan lo masih lemes anjir."
"Bulan gak ada di mana-mana, gue harus apa?" Dirga bertanya kalut. Abian pun mendekat dan mendorong Dirga duduk di tepi brankar.
"Tenangin diri lo, Bulan pasti ada di rumah sakit ini. Lo istirahat di sini, jangan kemana-mana. Biar gue yang cari Bulan." Abian langsung mengenakan jaket dan keluar dari ruangannya menyisakan Dirga dengan rasa cemasnya.
Di sisi lain, gadis yang tengah dicari-cari itu baru saja membuka mata. Netranya menelisik sekitar dan berhenti saat menangkap sosok Reyhan yang tertidur di sofa. Dengan segera Bulan pun turun dari brankar.
"Kak Rey," Bulan menepuk pelan pipi Reyhan sampai lelaki itu bangun.
"Kenapa tidur di sofa? Kenapa juga mindahin aku ke ranjang kakak? Kakak lagi sakit!"
"Ngomel mulu kamu." Reyhan berganti posisi menjadi duduk lalu melirik jam dinding sekilas.
"Lain kali jangan gitu lagi ya. Untung cuma hipotermia ringan semalem."
"Maaf ya," Reyhan melepaskan jaket Bulan. Menyingkap bagian lengan sebelah kiri, Reyhan mengganti perban di lengan kiri Bulan yang memiliki luka yang cukup dalam. Setelah itu kembali memakaikan Bulan jaket. Diperlakukan seperti itu mengingatkan Bulan akan sosok Arghi. Kakaknya itu selalu memperlakukannya selembut ini membuat matanya tanpa sadar memanas.
Reyhan membelai lembut kepala Bulan yang masih tertunduk. "Ayo, kakak anter ke dokter Arina. Mereka pasti nyariin kamu." Reyhan menggandeng Bulan menuju ruangan Arina.
"Astaga Bulan, kamu dari mana aja nak?" Arina menangkup wajah Bulan, memeriksa apakah ada luka baru di tubuh sang gadis. Tak mendapat jawaban, Arina menatap Reyhan. Dan seperti memiliki telepati, Reyhan mengangguk.
"Makasih ya Rey udah jagain Bulan. Kakaknya udah panik banget tadi, dikira Bulan diculik lagi."
Reyhan mengangguk. "Kalo gitu aku permisi ya dok."
"Iya, langsung istirahat ya."
Setelah sosok Reyhan menghilang Arina lantas memeluk Bulan erat. Persis seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya.
__ADS_1
"Bulan anak hebat." Arina melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut.
"Kita ke ruangan Abian ya. Kakakmu udah panik banget sampe infusannya kecabut." Arina menatap sendu Bulan yang masih saja diam. Raut gadis itu seperti orang linglung. Dengan segera Arina membawa Bulan ke ruangan Abian.
"Adek," Dirga langsung bangkit dari brankar menyerang Bulan dengan pelukan. Sungguh, dirinya sangatlah panik dari pagi sampai ke siang menjelang sore tidak mendapati sang adik di mana pun. Matanya menelusuri Bulan dari atas kepala sampai ujung kaki seperti yang Arina lakukan tadi. Memastikan tidak ada luka baru di tubuh sang adik. Setelah itu menangkup wajah pucat Bulan yang terasa dingin di tangannya yang hangat.
"Adek dari mana sampe badannya dingin banget gini?" Bulan menggeleng dengan kepala tertunduk.
"Dirga, kamu bawa Bulan istirahat aja ya. Jangan sampe ditinggalin." Ujar Arina tanpa suara di akhirnya. Dirga mengangguk paham lalu menggiring Bulan ke brankar. Arina pun pergi meninggalkan kakak beradik itu.
Bulan berbaring bersama Dirga di satu brankar dengan lengan Dirga sebagai bantalan. Dirga menenggelamkan wajah Bulan ke dadanya, mengelus lembut surai panjang itu.
"Semuanya bukan salah adek. Gak ada yang salah di sini. Justru kakak berterima kasih karena adek udah bertahan sampe kakak dateng ke sana. Terima kasih adek udah bertahan dan berjuang sampe adek luka-luka gini. Bahkan tadi adek gercep manggil bantuan saat Arghi dan Bintang sekarat. Adek juga yang udah bantuin kakak pas dikepung. Coba kalo adek gak dateng, udah habis kakak di tangan mereka."
"Kita banyak-banyak berdoa aja semoga organ Dimas cocok untuk Arghi dan Bintang ya."
Bulan mendongak. "Jadi kak Dimas?"
Dirga mengangguk. "Itu permintaan terakhir dia. Nyesek sih, sahabat sehidup semati kakak mati di tangan kakak, dan itu gara-gara kakak. Tapi mau gimana lagi, semua itu udah takdir. Mau kakak nangis darah pun Dimas gak akan bisa hidup lagi. Dimas juga mungkin udah kangen berat sama papa mamanya. Yang bisa kakak lakuin sekarang ya cuma doain dia dan ikhlas biar dia bisa pergi dengan tenang. Tapi jujur, rasa bersalah itu bener-bener menyiksa. Seperti manusia lainnya, kakak juga berandai. Seandainya Dimas gak nyelamatin kakak, dia masih sehat sekarang. Tapi balik lagi ke takdir. Walaupun andaikan Dimas gak nyelamatin kakak, dia akan tetap mati dengan cara lain karena memang waktu hidupnya sudah habis. Begitu juga dengan semua kejadian kemarin. Peperangan itu tetap akan terjadi walaupun adek gak diculik. Jadi adek gak berhak nyalahin diri sendiri."
Dirga mengecup pucuk kepala Bulan cukup lama. Sang adik terus saja membisu dengan raut kosong membuatnya khawatir.
Dirga tersenyum senang. Setidaknya Bulan merespon perkataannya walaupun hanya sebuah anggukan kecil.
...~~~...
Pagi ini, tepatnya pukul delapan pagi.
Si sulung sibuk berjalan ke sana kemari tanpa henti. Matanya tak lepas dari ruang operasi barang sedetik pun. Adiknya sedang berjuang di dalam sana. Hatinya tak berhenti berdoa, berharap operasi sang adik berhasil dan Arghi tidak perlu kesakitan lagi.
Di mana si bungsu? Gadis itu berada di ruangan Bintang. Dirga menyuruhnya untuk menemani Bintang selagi menunggu Arghi operasi.
"Bin, ambil ginjal gue aja." Bintang mengerutkan keningnya tanda tak suka.
Wajah Bulan terlihat murung walaupun tidak terlalu kentara. Bintang dapat melihat itu.
Ginjal dimas tidak cocok untuk Bintang. Itulah yang membuat Bulan murung. Tapi di sisi lain dia senang Arghi akan segera sembuh.
__ADS_1
"Lan, bantuin duduk dong."
"Ngapain?"
"Gapapa, pegel rebahan terus."
Tanpa banyak tanya lagi Bulan menaikkan tuas brankar sampai Bintang mendapatkan posisi ternyaman.
"Duduk sini," Bintang menepuk sisi kosong di sampingnya. Bulan tanpa banyak protes, duduk di hadapan Bintang yang sedari tadi terus menatapnya lembut.
"Luka-luka lo udah kering?"
"Beberapa udah," Bulan menjawab singkat. Masih tidak mengerti apa motivasi Bintang menanyakan hal itu.
"Mau liat boleh?" Bulan mengangguk ragu sambil membuka jaketnya.
"Yang masih merah ini yang paling parah ya?" Bulan kembali mengangguk.
"Kapan terakhir perban ini diganti?"
Bulan diam sejenak. "Semalem, jam 2 pagi tadi."
Bintang tersenyum. "Berarti udah enam jam ya." Bintang tiba-tiba membuka perban itu. Menghasilkan kerutan dalam di kening Bulan.
"Pinter, nggak sebanyak kemarin. Ini kemajuan yang pesat. Tingkatin lagi ya, pelan-pelan pasti bisa." Bintang mengatakan itu sambil menepuk pelan kepala Bulan.
Gadis itu tertegun. Dia tentu tahu apa yang Bintang maksud. Semalam Bulan menyayat lengannya, tepatnya di luka yang paling parah agar tidak terlalu kentara. Tapi mengapa Bintang bisa tahu? Padahal dia melakukan itu di dalam toilet yang tentunya pada jam orang-orang telah menyelami alam mimpi.
"Kok lo bisa tahu?" Menunduk dalam, tangan Bulan mengepal kuat hingga meninggalkan bekas akibat kukunya yang lumayan panjang.
Bintang melepas cengkeraman Bulan. Memeluk gadis itu erat. Ternyata sudah separah ini kerusakan mental gadis itu. Padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Bulan dengan segenap nyawanya, tapi dia gagal. Dia gagal menjaga mental yang tentunya sangat penting dan tidak akan pernah bisa disembuhkan total
Gadis itu sekarang telah menangis. Tangisan yang mampu mencabik hati bagi siapa pun yang mendengar. Baru kali ini Bintang mendengar Bulan menangis pilu seperti itu.
"Gue di sini, gue akan selalu di samping lo." Perkataan Bintang mampu menambah tangisan Bulan.
"Lo inget gak? Dulu lo selalu ada buat gue di saat gue down. Di saat gue merasa gak berharga lagi di dunia ini. Di saat orang tua gue menganggap gue angin lalu, lo dateng di hidup gue, mewarnai hari-hari gue yang kelam. Dari situlah gue berjanji sama diri gue sendiri buat selalu jagain lo. Rasanya gue ikutan sakit liat lo selalu nutupin hal-hal yang gak bagus untuk dipendam sendirian. Gue selalu berpikir, gimana caranya buat lo terbuka sama gue, jadiin gue tempat bersandar, tempat lo mencurahkan isi hati lo. Dan gue berhasil setelah sekian tahun. Lo nangis di depan gue buat yang pertama kalinya di rooftop rumah sakit. Lo tahu apa yang gue rasain? Gue seneng, seneng akhirnya lo mau jadiin gue sandaran."
__ADS_1
"Sakit Bintang," lirih Bulan. Dirinya tengah menahan tangisan yang malah membuat tubuhnya bergetar.
"Hey, gapapa nangis aja. Keluarin semua yang lo pendam." Bintang meletakkan dagunya di atas kepala Bulan dan tanpa sadar ikut meneteskan air mata. "Perempuan hebat itu perempuan yang berani akan segalanya, termasuk dalam mengeluarkan air mata."