
"Oh, jadi lo yang udah nembak kakak gue dan hampir bunuh Bintang?" Arghi memandang seseorang yang terikat tak berdaya dengan lebam memenuhi wajahnya.
"Gede juga nyali lo. Belum pernah ngerasain sakitnya dikulitin kan?" Orang itu gemetar tak karuan saat Arghi memain-mainkan pisaunya.
"Kita mulai?"
...~~~...
"Dek,"
Arghi tersenyum kecil melihat raut murung adiknya. "Kak Dirga baik-baik aja kan?" Tanyanya menatap Dirga yang masih terpejam. Bulan mengangguk sebagai balasan.
"Tenang aja, udah kakak kasih pelajaran dia." Arghi mengelus surai Bulan menenangkan.
"Motifnya apa?"
Keduanya menoleh ke arah brankar di mana sang tertua telah membuka mata. "Kepo," Arghi menjawab asal.
"Liat tuh dek, kakakmu yang satu itu minta ditendang ke planet." Dirga berkata kesal. Lalu memilih memainkan jemari-jemari kecil Bulan.
Arghi mengedikkan bahunya acuh lalu mengambil sebuah kursi lagi dan duduk di samping Bulan. Arghi menatap Dirga dengan maksud tertentu. Seperti ada telepati, Dirga mengangguk pelan.
"Kak, adek ke kamar mandi dulu ya." Dirga melepaskan tangan Bulan.
"Bantuin gue duduk." Arghi menurut lalu menggerakkan tuas brankar sampai sang kakak mendapatkan posisi ternyaman.
Lima menit kemudian Bulan keluar dari kamar mandi. Langkah gadis itu terhenti saat ponselnya berdering.
"Halo?"
"..."
"Besok?!"
"..."
"Astaga... iya gue ke sana."
"Kak, adek ke sekolah dulu ya. Kak Arghi, jagain kak Dirga. Jangan berantem kalian."
"Kakak anter ya?" Bulan menolak tawaran Arghi.
"Kakak di sini aja, adek pergi dulu." Bulan segera berlari keluar dari ruangan sambil tangannya memesan kendaraan.
"Kenapa setiap ada lomba selalu dikasih tau mendadak pak? Kami bukan robot yang bisa dengan mudah hafalin koreo dan detail gerakan. Dance gak semudah yang dilihat." Yohan sebagai ketua menyuarakan pendapatnya. Masalahnya ini masih libur semester, dan pihak sekolah menghubunginya untuk latihan karena adanya lomba tepat di keesokan harinya.
Pak David menghela nafas panjang. Dia mengerti maksud kalimat Yohan. Dia pun mengerti mereka masih ingin menikmati hari libur, begitu pun dia sebagai seorang guru. Namun pihak sebelah sangat menyebalkan membuatnya mau tidak mau memanggil keempat muridnya yang paling berpotensi untuk mengikuti lomba tersebut.
"Sebelumnya bapak minta maaf telah menganggu waktu libur kalian." Pak David menatap keempat muridnya. "Pihak sebelah masih tidak menerima kekalahan mereka. Maka dari itu mereka mengadakan lomba yang akan diadakan di Center City besok malam. Lomba itu bukan untuk umum. Hanya sekolah-sekolah terpilih yang diundang, termasuk sekolah kita."
Ruang latihan hening sejenak sampai akhirnya Yohan membuka suara. "Ayo latihan. Kita tunjukkan penampilan kita sampai mereka tidak berani lagi menantang." Ucapan sang ketua yang berapi-api membuat ketiga orang itu pun ikut bersemangat.
Pak David diam-diam tersenyum bangga. Anak didiknya memiliki tekad kuat untuk menunjukkan yang terbaik.
...~~~...
Bintang datang ke ruang rawat Dirga. Kedua kakak beradik itu sepertinya tengah berbincang serius. Bintang langsung duduk di samping Arghi yang tengah berkutat dengan laptop.
"Masih gak mau ngomong?" Arghi bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
__ADS_1
"Hilang."
"APA?!" Arghi dan Dirga kompak berseru.
"Dia dituker sama robot oleh seseorang. Gue liat dengan mata kepala gue sendiri. Cowok berjubah hitam tiba-tiba muncul, dipegangnya lengan orang tadi, dan mereka hilang."
Ruangan berubah sunyi.
"Lo beneran gak lagi ngigau kan?" Arghi bertanya ragu.
"Gue udah cek CCTV. Dan hasilnya sama persis sama apa yang gue liat. Kalo gak percaya liat aja sendiri."
Cukup lama ketiganya membisu. Bintang teringat kejadian surat yang tiba-tiba menghilang di malam sebelum dirinya pergi ke gedung X-V.
"Ini sihir kayaknya," Arghi menjitak kepala Bintang membuat empunya kepala meringis.
"Sakit anjing,"
"Kebanyakan nonton disney lo, mana ada sihir di dunia nyata."
"Kagak ada yang mustahil kali." Bintang mencebik sebal.
"Yang sebenernya jadi target itu siapa?" Arghi bertanya pertanyaan yang membuat suasana kembali hening. Kali ini lebih lama.
"Siapa pun targetnya, kita harus lebih hati-hati dan saling menjaga, terutama Bulan. Tetap siaga di segala situasi dan jangan sampai lengah." Arghi dan Bintang mengangguk paham.
"Baik, sekarang sudah hampir tengah malam. Istirahat yang cukup untuk esok hari. Jam satu siang diharapkan datang lagi untuk mengatur kekompakan. Terima kasih atas kerja keras kalian semua hari ini, dan hati-hati di jalan." Kata-kata penutup dari Yohan membubarkan barisan. Bulan dengan segera memasukkan semua barangnya ke dalam tas.
"Rembulan, ada yang menjemput?" Yohan tiba-tiba mendekat dan bertanya, membuat Bulan kikuk mendengar kata-kata yang terlewat formal dari kakak kelasnya ini.
"Emm, belum tau kak." Bulan menjawab seadanya lalu menutup resleting tasnya.
"Dek,"
"Loh kak, kok di sini?"
"Kalau begitu saya pulang duluan." Pamit Yohan sambil melirik Bulan sekilas.
Arghi menatap Yohan sebentar. "Hati-hati bro," Yohan mengangguk sebagai balasan.
"Kakak udah nunggu dari tadi?"
"Emm... lumayan."
"Maaf ya kak."
"Hei, buat apa minta maaf? Udah tugas seorang kakak buat jagain adeknya. Dan lagi ini hampir tengah malam. Kakak gak akan biarin adek pulang sendirian."
"Adek pasti belum makan kan? Kita cari makan dulu ya." Arghi mengalihkan topik pembicaraan. Menghentikan mobilnya di salah satu kedai nasi goreng yang terlihat lumayan ramai. Memesan dua piring nasi goreng dan 2 gelas es teh.
"Lombanya kapan?" Arghi memecah keheningan.
"Besok malem, di City Center."
Arghi mengangguk paham. Tidak salah lomba diadakan di sana, mengingat mall itu selalu ramai pengunjung. Apalagi besok malam minggu. Tapi yang menjadi masalahnya kenapa lomba selalu diadakan mendadak? Arghi kasihan melihat raut kelelahan Bulan.
"Pegel pasti badannya seharian latihan?" Bulan menggeleng walaupun nyatanya iya.
"Besok latihan lagi?" Bulan mengangguk.
__ADS_1
"Kak Dirga gimana?" Kini gantian Bulan yang bertanya.
"Baik, malah sekarang udah di rumah karena maksa minta pulang terus. Tadi sebenernya dia mau ikut jemput adek, tapi kakak larang. Masa baru keluar dari rumah sakit langsung keluyuran."
Bulan tertawa kecil mendengar curhatan Arghi. Kakaknya itu pasti sebal dengan si sulung dilihat dari raut wajahnya.
Tak lama kemudian pesanan pun datang. Keduanya langsung makan dengan cepat agar dapat segera beristirahat di rumah.
...~~~...
Keadaan City Center kini sungguh menyesakkan. Namun dengan otot yang tidak bisa dianggap sepele Bintang menerobos kerumunan diikuti oleh Dirga dan Arghi di belakangnya. Ketiganya mendekati rombongan Bulan yang kini tengah pemanasan.
Tampilan Bulan yang serba hitam membuat auranya lebih keluar. Celana hitam panjang berbahan imitasi serta baju dengan blus katun berbulu yang memperlihatkan perut kecilnya. Rambutnya yang biasa dikuncir kuda kini terurai membuat pesonanya lebih keluar.
"Kalo bukan adek udah kakak pacarin anak gadis ini." Bintang mendelik tak terima dengan ucapan Dirga.
"Langkahin gue dulu kak," Bintang memasang raut sengak.
"Dih, emang Bulan mau sama kalian berdua?" Arghi ikut menimpali.
"Siapa coba yang gak mau sama cowok seganteng gue."
"Gue gak mau tuh."
"Ya gue juga gak ngarep lo suka sama gue. Gue masih normal ye, sorry not sorry."
Bulan hanya geleng-geleng kepala mendengar perdebatan kedua sahabat itu. Melanjutkan pemanasannya yang sempat terhenti.
"Adek tampil urutan keberapa?" Arghi bertanya saat Bulan telah selesai melakukan pemanasan.
"Urutan ketiga dari enam peserta."
"Cuma enam yang ikut lomba?"
Bulan mengangguk. "Cuma enam sekolah yang terpilih buat lomba ini. Dan 3 pemenangnya bakal lanjut ke tingkat kota."
Arghi mengangguk paham. Benar-benar persaingan yang sangat ketat. Arghi mengedarkan pandangannya. Melihat peserta-peserta lain yang terlihat bergerombol. Bahkan ada yang sampai dua puluh. Tim Bulanlah yang anggotanya paling sedikit. Hanya 4 orang. Tapi isi di dalamnya jangan dianggap sepele. Bahkan kharisma mereka sebelum naik ke atas panggung saja sudah terlihat.
"Kak, acaranya udah mau mulai. Adek ke sana dulu ya."
"Semangat," ketiganya kompak menyemangati Bulan. Gadis itu mengacungkan jempolnya dan pergi bersama rombongannya ke pinggir panggung.
"Kerja bagus semua, dan selamat atas kemenangan kalian. Kalian hebat sekali bisa mendapatkan juara pertama hanya dalam waktu satu hari latihan. Gak salah bapak nurunin kalian berempat ke lomba ini. Setelah ini kita harus berjuang lebih keras lagi untuk bisa sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Kalian siap?"
"SIAP!" Keempatnya kompak berseru semangat membuat pak David tersenyum bangga.
"Ya sudah, hari sudah semakin malam. Silakan kembali ke aktivitas masing-masing. Take care semua."
Bulan segera menghampiri ketiga lelaki yang masih menunggunya di bangku penonton. Senyum bahagia tercetak jelas di wajah cantiknya.
Arghi yang melihat sang adik mendekat langsung memberikan pelukan hangat untuk sang adik. Mengecup pucuk kepala Bulan lama. Mengelus surai itu perlahan. "Selamat sayang, kerja keras adek terbayar." Bulan mengangguk dalam pelukan Arghi.
Setelah itu gantian Dirga yang memeluknya. "Adeknya kakak hebat banget."
Pelukan Dirga terlepas. Bintang mendekati Bulan, menatap wajah cantik itu dalam. Menepuk pelan pucuk kepala Bulan. "Bocil gue dah besar." Raut wajah Bulan seketika berubah sebal.
"Gue bukan bocil!" Sentakan itu membuat ketiga lelaki yang mengelilingi Bulan terbahak. Terlalu gemas dengan jawaban yang Bulan lontarkan.
"Bahagialah sebelum takdir merenggut."
__ADS_1