WHY

WHY
Together


__ADS_3

Bulan terbangun karena cahaya yang masuk menusuk mata. Menoleh ke samping, Arghi tidak ada di tempat. Sedangkan Bintang masih nyaman terlelap.


"Bin," panggil Bulan sambil menepuk-nepuk lengan Bintang. "Bangun, dah pagi." Bulan pun bangkit saat Bintang telah membuka mata sepenuhnya. Kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap sekolah.


Tepat pukul enam Bulan dan Bintang turun bersamaan ke lantai satu. Masuk ke dapur, keduanya kompak menganga melihat Arghi di sana. Bukan karena Arghi yang sedang menyiapkan sarapan. Tapi karena melihat Arghi yang telah rapi dengan pakaian sekolahnya.


"Kakak sekolah?!" Seru Bulan dengan pandangan tak setuju.


"Iya, ayo duduk." Arghi menggiring Bintang dan Bulan ke kursi.


"Tapi kak-"


"Siang ini mau konsul ke rs. Jadi biar gak bolak-balik, kakak sekolah. Lagipula di sekolah cuma duduk doang dengerin guru ngomong."


Bulan menghela nafas gusar. "Kalo ada apa-apa langsung telpon ya, janji?"


"Iya, janji."


Selesai sarapan mereka langsung berangkat. Sampai di sekolah ketiganya langsung menjadi pusat perhatian karena hadirnya Arghi setelah kurang lebih seminggu tidak terlihat.


Warga sekolah tentu mengetahui kabar Arghi dioperasi. Namun tidak tahu karena apa dan operasi apa.


"Itu kak Arghi habis operasi apaan ya, kok tambah ganteng gitu."


"Ganteng banget ayang, padahal habis operasi."


"Kak Arghi sarangek!"


Arghi diam saja mendengar gumaman para siswi yang didominasi oleh adik kelas itu. Berjalan seolah tidak mendengar apa pun.


"Inget ya, kalo ada apa-apa langsung telpon." Peringat Bulan.


Arghi mengangguk dengan wajah meyakinkan. "Jangan rajin-rajin belajarnya kalian berdua."


Bintang merangkul Bulan. "Sesat." Ujarnya lalu menarik Bulan naik ke lantai dua.


Seperti biasa, Bintang dan Bulan hanya duduk berdua di kelas saat jam istirahat. Keduanya tengah damai duduk di bangku masing-masing sambil mabar game online sampai akhirnya pintu kelas terbuka. Awalnya mereka tetap fokus ke layar ponsel sampai suara yang sangat familiar di telinga menghentikan kegiatan keduanya.


"Kata Haris sama Yozi kalian gak pernah ke kantin semingguan ini?" Bintang dan Bulan pikir yang masuk tadi teman sekelas mereka. Ternyata bukan. Keduanya kelimpungan, membiarkan ronde game yang masih tersisa dan langsung mematikan ponselnya.


"Eh, Arghi rupanya. Halo..." Bulan memejamkan matanya erat. Apa-apaan sapaan canggung itu?


"Anu, soalnya kami mager." Bulan menjawab asal. Namun setelahnya dia menghela nafas. Kenapa dirinya kelimpungan begini. Padahal jika ditilik, Arghi hanya bertanya saja. Tidak ada aura mengintimidasi atau menyeramkan dari lelaki itu.


"Kalian gak laper?" Tanya Arghi melembutkan air wajahnya. Sadar bahwa dua manusia itu sedikit was-was berhadapan dengannya.


"Nggak, makanya kami gak ke kantin. Kami mabar buat refreshing otak habis mapel kimia." Jawab Bintang dengan senyum bulan sabitnya.


Arghi mengangguk paham.


"Gak ada yang sakit kan selama pelajaran?" Tanya Bulan.


"Nggak ada." Jawab Arghi sambil tersenyum.


Bohong, dadanya sakit bukan main sedari tadi. Namun dirinya memilih bungkam, tidak ingin membuat kegaduhan. Bahkan sebelum ke kelas atas Arghi memakai lip tint teman perempuannya terlebih dahulu agar tidak terlihat bibir pucat pasinya.


"Kalau gitu kakak balik kelas ya, mau nyelesain tugas."


"Oke, hati-hati kak." Bulan melambaikan tangannya.


Tepat setelah Arghi menutup pintu kelas, tubuhnya hampir saja roboh jika dia tidak berpegang kuat pada gagang pintu. Tangannya terangkat guna menepuk pelan dadanya. "Jangan sekarang plis," gumamnya lirih. Lalu segera berlalu dengan langkah gontai kembali ke kelasnya.


...~~~...


Sepulang sekolah ketiganya langsung melesat ke rumah sakit, menemui Cakra di ruangannya. Namun sosok itu tak terlihat. Hanya ada duplikat Cakra di sana yang tidak lain adalah Abian.


"Ada jadwal operasi. Mungkin dua jam lagi selesai. Kalian udah makan?" Tiga siswa itu kompak menggeleng.


"Kalo gitu ayo kita makan dulu."


Mereka berjalan beriringan menuju kantin rumah sakit. Baru saja Abian ingin pergi memesan makanan, Bulan langsung menahan.


"Kayaknya gak akan habis kalo makan sendirian kak."


"Gue juga." Bintang ikut menyahut.


Kening Arghi berkerut. "Kalian gak laper?" Tanyanya memandang Bintang dan Bulan bergantian.


"Laper, tapi lagi gak pengen makan."


Arghi diam sejenak, lalu menatap Abian. "Pesan tiga aja kak." Abian mengangguk paham lalu berlalu.


Tanpa menunggu lama Abian datang dengan tiga piring nasi goreng. Diam-diam Arghi memperhatikan cara Bintang dan Bulan melahap makanan. Keduanya seperti tidak memiliki nafsu sama sekali untuk makan. Dan setelah Abian dan Arghi selesai makan, piring nasi goreng itu masih juga belum habis. Padahal mereka makan sepiring berdua.


"Udah gak mau lagi?" Bintang dan Bulan kompak mengangguk.


"Yaudah gapapa, jangan dipaksa."


Sampailah mereka kembali ke ruangan Cakra. Untuk beberapa saat ruangan tersebut hening. Abian yang fokus dengan kertas, Arghi dengan ponselnya, serta Bintang dan Bulan yang diam tanpa melakukan apa pun.


Di tengah heningnya suasana suara berat Abian berhasil membuat Arghi mendongak. "Anak-anak lo tidur." Ujar Abian dengan tawa kecil di akhir.


Lelaki tampan calon dokter itu pun bangkit, mengambil selimut di sebuah ruangan, lalu menyelimuti muda-mudi yang tertidur dengan posisi saling bersandar.


"Ada keluhan apa Ar? Jantung lo bermasalah?" Tanya Abian kembali duduk ke bangkunya.


"Akhir-akhir ini sakit terus. Padahal sebelum-sebelumnya biasa aja."


"Ada yang lain lagi?"


"Semalem gue hampir gak bisa nafas. Untungnya masih nyimpen masker oksigen, jadi terbantu sedikit."


"Ngerasa demem gak?"

__ADS_1


"Sempet demem siang kemarin. Tapi sorenya langsung hilang." Arghi melirik Bintang dan Bulan, memastikan mereka benar-benar tertidur. Bisa gawat kalau mereka sampai mendengar apa yang dia katakan tadi.


"Ada sesuatu yang lo pikirin?" Arghi mengangguk.


"Perkiraan gue, lo terlalu stres sampe jantung lo berontak. Orang sehabis operasi transplantasi gak boleh mikirin sesuatu yang berat dulu, karena itu salah satu pemicu penolakan."


"Mending lo tidur dulu deh, jangan mikirin apa-apa dulu. Ntar kalo bokap udah dateng gue bangunin."


Arghi hanya mengangguk menuruti apa yang Abian katakan. Memejamkan mata, berusaha mengusir berbagai pemikiran buruknya. Sesekali keningnya mengkerut saat nyeri itu hadir kembali. Hingga dua menit kemudian barulah dia tertidur lelap.


.


"Arghi," matanya mengerjap pelan. Netranya langsung menangkap siluet Cakra berdiri di hadapannya dengan senyum berwibawa.


"Ayo om periksa." Arghi pun bangkit mengikuti Cakra masuk ke dalam sebuah ruangan. Tanpa diperintah Arghi langsung membuka kemeja sekolahnya, lalu berbaring di brankar.


"Obatnya kamu minum teratur kan?" Arghi mengangguk.


"Om sudah dengar beberapa keluhan kamu dari Bian. Lagi ada masalah kah?"


Arghi menggulir netranya ke atap ruangan dengan pandangan sendu. "Akhir-akhir ini perasaan aku gak enak. Rasanya gak tenang setiap saat. Apalagi liat adek sama Bintang."


"Kenapa kalo liat mereka?"


"Resah, takut."


"Ketakutan lainnya ada di jantung ini om. Sakit banget, sama kayak sebelum dioperasi."


Hembusan nafas cakra terdengar.


"Setelah ini, tolong jangan memikirkan hal yang berat. Teratur minum obatnya, jangan sampe bolong-bolong."


"Perasaan gak enak itu kalau kamu pikirin terus-menerus dia malah terus bertambah. Selayaknya air yang kamu halangi hanya dengan papan atau batu, dia tetap akan terus merembes. Kamu harus mematikan keran air itu agar tidak mengalir lagi. Sama seperti itu, kamu harus tutupin apa yang kamu rasa. Tutup hati kamu, jangan sampai perasaan itu masuk lebih dalam lagi dan menganggu kesehatan. Tubuh kamu masih terlalu rentan untuk saat ini. Sampai sini paham?"


"Paham," jawab Arghi lesu.


"Good boy. Ingetin jadwal check up nya, jangan sampe lupa. Om bakal datengin kamu kalo sampe kamu gak dateng ya."


"Siap, makasih om."


Keluarnya Arghi dan Cakra seolah menjadi sengatan untuk Bintang dan Bulan. Dengan wajah sayu sehabis bangun tidur mereka kompak bertanya. "Gimana?"


Arghi terkekeh geli dibuatnya. Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan hal ini. Namun Bintang dan Bulan sangat cocok menjadi saudara. Senyum bulan sabit keduanya membuat orang tidak jarang mengira mereka adik kakak. Sedangkan dengannya yang notabene adalah kakak kandung Bulan tidak memiliki kemiripan dalam segi wajah. Jadi banyak orang yang tidak percaya jika Bulan merupakan adik kandungnya.


"Aman, ingetin dia minum obat yang teratur aja." Cakra yang menjawab.


"Kalau gitu kami pamit ya om, kak Bian." Dengan begitu ketiganya langsung menuju parkiran. Melesat cepat ke rumah untuk segera berganti baju dan rebahan.


.


Setelah selesai bersih-bersih Bulan langsung masuk ke kamar Arghi. Rencana hari ini adalah bermain kartu, makan malam, lalu nobar sampai mampus.


Membuka pintu, ternyata Arghi dan Bintang telah rebahan di lantai dengan karpet berbulu sebagai alas. Langsung saja Bulan ikut bergabung di sana, dan permainan pun dimulai.


"Sama-sama sipit gak usah saling menghina!"


"Sipitan lo dari gue."


"Kalian sama-sama sipit udah," Arghi menengahi agar permainan segera berlanjut.


Untuk sesaat semuanya berjalan lancar sampai perdebatan kembali terjadi lantaran Bulan salah menaruh kartu.


"Karma ngatain orang sipit, jadinya salah naroh kartu." Sindir Bintang.


"Kayak ada yang ngomong." Bulan menggaruk telinga kanannya sambil celingak-celinguk, bermaksud mencari tahu siapa yang bersuara. Arghi sendiri tim tertawa saja. Melihat Bintang dan Bulan berdebat adalah salah satu kesenangan baginya. Dua anak itu tak akan berhenti jika belum ada yang kalah.


"Udah cukup mainnya. Jam tujuh ini, makan dulu."


Perdebatan pun terhenti. Keduanya mengekori Arghi berjalan menuju dapur.


"Itu nasinya sedikit banget dek." Tegur Arghi tak habis pikir. Jika hanya secentong sendok nasi Arghi masih wajar. Namun ini, sedikit sekali. Mungkin hanya tiga kali suap nasi itu sudah raup tak bersisa.


"Gak laper, tapi habis ini adek langsung minum susu kok janji." Bulan mengacungkan jari kelingkingnya tanda dia bersungguh-sungguh.


Arghi menghela nafas. "Ya udah."


Suara denting sendok yang beradu dengan piring menjadi backsound ruang makan. Tidak ada yang membuka suara saat makan. Bulan yang memang makannya paling sedikit selesai paling awal. Gadis itu langsung membuka kulkas, mengambil susu kotak rasa coklat. Kembali ke kursi lalu meminum susunya. Menunggu Arghi dan Bintang menyelesaikan acara makannya.


Setelah selesai makan ketiganya kembali ke kamar Arghi. Namun sebelum itu Bulan kembali mengambil sekotak susu lagi. Kali ini rasa pisang.


"Gak ambil sekali banyak aja?" Bulan menggeleng sambil menggigit sedotannya.


"Nanti gak dingin lagi kalo dibawa semua." Arghi mengangguk paham. Salah sekali dia memberikan ide itu untuk Bulan yang maniac minuman dingin.


Bintang mengambil posisi dengan beberapa bantal sebagai penyaman untuknya bersandar di kepala ranjang. Mereka baru saja selesai makan, jadi tidak mungkin dia berbaring. Rautnya terlihat fokus melihat trailer film yang ditayangkan. Sebelumnya Arghi memang telah menyiapkan tiga film horor terbaru untuk mereka tonton.


"Ini seru keknya."


"Langsung puter."


Dengan begitu lampu kamar otomatis mati. Bulan dengan cepat membuang kotak susunya yang telah habis, lalu duduk di samping Arghi. Mengumpulkan fokusnya menonton film tersebut.


Di pertengahan film Bulan merubah posisinya menjadi tengkurap. Melirik ke arah kiri, dua laki-laki itu masih fokus pada film. Seperti tidak ada niatan merubah posisinya menjadi rebahan.


Namun itu tidak berlangsung lama saat Arghi menegurnya. "Baring sini aja dek, jangan tengkurap gitu. Kasihan dadanya." Tanpa bantahan Bulan mengangguk. Berbaring dengan paha Arghi sebagai bantal.


Selesai film pertanyaan bodoh dari Bintang pun keluar. "Di sini ada setan gak ya?"


"Di mana-mana pasti ada kok." Jawab Arghi.


"Berarti di sini ada setan dong."


Hening sejenak. Entah mengapa ketiganya langsung kompak terdiam.

__ADS_1


GREK


Bulan sampai terbangun dari rebahannya sambil mendekatkan diri kepada Arghi. Bintang pun sama saja. Cowok itu memeluk lengan Arghi erat, mengintip kursi meja belajar yang tadi bergerak sendiri.


"Lan kaki lo! Ntar lo ditarik dari bawah!" Bulan langsung mengangkat kakinya yang terjuntai ke bawah. Memeluk kedua kakinya agar tidak seorang pun bisa menariknya.


"Kayaknya setan marah kita sering-sering nontonin dia." Gumaman Arghi terdengar jelas.


"Lo sih Bin, ngapain bahas setan segala? Dateng beneran kan jadinya." Bulan menatap was-was seluruh penjuru kamar. "Harus hidupin lampu gak sih? Gelap amat kayak masa depan." Lanjutnya.


"Siapa yang berani?" Tanya Bintang yang dijawab oleh keheningan.


"Lo aja Bin, kan lo yang ngundang mereka." Sontak saja Bintang menggeleng ribut.


"Biar kakak aja." Arghi akhirnya mengajukan diri. Tapi sisi kanan dan kirinya diapit kencang membuatnya tidak bisa bergerak.


"Kalian gak mau lepasin? Katanya mau hidupin lampu?" Bintang dan Bulan sontak melepaskan lengan Arghi.


"Hati-hati kak," ujar Bulan saat Arghi turun dari kasur. Sedangkan Arghi dengan santainya berjalan ke sudut ruangan hingga kamar terang kembali.


Krieett


Tubuh Arghi mematung. Pasalnya pintu itu berada sangat dekat dengan dirinya. Netranya bergulir ke samping, mendapati pintu kamarnya yang telah terbuka seperempat.


Dan dengan begitu, ketiganya trauma, berjanji untuk tidak lagi menonton film horor.


...~~~...


Pernah suatu hari, Arghi dan Bintang duduk berdua mengamati Bulan yang tengah bergerak lincah di hadapan kaca yang memenuhi ruangan. Yap, gadis itu tengah latihan untuk lomba solonya minggu depan.


"Sampe sekarang gue masih penasaran. Adek lo itu cewek apa cowok."


"Lo liat dia? Badannya bener-bener datar. Dan lagi tenaga dia kuat banget. Kayak lakik wey."


Bola mata Arghi berotasi malas. "Kalo bukan cewek gak mungkin dia ngamuk-ngamuk ke lo karena lo gangguin dia pas lagi pms."


"Iya juga ya."


Dan hari ini tepat setahun setelah perbincangan random itu. Di sebuah kedai es krim, lagi-lagi Bintang mengamati Bulan. Tidak banyak berubah. Bahkan sekarang tambah datar karena tubuh gadis itu yang mengurus. Tidak usah dibayangkan sekurus apa seorang Rembulan. Bintang saja kadang takut jika tubuh itu akan terbang terbawa angin saking kurusnya.


Siang ini, sepulang sekolah, Arghi menepati janjinya untuk membeli es krim. Hanya ada mereka bertiga yang mengisi kedai tersebut. Siapa pula yang ingin makan es krim di musim dingin begini kecuali Bulan.


Setelah pesanan jadi mereka memutuskan untuk berjalan santai ke taman yang dekat dengan kedai es krim tersebut. Duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon. Suasana taman itu tak kalah sepi dengan kedai es krim tadi. Musim dingin benar-benar membuat orang-orang menolak keluar rumah.


"Dingin banget ya, sedingin hatiku yang akan selalu menghangat jika melihat seorang Rembulan."


"Pfft," Arghi menahan diri untuk tidak tertawa.


Bulan sendiri loading sejenak sebelum akhirnya tersedak es krim. Membuat Arghi terbahak detik itu juga. Lama sekali otak gadis itu memproses.


"Kesambet apaan lo?!" Seru Arghi tak habis pikir.


"Asal kakak tau, di pantai kemarin dia lebih parah. Seharian itu gombalan terus yang dikeluarin. Pengen nabok aja rasanya."


"Efek hd bolong-bolong gini nih."


"Gue cuma bilang fakta," elak Bintang dengan wajah yang minta ditabok.


"Fakta itu bisa lo simpen dalam hati aja gak? Gue yang gak waras dengernya." Lagi-lagi Arghi terbahak sampai memukul lengan Bintang.


"Takutnya gue gak bisa lagi godain lo. Kenapa? Salting ya?" Goda Bintang.


"Iya." Jawaban yang singkat, padat, dan jelas itu membuat keadaan hening sejenak.


"Cewek mah kalo salting diem-diem aja! Jujur amat lo."


"Lah, emang salah kalo gue jujur?!"


"Gak salah, tapi ya udahlah. Capek gue."


Bulan berdecih lalu melanjutkan suapannya yang terhenti.


"Kak Dirga kapan pulang ya kak?" Tanya Bulan saat es krimnya telah habis tak tersisa.


"Kayaknya lama, soalnya tangan kanan baru yang gantiin kak Dimas pergi gitu aja setelah nyuri 5 triliun dolar."


"Wahh, kurang banyak. Kenapa gak semua aja sekalian?" Sambung Bintang.


"Iya ya, jadi hukumannya juga gak tanggung-tanggung." Arghi menyetujui ucapan Bintang. Dirga itu luarnya seperti manusia aneh dan receh. Namun jika ada seseorang yang mengusik, sampai ke ujung dunia pun akan dikejarnya.


"Ayo pulang, dingin di sini." Ajak Arghi lalu bangkit disusul oleh Bintang dan Bulan.


Sampai di rumah seperti biasa mereka bersih-bersih terlebih dahulu. Kali ini Bulan tidak pergi ke kamar Arghi seperti hari-hari biasanya. Dirinya beralasan ingin mencoba dance terbaru artis favoritnya.


Duduk di bangku belajar, dirinya mulai menulis di sebuah kertas berwarna coklat muda. Namun di pertengahan kegiatan linangan air mata malah mengalir tanpa izin. Bulan menghentikan tulisannya, menunduk dalam untuk menenangkan diri. Dirasa mulai tenang Bulan melanjutkan tulisannya. Setelah selesai, dimasukkannya kertas tersebut ke dalam sebuah amplop berwarna coklat tua.  Selanjutnya Bulan menulis kembali sampai menghasilkan 3 buah amplop.


Senyum menyakitkan terbit di bibirnya. "Hebat Rembulan," ujarnya sambil mengelus kepalanya sendiri.


Tangannya kini meraih sebuah bingkai foto yang berisikan ayah dan bunda sedang tersenyum bahagia, serta Arghi dengan senyum sendunya. Di mana dirinya saat itu? Diam di rumah mengerjakan seratus soal matematika.


"Ayah, bunda, Bulan sayang banget sama kalian. Maaf Bulan belum bisa kasih apa-apa ke kalian. Belum bisa jadi kebanggaan kalian, belum bisa jadi yang kalian harapkan. Maaf harus lahir ke dunia."


"Nanti kapan-kapan kita ke halaman belakang sama-sama ya. Main, makan, makan es krim, habis itu liat senja sambil cerita-cerita. Malemnya kita nonton film, tapi jangan film horor." Bulan tertawa mengingat kejadian semalam.


"Habis nonton film kita tidur. Bangunnya kita sarapan sama-sama."


Bulan diam membayangkan jika itu semua terjadi. Harapan sederhana yang selalu dia impikan.


Namun sadar jika itu semua tak akan terwujud mengingat raga orang tuanya telah menyatu dengan air laut, Bulan menggeleng dengan raut sendu.


"Halu mulu lo," makinya memukul kepalanya sandiri.


Lantas Bulan segera memasukkan tiga amplop tadi ke laci meja belajarnya, lalu mengusap wajahnya agar raut sendu dan bekas air mata tadi hilang. Beranjak ke balkon yang telah lama tidak dia singgahi saat malam hari. Dinginnya cuaca langsung menusuk ke tulang. Apalagi dia hanya mengenakan hoodie dan celana panjang.

__ADS_1


Cukup lama dirinya hanya berdiam di sana tanpa melakukan apa pun. Sampai dirasa tubuhnya telah menggigil barulah Bulan kembali masuk ke dalam.


__ADS_2