
Bulan terbangun oleh usapan lembut di kepalanya. Namun karena dia sudah tak tahan akhirnya Bulan segera berlari ke kamar mandi tanpa mempedulikan apa yang menyentuh kepalanya tadi. Niat awal hanya ingin buang air kecil. Namun saat melihat jam di ponsel yang ternyata sudah pukul delapan lewat, dia memutuskan untuk mandi. Kamar mandi rumah sakit itu memang sudah seperti kamar mandi pribadinya. Bahkan Bulan memiliki pakaiannya sendiri di sana. Cakra benar-benar menyiapkan segala kebutuhannya di rumah sakit itu dengan lengkap.
Keluar sambil menggosok rambutnya sampai tidak lagi terlalu basah. Setelah dirasa cukup Bulan kembali meletakkan handuknya di kamar mandi. Keluar dari sana Bulan memegang leher belakangnya sambil meringis pelan. Tubuhnya sakit sehabis latihan seharian penuh kemarin ditambah dengan posisi tidurnya yang salah membuat tubuhnya serasa remuk.
Pintu pun terbuka oleh Dirga dari luar.
"Kakak mau ke kantor?" Bulan melotot horor ke arah Dirga. "Gak ada ya, masih sakit. Nanti malah pingsan lagi kayak kemarin!"
Dirga tertawa. "Nggak kok, janji deh. Cuma meeting sebentar habis itu pulang."
Bulan menatap Dirga tajam.
"Dadah kakak pergi dulu." Dirga mengecup kening Bulan lalu tersenyum penuh arti. Bulan menatap kepergian kakaknya penuh tanda tanya. Kenapa Dirga tersenyum seperti itu.
Bulan berbalik lalu mematung sejenak. Cukup lama terdiam, Bulan mengucek matanya. Dia tidak salah lihat. Mata Arghi terbuka, bahkan lelaki itu tersenyum tipis ke arahnya di balik masker oksigen yang menutup.
"Adek," suara itu telah lama tidak dia dengar. Tanpa sadar mata Bulan berkaca-kaca. Dirinya memilih berjongkok di ujung ranjang, bersembunyi dari Arghi. Bulan menangis tanpa suara di sana.
Arghi melepas masker oksigennya lalu mendudukkan tubuhnya dengan susah payah. Ingin turun tapi dia ragu. Setelah berhari-hari tertidur membuat tubuhnya seperti tak berdaya. Bahkan untuk mengubah posisinya menjadi duduk tadi pun membutuhkan banyak perjuangan.
Cukup lama Bulan menangis. Gadis itu pun bangkit menatap Arghi nanar. Dalam sekejap Bulan berlari, memeluk Arghi dengan sangat hati-hati. Air matanya kembali mengalir deras.
Arghi tertawa tanpa suara membalas pelukan Bulan sambil mengusap kepala belakang sang adik. Tidur dalam waktu yang lama cukup membuatnya merindukan Bulan.
"Kangen,"
"Kakak lama banget tidurnya."
"Jahat banget."
"Maaf ya sayang."
Cukup lama keduanya hening sampai Bulan melepaskan pelukannya dan duduk di tepi brankar Arghi. "Kenapa maskernya dibuka?"
"Gapapa," Arghi membelai rambut Bulan sambil tersenyum lembut. Senyuman yang sangat Bulan rindukan selama seminggu lebih.
Arghi menghapus air mata Bulan. "Adek kok jadi kurus banget gini?" Tangan besar Arghi melingkar di pergelangan tangan Bulan. Dia ingat sekali rupa adiknya sebelum kejadian. Adiknya itu memang sangat kurus, namun yang sekarang sangat amat kurus.
"Kakak kapan bangun?" Bukannya menjawab Bulan malah balik bertanya.
"Kemarin, sekitar jam sepuluh pagi."
"Lah, kok gak ada yang ngabarin." Bibirnya mengerucut sebal membuat Arghi mencubit pipi tirus itu gemas.
"Biar kejutan."
Bulan kembali memeluk Arghi. "Makasih ya kak, udah berjuang dan bertahan selama ini. Makasih karena kakak gak nyerah dan terus berjuang sampai akhir."
"Makasih juga karena adek selalu ada di samping kakak. Jadi obat di saat kakak sakit, jadi penguat di saat kakak lelah. Kakak beruntung banget punya adek. Tetep sama kakak sampe akhir ya sayang."
Bibir Bulan melengkung ke bawah. "Ehh, kenapa nangis?" Arghi bertanya panik melihat Bulan yang kembali berkaca-kaca.
"Omongan kakak bikin terharu." Bulan menjawab dengan suara bergetar.
Arghi tertawa. Rasanya ingin dia telan Bulan hidup-hidup sekarang. Dia terlalu lemah jika dihadapkan pada sang adik dalam mode menggemaskan. Bulan memang selalu menggemaskan di mata Arghi, namun jika seperti ini dirinya tidak kuat.
"Pulang yuk," sontak mata Bulan yang tadinya berkaca-kaca langsung melebar tajam.
"Ngadi-ngadi."
"Ngabisin uang di sini berhari-hari." Bulan mencibir mendengar ucapan Arghi.
"Kita udah miskin ya? Atau udah bangkrut? Perasaan duit masih banyak banget, malah bisa sampe dua puluh turunan." Wajah lempeng Bulan membuat tawa Arghi kembali menguar
"Bintang kemarin ke sini?"
Arghi menggeleng. "Nggak, dari kemarin dia gak kelihatan."
"Ishh, padahal harusnya kemarin jadwal dia cuci darah. Bandel banget orang itu, belum cukup dispam dua ratus kali." Bulan menggerutu sambil mengeluarkan ponselnya. Bersiap untuk kembali memborbardir Bintang dengan omelan.
Hampir satu menit Bulan menunggu sampai panggilan terangkat.
"Lo di mana anjir!" Arghi tertawa tanpa suara.
"Buset ngegas."
"Lo di manaaa. Kan gue udah ngingetin lo buat cuci darah kemarin."
"Si bocah kok tau." Gumaman Bintang tentunya masih terdengar di telinga Bulan.
"Anak anjing," Bulan mendesis membuat Arghi tidak bisa lagi menahan diri. Tawa yang sedari tadi ditahan pun akhirnya lepas.
"Lah, kek suara Arghi."
"Dalam hitungan ke dua ratus lo belum sampe ke sini, habis lo." Setelah itu Bulan mematikan panggilan.
Bintang di seberang sana kalang kabut. Langsung berlari secepat angin ke mobil, lalu mengendarainya di atas rata-rata. Sampai di rumah sakit Bintang langsung berlari ke ruangan Arghi.
Membuka pintu, tubuhnya mematung melihat sosok Arghi dengan posisi setengah duduk bersandar di brankar. Penampakannya sama sekali tidak seperti orang yang baru terbangun dari koma. "Lo kapan bangun kampret?!" Bintang syok.
"Kemarin," jawab Arghi santai. Tidak dengan Bintang yang langsung melotot tak terima.
"Kok gak ada yang ngasih tau gue!"
"Makanya cuci darah."
__ADS_1
Bintang nyengir bodoh.
"Maaf deh, serius gue kemarin sibuk banget. Mana si tua juga dateng."
"Ngapain dia?" Tanya Arghi.
"Numpang duduk, katanya dua jam paling lama. Taunya sore baru dijemput dianya."
"Ayo ke tante Arin."
"Jangan sekarang deh, serius nanti malem gue beneran gak akan kabur. Gue mau melepas rindu sama Arghi." Bintang mengedipkan sebelah matanya ke arah Arghi sambil tersenyum genit.
"Anjing, jijik goblok." Arghi mengusap lengannya merinding melihat betapa cringenya Bintang bertingkah.
"Beneran loh ya."
"Iya, janji."
Bintang pun duduk di samping brankar Arghi. Sedangkan Bulan pergi keluar sebentar untuk menemui Arina.
"Lama banget lo bangun setan."
"Ya mana gue tau. Btw, ada cerita tentang adek?"
"Kepo ya lo?" Bintang tersenyum menyebalkan.
"Emang pantes banget lo dipanggil anjing, asu." Arghi greget ingin menjitak Bintang namun cowok itu sigap menghindar sambil tertawa mengejek.
Menghentikan tawanya, Bintang berdehem.
"Adek lo jadi lebih tertutup dan..." Bintang diam sejenak. Menatap pintu untuk berjaga-jaga jika Bulan tiba-tiba datang.
"Malem habis lo operasi, dia nyayat lengannya persis di tempat luka bekas kejadian kemarin. Awalnya gue bilang mau liat-liat luka dia sambil nanya udah kering belum lukanya. Pas di lengan kiri perbannya masih merah, kata dia itu lukanya yang paling parah kena sabet pisau. Gue buka perbannya, dan... ada itu."
"Berapa sayatan?"
"Emm... kayaknya enam. Gue gak tau pasti."
Arghi menghela nafas. Perasaan bersalah kembali menyelimutinya. Secara tidak langsung dialah penyebab sang adik melakukan hal itu.
Bintang tentu tahu apa yang tengah Arghi pikirkan. Bibirnya yang ingin berbicara langsung urung saat pintu terbuka.
"Lagi diem toh, kirain lagi gelut."
"Kita ini besti, gak mungkin gelut. Bener kan sayang?" Bintang lagi-lagi membuat Arghi bergidik.
"Asu, pengen gue tampol muka lo sumpah." Arghi misuh-misuh melihat wajah Bintang yang malah semakin menggenit.
"Ini kalian berdua gak lesbi kan?"
"Kalo cowok sama cowok homo, bukan lesbi."
"Kan aku cuma ngasih tau fakta." Bintang membuat wajahnya semelas mungkin.
Arghi yang tak tahan pun melayangkan tangannya ke wajah Bintang.
"Anak anjing, menjauh lo asu."
Bulan terbahak melihat wajah kesal kakaknya. Mana lagi ekspresi Bintang yang terlalu mendalami karakter.
"Weh rame," ketiganya menoleh ke asal suara.
"Kakak tepat janji nih, langsung pulang habis meeting." Dirga mengatakan itu sambil berjalan ke sofa. Menghempaskan tubuhnya di sana.
"Yang paling bener harusnya gak usah ikut meeting." Bulan mendekat lalu memegang kening Dirga. "Tuh kan panas lagi!"
Dirga menarik Bulan duduk di sampingnya lalu memeluk tubuh kurus itu.
"Enak banget kayaknya pelukan."
Dirga tersenyum miring mendengar ucapan Arghi yang sarat akan kesirikan.
"Iri y." Dirga memasang wajah mengejek.
"Sini aku aja yang peluk kamu."
"ANJENG!"
...~~~...
Malamnya ruang rawat Arghi sangat tenang. Dirga telah pulang yang ajaibnya tanpa Bulan paksa. Sedangkan Bintang menepati janjinya untuk melakukan cuci darah. Tapi cowok itu bersikeras tidak ingin ditemani. Katanya dia ingin berbincang empat mata dengan Abian sebagai lelaki dewasa. Arghi yang mendengar itu langsung mengusir Bintang, takut adiknya bertanya lebih dan otak polos itu akan tercemar mengingat Bintang yang suka ceplas-ceplos mengenai pembahasan dewasa.
Bulan berbaring di samping Arghi. Menikmati usapan lembut Arghi di kepalanya.
"Besok pulang yuk," Bulan menghela nafas. Sudah tiga kali Arghi mengulang kalimat itu hari ini.
"Plis, kakak baru bangun kemarin udah minta pulang!" Bulan depresot.
"Bosen di sini. Kangen rumah."
"Nanti, kalo om Cakra bolehin pulang."
"Pasti lama nungguin pak tua itu."
"Sabar makanya, tunggu sampe kakak bener-bener sehat."
__ADS_1
"Kakak udah sehat kok."
"Tau ah nyebelin," Bulan berbalik memunggungi Arghi.
"Ngadep sini dong. Kakak udah seminggu lebih gak liat muka adek." Arghi menarik Bulan sampai gadis itu dengan terpaksa kembali berbalik.
"Kakak ada wish list kalo udah pulang dari sini."
"Apa?"
"Ngasih adek makan banyak-banyak."
Kening Bulan mengkerut. "Ngapain?"
"Adek kurus banget loh ini. Maaf ya, kakak lama bangunnya."
Bulan menggeleng lalu memeluk Arghi. "Ngapain minta maaf?"
Arghi membalas pelukan Bulan dan mengecup pucuk kepala adiknya. "Pokoknya nanti kakak mau liat adek makan yang banyak."
"Kak."
"Hmm?"
"Makasih udah sayang sama Bulan." Arghi tertegun. Agak aneh mendengar Bulan menyebut namanya sendiri.
"Kakak tau apa yang paling Bulan sukai di dunia ini?"
"Apa?"
"Senyuman kakak. Bulan suka banget liat kakak senyum. Bahkan Bulan yakin, orang-orang pun pasti setuju kalo senyuman kakak emang seindah itu."
Arghi tersenyum lalu melerai pelukan. Menatap mata kelam sang adik.
"Dan adek tahu apa yang paling kakak sukai plus kakak benci?"
"Apa?"
"Senyuman adek. Soalnya kalo adek senyum dan ketawa, matanya pasti juga ikutan senyum, lucu. Senyuman adek kayak anak kecil yang masih polos dan belum tau tentang isi dunia. Tapi di sisi lain kakak juga benci kalo adek senyum lebar seolah-olah gak ada sesuatu yang terjadi. Kakak benci di saat adek lagi gak baik-baik aja, tapi seolah baik-baik aja dengan senyum polos itu. Kakak bahkan berharap adek jadi bayi lagi, belum ngerti apa-apa, belum ngerasain gimana kejamnya dunia."
Arghi kembali tersenyum. "Hal apa yang paling adek takutin?" Arghi kembali melontarkan pertanyaan.
"Mata kakak kalo mejem. Walaupun sekarang kakak udah sembuh, tapi itu masih jadi ketakutan tersendiri. Hujan deres, petir, kilat."
"Kakak boleh tau kenapa adek takut sama yang tiga tadi?"
Bulan diam sejenak. Memutar otaknya untuk melontarkan alasan yang masuk akal tanpa harus memberitahu Arghi tentang masa kecilnya.
"Ya... karena serem." Bulan terpaksa berbohong karena tak ingin Arghi kembali merasa bersalah dan kembali mengatakan kata maaf. Bulan benci hal itu.
Arghi mengangguk paham. Padahal dia tahu bahwa Bulan tengah berbohong. Dari pengamatannya selama dua tahun lebih hidup bersama sang adik, Bulan selalu terlihat gemetar ketakutan. Arghi yakin pasti ada sebab lain yang Bulan sembunyikan.
"Nanti kalo hujan petir jangan jauh-jauh ya. Kakak bakal peluk adek." Bulan tersenyum manis dan mengangguk.
Arghi memeluk Bulan sambil mengusap surai hitam itu. "Tidur, dah malem."
"Takut," cicit Bulan.
"Kenapa?"
"Nanti kakak tidur lama lagi."
"Nggak akan sayang, nanti pagi kakak bangun lagi."
"Janji ya?"
"Iya."
Bulan menutup matanya, tapi bukan untuk tidur. Dia tidak berbohong mengenai hatinya yang masih tak tenang akan mata Arghi yang terpejam. Bahkan saat usapan Arghi perlahan terhenti pun Bulan masih belum juga tertidur.
Bulan membuka mata, mendongak sedikit untuk melihat Arghi yang telah menutup mata.
"Rupanya kakak bener," Bulan tersentak. "Adek belum tidur." Arghi kembali membuka matanya. Sedikit menurunkan pandangan agar dapat melihat wajah sang adik lebih jelas.
"Gak perlu takut, kakak di sini."
Bulan memaksakan senyumannya. "Nggak takut kok. Cuma belum bisa tidur aja." sekali lagi Arghi tahu Bulan berbohong.
"Adek kangen ayah bunda," kalimat itu tiba-tiba saja terlontar dari mulut Bulan.
"Padahal pengen ngerasain jadi kakak. Pengen tau rasanya melindungi adeknya kayak yang kakak lakuin ke adek selama ini. Rupanya gak kesampaian. Ayah sama bunda juga ikut pergi, tanpa pamit."
"Padahal adek belum banggain mereka. Bahkan terakhir kali adek ketemu pun cuma bisa buat mereka marah."
"Padahal cuma disuruh jawab soal, tapi adek sebodoh itu sampe gak bisa dapet apa yang mereka mau."
"Siapa bilang adek bodoh? Adek kemarin dapet juara tiga loh. Itu bagus banget dengan soal yang sama sekali belum adek pelajari. Ayah dan bunda-" Arghi menghentikan kalimatnya. Hampir saja terucap kalimat yang tidak sesuai fakta.
"Ayah sama bunda minta adek juara satu kak, bukan juara tiga. Bodoh banget emang."
"Hey, nggak sayang. Adek udah ngerjain itu dengan jujur ditambah dengan soal yang belum dipelajari di sekolah, itu udah cukup banget. Gak semua orang bisa ngelakuin apa yang adek lakuin. Kakak juga kalo di posisi adek pasti gak akan bisa dapet juara."
Arghi mengelus kepala Bulan. "Kepala adek udah cukup panas sama soal-soal itu. Udah cukup ya, jangan maksain diri lagi. Adek gak perlu ikut olimpiade lagi kalau capek. Gak akan ada lagi yang maksa adek dapet juara satu."
"Tapi seenggaknya adek mau banggain kakak sama kak Dirga."
__ADS_1
Arghi menggeleng. "Nggak sayang, gak perlu. Hanya dengan sehat dan senyum adek itu udah lebih dari cukup buat kami."
Arghi menatap dalam manik pekat Bulan. "Karena dengan hadirnya seorang Rembulan sudah menjadi kebahagiaan di hidup kakak."