WHY

WHY
Sunday


__ADS_3

Jarum pendek telah menunjuk ke angka sembilan. Lantas Bulan beranjak dari kasur kemudian pergi ke kamar mandi untuk bebersih tubuh.


Hari minggu asisten tidak datang, jadi mereka harus memasak sendiri untuk makan hari ini.


Bulan menyiapkan beberapa potong sandwich untuk sarapan pagi ini. Setelah itu naik ke lantai dua tepatnya di kamar Arghi.


"BANGUN BANGUN BANGUN BANGUN BANGUN BANGUN!"


"Buset ni bocah ganggu aja, masih ngantuk njir!"


"Bangun, udah jam sepuluh." Bulan menarik paksa guling yang masih berada di pelukan Bintang.


"Arghi aja belom bangun." Gumamnya dengan mata yang masih tertutup.


"Heh, mulut. Udah wangi gini gue." Potong Arghi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tangannya sibuk menggosok-gosok rambutnya yang masih sangat basah.


"Tuh, kak Arghi udah bangun, udah mandi juga. Cepetan bangun, kalo nggak gue ganggu terus lo." Omel Bulan yang membuat Bintang mau tak mau akhirnya bangun.


"Mandi sana, habis itu turun ke meja makan. Awas aja setengah jam lo gak dateng." Ancam Bulan sambil mendorong tubuh bongsor Bintang masuk ke kamar mandi.


Setelah itu Bulan dan Arghi pergi ke ruang makan terlebih dahulu. Menunggu Bintang yang entah kapan akan selesai.


Sepuluh menit kemudian.


"Halo gess, cepet kan gue." Sapa Bintang sambil mengusap-usap rambutnya yang masih setengah basah ke belakang.


"Dih, sok ganteng lo." Komen Arghi menatap jijik Bintang yang telah duduk di samping kiri Bulan.


"Gue ganteng gue bodo amat "


"Udah diem, kita udah telat banget sarapan masih aja mau berantem."


Perdebatan itu akhirnya dihentikan oleh Bulan yang berada di tengah-tengah. Mereka pun mulai memakan sarapan dengan tenang tanpa adanya adu mulut.


"Kak, nanti ke rumah sakit?" Tanya Bulan kepada Arghi.


"Kata ayah gak usah. Mereka ada pertemuan penting khusus hari ini, jadi kita gak boleh ke rumah sakit." Jelas Arghi.


"Kan lagi sakit, ngapain masih ngurusin kerjaan?"


"Kakak udah ngomong kayak gitu kemarin, tapi bunda bilang ini darurat. Jadi ya... mau gimana lagi." Bulan mengangguk paham.


Sebenarnya dia hanya ingin melihat wajah orang tuanya, walau sekilas. Bulan hanya ingin memastikan dengan kedua bola matanya sendiri bahwa orang tuanya benar baik-baik saja.


"Hari ini kita mau ngapain?" Tanya Arghi mengalihkan topik.


"Hmm... nonton? Belanja? Makan?Jalan? Berenang?" Bintang yang sedari tadi hanya diam pun ikut nimbrung.


"Pengen di rumah aja, males." Perkataan yang terlontar dari mulut Bulan membuat kedua laki-laki tersebut melotot.


"Nih ya Bulan, kegunaan hari minggu untuk para pelajar itu adalah refreshing. Apalagi lo masih kecil, butuh re-"


"Heh!" Bintang dan Arghi kompak tersedak akibat suara meja yang dipukul keras oleh Bulan.


"Enak aja lo bilang gue masih kecil. Mau gue gibeng lagi bisep lo hah?!"


Arghi hanya diam menyaksikan pertengkaran kedua manusia itu. Selagi Bulan tidak terpikir ke orang tuanya, kenapa tidak.


"Galak amat jadi bocah."


BUAGH


"Hahahahahaha, mamam tuh tinjuan!" Arghi mengejek Bintang yang sedang mengusap-usap lengannya.


"Sakit anjir, serius gue gak boong." Bintang mencebik sebal yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Bulan.


"Ini jam berapa?" Tanya Bintang.


"Punya mata kan, liat sendiri sana." Jawab Bulan cuek.


"Buset galak bener," matanya bergeser ke arah jam dinding yang tergantung di belakangnya. "Udah jam setengah sebelas lewat. Nanti siang jalan ayo."


"Males."


"Ayo dong dek kita jalan. Kan kemarin kakak gak ikut, jadi hari ini kita pergi bertiga. Katanya kan mau beli es krim." Bujuk Arghi sambil memasang wajah memelas.


"Yaudah iya jalan-jalan." Jawab Bulan pasrah.


"Nah gitu dong!"


Bulan beranjak dari kursinya kemudian mengambil piring dan gelas bekas mereka makan tadi untuk dicuci.


"Mau ke mana dek?" Tanya Arghi setelah Bulan menyelesaikan pekerjaannya.


"Nonton, ikut?"


"Nanti kakak nyusul."


Bulan mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ke ruang keluarga, membiarkan kedua lelaki itu berbincang serius.


Duduk di sofa sembari memilih-milih siaran televisi, namun tidak menemukan yang menarik satu pun. Bulan beranjak pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Melewati ruang makan, ternyata Arghi dan Bintang masih berbincang serius. Bulan lewat saja tanpa berbicara sepatah kata pun.

__ADS_1


Setelah mendapati ponselnya Bulan kembali turun ke lantai satu ke ruang keluarga. Duduk di atas sofa panjang lalu mulai sibuk menonton cover dance melalui Youtube.


Lima belas menit kemudian, Arghi dan Bintang datang lalu duduk di sampingnya.


"Kalian ngomongin apa? Kok lama banget dari tadi?" Tanya Bulan tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Ngobrolin masa depan yang cerah. Adek gak jadi nonton tv?" Tanya Arghi balik.


"Males, gak ada yang bagus." Bulan meletakkan ponselnya ke atas meja lalu bersandar ke bahu Arghi.


Bintang meraih remote untuk menyalakan televisi. Namun ternyata benar kata Bulan, tidak ada satu pun yang menarik untuk dilihat. Bintang pun berhenti, merebahkan punggungnya ke sandaran sofa.


Ruang keluarga menjadi sunyi dengan para manusia yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bintang fokus ke ponsel, Bulan yang sibuk dengan lamunannya, dan Arghi yang sibuk memainkan rambut Bulan.


Sepuluh menit Bintang berkutat dengan benda persegi panjang, kepalanya menoleh ke samping kanan dengan mata sayu. Dia mengantuk.


"Tidur gak ngajak ngajak," dan tepat setelahnya mata Bintang pun ikut terpejam. Menyusul dua kakak beradik yang telah nyenyak sedari tadi.


.


.


.


Pukul 13.20 Arghi terbangun. Kepalanya mengedar ke segala arah. Bulan masih tertidur di bahunya dengan Bintang yang juga tertidur di paha Bulan. Matanya bergulir ke arah jam dinding sebentar.


"Dek, bangun udah siang. Bintang bangun," mengguncang tubuh keduanya pelan Bulan dan Bintang langsung terbangun.


Keduanya pun kompak melihat jam.


"Kok bisa udah siang?" Pertanyaan random yang keluar dari mulut Bintang membuat Arghi refleks menoyor kepala Bintang pelan.


"Goblok," setelah itu Arghi bangkit dari sofa. Melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Setelah Arghi keluar gantian Bulan yang masuk dan dilanjutkan oleh Bintang setelahnya.


"Jadi jalannya?" Tanya Bintang.


"Kalo jadi gue mau balik dulu, ada something."


"Jadi kok." Jawab Arghi.


"Yaudah, gue balik dulu. Sekitar jam dua nanti gue ke sini, awas aja kalian belom pada siap." Setelahnya Bintang langsung berlari keluar kembali ke rumahnya.


"Ayo siap-siap." Arghi menyeret tubuh Bulan menaiki tangga dan masuk ke kamar masing-masing.


.


.


"Kek anak perawan lo lama banget," celetuk Arghi.


"Hehe... maaf, gue boker dulu tadi. Kuy langsung cus jalan."


"Kalian masuk ke mobil duluan, mau kunci pintu dulu."


Arghi dan Bintang pun pergi lebih dulu ke garasi. Bulan berjalan kembali ke pintu utama, lalu mengunci semua pintu dan jendela kemudian yang terakhir mengunci pagar rumah.


Dua puluh menit menempuh perjalanan mobil akhirnya berhenti di sebuah parkiran basement.


"Mau ke mana dulu?" Tanya Bintang.


"Ke-"


"Tempat makan, ini udah jam setengah tiga. Gak boleh main kalo belum makan." Penjelasan dari Arghi mengehentikan Bulan untuk membuka suara.


"Oke, ayo kita makan."


Arghi berjalan terlebih dahulu, yang otomatis diikuti oleh Bulan dan Bintang di belakangnya.


Langkah Arghi membawa mereka ke sebuah restoran seafood yang berada di lantai dua. Butuh waktu 40 menit untuk mereka menghabiskan makanan karena terlalu banyak mengobrol. Setelah itu naik ke lantai lima tepatnya di game center.


"Basket?" Tantang Bintang.


"Idih, mentang-mentang ketua basket ya lo. Ayo siapa takut." Arghi yang merasa tertantang menyetujui ajakan Bintang. Pas sekali ada dua tempat yang kosong.


Bulan yang berada di tengah-tengah bertugas menggesek kartunya. Ada dua kartu di tangan Bulan. Sebelah kanan milik Bintang dan di sebelah kiri milik Arghi.


"1... 2... 3!" Bulan menggesek kartu ke kedua mesin secara bersamaan.


Arghi dan Bintang sontak langsung bergerak cepat untuk memasukkan bola ke dalam ring. Kepala Bulan sibuk bergerak ke kanan dan kiri, melihat poin yang dihasilkan oleh Arghi dan Bintang.


"Woo, skor gue lebih tinggi!" Seru Bintang saat ronde pertama telah selesai.


"Idih, ronde dua belom selesai. Kita liat hasil akhirnya."


Ronde kedua dimulai. Arghi dan Bintang kembali fokus melempar bola masing-masing.


Argh dulu pernah menjadi ketua basket saat smp. Tapi sekarang dia tidak bisa lagi bermain terlalu lama karena tubuhnya tidak sesehat dulu.


Sedangkan Bintang menjadi anggota ekskul basket dari kelas sepuluh sampai sebelas. Namun ada kejadian yang membuatnya harus hiatus selama satu tahun penuh yang membuatnya terpaksa tinggal kelas. Saat Bintang kembali sekolah, jabatan ketua pun langsung Bintang ambil alih.

__ADS_1


Kembali lagi ke Arghi dan Bintang. Nafas keduanya terengah-engah sambil saling melirik satu sama lain.


Arghi tersenyum miring. "It's me! I win, you lose, hahaha!"


Wajah Bintang menekuk sebal mendengar nyanyian plus ledekan dari mulut Arghi hingga mengundang Bulan untuk tertawa.


"Eleh, beda tipis doang."


"Iyain aja, nanti mewek." Ledek Arghi.


"Udah, ayo kita lanjut main!" Seru Bulan menarik tangan Arghi dan Bintang meninggalkan permainan basket.


...~~~...


Setelah bermain selama dua jam lebih dan membeli es krim, mereka memutuskan untuk menonton sekalian numpang duduk di bioskop.


"Adek ke toilet dulu ya."


"Yaudah kakak tunggu di situ." Jawab Arghi menunjuk sofa yang berada di pojokan.


"Kakak sama Bintang langsung aja masuk, nanti adek nyusul."


"Kami juga mau ke toilet nanti."


"Yaudah." Setelah itu Bulan berlalu dari hadapan Arghi dan Bintang.


Setelah Bulan keluar, Arghi langsung pergi ke toilet diikuti oleh Bintang di belakangnya.


Selesai dengan urusan pertoiletan mereka pun masuk ke dalam studio tiga. Duduk di bangku teratas sebelah kanan. Bintang berdampingan dengan tembok, di samping kanan ada Bulan dan di sampingnya lagi ada Arghi.


Film akan dimulai lima menit lagi. Ketiga orang itu sibuk dengan ponselnya masing-masing sampai lampu dimatikan tanda film akan dimulai.


Mata ketiganya sibuk dengan layar lebar yang menampilkan film horor tersebut. Sesekali mengunyah popcorn tanpa mengalihkan pandangan barang satu cm pun dari layar.


"Anjing kaget!" Gumam Bintang pelan saat wajah penampakan tergambar jelas di layar.


"Ngagetin aja lo." Bisik Bulan yang terkejut karena umpatan Bintang yang membuatnya hilang fokus.


Deg


"Kenapa harus sekarang?"


Bintang diam-diam meremat perutnya yang terasa nyeri tiba-tiba. Menggigit bibirnya untuk menahan ringisan, Bintang melirik Bulan dan Arghi yang terlihat sangat fokus menonton.


Dengan sangat perlahan Bintang merogoh saku celananya, mengambil wadah kecil yang selalu dia bawa kemana pun. Mengambil sebutir dengan pelan lalu meraih botol minumnya. Berpura pura mengambil popcorn lalu menelan pil tersebut dengan bantuan air.


Kembali menatap layar, mencoba mengalihkan rasa nyeri yang masih terasa. Sesekali menekan pusat nyeri agar sakitnya sedikit berkurang.


Pukul 21.45 film selesai. Ketiganya menunggu sampai suasana cukup sepi barulah mereka keluar.


"Lo sakit?" Pertanyaan dari Bulan membuat Bintang terkejut sampai Arghi pun ikut memandangnya.


"Nggak kok, ayo pulang udah malem." Bintang berjalan mendahului Arghi dan Bulan ke parkiran mobil.


Sesampainya di parkiran Arghi langsung menjulurkan tangannya kepada Bintang bermaksud meminta kunci mobil.


"Lan, lo aja di depan." Bulan tanpa banyak bertanya langsung mengangguk.


Perjalanan pulang hanya memakan waktu lima belas menit karena jalanan yang lumayan sepi. Bintang langsung masuk ke rumahnya setelah mengucap pamit kepada Arghi dan Bulan.


Usai berganti baju dan mencuci wajah Bulan langsung membanting tubuhnya ke atas kasur. Sesekali meregangkan tubuhnya yang lumayan pegal setelah puas bermain. Sampai suara ketukan pintu menghentikan pergerakan. Arghi masuk lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Bulan. Mengelus lembut surai panjang sang adik.


"Dek."


"Emm?"


"Kenapa?" Tanya Bulan saat Arghi belum juga mengatakan apapun. Gurat ragu terlihat jelas di wajah sang kakak.


"Kemarin bunda kasih tau kakak kalo bunda hamil."


Raut Bulan berbinar seketika. "Beneran kak?!" Yang dijawab dengan anggukan mantap oleh Arghi.


"Yes, adek punya temen main!"


"Kakak kira adek gak akan suka."


Kening Bulan mengkerut, "Kenapa harus gak suka?"


"Yaa, biasanya kalo udah terbiasa jadi anak bungsu gak mau lagi punya adik."


Bulan menggeleng, menatap Arghi dengan tatapan yang tak bisa Arghi artikan.


"Adek seneng..."


Arghi menatap Bulan lamat. Menunggu Bulan menyelesaikan kalimatnya.


"Tapi adek berharap, bukan anak perempuan yang keluar."


Arghi tertegun. Tentu dia tahu apa maksud dari ucapan Bulan. Mengingat orang tuanya yang sangat membenci anak perempuan entah apa alasannya.


"Adek gak mau ada Rembulan kedua di dunia."

__ADS_1


__ADS_2