
"Misimu berhasil?"
"Maaf tuan,"
Yang dipanggil tuan hanya mengangguk paham. "Tak masalah, ini baru awal. Tidak seru jika langsung mati begitu saja bukan?"
...~~~...
Bulan sedang merenung di taman belakang. Angin sore ini menusuk tulang. Sebentar lagi musim dingin tiba. Biasanya saat malam akhir tahun nanti kedua orang tuanya bersama dengan Arghi akan pergi ke pusat kota, merayakan detik-detik akhir tahun di sana ditemani dengan kembang api. Atau juga duduk-duduk santai di halaman rumah sambil membakar jagung dan sosis. Bulan? Hanya mengamati dari jendela kamar.
Tapi kadang juga Bulan merasa tidak enak melihat Arghi yang selalu terlihat tidak nyaman. Bulan tahu, Arghi pasti merasa bersalah terhadapnya yang tidak pernah bisa berada di antara mereka. Padahal Bulan tidak masalah, walaupun sesak itu meremas dadanya.
Tapi tahun ini sampai seterusnya Bulan tidak bisa lagi melihat wajah orang tuanya dan senyuman mereka. Keduanya hilang di telan laut. Menyisakan kenangan pahit bagi anak perempuan itu. Harapannya untuk mendapat pelukan orang tuanya pun harus dikubur sedalam mungkin karena mustahil untuk dipenuhi.
Tiba-tiba sebuah jaket menyelimuti tubuh. Bulan mendongak, mendapati wajah teduh Arghi yang telah duduk di sampingnya.
"Kenapa disini hm? Cuacanya dingin, nanti masuk angin." Arghi membelai lembut surai Bulan.
"Gapapa, mau duduk-duduk doang."
Keduanya pun membisu sampai Bulan merebahkan kepalanya di lengan Arghi.
"Jangan tinggalin adek ya." Arghi menunduk lalu tersenyum.
"Emang kenapa?"
"Setiap liat kakak tutup mata adek selalu takut. Takut kakak tinggalin adek. Ayah sama bunda udah pergi, adek gak mau kehilangan lagi." Bulan menunduk dalam.
"Kalo gitu adek harus tetep di samping kakak. Jadi alasan kakak untuk berjuang." Bulan mengangkat kepalanya, menatap wajah pucat Arghi yang juga sedang menatapnya sembari tersenyum lembut. Bulan menghembuskan nafas berat.
"Maaf-" Arghi langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Bulan. Memotong kalimat sang adik.
"Jangan minta maaf lagi, kakak mohon." Pinta Arghi memelas. Dia sungguh sangat membenci saat Bulan selalu menyalahkan diri sendiri.
"Tapi emang adek yang-" Arghi memegang pergelangan tangan adiknya, membuat ucapan Bulan kembali terpotong.
"Kakak mohon," pintanya lagi. Memandang sang adik dengan tatapan yang teramat sendu. Bulan terdiam cukup lama hingga akhirnya mengangguk ragu. Arghi tersenyum dan memeluk Bulan. Disitulah raut wajah Arghi berubah total. Dari yang awalnya tersenyum lembut menjadi pias. Menggigit bibir bawahnya menahan ringisan yang bisa kapan saja keluar. Sedari tadi dadanya terus berdenyut nyeri. Bahkan untuk bernafas saja rasanya sangat menyakitkan.
Entah kenapa akhir-akhir ini jantungnya selalu saja berulah. Padahal dia selalu meminum obat dengan rutin. Karena itulah dirinya lebih sering berada di kamar sekarang, membuat suasana rumah semakin lenggang. Arghi tahu adiknya pasti merasa sangat kesepian. Apalagi bayang-bayang Cahyo dan Mentari masih sangat berbekas. Namun di sisi lain dia tidak mau adiknya tahu bahwa dia tengah kesakitan. Bulan akan selalu menyalahkan dirinya, dan Arghi sangat membenci hal itu.
Arghi kembali mengganti raut wajahnya, mengurai pelukan mereka. Menangkup wajah tirus Bulan.
__ADS_1
"Janji sama kakak, jangan pernah nyalahin diri adek lagi." Bulan diam sejenak kemudian mengangguk ragu. Arghi mengacak rambut Bulan dengan senyuman yang terus mengembang.
"Dah, ayo masuk." Arghi menarik Bulan meninggalkan halaman belakang.
Malamnya, kedua kakak beradik itu makan malam di ruang keluarga sembari menonton film hantu. Keduanya sepakat untuk menonton beberapa film horor sampai tertidur.
Di tengah suapan, bunyi ponsel berdering membuat konsen keduanya buyar. Arghi pun mengangkat panggilan tersebut.
"..."
"Masih di sana?"
"..."
"Yaudah, hati-hati. Jangan lupa makan di sana."
"..."
"Dih najis, gue matiin ya."
"..."
"Kak Dirga?" Arghi mengangguk.
"Makan atau kakak stop filmnya?" Bulan dengan sigap langsung memakan makanannya. Selesai Bulan makan, keduanya berpindah posisi duduk di atas karpet tebal.
Arghi menyenderkan punggungnya ke kaki sofa. Mengurut dadanya pelan dengan pandangan fokus ke film. Namun saat Bulan ikut senderan ke kaki sofa, Arghi dengan segera menghentikan aktivitasnya.
"Weh, gelep banget." Bintang tiba-tiba datang dan duduk di samping Arghi.
"Baru pulang?" Tanya Arghi.
"Dari tadi siang. Habis itu ketiduran."
"Enak gak di Paris?" Kini Bulan yang bertanya.
"Enak, apalagi buat pacaran." Arghi mendelik geli.
Setelah itu ketiganya hanyut ke dalam alur cerita. Hanya ada suara bising film di sana. Bahkan tidak ada seorang pun yang berminat menyentuh camilan.
Empat film sudah mereka lewati. Arghi menoleh ke samping kiri. Ternyata Bulan telah tertidur dengan kepala tertunduk. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua pagi. Dengan sangat perlahan Arghi menarik Bulan bersandar ke dadanya. Menoleh ke arah sebaliknya, Bintang masih stay fokus ke layar.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian film keempat selesai.
"Lanjut?" Bintang bertanya.
"Gas."
Dan akhirnya mereka benar-benar tidak tidur malam itu hingga pukul enam pagi.
...~~~...
Asap mengepul membuat aroma masakan tercium memenuhi ruangan. Bulan menuangkan masakannya ke beberapa piring, lalu dia letakkan ke atas meja makan.
"Bener-bener istri idaman," celetuk Bintang mengundang tatapan tajam dari Arghi. Sedangkan Bulan hanya geleng-geleng kepala sambil mendudukkan tubuhnya ke kursi meja makan.
DOR
Tangan-tangan yang semula ingin mengambil nasi pun sontak terhenti. Ketiganya serentak berlari ke halaman untuk melihat apa yang terjadi.
"Kak Dirga?" Bulan mendekati Dirga yang berdiri menghadap pagar. Dirga menolehkan kepalanya sedikit, tersenyum kaku. Tangan kanan Dirga tersembunyi di balik jas hitamnya.
Bulan langsung menyingkap jas Dirga yang tak terkancing sehingga menampakkan kemeja putih Dirga yang terdapat noda merah.
"K-kak..." Arghi ikut mendekat saat melihat Bulan terperangah. Arghi menoleh ke arah Bintang dengan bola mata tertuju ke garasi setelah melihat apa yang terjadi.
"Dek, bawa kak Dirga ke rumah sakit ya. Nanti kakak nyusul. Hati-hati, kakak pergi dulu." Arghi berkata cepat lalu dengan gesit naik ke atas mobil yang telah dikeluarkan oleh Bintang. Mobil itu melaju sangat cepat meninggalkan halaman rumah.
Bulan dengan segera memapah Dirga ke dalam mobil yang masih teronggok di depan pagar.
"Adek bisa bawa mobil?" Tanya Dirga pelan saat mobil mulai berjalan.
Bulan mengangguk sekilas. "Kakak tahan sebentar ya."
Mobil meliuk gesit memotong kendaraan yang melaju lambat. Dirga sungguh terkejut. Bahkan dia sejenak melupakan perutnya yang tadi tertembak. Hey, siapa yang mengajari adik kecilnya ini menjadi pembalap jalanan?
"Kak," hening menjawab panggilan Bulan.
Perempuan itu semakin mempercepat laju kendaraan. Tak peduli dengan suara klakson memenuhi jalanan yang dia lewati.
"Kakak masih hidup. Adek tenang aja, santai." Dirga terkekeh lirih setelah mobil hening selama 30 detik.
"Plis kak, satu menit lagi kita sampe."
__ADS_1
Tepat satu menit kemudian Bulan menghentikan mobilnya. Berteriak keras memanggil perawat. Gadis itu menghela nafas lega saat Dirga telah masuk ke dalam unit gawat darurat. Semoga Dirga baik-baik saja.