WHY

WHY
Fail


__ADS_3

Bulan membuka pintu rumahnya dengan sangat perlahan. Lampu-lampu telah dimatikan membuat keadaan rumah menjadi sangat gelap.


Sepertinya semua sudah tidur.


"Berapa?" Dengan tiba-tiba Mentari muncul dari dapur dengan segelas air di tangan kirinya. Nafas Bulan tercekat. Dengan gemetar Bulan berbalik menghadap Mentari. Raut datar dari sang bunda membuat lidahnya terasa kelu.


"Saya tanya berapa?"


Bulan menunduk. "Maaf bunda, cuma dapet juara tiga."


Plak


Kepala Bulan tertoreh ke kanan. Tamparan Mentari sangat kuat.


Mentari menarik kerah baju Bulan dan membawanya ke ruang kerja. Cahyo yang tengah mengetik sesuatu menoleh sebab pintu yang terbuka secara kasar. Maniknya menelisik Bulan yang basah kuyup.


Bangkit dari kursi kebesarannya, lalu mendekati istrinya.


"Juara berapa dia?"


"Tiga."


Jawaban yang singkat dan jelas. Bulan dapat melihat aura kemarahan yang perlahan mulai menyelimuti Cahyo.


Plak


Kali ini pipi sebelah kiri Bulan yang ditampar.


Dengan kasar Cahyo menarik Bulan dan mendorongnya sampai Bulan tersungkur di lantai. Mengambil rotan yang tergantung di dinding.


Mentari melengos tak peduli. Kembali ke kursi melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Bugh


"Bodoh!"


Bugh


"Memalukan!"


Bugh


"Sudah saya bilang harus juara satu. Kenapa kau bodoh sekali?!"


"Maaf ayah," lirih Bulan.


Bugh


"Saya butuh pencapaian, bukan maaf kamu."


Bugh


"Apa susahnya dapat juara satu hah?! Ngapain aja kamu kemarin-kemarin? Main iya?!"


Nafas Cahyo memburu. Menatap Bulan yang terduduk di lantai dengan tajam. "Pergi kamu! Bikin pusing saja melihatmu di sini." Usir Cahyo.


Dengan perlahan Bulan bangkit dengan susah payah. Menatap ayahnya, lalu sang bunda yang fokus ke laptopnya. Bibirnya terangkat ke atas, tersenyum manis. "Ayah sama bunda cepet istirahat ya, jangan kelelahan. Selamat malam."

__ADS_1


Bulan pun keluar dari ruang kerja orang tuanya. Berjalan menapaki satu persatu anak tangga dengan lemas. Tubuhnya kedinginan, kepalanya pusing, punggungnya sakit, dan kedua pipinya panas.


Sampai di lantai dua Bulan menatap pintu kamar Arghi. Bersyukur karena sepertinya Arghi telah tidur.


Menutup pintu kamarnya, meletakkan tas yang telah basah sepenuhnya. Mengeluarkan buku serta peralatan sekolahnya. Lalu dengan perlahan Bulan mengeluarkan piala, sertifikat, dan sebuah kotak sedang yang mungkin berisikan hadiah. Menatap ketiga barang tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan. Tangannya terangkat, mengelus kepalanya sendiri. "Kerja bagus hari ini Bulan, terima kasih telah berusaha." Setelah itu masuk ke dalam kamar mandi.


Selesai mandi Bulan langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Memeluk guling lalu menghadap ke sebelah kiri. Punggungnya sakit jika dia tidur telentang.


Di tengah keheningan malam.air matanya tiba-tiba mengalir. Mencengkeram guling yang dipeluknya untuk menahan tangisan, namun yang dihindari justru semakin deras.


Menutup kedua matanya, berharap tidak ada lagi bulir bening yang keluar. Gagal, air mata tersebut terus mengalir. Bahkan tubuhnya bergetar saking kerasnya Bulan berusaha untuk menahan air matanya.


Lelah menahan tanpa membuahkan hasil, Bulan pun membiarkan air matanya keluar dengan bebas. Untuk malam ini saja.


...~~~...


Pukul 07.30 Arghi selesai mandi. Menggosok rambutnya dengan handuk agar tidak terlalu basah setelah itu pergi ke kamar Bulan.


Ternyata sang adik masih lelap tertidur. Tubuh gadis itu tak terlihat karena tenggelam dalam selimut. Dibukanya selimut yang menutupi Bulan, "Astaga."


Arghi memegang dahi Bulan. Panas sekali. Mengambil plester penurun panas di dalam laci lalu ditempel ke dahi Bulan. Kemudian keluar dari kamar dan turun ke lantai satu. Arghi pergi ke dapur.


"Bi, ayah sama bunda udah pergi?"


Bi Ani yang tengah membersihkan dapur menoleh. "Udah dari jam 12 malam tadi." Jawab bi Ani.


Arghi mengangguk.


"Mau ngapain den?" Tanya bi Ani ketika Arghi mendekati kompor.


"Buat bubur bi. Adek demem."


"Gapapa, bibi selesain aja kerjaan bibi."


Bi Ani pun mengangguk. Membiarkan Arghi berkutat di dapur dan melanjutkan pekerjaannya yang terhenti.


Arghi membuka pintu kamar Bulan. Ternyata sang adik tengah duduk dengan kepala tertunduk dalam. Bulan menoleh saat Arghi duduk di tepi ranjang.


"Makan dulu ya."


Arghi menyodorkan sesendok bubur ke mulut Bulan. Tapi namanya orang sakit rata-rata pasti akan menolak.


"Lima suap aja ya. Habis itu minum obat." Pinta Arghi.


Dengan terpaksa Bulan memakan bubur tersebut. Namun di suapan ketiga Bulan menggeleng. Perutnya tidak bisa menampung lagi.


Arghi memaklumi. Mengambil gelas dan obat di nakas lalu diberikannya kepada Bulan.


Setelah meneguk obatnya, Bulan menatap Arghi lamat. "Dada kakak sakit ya?" Tanya Bulan lemas.


Arghi menggeleng sambil tersenyum lembut. "Nggak kok. Udah, adek istirahat ya." Jawab Arghi sembari menyelimuti tubuh Bulan hingga sebatas dada.


Mengecup kening sang adik singkat. "Cepet sembuh."


Arghi keluar dari kamar Bulan dan kembali ke dapur. Meletakkan mangkuk ke wastafel dan akhirnya,


Bruk

__ADS_1


...~~~...


Baru satu setengah jam tertidur Bulan kembali terbangun karena mimpi buruk. Pupilnya melirik jam dinding, lalu turun dari ranjang dan pergi ke kamar Arghi. Namun tidak ada orang. Turun ke lantai satu, tidak ada orang juga.


"Loh, non Bulan? Ngapain di sini? Masih sakit kan? Butuh apa? Biar bibi ambilin." Bi Ani muncul dari arah taman belakang.


"Bi, kak Arghi mana?" Bisa Bulan lihat gelagat bi Ani seperti orang kebingungan.


"Bi?" Panggil Bulan.


"Den Arghi ada di rumah sakit."


"Makasih bi." Bulan kembali ke kamarnya, berganti baju lalu turun ke bawah.


"Non Bulan kan masih sakit, nanti aja ya perginya? Atau bibi temenin?"


"Gapapa bi gak usah, Bulan pergi dulu ya bi."


Bi Ani menatap punggung Bulan yang tak lagi terlihat dengan pandangan sendu.


Kaki jenjangnya melangkah gesit menuju ke resepsionis, bertanya di mana ruangan Arghi berada. Setelah mendapat jawaban Bulan berlari cepat ke lantai enam, tepatnya di kamar paling ujung. Langkahnya refleks terhenti saat pintu ruangan Arghi terbuka. Bulan segera bersembunyi di balik tembok melihat kedua orang tuanya bersama Cakra yang baru keluar.


"Sekali lagi tolong jagain Arghi ya." Pinta Mentari.


Cakra mengangguk kecil. "Kalian tenang saja."


"Kami harus pergi sekarang juga. Maaf merepotkan dan terima kasih." Ujar Cahyo lalu menarik tangan Mentari pergi dengan terburu-buru.


Bulan dapat menyimpulkan bahwa orang tuanya pasti akan pergi ke luar negeri lagi. Melihat raut khawatir dan cemas keduanya, mungkin sedang ada masalah di sana.


Bulan pun bangkit saat Cakra berlalu.


Membuka pintu, Bulan mendapati wujud sang kakak yang terbaring di brankar dengan masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya. Mata indah itu lagi-lagi tertutup rapat.


Ternyata benar dugaan Bulan bahwa kakaknya sedang menahan sakit saat menyuapinya tadi pagi. Dan dengan bodohnya Bulan percaya perkataan Arghi yang mengatakan dirinya baik-baik saja sambil tersenyum.


Bulan duduk di kursi yang telah disediakan. Memegang tangan Arghi yang terbebas dari infus. Merebahkan kepalanya yang sedari tadi terasa nyeri dan tak lama pandangannya menggelap seiring dengan matanya yang terpejam.


...~~~...


Netra indah itu perlahan terbuka. Langit-langit putih menyapa indra penglihatannya. Dia berakhir di sini lagi.


Lama terdiam, Arghi baru sadar ada sesuatu yang panas di tangan kanannya.


Menoleh ke samping. Matanya terbelalak saat melihat wajah pucat Bulan. Kenapa adiknya berada di sini?


Arghi melepaskan tangannya dari genggaman Bulan, lalu memegang dahi adiknya. Panas sekali.


Dengan penuh perjuangan Arghi mendudukkan tubuhnya. Tangannya memencet tombol darurat sebanyak dua kali hingga tak lama kemudian Cakra muncul.


"Kamu udah sadar. Kenapa bangun? Ada yang sakit?"


"Adek demem tinggi." Lirih Arghi.


Cakra langsung menghampiri Bulan dan meringis saat tangannya merasakan suhu panas yang mungkin mencapai 39 derajat.


"Kamu istirahat lagi ya. Bulan biar om yang urus." Cakra membantu Arghi kembali berbaring. Setelah itu mengangkat Bulan dan pergi meninggalkan Arghi.

__ADS_1


"Lo bener-bener gak berguna Ar." Lirihnya menatap pintu yang baru saja tertutup.


__ADS_2