WHY

WHY
Bitter Reality


__ADS_3

Sudah tiga hari, namun masih belum ada tanda-tanda Bintang dan Bulan akan pulang. Jangan ditanya bagaimana kondisi Arghi sekarang. Wajahnya telah menyerupai mayat, tegaknya tak lagi tegap saking tak bertenaga, dan selama tiga hari itu dia tidak tidur dan meminum obatnya sama sekali. Dirinya hanya termangu di sofa ruang tamu, menatap kosong ke lantai rumah


Kemarin atau tepatnya keesokan hari setelah Bintang dan Bulan pamit pergi, Arghi yang kalut pun langsung menelpon Dirga. Untungnya si sulung segera pulang detik itu juga. Seluruh bawahan telah diuraikan untuk mencari keberadaan dua remaja itu. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda. Ponsel keduanya tidak aktif sama sekali.


"Ar," Arghi menoleh mendapati sang kakak yang perlahan mendekatinya. Duduk di samping Arghi yang masih menunggu penjelasan dari Dirga. Wajah sang kakak terlihat sangat mendung.


"Kenapa diem? Ada kabar baru?" Tanyanya terlampau lemas. 


Bukannya menjawab, Dirga malah memeluk Arghi. Tentu saja Arghi langsung negative thinking. Langsung melepas pelukan Dirga dengan tatapan menuntut penjelasan. Tapi yang dia dapat malah mata Dirga yang berkaca-kaca.


"Kak, plis gak usah main-main!" 


"Mereka udah pergi Ar," Arghi menggeleng kuat. 


"Gak usah bercanda! Nyawa bukan mainan!" 


Dirga perlahan mengeluarkan ponselnya, mengarahkan tampilan layarnya ke arah Arghi. Detik selanjutnya Arghi sukses mematung di tempat. Foto yang sangat menyesakkan ulu hatinya. Potret yang menunjukkan adik perempuannya berada di pelukan sahabatnya di tengah genangan darah dengan senyum tipis di bibir keduanya.


"Ini... gue lagi mimpi?" Tanya Arghi tak percaya. "Iya kan, gue lagi mimpi kan?" Tanyanya kembali sambil mengguncang pelan bahu Dirga.


"Ini nyata Ar, mereka udah-" Dirga menunduk dalam. Terisak hebat dalam diam.


Arghi bangkit, namun sepersekian detik setelahnya tubuh kurus itu meluruh ke lantai tak sadarkan diri.


...~~~...

__ADS_1


Pemandangan pertama yang dilihat lagi-lagi atap rumah sakit. Dengan gerakan cepat Arghi melepas masker oksigennya membuat Dirga yang duduk tenang di samping tersentak kaget.


"Mereka di mana?"


"Ar, nanti aja ya. Kondisi lo belum-"


"Sekarang kak!"


Dirga menghela nafas pasrah. Membantu Arghi turun, menggiring adiknya itu ke ruang jenazah. 


"Kalo gak kuat panggil ya." Setelahnya Dirga segera keluar dari sana. Tak sanggup melihat tubuh yang tertutup kain putih itu kembali.


Arghi dengan perlahan mendekat, menyibak sedikit kain putih itu sampai wajah damai Bintang terlihat dalam netra. Arghi tertawa miris.


"Nyenyak tidurnya Bin?" 


"Keinginan lo terkabul tanpa harus ngotorin tangan. Selamat ya," Arghi memaksakan senyumnya. Mengingat kembali masa-masa terpuruk sahabatnya itu membuat Arghi tertawa. Bintang berhasil menyerah tanpa mengotori tangan.


"Gue bodoh banget ya kemarin sampe gak sadar kalo pelukan itu buat salam perpisahan."


"Pasti lo seneng kan sekarang. Gapapa, gue juga ikutan seneng. Pak tua itu gak akan lagi gangguin lo. Hati lo gak akan sakit lagi liat orang tua lo di tv sama keluarga barunya. Lo juga gak perlu ngerasain sakit lagi."


"Nanti gue usahain buat hubungi bokap nyokap lo. Gue gak bisa janji, tapi semoga mereka bisa dateng ke rumah terakhir lo."


Arghi mengusap dahi Bintang dengan sangat perlahan. "Selamat tidur sahabat."

__ADS_1


Ditutupnya kembali kain putih itu. Tubuhnya jatuh dengan isakan yang memenuhi ruang jenazah. Melihat Bintang saja Arghi sudah tak sanggup. Bagaimana dia melihat sang adik? Apakah dia akan langsung meninggal? Ah tidak, itu terlalu berlebihan.


Cukup lama Arghi terisak di sana, hingga akhirnya dia menguatkan diri untuk bangkit menghampiri ranjang yang satunya.


Dengan tangan gemetar Arghi menyingkap kain itu. Mematung untuk waktu yang cukup lama. Nyawanya seperti diambil lalu dikembalikan secara paksa, menghasilkan nyeri yang begitu kuat di dada. Untuk sejenak Arghi memejam. Giginya menggigit kuat bibir bawah menahan ringisan.


"Kirain adek pamit kemarin cuma pergi sebentar, taunya selamanya. Padahal kakak nungguin adek. Katanya mau dipeluk lama-lama kan." Arghi mengusap pucuk kepala Bulan. Tidak ada air mata yang keluar, hanya ada jejak bekas dia menangisi Bintang. 


"Kakak belum sembuh, tapi adek malah pergi. Siapa nanti yang semangatin kakak hm? Adek alasan kakak berjuang selama ini. Alasan terbesar kakak sembuh itu biar kakak bisa kasih kebahagiaan yang selama ini belum adek rasain. Kenapa udah pergi?"


"Udah capek ya? Yaudah gapapa. Egois namanya kalo kakak maksa adek tetap berjuang."


"Makasih ya, udah bertahan selama ini. Kakak bangga banget sama adek. Kakak beruntung dikasih kesempatan sama Tuhan untuk menjadi kakak dari seorang perempuan cantik bernama Rembulan Cahaya Purnama."


"Sering-sering dateng ke mimpi kakak ya sayang."


Arghi mengecup kening Bulan cukup lama. "Selamat tidur Rembulannya kakak." Bisiknya tepat di telinga Bulan. Menutup kembali kain putihnya, Arghi berjalan gontai keluar. Berlama-lama di sana seperti simulasi kematian. Dadanya sakit sekali.


"Udah? Balik ke kamar ya." Dirga menghampiri Arghi yang baru saja keluar.


"Kapan pemakamannya?"


"Sebentar lagi, jam sepuluh."


"Gue siap-siap dulu."

__ADS_1


Dirga menatap sendu Arghi yang telah mendahuluinya. Tubuh sang adik terlihat sangat tak berdaya. Mungkin jika angin kencang menerpa Arghi akan langsung terhempas saking tak bertenaganya lelaki itu melangkah.


"Ya Tuhan..."


__ADS_2