WHY

WHY
The Day


__ADS_3

Siapa yang tidak tahu dengan pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Sejak dulu Bulan selalu memegang pepatah itu sampai dia besar. Tapi mulai hari ini sampai dia mati nanti, Bulan sepertinya tak lagi ingin mempercayai pepatah tersebut. 


Katanya Tuhan memberikan cobaan kepada hamba-Nya karena tahu jika hamba-Nya itu mampu. Bulan mengangguk setuju. Buktinya dia masih hidup sampai sekarang, dan itu cukup membuktikan bahwa dia mampu bertahan dari semua itu.


Bulan pernah bertemu seorang wanita tua saat dirinya tengah merenung di jembatan. Wanita itu bilang, semakin sakit kau sekarang, semakin bahagia pula kau nantinya. Bulan saat itu hanya mengangguk seolah percaya. Padahal dalam hatinya dia menampik perkataan wanita itu. Buktinya sampai detik ini Bulan belum menemukan kebahagiaan terbesarnya. Bukan Bulan tidak bersyukur. Dia akui dia sangat beruntung memiliki Arghi, Dirga, dan Bintang dalam hidupnya. Namun siapa yang tidak ingin merasakan kasih sayang orang tua? Siapa yang tidak ingin memiliki teman? Okey, teman coret saja karena dia telah memiliki Lisa sebagai teman satu-satunya sekarang. 


Setiap anak perempuan jika ditanya, siapa cinta pertamamu? 90% anak perempuan pasti menjawab ayahnya. Dan siapa yang merawatmu saat kecil? 90% anak juga akan menjawab ibunya. Namun 10% lainnya? Siapa yang tahu? 


Bulan tertawa miris sambil geleng-geleng kepala. Kembali ke kenyataan. Bulan merapikan pakaiannya lalu menilik pantulan tubuhnya di kaca. Rambut tergerai indah dan wajah yang sedikit dia poleskan bedak dan lip tint berwarna pink natural. Jarang sekali dia berdandan serapi ini. Biasanya hanya saat menghadiri acara orang tuanya saja Bulan memoleskan dandanan walaupun tipis.


"Sampai jumpa Rembulan," gumamnya pelan.


Setelah puas menatap diri Bulan segera keluar dari kamarnya. Turun ke bawah tepatnya ke ruang keluarga dan mendapati Arghi di sana tengah fokus menatap televisi.


"Kak," Arghi menoleh hingga mendapati sang adik yang telah rapi.


"Adek dandan?!" Serunya sambil tersenyum lebar kemudian bangkit menghampiri Bulan.


"Sedikit," ujar Bulan kikuk.


"Adek siapa ini? Kok cantik banget?" Bulan tersenyum malu mendengar pujian Arghi.


"Mau ke mana sama Bintang?" Tanya Arghi sambil mengelus lembut kepala Bulan.


"Ke suatu tempat," jawab Bulan agak ragu.


"Jaketnya jangan sampe dilepas ya. Jangan lupa makan, jangan minum es." Nasihat Arghi yang tentu diangguki oleh Bulan.


"Kak,"


"Hmm?"


"Boleh peluk?"


Arghi diam sejenak lalu tertawa. "Ngapain nanya dulu?" Arghi menarik Bulan ke dalam pelukannya.


"Jangan lupa minum obat, jangan lupa check up juga."


"Iya sayang."


"Kalo ada apa-apa langsung telpon. Titip salam buat kak Dirga, bilangin adek kangen."


Kening Arghi mengkerut. Sedikit heran dengan tingkah Bulan hari ini.


"Pelukan kakak nyaman banget. Jadi males pergi."


Arghi mengecup pucuk kepala Bulan. "Nanti pulang kakak peluk lagi."


Bulan tersenyum sendu. Melepaskan pelukannya, menatap lamat wajah tampan kakaknya itu.


"Kalo gitu adek pamit ya kak." Arghi mengangguk, mengantar Bulan ke teras rumah. Sampai di sana ternyata Bintang telah berdiri tegak di samping pintu.


"Tumben nunggu di sini. Biasanya masuk aja lo."


"Mager." Arghi mencibir.


"Hati-hati kalian." Bintang dan Bulan mengangguk.


Bulan sudah berjalan terlebih dahulu ke mobil menyisakan Bintang yang masih diam di tempat bersama Arghi.


"Gue pamit bro," Arghi mengangguk.


Tanpa disangka Bintang tiba-tiba memeluk Arghi membuat yang dipeluk kebingungan. Ada apa dengan sahabatnya itu?


"Sahabat gue udah besar." Arghi semakin dibuat heran.

__ADS_1


"Kita seumuran bego. Kek lo tua banget dari gue."


"Gue tetep lebih tua dari lo empat bulan."


Arghi mendengus. "Beda empat bulan aja bangga."


"Thanks udah jadi sahabat gue."


Arghi membalas pelukan Bintang. "Walaupun gue bingung lo kenapa, tapi sama-sama."


Bintang tersenyum lalu melepas pelukannya. "Gue dipeluk Arghi." Ujarnya kegirangan membuat raut Arghi berubah datar.


"Asu."


Bintang tertawa sambil menepuk bahu Arghi. "Pamit bro."


Lalu setelahnya Bintang menyusul Bulan masuk ke dalam mobil. Menyisakan Arghi yang terus menatap mobil itu sampai tak terlihat lagi di pandangannya. Tangannya terangkat memegang dadanya yang terasa nyeri. "Semoga kalian baik-baik aja."


Seperempat jalan lagi harus mereka tempuh, namun mobil tiba-tiba saja berhenti secara mendadak. Bulan menoleh ke samping, mendapati Bintang yang telah menunduk sambil meremat perut.


Bulan pun turun dari mobil menghampiri bangku kemudi. "Ayo pindah."


Bintang menggeleng sambil terus menunduk.


"Bintang, plis." Tekan Bulan.


Bulan menarik Bintang turun dari mobil. Memapah lelaki itu ke tempat dia duduk tadi lalu mengisi bangku kemudi.


"Sorry," lirih Bintang saat mobil telah kembali berjalan.


"Apaan sih, lebay banget." Bulan mendengus sambil mempercepat laju mobilnya persis seperti orang yang tengah dikejar rentenir.


"Gak sabar banget mau nemuin Tuhan kayaknya." Sindir Bintang.


"Apa kita langsung terjun ke jurang aja ya?" Tanya Bulan. Pandangannya mengedar ke jalanan yang sepi dengan jurang di kanan kirinya. Tempat yang sangat tepat untuk healing atau bahkan bunuh diri bagi yang ingin menyerah akan hidup.


"Sia-sia kalo kita mati sekarang."


"Oh iya ya."


"Kira-kira berapa hari kita bakal ketahuan ya?" 


"Mungkin... seminggu?" Jawab Bintang ragu.


"Lama amat seminggu!"


"Ya kan gue cuma nebak."


Setelah itu keduanya tak lagi terlibat percakapan. Hanya ada suara halus roda mobil yang berjalan mulus. Hingga sampailah keduanya di sebuah gedung tua dengan rumput panjang di sekitarnya. Terlihat telah lama tak disanggah membuat gedung tersebut terkesan angker. Bulan turun terlebih dahulu, lalu membantu Bintang keluar dari mobil.


"Masih sakit ya?" Yang hanya dijawab dengan anggukan.


Bintang menggenggam erat tangan Bulan sambil memaksa tegap tubuhnya, mencoba untuk mengesampingkan rasa nyeri. Menatap gedung tua itu lamat. "Jangan sampe lepas ya." Bulan mengangguk patuh.


Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam. Netra keduanya langsung mendapati laki-laki bertopeng yang sepertinya telah menunggu kedatangan Bintang dan Bulan.


"Selamat datang." Suara berat itu menggema memenuhi ruangan. "Kalian siap?"


"Ingat perjanjian awal." Peringat Bintang. Membuat laki-laki bertopeng itu tertawa.


"Kalian tenang saja."


Dan tanpa basa-basi lagi, tanpa dapat dilihat dengan mata terbuka, laki-laki itu bergerak secepat angin mengeluarkan sesuatu yang lantas membuat Bintang terhuyung ke belakang. Menggigit bibir bawahnya kuat menahan erangan. Tembakan dari senapan yang bahkan tidak pernah Bintang lihat selama dia hidup. Saat peluru tersebut menusuk perut tepat di tempat operasinya kemarin, Bintang tahu bahwa itu bukanlah senapan biasa. Sakitnya amat sangat terasa, tidak seperti yang pernah dia alami sebelum-sebelumnya. Bintang semakin mengeratkan genggamannya pada Bulan saat laki-laki tersebut mulai mendekat. Dan lagi, tanpa bisa mengelak, Bintang tertendang ke belakang sampai punggungnya menabrak dinding. Genggaman keduanya lepas seketika.


"Ohokk," Bintang terbatuk hebat sampai darah pun ikut keluar melalui mulutnya. Mendongak untuk melihat Bulan yang telah ada di tangan si penjahat.

__ADS_1


Bulan sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam menatap khawatir Bintang yang terlihat sangat kesakitan. Dia tak bisa berbuat apa pun.


Perkiraannya Bulan yang akan menjadi target selanjutnya setelah Bintang, namun ternyata salah. Laki-laki bertopeng itu menghilang tiba-tiba dan muncul di hadapan Bintang. Kali ini dia menusuk Bintang di tempat yang sama menggunakan pisau yang tak lagi tajam, terlihat dari mata pisaunya yang patah. Bayangkan saja jika senjata tumpul itu menusuk tubuhmu. 


Bulan masih diam di tempat. Air matanya mengalir deras sedari awal melihat Bintang terpaku untuk beberapa saat sampai darah kembali dimuntahkan.


Bintang terbatuk semakin parah. Tangan kanan cowok itu meraba perut kirinya yang mungkin telah terkoyak lebar. Dioperasi, ditembak, ditendang, dan sekarang ditusuk. Sungguh malang nasib perutnya.


Bulan berlari menghampiri Bintang, namun laki-laki bertopeng itu malah menusuknya menggunakan pisau dapur di bagian dada, membuatnya refleks terjatuh tepat di hadapan Bintang. Selanjutnya laki-laki bertopeng itu kembali menusuknya di bagian punggung membuat Bulan jatuh tersungkur sepenuhnya ke lantai semen.


"Terima kasih atas keseruannya, dan selamat menikmati." Ujarnya lalu menghilang bagaikan angin menyisakan Bintang dan Bulan yang telah berada di ujung maut.


Bintang susah payah mengambil oksigen yang terasa sangat menyakitkan untuk dia hirup sambil berusaha mempertahankan kesadarannya. Mencoba untuk tetap duduk, namun tak bisa. Tubuhnya roboh ke lantai karena tidak mampu lagi menopang beban. Tangan gemetarnya berusaha menyentuh Bulan yang tergeletak membelakanginya. Lalu dengan tenaga yang tersisa menarik Bulan sampai mereka saling berhadapan. Keduanya saling memeluk di tengah kubangan darah.


"Anak kuat," lirih Bintang hampir tak terdengar.


"Gue sayang lo. Nikah sekarang yuk." Perkataan Bintang itu sontak membuat Bulan tertawa sendu tanpa suara.


"Love you too. Ayo nikah." Bintang mengangguk lalu memejamkan mata. Dalam hatinya mulai membatinkan kalimat sakral yang biasanya diucapkan untuk mempersatukan kedua pihak yang saling menyayangi untuk sampai ke jenjang yang resmi. Tidak apa-apa memang, tapi tidak apa-apa.


Bulan diam menunggu sampai Bintang kembali membuka matanya.


"Udah, kita udah nikah." lirih Bintang tersenyum lembut. Mengabaikan tubuhnya yang terasa amat menyakitkan. Cowok itu menggeser tangan kirinya, menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala Bulan. Keduanya diam saling menatap untuk waktu yang lama. Sampai Bintang memajukan wajahnya, mengecup kening Bulan cukup lama.


"Aku sayang kamu." Kalimat yang tidak pernah Bintang ucapkan seumur hidupnya, kini diucapkan di tengah sekaratnya. Walaupun dengan suara putus-putus Bulan tentu dapat mendengar jelas kalimat Bintang.


"Terima kasih untuk semuanya."


Bulan menangkup wajah Bintang. "Aku sayang kamu juga. Terima kasih untuk semua yang kamu lakukan." 


Setelahnya dua remaja itu tertawa tanpa suara. Jarang sekali keduanya berkata lembut satu sama lain ditambah dengan panggilan aku kamu.


"Bin,"


"Hm?"


"Kayaknya aku udah gak kuat." 


Tatapan Bintang langsung berubah sendu. Menunduk untuk melihat wajah Bulan lebih jelas, kemudian kembali mengecup kening gadis itu. "Tidur sayang, tidur yang nyenyak." Gumamnya.


"Terima kasih, telah bertahan sampai saat ini." Bintang tersenyum nanar.


Bulan membalas senyuman Bintang tak kalah lebar. Gadis itu terlihat sangat manis, mampu membuat Bintang terpana untuk beberapa saat.


"Love you Bintang." Perlahan kelopak indah itu tertutup rapat bersamaan dengan terangkatnya beban yang selama ini gadis itu pikul. Keinginan untuk bunuh diri memang tidak terpenuhi, namun Tuhan memiliki cara lain untuk mengabulkan keinginan Bulan walau harus dengan cara yang tragis.


Bintang semakin memeluk erat raga Bulan. Air matanya mengalir tanpa dia tahan. Kehilangan orang yang sangat disayangi terasa sangat menyakitkan walaupun dia tahu bahwa sebentar lagi gilirannya akan tiba. Rasa sesak itu tetap ada menemani rasa sakit.


"Tuhan, sakit sekali." Rintihnya.


Saat Bulan masih membuka mata Bintang tidak sama sekali mengeluh. Namun karena Bulan telah tertidur, Bintang tanpa ragu menyuarakan sakitnya.


"Cepat ambil aku Tuhan," mohonnya terdengar sangat menyakitkan. Bintang menangis pilu saking kuatnya rasa sakit itu. Baru kali ini dia merasakan rasa sakit semenyakitkan ini.


Bintang mendongak untuk kembali memuntahkan cairan darah yang sedari tadi memaksa keluar. Dia sungguh tidak kuat lagi.


Pikirannya melayang ke saat di mana dia mendengar alasan jantung Arghi mengalami kerusakan. Itu karena dirinya, dirinya yang sangat bodoh ini. Jika saja dia tidak berbuat bodoh, Arghi tidak harus tertabrak dan masih sehat sampai sekarang tanpa merasakan sakit. Mungkin ini alasannya. Tuhan ingin menghukumnya dengan cara ini. Nyawanya lama tercabut agar dia merasakan sakit terlebih dahulu.


"Arghi, maaf." Ujarnya tanpa suara karena tak lagi mampu mengeluarkan kata, bahkan erangan sekalipun tak dapat dia utarakan. "Saya, Davendra Bintang Angkasa, menyatakan gugur menjaga Rembulan Cahaya Purnama."


Setelahnya Bintang memasang senyum. Mata bulan sabit itu tertutup perlahan, ikut menyusul Bulan ke pangkuan Tuhan. Meninggalkan dunia yang kejam untuk setelahnya kembali ke rumah yang sebenarnya.


Dua insan yang saling mencintai tanpa penuturan. Dua insan yang saling melengkapi dan melindungi. Bertahan dengan berbagai macam cobaan bersama. Saling merangkul saat salah satu dari mereka berada di tumpuan terbawah. 


Dua insan yang baru saja menyatakan perasaan saat keduanya berada di ambang kematian, namun Tuhan menyatukan mereka untuk bersama selamanya menuju ke kehidupan abadi.

__ADS_1


__ADS_2