
Setelah tragedi penculikan kemarin Arghi dan Bintang semakin protektif terhadap Bulan. Bulan sendiri sampai merasa jengah dibuatnya. Dan setelah kejadian tersebut, ketiganya mulai sibuk belajar karena sebentar lagi ujian tengah semester dimulai. Hanya tinggal menghitung hari saja.
Seperti sekarang, ketiganya tengah duduk di gazebo rumah Bintang. Suasana di antara mereka hening karena sibuk dengan buku masing-masing. Tidak ada acara tanya jawab karena ketiganya sudah terlahir dengan IQ di atas rata-rata. Jadi mereka hanya mengulang materi apa saja yang telah dipelajari.
Selesai dengan buku, mereka beralih memakan camilan yang sedari tadi tidak tersentuh.
Di tengah mengunyah jelly Bintang teringat sesuatu.
"Lan, lo waktu itu pernah bilang kan kalo lo punya kakak baru?"
"Emm, kenapa?"
"Mana? Gak pernah liat gue."
"Lagi di Aussie."
Bintang kini beralih ke Arghi. "Emang bener?"
"Lo ngeraguin gue?" Sewot Bulan.
"Yaa... kali aja lo ngehalu kan." Balasnya santai.
Bulan mendengus lalu kembali ke biskuitnya yang berbentuk beruang.
"Bener kok," ujar Arghi.
"Ganteng gak? Gantengan gue apa dia?"
Arghi tersenyum miring.
"Behh, ganteng banget suer!" Arghi berseru heboh.
"Iya, ganteng banget kayak anime! Lo mah kalah." Bulan pun ikut berseru heboh.
Bintang berdecih. "No pict sama dengan hoax."
Arghi dan Bulan tertawa puas melihat wajah masam Bintang. Jarang-jarang mereka bisa menggoda cowok itu.
"Anak-anak, ayo makan dulu." Panggil seorang wanita paruh baya yang berperan sebagai kepala asisten di rumah Bintang. Arghi dan Bintang serempak langsung menoleh ke arah Bulan.
Bulan nyengir kaku. "Skip dulu ya, kenyang."
Dengan sigap Arghi menggenggam tangan kiri Bulan. Bintang pun mengikuti Arghi, memegang tangan kanan Bulan. Menarik perempuan kurus itu masuk ke dalam rumah.
"Gak mauuuu!"
...~~~...
Hari demi hari telah terlewati. Para pelajar pun telah bebas dari ujian yang menegangkan.
Saatnya rebahan.
"Dek,"
Bulan menoleh ke arah Arghi. "Apa?"
"Kangen kak Dirga gak?"
Bulan mengangguk lesu. "Kangen banget. Adek tiap hari nelpon kak Dirga, tapi gak aktif terus. Masa dia gak pake ponselnya selama sebulan lebih."
Arghi mengubah posisinya bersandar ke headboard ranjangnya.
__ADS_1
"Susul yuk ke Aussie." Usulan Arghi mendapat anggukan semangat dari Bulan.
"Boleh juga. Kapan kita ke sana?"
"Nanti habis pembagian rap-" Kalimat Arghi terhenti oleh dering ponselnya.
"Dek, ini kak Dirga nelpon!" Seru Arghi membuat posisi Bulan yang awalnya tengkurap langsung duduk di samping Arghi.
Arghi pun mengangkat panggilan video tersebut. Senyum keduanya pudar saat wajah Dirga sudah tampak di layar.
"Kok diem? Gak kangen sama kakak?" Suara Dirga mengalun lembut, tapi terdengar lemah.
"Kakak kenapa?"
Dirga tersenyum lembut. "Gimana kalian berdua di sana? Baik-baik aja kan?"
"Kak, lo kenapa?" Arghi mengulang pertanyaan Bulan.
"Maaf ya baru bisa ngabarin sekarang. Ada sedikit musibah di sini."
"Musibah?" Beo Arghi.
"Kakak tidur, atau bisa dibilang kritis."
"Selama itu?" Suara Bulan bergetar. Menatap wajah Dirga di layar ponsel dengan pandangan tak percaya.
Di seberang sana Dirga mengangguk pelan. "Kakak baru bangun kemarin."
Merasa tak ada sahutan, Dirga tersenyum kecil di seberang sana. "Jangan khawatir, yang penting kan kakak masih bisa bangun sekarang. Kakak janji, kalo udah dibolehin keluar dari sini kakak langsung pulang."
"Sorry, it's time for you to rest." Ujar suara asing di seberang sana. Dirga mengangguk, lalu kembali menatap layar.
Bulan mengangguk. "Istirahat yang banyak kak, cepet sembuh."
"Iya, kalian jangan lupa makan. Ar, jagain adek. Jangan kangen lo." Arghi tersenyum kecil mendengar perkataan Dirga. Dan setelah itu sambungan pun terputus.
Keduanya diam membisu. Masih agak tidak percaya bahwa Dirga mengalami koma selama 40 hari, dan mereka tidak mengetahui apa pun.
Bulan mengerti. Ternyata ini hasil dari perasaan tidak enaknya waktu itu. "Gue emang bener pembawa sial ya?" Bulan mendesah berat.
Arghi merangkul bahu Bulan. "Kak Dirga kuat, pasti cepet kok pulihnya." Bulan mengangguk lesu.
...~~~...
Arghi dan Bulan kini berada di sebuah cafe. Selesai dengan pembagian rapot tadi mereka langsung kemari. Bintang tidak ikut karena ada jadwal cuci darah.
Sebenarnya Arghi dan Bulan ingin menemani Bintang, tapi cowok itu menolak keras dengan ancaman akan membatalkan jadwal cuci darahnya hingga mereka pun mau tak mau menurut.
"Kakak perhatiin dari tadi adek diem terus. Kenapa hm? Cerita sama kakak."
Bulan menatap Arghi tak semangat. Padahal di hadapannya telah tersedia es krim kesukaannya. Entahlah, hatinya terasa tidak tenang.
"Gak ada, cuma agak badmood."
"Mau beli es krim lagi?" Tanya Arghi mencoba mengembalikan mood sang adik walaupun dia tahu es krim Bulan baru tersentuh sedikit.
Bulan menggeleng.
"Mau pulang?"
Bulan mengangguk.
__ADS_1
Arghi pun bangkit, memegang pergelangan tangan Bulan lalu pergi dari cafe. Sesampainya di rumah keduanya cukup terkejut akan kehadiran Dimas di teras rumah.
"Loh kak Dimas? Udah lama nunggu di sini?" Tanya Arghi sambil membuka pintu.
"Gak terlalu," jawabnya sambil tersenyum kecil.
Ketiganya pun duduk di ruang tamu. Bulan bangkit dari duduknya, bermaksud untuk membuatkan minum.
"Bulan duduk di sini aja," ujar Dimas. "Kakak mau bicarain sesuatu." Lanjutnya.
Bulan langsung kembali duduk.
Dimas menghembuskan nafas pelan. Menatap kedua kakak beradik di depannya lamat. "Maaf, kakak ke sini mau ngasih kalian kabar buruk."
"Tuan Cahyo dan nyonya Mentari telah berpulang." Ruang tamu hening beberapa saat.
Bulan tertawa hambar. "Maksud kakak mereka sebentar lagi mau pulang?" Bulan mencoba berpikir positif.
Dimas menggeleng.
"Jet pribadi mereka meledak di tengah udara dan jatuh ke laut. Polisi telah melakukan pencarian dan, semua yang naik jet itu dinyatakan meninggal dunia."
Dimas menatap iba Arghi dan Bulan yang masih mematung. Dirinya paham bagaimana perasaan dua kakak beradik itu.
Ponsel Dimas berdering memecah sunyi. Menatap layar ponsel, lalu berdiri tanpa mengangkatnya. Dia mendekati Arghi dan Bulan, mengelus bahu keduanya pelan.
"Maaf kakak harus pergi sekarang. Pihak perusahaan sebisa mungkin akan menyusut penyebab jet tersebut meledak. Kakak akan mengabari kalian jika sudah ada titik terangnya."
Arghi sebagai yang tertua mengangguk pelan. Menatap kepergian Dimas hingga tak terlihat lagi.
"Ayah sama bunda bisa selamat kan kak?" Arghi membawa Bulan ke pelukannya. Air mata yang sedari tadi dia tahan pun mengalir perlahan.
Bulan merasakan air mata Arghi yang terjatuh ke sela-sela rambutnya. Tangannya terangkat untuk mengelus punggung Arghi.
"Kakak jangan nangis. Ayah sama bunda kan masih bisa selamat." Air mata Arghi bertambah deras.
"Ayah sama bunda udah gak ada dek, mereka udah pergi." Lirih Arghi.
Bulan menggeleng kuat, melepas pelukan Arghi. Tangan kurusnya menggenggam tangan besar Arghi sambil menatap lamat wajah kakaknya.
"Ayah sama bunda masih ada kak." Arghi dapat melihat raut kekosongan Bulan. Seperti percaya bahwa Cakra dan Mentari telah tiada, namun tetap mencoba menyangkal kenyataan itu.
"Ayah sama bunda masih ada." Bulan menunduk saat air matanya keluar. Sakit sekali rasanya mengatakan itu di saat dia tahu kenyataan yang sebenarnya berbanding terbalik dengan apa yang dia katakan.
Arghi kembali memeluk Bulan. Keduanya menangis dalam diam. Entah untuk yang keberapa kalinya perasaan tidak enak Bulan membuahkan hasil yang tidak baik.
"Rupanya ayah sama bunda bener, adek pembawa sial." Gumamnya lirih yang masih dapat didengar oleh Arghi.
"Nggak hei, adek bukan pembawa sial."
"Adek pembawa sial. Kakak, Bintang, kak Dirga, ayah bunda, kakek nenek, semuanya kena dampak karena kehadiran adek."
Arghi menggeleng kuat. "Nggak dek. Jangan ngomong gitu ya."
"Adek pembawa sial."
"Arghi, adek," suara yang sangat familiar itu menghentikan tangis. Keduanya menegakkan kepala. Sosok pucat Dirga menyapa netra keduanya.
Dengan langkah yang sangat pelan Dirga mendekati adik-adiknya, memeluk keduanya erat. Air mata yang sedari tadi dia tahan pun keluar setelah berhasil mendekap kedua orang yang baru-baru ini mengisi harinya.
"Maaf," bisiknya.
__ADS_1