WHY

WHY
Winter


__ADS_3

Bulan membuka pintu balkon kamar Arghi. Matanya berbinar melihat salju perlahan-lahan turun menyelimuti seluruh benda-benda di sekitarnya. Malam ini salju turun dengan indahnya membuat suhu naik drastis.


"Dek, di luar dingin." Arghi menarik Bulan lalu menutup pintu balkon. Mendudukkan Bulan ke kasur, lantas memakaikan hoodie miliknya ke tubuh sang adik yang hanya berbalut kaos hitam berlengan pendek. Suhu kamarnya terasa menusuk tulang walau penghangat ruangan telah bekerja maksimal.


Jam menunjukkan pukul tujuh malam yang artinya kegabutan akan dimulai. Ketiga saudara itu hanya berbaring diam di ranjang Arghi. Tidak ada satu pun yang memulai percakapan. Dirga mendekati Bulan lalu memainkan rambut sang adik.


"Bintang tumben gak ke sini." Pernyataan merangkap pertanyaan Dirga yang pastinya tertuju untuk Arghi.


Baru saja Arghi akan membuka suara, pintu tiba-tiba terbuka oleh seseorang yang baru saja mereka bicarakan.


Bintang langsung bergabung di kasur Arghi lalu membuka laptopnya. Ketiga kakak beradik itu memperhatikan Bintang yang nampak tergesa-gesa menekan tiap keyboard laptop. Sampai akhirnya Bintang mengarahkan layar laptop ke tengah-tengah guna memperlihatkan sesuatu.


"Ini... beneran?"


Bintang mengangguk mantap.


"Dari mana lo dapetin rekaman ini?" Dirga membuka suara.


"Dari nomor +55."


"Brazil?" Sahut Arghi.


Bunyi ponsel Bintang menandakan sebuah pesan masuk yang berasal dari nomor dengan kode telepon Brazil. Tanpa pikir panjang Bintang membuka pesan tersebut. Hanya ada satu kalimat yang tertera, dor.


DOR


Keempatnya terperanjat kaget saat suara tembakan memenuhi indra pendengar. Arghi langsung bangkit dan menyibak tirai yang menutupi pintu balkon yang terbuat dari kaca itu. Beruntungnya kaca di rumah ini semuanya anti peluru. Arghi menangkap sosok yang berada di atap gedung yang terletak lumayan jauh dari rumahnya. Sosok itu melambai lalu menghilang dari pandangan.


...~~~...


Samsak kini menjadi sasaran kemarahan seorang remaja perempuan. Saking kuatnya pukulan Bulan sampai merobek kulit samsak. Bintang hanya mengamati gadis itu dari belakang. Membiarkan Bulan mengeluarkan unek-uneknya. Sejujurnya dia terkejut dengan sisi Bulan yang ini. Dia tidak menyangka Bulan memiliki kemampuan bela diri yang cakap. 


Setelah memukul samsak selama 30 menit tanpa henti, Bulan berhenti dengan nafas memburu. Tangannya mengepal kuat. Masih melekat di ingatannya, rekaman yang tadi pagi ditunjukkan oleh Bintang. Di mana jet pribadi orang tuanya tiba-tiba meledak di gelungan awan, lalu terjatuh bebas ke lautan. Dan yang membuatnya heran, dari mana si pengirim mendapatkan rekaman tersebut, sedangkan jet itu tengah mengudara. Tidak mungkin ada cctv di langit kan?


Bintang mendekat, memberikan sebotol air yang langsung diterima oleh Bulan. Dalam sekejap air itu ditenggak habis olehnya.


"Kamar mandi di mana?" Tanya Bulan.

__ADS_1


Bintang menunjuk sebuah pintu di pojok ruangan. "Jangan lama-lama," peringat Bintang yang paham dengan kebiasaan Bulan saat sedang banyak pikiran. Yaitu keramas selama yang dia inginkan guna mendinginkan kepala. Bulan hanya mengangguk lalu segera masuk ke kamar mandi. Bintang memainkan ponselnya sembari menunggu Bulan. 


"BULAN UDAHAN MANDINYA!" Teriak Bintang setelah 15 menit berlalu.


"Iya iya," jawab Bulan dengan nada terpaksa. Mencomot asal baju berlengan pendek dengan celana training di lemari yang diduga milik Arghi atau Bintang lalu memakainya cepat.


Setelah selesai Bulan keluar menghampiri Bintang yang tengah duduk bersandar ke dinding.


Bintang berdecak kesal. "Udah tau sekarang lagi musim dingin. Kenapa pake lengan pendek? Baju di sana banyak Bulan." Bintang bangkit mengambil jaketnya yang tadi dia lempar dengan asal, lalu memasangkannya ke tubuh Bulan.


Bulan mencibir. "Ngomelin orang, situ sendiri pake baju pendek."


Memilih acuh lalu kembali duduk. Hening beberapa saat sampai Bintang bangkit berdiri. Masuk ke kamar mandi dan keluar dengan menenteng jaket.


Bintang menarik Bulan sampai gadis itu berdiri. Langkah keduanya beriringan keluar dari markas.


"Mau ke mana?" Tanya Bulan saat mobil telah meluncur mulus di jalanan yang lenggang.


"Berak."


Bintang memutar bola matanya. "Gue tau sekarang lagi libur sekolah, tapi jangan sampe otak lo juga ikutan libur."


Bulan mencibir. "Padahal gue cuma nanya. Pms lo?"


"Iya, deres banget." Bulan melotot lalu meninju keras lengan Bintang membuat si empunya lengan meringis kesakitan.


"Lo sejak kapan bisa bela diri?" Tanya Bintang setelah menghentikan ringisannya.


"Sejak gue tahu kalo keluarga gue jauh dari kata aman." Bintang mengangguk paham. Dalam hati menyetujui perkataan Bulan. Kehidupan orang pebisnis memang serumit itu. Keiriian membuat orang-orang seolah buta dengan apa yang telah dia dapatkan dan malah menginginkan lebih. Rela melakukan apa saja demi memuaskan kemauannya. Tak peduli jika harus menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun.


"Selain bela diri ada lagi?"


Bulan diam sejenak. "Tembak, gue suka nembak orang."


"Coba sekarang lo tembak gue."


Bulan menoleh menatap Bintang yang tengah tersenyum tipis. "Kalo gue tembak, lo mati. Kalo lo mati siapa yang bisa gue gangguin."

__ADS_1


"Gangguin arwah gue." Bulan mendelik tidak suka.


"Markas tadi sejak kapan dibangun?" Bulan bertanya mengalihkan pembicaraan.


"Sejak lo masih di janin."


Bintang menahan tangan Bulan yang hendak kembali meninju lengannya. "Bar-bar amat jadi cewek."


"Gue nanya serius kampret." Bintang tertawa melihat raut kesal Bulan.


"Sejak delapan tahun yang lalu."


Selesai makan siang keduanya berjalan mengitari taman kota. Sebenarnya Bintang tidak setuju karena suhu sekarang berada di atas rata-rata. Tapi Bulan terus saja memaksa membuatnya mau tak mau mengiyakan.


Bulan yang tengah memainkan salju tiba-tiba saja terdiam. Memandang Bintang yang duduk bersandar di kursi taman. Tatapan Bulan berubah sendu. Entah kenapa, moodnya tiba-tiba saja berubah drastis. Gadis itu bangkit dan duduk di samping Bintang yang tengah memandangnya aneh.


"Kenapa?"


Bulan menggeleng sambil menghela nafas gusar membuat kening Bintang mengernyit dalam.


"Kenapa hm?" Suara lembut Bintang membuat Bulan semakin gusar.


Tatapannya kini beralih ke depan. "Gue cuma takut."


"Nyawa kita terancam di mana pun kita berada. Sehati-hatinya kita melangkah, hal yang gak diinginkan tetap aja datang. Seolah penjahat buronan kelas kakap."


"Gue gak takut sama nyawa gue. Yang gue takutin itu kalian. Takut terjadi hal yang bener-bener gue hindari." Bulan semakin menunduk dalam.


Bintang tersenyum tipis. Menggenggam jari-jemari Bulan. "Seperti takdir, itu semua sudah diatur oleh Tuhan. Kita sebagai manusia cuma bisa terima dan menjalankan. Biarkan semuanya mengalir seperti air."


"Takdir... apa harus sekejam ini?"


"Setelah ayah dan bunda, gue gak mau kehilangan lagi."


Bulan tertawa getir. "Gue egois ya. Gak bersyukur banget."


Bintang merengkuh Bulan, menepuk pelan punggung gadis itu. "Gue bakal selalu ada di samping lo. Bahkan di saat nyawa gue di ujung tanduk pun, gue akan selalu ada di samping lo, pegang janji gue."

__ADS_1


__ADS_2