
Helaan nafas kasar memenuhi ruang kerja Bintang. Raut wajah kesal terpampang jelas di wajah seorang gadis yang tengah duduk di sebuah bangku putar. Pasalnya Bintang meninggalkannya selama hampir dua jam di ruang kerja. Dan lagi pintunya pun dikunci membuat Bulan tidak bisa ke mana-mana. Katanya takut ada orang masuk dan berbuat sesuatu. Padahal sistem keamanan kantor lelaki itu telah melampaui batas saking ketatnya.
Bulan menghempaskan tubuhnya ke sofa, menatap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota berselimutkan salju. Pagi ini suhu sangat menusuk tulang. Membuat Bulan semakin merapatkan mantelnya. Bangkit menuju ke ruang istirahat Bintang, mengambil susu pisang dari kulkas, dan kembali rebahan di sofa sambil minum susu.
Tepat pukul sembilan pintu terbuka. Bulan bangkit sambil memasang wajah masam. Namun segera berganti dengan raut terkejut melihat seorang lelaki berdiri tegap di belakang Bintang.
"Bulan?!"
Bintang memasang raut terkejut. Menatap Bulan dan seseorang yang dia bawa secara bergantian.
"Kalian saling kenal?" Reyhan, lelaki yang berdiri di samping Bintang itu mengangguk lalu melempar senyum kepada Bulan.
"Wah, membagongkan."
Bintang mendekati Bulan lalu tersenyum manis. "Maaf ya nunggu lama," seketika itu juga raut Bulan berubah masam kembali.
"Nanti gue beliin es krim," dijawab dangan anggukan semangat oleh Bulan. Bintang mengacak rambut sang gadis membuat raut masam kembali hadir. Namun Bulan tidak mengatakan apapun. Takut image kalemnya di depan Reyhan hilang.
Bintang mengambil map di meja kerja. "Thank udah dateng."
Reyhan menerima map tersebut dan mengangguk. "Of course."
Setelah itu Reyhan pamit undur diri, menyisakan Bintang dan Bulan yang masih diam di tempat.
"Kalian kenapa bisa kenal?"
"Kak Rey yang nolongin gue pas hampir loncat di jembatan."
"LO MAU BUNDIR?!" Seru Bintang syok.
"Nggak njir, itu di luar kesadaran gue. Lo tau sendiri suara itu suka muncul tiba-tiba. Untungnya kak Rey dateng nahan gue."
"Kak Rey juga temen yang gue maksud kemarin."
Bintang syok untuk yang kedua kali. "Maksud lo Reyhan kanker?"
Bulan mengangguk. "Jangan kasih tau siapa-siapa ya. Kak Rey kayaknya bener-bener nutupin penyakit dia. Gue kalo gak hapal tiap lantai rumah sakit juga gak akan tau kayaknya."
"Ya udah, habis ini mau ngapain?" Tanya Bulan mengalihkan pembicaraan. Atmosfir ruangan terasa pengap jika membicarakan soal penyakit berat.
"Beli es krim mau?"
Netra Bulan langsung berbinar. "Ayo!"
...~~~...
Bunyi kretekan tulang menjadi penutup kejadian. Arghi berjalan masuk ke kamar mandi. Membasuh kedua tangannya yang dipenuhi cairan berbau anyir. Kepalanya terangkat, menatap datar pada cermin yang memperlihatkan seseorang berdiri di ambang pintu yang memang tidak dia tutup tadi.
"Bagaimana? Kau menyukai permainanku? Oh, atau kurang menegangkan?"
Arghi membisu. Dirinya sibuk mengamati penampilan pria bertopeng itu. Baru kali ini Arghi melihat wujud si peneror tembak walau wajahnya tak terlihat. Jubah hitam yang menutup seluruh tubuh hingga kaki, topeng yang menutupi wajah, dan mata kanan yang sepenuhnya berwarna hitam. Sudah sangat cocok menjadi malaikat pencabut nyawa.
"Persiapkan dirimu untuk tragedi selanjutnya," dan pria itu menghilang. Persis seperti yang Arghi lihat di rekaman cctv beberapa waktu lalu. Sulit dipercaya, namun ini sangat nyata.
Arghi menghela nafas gusar. Otaknya terlampau mumet memikirkan semua kejadian. Meraih ponsel di saku celana, Arghi menghubungi seseorang.
"Di sana aman kan? Kalian sehat kan? Gak ada yang luka kan?"
"Ngerepet aja lo kayak babi. Iya di sini aman."
"Oke, tetep hati-hati. Kalo bisa jangan keluar rumah."
"Kenapa Ar?"
__ADS_1
Arghi mengusap wajahnya kasar. "Keknya mulai sekarang gue percaya sama sihir."
"Hah?"
Helaan gusar kembali terdengar. "Gue liat secara langsung orang itu hilang dengan sendirinya."
Keduanya membisu. Bintang di seberang pun tidak tahu harus merespon bagaimana.
"Karena itu hati-hati. Dia bisa ada di mana pun."
"Lo tenang aja. Gue gak akan biarin Bulan sendiri. Tapi btw, dia bisa muncul tiba-tiba di kamar mandi gak ya. Gue kan gak bisa nemenin Bulan kalo dia di sana."
"Bisa-bisanya lo kepikiran itu. Gue gak tahu, tapi jangan sampe lah njir." Arghi merinding. Membayangkan saat dirinya tengah telanjang bulat, dan pria bertopeng tiba-tiba muncul.
"Gue tutup ya, mau nyusul kak Dirga."
"Hati-hati."
Arghi gesit berlari meninggalkan tubuh-tubuh yang terkulai lemah dengan cairan merah di mana-mana. Membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menghampiri Dirga.
"Beres?" Dirga menoleh ke belakang dan mengangguk pelan.
"Pulang sekarang?" Yang dijawab dengan anggukan kecil dari Arghi. Keduanya pun berjalan santai masuk ke dalam mobil masing-masing. Membelah jalan dengan kecepatan penuh.
Sampai di sebuah gedung keduanya langsung naik ke atap dan masuk ke jet utama keluarga yang memiliki kecepatan tiga kali lipat lebih cepat dari jet biasa.
"Kak," Dirga menoleh ke samping. Mengernyit dalam saat melihat wajah Arghi yang teramat pucat.
"Dada lo sakit?" Dirga mulai khawatir saat Arghi mulai meremat dadanya.
Arghi mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya menahan sakit. "Perasaan gue gak enak."
...~~~...
Bulan sibuk dengan dunianya membuat berbagai macam bentuk benda dari butiran salju di halaman depan. Sedangkan Bintang mengawasi dari teras, sibuk mengamati awan sore yang sangat cerah secerah masa depannya.
"Halo," suara yang teramat berat itu menyapa.
Bintang menyembunyikan Bulan di balik punggungnya. Wajahnya memucat saat datang dua helikopter lagi mengambang berdampingan dengan helikopter yang pertama.
"Kemarikan gadis itu."
Bintang semakin memegang Bulan erat. "Maksud lo apa dateng-dateng mau ngambil anak orang?"
Suara tawa yang teramat keras berhasil membuat Bulan merinding.
Pria bertopeng itu berjalan pelan mendekati Bulan dan Bintang. Dan dalam sekejap mata pria tersebut menghilang dan muncul tepat di belakang Bulan, menarik Bulan hingga terlepas dari genggaman Bintang.
Setelahnya Bulan dan pria bertopeng menghilang dan muncul di ambang pintu helikopter. Pria itu melambaikan tangannya, dan ketiga kapal terbang yang tadi berjejer mulai bergerak naik ke atas dan pergi secepat kilat.
Bintang merogoh ponselnya dan mengetik sesuatu. Setelah itu berganti ke kontak mencari nomor Arghi.
"Arghi, lo masih di udara?"
"Iya," Bintang mengernyit setelah suara Arghi menjawab. Lirih lemas tak bertenaga.
"Gue harap sekarang lo baik-baik aja. Tolong dengerin penjelasan gue, kondisi genting."
"Kenapa?"
"Maaf, Bulan dibawa pria bertopeng. Mereka nyulik Bulan pake helikopter dan sekarang gue lagi nunggu jet dateng buat ngejer Bulan."
"Mereka terbang ke arah mana?" Nada bicara Arghi terdengar cemas.
__ADS_1
"Utara dari arah rumah gue. Udah dulu, jetnya dah dateng."
Bintang mematikan panggilan. Memegang erat tali yang telah dijatuhkan sampai tubuhnya mendarat di kapal terbang tersebut. Jet putih itu langsung melesat cepat tepat setelah pintu tertutup.
...~~~...
Arghi bangkit dan berlari menuju kokpit. "Tinggikan kecepatan sampai max!"
Sang supir langsung melaksanakan perintah atasannya.
"Kenapa Ar?" Tanya Dirga yang baru saja datang.
"Helikopter itu, KEJAR MEREKA!" Seru Arghi tanpa menjawab pertanyaan Dirga.
Dirga menoleh ke layar, menatap tiga helikopter yang terbang beriringan dengan jarak yang lumayan jauh di depan mereka.
"Hoi, kenapa?"
"Adek diculik manusia bertopeng itu kak!" Arghi menjawab dengan murka. Tak peduli dengan rasa nyeri yang semakin menjadi.
"Hei, tenangin diri lo." Dirga meremat kedua bahu Arghi. "Kita akan selamatin adek apa pun yang terjadi. Adek gak akan kenapa-kenapa, tanamkan itu di hati lo."
"Tapi mereka bukan manusia biasa kak," suara Arghi melemah. Rautnya berubah frustasi, dan Dirga pun bungkam. Dalam hati Dirga juga sebenarnya takut. Sebanyak apa pun orang yang dia kerahkan itu semua akan sia-sia. Lawan mereka bukan lagi manusia biasa yang mengincar perusahaan. Tapi seorang yang memiliki kekuatan yang dia pikir hanya ada di dunia dongeng.
Bunyi ponsel memecah keheningan.
"Gue di samping." Arghi menatap layar. Matanya menangkap sebuah jet putih dan lima jet hitam yang dia yakini adalah Bintang dan para bawahannya.
"Lo punya rencana?"
Di seberang sana Bintang menghela nafas gusar. "Dia bukan manusia biasa Ar, gue gak tau harus ngapain." Lirih suara Bintang semakin menyusutkan harapan Arghi.
"Mereka melambat, gue tutup." Arghi menatap layar, dan benar saja. Ketiga helikopter itu mulai terbang merendah dan mendarat di atap sebuah bangunan lama.
"Ed dengerin gue. Panggil lima belas helikopter dengan orang-orang terkuat. Tiga helikopter mendarat dan sisanya suruh terbang di sekitar sini untuk keadaan darurat." Setelah mendapat anggukan paham dari Edgard, pilot utama keluarga, Arghi langsung pergi ke kabin mengambil beberapa senjata dan turun menyusul Dirga ke atap. Rombongan Bintang telah masuk lebih dulu ke dalam gedung itu.
Menghampiri Dirga, sang sulung ternyata tengah menghubungi Bintang.
"Oke kami ke sana sekarang."
Dirga menatap Arghi. "Yakin kuat?"
Arghi mengangguk mantap. "Ke mana tujuan kita?"
"Gedung ini punya sebelas lantai, dan adek dibawa ke lantai tiga. Pasukan Bintang akan menahan pasukan lawan sementara kita pergi ke lantai tiga."
Keduanya langsung bergerak cepat turun melewati tangga darurat. Benar-benar tidak ada pasukan lawan yang menghadang. Mungkin mereka tengah diurus oleh Bintang. Tak lama keduanya sampai di lantai tiga. Mengernyit bingung saat tak mendapati siapa pun di sana.
"Itu ada pin-" belum sempat Dirga menyelesaikan kalimatnya pintu itu telah terbuka dari dalam.
Dua kakak beradik itu tersentak kaget saat Bintang terjatuh bersimpuh ke lantai. Dan yang lebih membuat mereka terperanjat adalah wujud sebuah pisau yang tertancap di perut sebelah kiri Bintang.
"Arghh," Bintang mengerang tertahan.
"Kena kalian." Suara berat itu terdengar riang.
"BAWA DIA MASUK!" Arghi dan Dirga kompak menoleh ke belakang dan mendapati Bulan yang dipegang erat oleh dua pria. Di belakangnya banyak sekali manusia bertopeng lainnya. Benar-benar seperti pasukan pencabut nyawa.
"Bintang!" Bulan berseru panik melihat keadaan Bintang yang mengenaskan.
"Perutmu sering sakit kan? Akan kubantu kau mengalihkan rasa sakit itu." Pria bertopeng itu mendekati Bintang lalu mencabut kasar pisaunya. Bintang menggigit bibir bawahnya kuat. Keningnya mengernyit dalam menandakan sakit yang teramat sedang dia rasakan.
"Mau lo apa sih anjing?!" Arghi berteriak kesal membuat pria bertopeng itu tersenyum merendahkan.
__ADS_1
Ruangan hening sejenak.
"Balas dendam masa lalu."