
Hari ini tepat satu minggu Arghi menutup mata. Helaan nafas berat memenuhi ruangan yang hanya diisi oleh seorang gadis dengan sang kakak yang masih nyenyak tertidur.
Dirga seperti biasa berada di perusahaan. Sedangkan Bintang yang telah diperbolehkan pulang tiga hari yang lalu pun juga pergi ke kantornya. Kehadiran lelaki itu sebagai calon penerus perusahaan tentunya sangat dibutuhkan. Banyak sekali klien yang antri ingin bertemu dengan Bintang untuk mendiskusikan kerja sama antar perusahaan.
Di tengah heningnya suasana, ponsel Bulan tiba-tiba berbunyi membuat gadis itu terperanjat kaget. Bulan pun bangkit mengambil ponselnya yang terkapar di sofa.
"Halo?"
"Selamat pagi nona Rembulan, saya salah satu karyawan X-Light ingin mengabarkan bahwa pak Dirga pingsan saat akan melaksanakan meeting barusan. Sekarang beliau telah diantar ke rumah sakit tempat nona berada sekarang."
"Baik, terima kasih infonya." Bulan langsung menutup panggilan dan segera berlari ke luar ruangan Arghi. Namun di tengah perjalanan tubuhnya menabrak keras dada seseorang sampai dirinya hampir terjungkal ke belakang kalau saja orang itu tidak menahannya.
"Astaga Bulan, hati-hati dong." Ternyata itu Abian.
"Aduh maaf kak, aku buru-buru banget soalnya." Bulan membungkuk dengan raut bersalah.
"Iya gapapa. Kamu nyariin Dirga kan? Ada di ruangan kakak. Demem tinggi di- eh... kamu mimisan Lan!" Seru Abian saat darah mengalir dari hidung mancung gadis itu. Bulan dengan kening yang berkerut memegang bawah hidungnya, dan benar saja. Cairan merah menempel di jari telunjuknya.
"Lah, kok berdarah?"
"Kayaknya tabrakan tadi keras banget. Ayo ikut,"
Bulan pun akhirnya menurut mengikuti langkah lebar Abian. Sampai di ruangan Abian, mata Bulan langsung tertuju ke brankar di mana Dirga tengah terbaring di sana. Bulan mendekat. Tangannya terangkat memegang kening sang kakak, dan seketika rasa panas langsung menyengat kulitnya.
"Duduk sini Lan," panggil Abian.
Ah, gadis itu baru teringat jika dirinya sedang mimisan. Bulan pun duduk di samping Abian. Duduk diam saat calon dokter itu mengobatinya.
"Pegang tisu ini. Jaga-jaga kalo darahnya keluar lagi." Bulan mengangguk patuh.
"Makasih kak," Abian tersenyum lalu mengacak surai Bulan gemas.
__ADS_1
"Oh iya, aku boleh minta tolong?" Abian mengangguk mempersilahkan.
"Aku titip kak Dirga sama kak Arghi ya kak. Soalnya sebentar lagi mau kumpul di sekolah."
"Kan lagi libur. Mau ngapain?"
"Biasa, ngomongin tentang lomba."
Abian mengangguk paham. "Perginya sekarang? Mau kakak anterin?"
"Eh, gak usah kak. Aku naik motor aja ke sana."
"Beneran?" Tanya Abian memastikan.
"Iya, aku pergi ya kak."
Setelah berpamitan Bulan langsung berlari menuju parkiran. Menaiki motor sport hitam milik kakaknya yang sangat jarang tersentuh dan melajukan kendaraan itu secepat kilat menuju sekolahnya.
"Suruh dia masuk."
Daffa mengangguk lalu keluar dari ruangan Bintang. Tak butuh waktu lama seseorang yang tadi dibicarakan oleh Daffa masuk. Ingat dengan pak tua yang melempar Bintang dengan pisau? Ya, itu dia.
"Halo cucuku yang tampan. Aduh, kenapa kau semakin kurus? Aku sedih melihatnya."
Dalam hati Bintang sibuk mengumpat. Jijik sekali mendengar kata-kata si tua bangka.
"Mau apa?" Tanya Bintang dingin.
Davendra, kakek Bintang dari sebelah ayah yang kerap disapa Vendra itu tertawa keras. Bintang mendelik mendengar tawa yang sangat menyebalkan itu.
"Kau kaku sekali. Aku hanya ingin bertemu denganmu." Bintang menatap tajam. Tidak percaya jika pria tua itu tidak memiliki niat busuk.
__ADS_1
"Hey, aku serius. Hanya menumpang duduk beberapa jam ke depan sebelum jet menjemputku. Ayolah, kau menyeramkan sekali."
Bintang memutar bola mata jengah. Menempati satu ruangan dengan pria tua itu bukanlah ide yang bagus. Semoga saja dirinya tidak khilaf membunuh kakeknya itu.
...~~~...
Bulan kembali ke rumah sakit pukul sepuluh malam. Setelah tadi pukul sembilan selesai membuat koreografi, Bulan pulang ke rumah terlebih dulu untuk membersihkan tubuhnya.
Tujuan awalnya adalah ruangan Abian. Dirinya ingin melihat kondisi kakak sulungnya terlebih dahulu.
"Kak, kok belum tidur?" Bulan mendekati Dirga yang masih membuka mata. Sang kakak tersenyum lalu bangkit dari baringnya.
"Baru kelar kumpulnya?"
"Udah selesai jam sembilan tadi. Cuma tadi pulang dulu buat mandi."
Dirga mengangguk paham.."Tidur sini mau?" Tanya Dirga sambil menepuk brankar yang masih muat untuk satu orang lagi.
"Nggak, kakak tidur aja. Adek mau ke ruangan kak Arghi."
Dirga lagi-lagi tersenyum sambil mengangguk. "Ya udah, jangan gak tidur ya. Pasti capek habis latihan kan."
"Iya, kakak juga langsung tidur. Cepet sembuh kak." Bulan mencium pipi sang kakak cepat lalu berlari keluar. Melangkah cepat ke ruangan Arghi.
"Kakak, adek abis pulang latihan. Capek banget, badan sakit semua." Seperti biasa Bulan menceritakan apa yang dia alami seharian penuh. Ini sudah menjadi kebiasaannya semenjak Arghi tidur.
Ngomong-ngomong, Arghi sudah pindah ke ruangan biasa. Alat-alat berat pun telah diangkat dari tubuhnya. Tinggal menunggu kapan mata indah itu akan terbuka saja.
"Temen adek tadi, si Lisa, kepeleset karena terlalu pecicilan. Untung aja kakinya gapapa. Ntar kalo membernya kurang kan susah. Gak asik nanti kalo cuma bertiga."
"Cepet bangun ya kak." Bulan menelungkupkan kepalanya di tepi brankar Arghi, bersiap untuk menyelami alam mimpi.
__ADS_1