
"Bi Aniiiiii..." sapa Bintang.
"Den Bintang, udah lama gak ketemu." Bi Ani menghentikan acara menyiram tanamannya dan menghampiri Bintang.
"Bibi makin tua makin cantik aja." Bi Ani tertawa. Sudah biasa dia menghadapi kata-kata buaya Bintang.
"Btw bi, Arghi ada?"
"Den Arghinya ke rumah sakit dua jam yang lalu."
"Kambuh lagi bi?"
Bi Ani mengangguk. "Tadi habis naruh piring tiba-tiba jatuh pingsan."
"Terus, Bulannya di rumah?" Tanya Bintang lagi.
"Nah itu. Non Bulan tadi habis bangun tidur langsung nanyain den Arghi ke mana. Ya bibi jawab ada di rumah sakit. Langsung cepet-cepet ganti baju, habis itu pergi. Padahal lagi demam tinggi. Bibi bilang nanti aja, atau gak bibi temenin. Eh non Bulan malah nolak." Jelas bi Ani.
"Yaudah aku nyusul ke rumah sakit dulu. Makasih bi."
Bintang masuk ke ruangan Arghi. Memandang heran sahabatnya itu yang tengah menatap kosong ke langit-langit rumah sakit. Dirinya tidak mendapati sosok Bulan di sana.
"Ar," Arghi tersentak lalu menoleh.
"Udah baikan?" Arghi mengangguk pelan.
"Bin,"
"Apa?"
"Gue gak berguna ya?"
"Siapa bilang?"
"Gue sendiri."
Bintang menghela nafas. "Lo lebih dari berguna Ar. Lo yang buat gue bertahan, yang buat gue sadar kalo gue masih punya seseorang di sisi gue. Lo bisa jadi figur sahabat, saudara, bahkan ayah gue."
"Dan lo, yang buat Bulan merasakan kasih sayang di saat orang tuanya bahkan gak nganggep dia hidup. Lo yang selalu ada di sisi dia, semangatin dia apa pun yang dia lakuin. Kasih apresiasi di setiap pencapaiannya. Nemenin dia di saat ketakutan. Cuma lo yang bisa ngelakuin itu semua."
"Lo lebih dari berguna Ar, lo berharga buat kita."
Arghi memejam. Sedikit tidak percaya bahwa yang berada di sampingnya itu adalah sahabatnya yang biasanya tidak pernah bisa diajak serius.
"Apa gue seberguna itu?"
"Iya, lo berguna."
Arghi membuka matanya. Terkejut karena Bintang tiba-tiba menjawab pertanyaan hatinya. Apakah Bintang sudah beralih pekerjaan dari calon CEO ternama menjadi cenayang?
Menoleh ke tempat Bintang duduk, rasa harunya berganti dengan rasa ngeri. Pasalnya lelaki itu sekarang tengah tersenyum ke arahnya.
"Ngeri anjing." Umpat Arghi.
Wajah Bintang yang semula berseri-seri langsung berubah datar. "Si tai kagak bisa diajak melow."
...~~~...
Bulan duduk di bawah pohon di taman rumah sakit berteman tiang infus di sebelah kirinya. Tidur enam jam lamanya mampu membuat suhu panasnya lumayan turun walaupun kepalanya masih berdenyut.
Matanya terfokus ke daun-daun pohon yang sedari tadi berjatuhan oleh angin kencang. Musim semi telah datang.
Menutup kedua matanya, menikmati setiap hembusan angin yang menerpa. Dia menyukai suasana ini. Tenang dan sunyi. Hanya ada suara daun-daun dan angin serta bising orang-orang yang juga duduk di taman, tidak jauh dari tempatnya duduk.
Membuka mata, netranya bergulir ke sekumpulan keluarga yang sedang tertawa lepas. Hangat sekali. Mereka seperti sedang menghibur seorang perempuan yang memakai pakaian rumah sakit. Dilihat dari binar semangat perempuan tersebut. Tawa menguar dari bibir pucatnya. Hal itu mampu membuat sudut bibir Bulan tertarik. Menampilkan senyuman sendu.
Apakah dia bisa merasakan itu? Walaupun sekali dalam seumur hidup, tidak apa-apa. Hanya sebentar pun tidak apa-apa. Sungguh, dia ingin merasakan hangatnya keluarga yang utuh. Atau dia harus sakit keras terlebih dahulu agar bisa diperlakukan lembut?
Banyak yang bilang jika kebahagiaan seseorang pasti akan datang saat waktunya tiba. Tuhan tidak akan memberikan penderitaan yang begitu beratnya. Dan sekarang, Bulan tengah menunggu kapan gilirannya tiba.
"Astaga Bulan, lo kenapa seolah-olah kayak jadi orang yang paling menderita sih." Lirihnya sambil menggeleng kuat guna mengusir pemikiran rendahnya.
Mengarahkan netranya ke arah lain. Pemandangan keluarga itu terlalu menyakitkan untuk dilihat.
Dan sekarang Bulan mendapati seorang lelaki dewasa yang mengenakan baju pasien dengan infus di samping kirinya duduk di bangku panjang. Beliau tengah memangku perempuan kecil yang Bulan yakini adalah putrinya.
"Papa halus cepet sembuh bial bisa antelin Gina ke sekolah." Bulan tersenyum kecil mendengar perkataan cadel anak itu. Lucu sekali.
Lelaki itu pun mengelus kepala anaknya. "Nanti papa usahain sembuh ya. Gina jangan sampe sakit kayak papa. Anak papa gak boleh sakit, harus sehat terus."
__ADS_1
Anak itu mengangguk.
"Gina, nanti kalo papa gak ada, Gina gak boleh nangis ya."
"Papa mau ke mana? Kenapa Gina gak boleh nangis?"
"Kalo Gina nangis, papa jadi sakit."
Anak perempuan itu menggeleng kuat. "Papa gak boleh sakit. Iya nanti Gina gak nangis."
Bulan menatap keduanya nanar. Apakah lelaki itu sakit keras? Jika iya, Bulan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan anak perempuan itu jika ditinggal ayahnya. Apalagi anak itu masih sangat kecil.
Tak lama kemudian seorang wanita mendekati pasangan ayah dan anak itu.
"Kalian di sini ternyata. Mama cariin ke mana-mana."
"Mama udah dateng tuh, Gina makan dulu ya. Makan yang banyak, tapi jangan cepet gede." Ujar sang ayah sambil memberikan tubuh perempuan kecil tersebut kepada sang istri.
"Papa ada-ada aja." Tawa lepas wanita itu menguar mengundang Bulan untuk ikut tersenyum.
"Papa gak ikut?"
"Nanti papa nyusul sayang."
"Jangan lupa satu jam lagi papa kemo." Peringat wanita tadi.
"Iya. Pastiin Gina makan yang banyak."
"Kanker ya?" Gumam Bulan.
Bulan kembali menatap ke pohon besar. "Semoga mereka disembuhkan."
Menghela nafas, Bulan menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya. Iri sekali rasanya melihat kedua pemandangan tadi.
Tersentak kaget, Bulan mengangkat kepalanya saat ada sebuah tangan yang menyentuh bahunya. Dan lebih kagetnya lagi ternyata lelaki yang sejak tadi Bulan perhatikan telah duduk di sampingnya.
Beliau tersenyum teduh. "Nama om Gavin. Nama kamu siapa?"
"Bulan om." Jawabnya kikuk.
"Kamu sendirian?"
"Nggak, saya kan lagi sama om." Gavin tertawa mendengar jawaban polos Bulan.
"Ohh, nggak. Ada kakak yang lagi dirawat di sini juga."
"Kenapa gak sama kakaknya? Dari pada di luar, anginnya kenceng banget loh."
"Mau lihat pemandangan aja." Gavin mengangguk paham.
"Bulan sakit apa?"
"Cuma demem biasa om."
Bulan membatu saat Gavin menyentuh dahi Bulan. Setelah itu beliau mengelus rambut Bulan dengan pelan.
"Biasanya kalo sampe dirawat dememnya tinggi. Sekarang udah turun berarti. Cepet sembuh ya."
Tanpa sadar matanya berkaca-kaca seiring dengan nyeri di hati. Bulan memalingkan wajahnya ke samping saat air matanya turun. Menghapusnya dengan cepat berharap Gavin tidak melihat.
Namun Gavin telah melihatnya.
"Kalo Bulan butuh sandaran, Bulan bisa dateng kapan aja. Om langganan rumah sakit ini."
Air matanya kembali mengalir. Suara Gavin lembut sekali sampai membuat Bulan menangis deras. Dalam hati merutuki diri sendiri karena baru saja kemarin dia menangis. Padahal janjinya hanya untuk malam itu saja, namun pria di sampingnya ini kembali mengundang mendung.
Menghapus air matanya, Bulan tersenyum. "Om harus sembuh ya. Jangan tinggalin istri om sama Gina."
Gavin tersenyum lembut membuat mata Bulan kembali berair. Membayangkan sosok di sampingnya itu adalah Cahyo. Dia pasti akan berguling-guling saat itu juga saking bahagianya.
"Menangislah sepuasmu. Tidak ada yang melarang."
Bulan menunduk, menghapus air matanya hingga tak lagi tersisa. Dia tidak boleh menangis di depan orang lain.
"Maaf om."
"Loh, kenapa minta maaf? Menangis itu bukan kesalahan."
Gavin terdiam sesaat. Dia jadi teringat dengan seseorang yang pernah dia temui di pinggir jembatan. "Kamu gak boleh menyimpan semuanya sendirian. Mental gak bisa dibeli lagi kalo udah rusak. Jadi sebisa mungkin kamu, sebagai pemilik tubuh, menjaga apa yang telah Tuhan berikan."
__ADS_1
"Om harap kamu paham ya." Gavin mengusak rambut Bulan. "Om harus pergi. Maaf gak bisa nemenin kamu lama-lama."
Bulan memandang wajah teduh Gavin, lalu tersenyum manis. "Semangat kemonya om."
Ujar Bulan sambil mengepalkan kedua tangannya.
Gavin kembali mengacak rambut Bulan. "Om pergi dulu ya."
Bulan menatap punggung lebar yang semakin lama semakin tak terlihat. Pandangannya menerawang ke depan.
"Ayah,"
"Bunda,"
"Bulan sayang banget sama kalian."
"Kapan-kapan kita main yuk. Sama kak Arghi sama kak Dirga."
"Kita ke pantai. Main air, berenang, habis itu lihat matahari tenggelam."
"Kita ke taman. Ngobrol-ngobrol, makan, main kejar-kejaran, beli es krim."
"Kita ke..."
Perkataan Bulan terhenti. Lidahnya terasa kelu seiring dengan setetes bulir bening yang kembali mendesak keluar.
Padahal dia hanya berangan. Tapi kenapa rasanya semenyakitkan ini? Apakah dia tidak boleh berharap?
Menghapus air matanya kasar, Bulan memukul kepalanya kuat. "Jangan cengeng."
Dipejamkannya mata itu erat untuk menghentikan air mata.
"Kita nonton sama-sama di ruang keluarga sampai larut. Habis itu ketiduran di ruang keluarga. Besoknya kita sarapan sama-sama sambil suap-suapan. Habis itu lanjut main lagi." Bulan tersenyum miris.
"Pasti seru kalo tanpa lo Bulan."
...~~~...
Cakra masuk ke ruangan Arghi. Sedikit bingung karena tidak mendapati gadis bermanik kucing di sana. Hanya ada dua remaja laki-laki mengisi ruangan.
"Loh, Bulan gak ada di sini?"
"Hah?!" Arghi.
"Hah?!" Bintang.
"Kok pada hah semua?"
"Adek dari tadi nggak ke sini." Jawab Arghi. "Maksud om adek hilang?" Tanya Arghi mulai panik.
"Barusan om tinggalin Bulan, pas balik dia udah gak ada. Om kira Bulan ke sini."
Bintang menahan pergerakan Arghi. "Biar gue yang cari."
Bintang bangkit dari duduknya. Namun baru tiga langkah pergerakan Bintang terhenti saat pintu dibuka dari luar. Sosok Bulan dengan tiang infusnya berdiri di sana, menatap ketiga lelaki di dalam dengan polosnya.
Bulan menutup pintu, memandangi para lelaki dengan tatapan bertanya. "Kenapa pada diem?" Tanya Bulan menatap ketiganya heran.
"Adek dari mana?" Tanya Arghi.
"Ohh, dari taman." Jawab Bulan.
"Astaga... om nyariin kamu! Kirain diculik, taunya ke taman."
"Hehe... maaf om." Cengir Bulan.
Menarik infusnya mendekati brankar Arghi. "Kakak udah gapapa? Masih sakit?" Tanya Bulan kepada Arghi yang masih menatapnya lekat.
Menghembuskan nafas lega, Arghi tersenyum lalu mengubah posisinya menjadi duduk. "Kakak gapapa." Tangan Arghi terangkat menyentuh dahi Bulan. Tersenyum saat tahu suhu tubuh adiknya tidak sepanas tadi siang.
"Adek ngapain ke taman? Angin lagi kenceng banget, nanti masuk angin." Arghi menarik pergelangan tangan Bulan hingga terduduk di sampingnya.
"Bosen."
Bulan memeluk Arghi dari samping. Merebahkan kepalanya ke bahu lebar kakaknya yang langsung dibalas oleh Arghi.
Seperti yang Bulan harapkan. Pelukan kakaknya selalu mampu menghalau keresahan di hati.
"Adek sayang kakak."
__ADS_1
Arghi tersenyum. Tangannya terangkat membelai lembut surai indah Bulan lalu mengecup singkat kening hangat itu.
"Kakak lebih sayang adek."