
"Jangan pernah keluar dari istana, di luar sana berbahaya," sahut Raja Ishid, kala melihat pandangan Levy terus mengarah ke langit nan jauh disana.
Hari ini, mereka sedang mengadakan tea time bertiga. Sejak mereka mengatakan ingin bermain di luar, karena bosan, sejak itulah Sang Raja selalu mengadakan tea time.
Ini sudah minggu ketiga tea time-nya berlangsung. Selama itu pula, Levy semakin heran dengan tingkah Sang Raja yang katanya bengis dan kejam.
Apa, dia bisa membaca pikiran? Wah, ternyata Raja sialan ini cenayang. Batin Levy.
"Aku tidak membaca pikiranmu, tapi semua itu tertulis jelas di wajahmu," sahut Raja Ishid lagi.
Wah, dia sungguh cenayang(?) Batin Levy.
"Ayah, apa yang ada di luar istana?" Tanya Keira.
"Sesuatu yang tidak berguna," Ucap Raja Ishid, lalu menyeruput tehnya.
Aah, percakapan yang tidak ku mengerti terjadi lagi. Batin Levy.
"Apa itu?"
Sang Raja mengerutkan keningnya,"mengapa, kau sangat penasaran?" Tanya Raja Ishid.
"Karena ...." Keira juga tidak tahu, mengapa ia penasaran. Keira lalu menoleh ke arah Levy.
"Mengapa, kau penasaran Levy?" Tanya Keira seolah melimpahkan semua masalah hanya untuk Levy.
Dimana kakak yang akan melindungiku? Menjagaku? Mengapa, ia berubah menjadi iblis? Batin Levy.
"Uhuk ... aku hanya tidak ingin terlihat bodoh, karena tidak mengetahui apa yang ada dalam kerajaan ini," jawab Levy.
Yaah, itu tidak sepenuhnya salah. Toh aku ingin tahu, karena mungkin aku berencana keluar istana. Aku tidak akan bertanya-tanya, jika di animasinya memberitahu apa yang ada di luar istana. Batin Levy.
"Jika ada yang melihatmu bodoh, maka hari itu, adalah hari terakhirnya,"
Levy dan Keira saling tatap dengan raut wajah aneh. Keira menggelengkan kepalanya tanda untuk tidak mengatakan hal itu lagi, lalu di balas anggukan oleh Levy.
'Jina ... hei, Choi Jina!'
Begitu mendengar nama aslinya di panggil, Levy langsung berdiri dan menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapapun di sana.
"Siapa itu?" Tanya Levy, masih mencari pemilik suara itu.
"Ada apa?" Tanya Raja Ishid dan Keira.
"Ah, tidak. Aku hanya mendengar sesuatu tadi," Levy kembali duduk.
Mungkin hanya halusinasi ku saja. Apa, aku sangat rindu pada mereka ya? Batin Levy.
Levy kembali tenggelam dalam pikirannya, sudah terlalu banyak rencana yang ia buat untuk melarikan diri dari istana. Tapi tak satupun yang ia coba.
"Ah, Apa itu Guild? Riri pernah mengatakan hal itu, tapi dia menolak untuk menceritakannya." Levy mencoba untuk mengalihkan topik.
"Kumpulan manusia bodoh," jawab Raja Ishid.
"Ck!" Levy dan Keira berdecak kesal, pertanyaan mereka tidak pernah di jawab dengan benar oleh Sang Raja.
"Aku lelah ...." Levy berdiri dari tempatnya, "kalau begitu, saya pamit undur diri, Yang Mulia." Salam Levy lalu meninggalkan Keira dan Sang Raja.
"Ah, aku juga," ujar Keira, lalu mengikuti Levy, tak lupa ia menunduk hormat pada Sang Raja. Tinggal lah Sang Raja di taman seorang diri.
Sepanjang jalan menuju kamar, Levy tak henti-hentinya menyumpahi Sang Raja. Ia berjalan dengan menghentak-hentakan kakinya, persis seperti anak kecil yang tidak mendapatkan mainannya. Dari belakang, Keira tertawa geli melihat adik kecilnya(?) Menurutnya Levy sangat imut saat marah.
Brakk
Levy membuka pintu dengan tidak santainya. Mungkin terlalu sering Levy melihat cara Riri membuka pintu, tanpa sadar Levy mengikuti cara Riri. Ia mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Keira hanya mengikuti Levy dengan sisa tawanya.
"Berhentilah tertawa, Keira." Kesal Levy.
"Maaf, maaf, kau terlalu imut dan lucu saat marah, Levy." Keira menyeka airmatanya.
"Apa kau tidak kesal? Raja selalu saja mengatakan hal yang tidak bisa di mengerti. Bahkan, dia menjawab pertanyaan dengan jawaban yang aneh dan sedikit kejam,"
"Ayah kita memang selalu begitu. Tenanglah, kau akan terbiasa dengannya."
Levy menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya, ia mencoba untuk meredam rasa kesalnya.
"Tapi, Guild itu apa ya?" Tanya Keira.
Levy berpikir keras, siapa yang akan memberitahu mereka dan menghilangkan rasa penasaran yang meresahkan itu.
__ADS_1
"Ah, aku tahu. As ...."
"Apa?" Baru saja Levy ingin memanggil Asgaf, tapi makhluk itu sudah muncul duluan di hadapan mereka.
Takk
"Apa yang kau lakukan?" Kesal Asgaf, pasalnya Levy tiba-tiba memukul kepalanya.
"Sudah ku bilang, kan? Jangan muncul tiba-tiba seperti ini. Kau bisa saja membuat kami terkena serangan jantung." Levy masih mengepalkan tangannya, baru saja ia mencoba untuk tenang, tapi selalu saja ada yang membuatnya merasa kesal.
"Pftt ... ternyata ada juga yang bisa memukulmu," sahut Kyllin yang sudah berada di atas pangkuan Keira.
Takk
"Anda membuatku kaget," ujar Keira setelah memukul kepala Kyllin juga, walaupun tidak sekeras Levy.
Asgaf melihat Kyllin, lalu menunjukkan senyum sinisnya. Hal itu membuat Kyllin terbakar api kemarahan. Ia langsung saja mengangkat ekornya, terbentuk lah bola es. Melihat itu, Asgaf tidak tinggal diam, ia juga membuka mulutnya mengeluarkan bola api dan bersiap menembakkannya pada Kyllin.
Takk
Takkk
Untuk kedua kalinya, Asgaf dan kyllin terkena pukulan di kepala.
"Berhentilah. Apa kalian ingin menghancurkan kamarku, hah?" Kesal Levy.
"Pukulan mu sangat keras untuk seukuran anak kecil," cibir Asgaf.
"Tuan Kyllin, sebaiknya anda tidak bertindak sembarangan lagi yah!" Ucap Keira, lalu mengelus kepala Kyllin yang tadinya ia pukul.
Waah ... dia terlihat pendiam, tapi mematikan. Apa, zaman sekarang semua anak kecil seperti ini? Batin Kyllin.
"Ah, kau membuatku lupa akan tujuanku memanggilmu, Asgaf." Levy menghela napas, lalu kembali duduk di atas tempat tidurnya.
"Guild. Kau ingin bertanya tentang itu, kan?" Tepat sasaran, Asgaf.
"Ya," ucap Levy dan keira bersamaan.
"Mengapa, kalian ingin tahu tentang itu? Apa kalian ingin bergabung di sebuah Guild?" Tanya Kyllin.
"Bergabung?" Tanya Keira.
"Kemarilah," ucapnya agar Levy dan Keira lebih mendekat padanya.
"Apa? Apa?" Rasa penasaran Levy dan Keira semakin meningkat.
"Guild hanyalah sebuah perkumpulan atau lebih tepatnya sebuah organisasi ...."
"Organisasi para penyihir dan pengguna magi." Kyllin memotong ucapan Asgaf. Asgaf hanya meliriknya sinis.
"Tapi, bukankah semua orang mempunyai magi dan sihir. Lalu, untuk apa organisasi itu?" Tanya Levy.
"Tidak, Levy. Kau salah, tidak semua orang di dunia ini mempunyai Magi dan sihir. Ada yang terlahir netral atau tidak memiliki Magi maupun sihir." Jelas Asgaf.
Mengapa animasi ini semakin jauh dengan cerita aslinya? Batin Levy.
"Mengapa seperti itu?" Tanya Keira.
"Mungkin, itulah yang di sebut dengan takdir Sang Pencipta," sahut Kyllin.
"Bagaimana mereka akan hidup tanpa sihir dan Magi?"
"Keira, kau selama ini tinggal di istana tanpa mengetahui apapun, ya? Mereka yang Netral akan hidup menggunakan alat sihir."
"Di kerajaan Claude ini, lebih banyak manusia yang Netral. Itulah mengapa mereka membentuk Guild. Dahulu kala, Guild di bentuk agar bisa memberi bantuan pada pasukan ksatria saat berperang. Tapi sekarang, banyak yang menyalah gunakan Guild. Contohnya, Guild hitam. Mereka mengumpulkan pengguna Magi yang berpotensi dan menggunakan mereka untuk melawan Guild lain,"
Tuhan, apa yang terjadi sekarang? Semua ini tidak ada dalam cerita. Bagaimana aku akan hidup? Batin Levy.
"Hm? ...." tiba-tiba saja, sebuah rasa penasaran yang lain muncul di kepala Levy.
"Siapa yang bisa memanggil makhluk suci seperti kalian?" Tanya Levy.
"Pengguna Magi," jawab Asgaf.
Berarti Irwin itu pengguna Magi? Mengapa tidak ada di dalam cerita? Batin Levy.
"Bagaimana denganku?" Keira menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan kau yang memanggilku, aku datang dengan kemauanku sendiri. Pengguna Magi harus membuat kontrak, jika ingin memanggil makhluk suci untuk berperang."
__ADS_1
"Apa aku ini pengguna Magi? Atau aku Netral?" Tanya Levy.
"Kau penyihir, dasar bodoh." Sinis Kyllin.
"Penyihir? Tapi ... aku tidak pernah melihat sihirku,"
"Umurmu berapa?" Tanya Asgaf.
"5 tahun,"
"Aneh, keluarga kerajaan seharusnya dapat melihat sihirnya di umur 3 tahun." Heran Kyllin.
"Tapi ... tapi Keira, bukankah kau juga sepertiku?"
"Ah ... emm itu, saat itu, aku ...."
Levy menyipitkan matanya, "kau berbohong padaku ya?" Mendengar itu, Keira hanya menampilkan cengiran tengilnya.
"Ada yang aneh denganmu, Levy. Kalau benar kau belum bisa mengeluarkan sihirmu, setidaknya kau sudah bisa melihat jenis sihirmu. Terlebih, seperti ada sesuatu yang bercampur dalam dirimu. Seakan-akan dalam tubuhmu ada Black Hole. Sepanjang sejarah kerajaan Claude, hanya dirimu yang memiliki aura aneh ...." Asgaf melihat Levy dari atas sampai bawah.
"Kau berasal dari dunia lain, ya?" Tanya Asgaf, membuat Levy gelagapan tidak tahu harus menjawab apa.
"Tapi, itu tidak mungkin, kan?" Sahut Kyllin.
"Ya, itu satu hal yang mustahil."
Mendengar penuturan itu, Levy memghembuskan napas lega.
"Tapi ... tidak menutup kemungkinan hal itu bisa saja terjadi, kan."
Levy merasa di permainkan oleh perkataan Asgaf dan Kyllin. Dia sangat berharap mereka memilih satu saja di antara 'mungkin' dan 'tidak mungkin'. Jangan berbelit-belit seperti itu.
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu, Levy?" Tanya Asgaf, kini semua mata tertuju pada Levy.
"Aku ... emm ma-mana ku tahu. Aku kan saat pertama kali membuka mata, aku sudah berada di dunia ini," ucap Levy.
Levy semakin merasakan umurnya berkurang 5 tahun, saking gugupnya. Terlebih Keira tidak mengatakan apapun, dan hanya menatap Levy penuh arti. Siapa yang tidak gugup jika di tatap terus menerus.
"Mari kita kembali ke awal pembahasan," ucap Levy mencoba mengalihkan topik.
"Ah, iya. Apa kalian berniat masuk Guild?" Tanya Kyllin.
Yess ... aku berhasil. Batin Levy.
"Tidak, kami hanya penasaran saja," jawab Keira.
"Apa Guild itu menyenangkan?" Tanya Levy.
"Entahlah," sahut Asgaf.
"Kalian pernah kontrak dengan seseorang yang bergabung di Guild?"
"Apa kau sudah lupa, Levy? Kami ini tidak bisa di panggil oleh manusia. Kami akan datang jika kami mau datang."
"Mengapa tidak bisa?" Tanya Keira.
Kyllin berdiri dengan sombongnya, "Menurutmu karena apa lagi? Tentu saja, karena kami ini sangat kuat."
"Hanya ada satu orang yang pernah memanggil kami, dia adalah pria pengguna Magi terkuat sepanjang sejarah. Dia juga lah yang pertama kali membentuk Guild Black Heaven."
"Black Heaven? Namanya sangat menyeramkan. Apa itu Guild gelap?" Tanya Keira.
"Ternyata bukan cuma aku yang berpikir seperti itu," gumam Kyllin.
"Bukan, namanya memang menyeramkan, tapi makna dari nama itu adalah, surga dunia. Jika surga yang asli identik dengan putih, maka dia berpendapat kalau surga dunia adalah hitam. Yang artinya, Guild itu adah tempat yang menyenangkan,"
Levy dan Keira saling tatap, " menyenangkan?" Ucap mereka dengan mata yang berbinar.
"Urungkan saja niat kalian itu, Ayah kalian tidak akan mengizinkan kalian menjadi salah satu dari kumpulan orang bodoh itu," sahut Kyllin, membuat Levy dan Keira menghembuskan napas pasrah.
Tanpa Levy sadari, Asgaf terus menatap Levy dengan pandangan penuh arti.
TBC
Yahooo minna~~
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan Coment yah ... ah, kalau boleh rate 5 juga yaah ... ah, satu lagi, vote juga yah, terima kasih~~~
Salam dari Grizzy~~
__ADS_1