World Of Animation

World Of Animation
Makhluk suci


__ADS_3

Aku merasakan ada hembusan dari atasku, saat aku berbalik, sosok singa putih sedang menatapku.


Besar sekali. Batinku.


"Kalian datang dari mana, manusia?" tanya singa itu.


Karena terlalu syok, aku dan Keira seperti manusia yang kehilangan rohnya. Masih terdiam berusaha mencerna situasi saat ini.


"Apa, sekarang manusia tidak lagi bisa berbicara?"


"Bi-bisa kok," ucapku.


"Jelaskan, mengapa kalian berada di sini?!!"


"Itu ... cahaya ... terang ... wusshh ... entahlah." Ucapku ngelantur.


Apa yang kukatakan? Batinku.


Air mataku serasa ingin keluar tapi tertahan oleh rasa takut.


"Manusia ini terlihat sangat bodoh, apa di kepalanya tidak ada otak?" ucap Serigala biru.


Bodoh? Batinku.


"Hei! Kau sangat tidak sopan, mengapa kau mengataiku bodoh? Untuk ukuran anak kecil yang melihat makhluk seperti kalian, aku bahkan tidak menangis, atau berteriak seperti orang gila. Aku tergagap karena kaget melihat kalian tahu! Hufft!"


Seketika suasana langsung hening, aku mulai merutuki mulutku yang selalu berbicara spontan.


"Bwahahahahaha!!!" Mereka tertawa, membuat aku dan Keira terheran - heran.


"Aduh perutku sakit sekali." ucap singa putih dengan kekehan yang tersisa.


"Manusia ini sangat menarik." ucap kucing berwarna pink, yang sedang melayang(?)


"Hm? Kalian bersaudara ya?" tanya serigala putih.


"Ah iya," jawab Keira.


"Perkenalkan namaku cho- tidak. Maksudku, Levyanna De Severus Claude." Salamku, sambil membungkuk.


"Aku Keira De Severus Claude." salam Keira, sambil membungkuk.


"Hmm ... kalian keluarga kerajaan rupanya. Siapa ayah kalian? Zeronnes? Ethan? Zekil?" tanya serigala biru.


"Hah?" aku dan Keira saling pandang.


"Itukan raja-raja terdahulu, mereka kakek buyut dari kakek buyut dari kakek buyut kita." Bisik Keira.


Lalu mereka ini setua apa? Batinku.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


"Ayah kami adalah Ishid Astrada," ucap Keira.


"Ishid?" beo mereka.


"Aah ... dia anak dari Ravin, kan?"


"Iya," jawab Keira.


"Apa, kalian tahu tempat apa ini?" tanya singa putih.


Aku dan Keira serentak menggelengkan kepala.


"Ini adalah dunia para makhluk suci."


Bagai tersambar petir rasanya, mengapa aku harus mengalaminya lagi? Ini sudah dunia ke dua yang ku datangi.


"Anu ... apakah ada cara agar kami bisa kembali?" Tanyaku.


"Tentu saja ada," ucap serigala biru.


"Hm? Siapa yang membuat kalung itu?" tanya kucing pink.


"Aku," ucapku.


"Heeee~~" dia tersenyum, membuatku penasaran saja.


"Apa kalian ingin pulang sekarang?" Tanya singa putih.


"IYA!" seru Keira.


"Apa kami bisa bertemu dengan kalian lagi?" Tanyaku.


"Mengapa kau ingin bertemu dengan kami?" Tanya serigala biru.


"Entahlah, aku hanya ingin."


"Apa kau tidak takut pada kami? Kami bisa saja melukai kalian kapan saja," ucap serigala biru.


"Aku tahu itu tidak benar, kalau kalian memang berniat melukai kami, seharusnya kalian sudah melakukannya dari tadi."

__ADS_1


"Kau cepat tanggap rupanya." ucap singa putih.


Singa putih mulai mendekatiku, dia menyentuhkan ujung hidungnya di kalungku, lalu kalungku mulai bersinar.


"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku.


"Kau bisa memanggilku atau berbicara denganku menggunakan kalungmu, kapanpun kau mau."


"Bagaimana dengan Keira?"


Serigala biru melakukan hal yang sama pada kalung Keira.


"Apa kita berteman sekarang?" tanya Keira dengan mata berbinar.


"Eh emm ... iya." Jawab serigala biru.


"Sekarang, tutup mata kalian." ucap kucing pink.


Aku dan Keira pun melakukan apa yang di katakannya.


"Kejadian hari ini adalah rahasia kita, begitu sampai di dunia kalian, kalian akan merasa ini seperti mimpi ...." aku merasakan ada tangan yang mengelus kepalaku.


"Bangunlah, buka mata kalian."


Saat aku membuka mata, orang yang pertama kali ku lihat adalah si Raja sialan tanpa ekspresi itu. Huff menyebalkan.


"Levy," panggil Keira, yang ternyata dia berada di sebelahku.


"Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanyaku.


Dia mendekat, "kejadian tadi bukan mimpi, kan?" bisiknya.


"Tenanglah, itu bukan mimpi. Dan mereka adalah teman kita sekarang." bisikku.


Wajah Keira terlihat sangat senang. Entah mengapa, tapi aku merasa dia sangat membutuhkan teman. Apa selama ini dia kesepian? Tapi, di film tidak seperti ini.


Brakk


"NONA!!"


Aku menoleh ke arah teriakan itu, ternyata itu Riri. Dia berlari dan langsung memelukku begitu sampai.


"Nona, saya sangat khawatir. Mengapa hal mengerikan harus terjadi pada anda?" ucap Riri sambil menangis.


Aku, lebih khawatir pada lehermu itu, Riri. Mengapa, kau membuka pintu seperti orang yang ingin berperang? Padahal Raja sialan itu ada disini. Batinku.


"Riri, aku tidak apa - apa." ucapku.


"Seminggu?" ucapku bersamaan dengan Keira.


"Bukankah kami pingsan hanya beberapa jam?" tanya Keira.


"Tidak, Putri." balas Levy.


"Apa yang terjadi?" Raja mulai mengeluarkan suaranya.


"Aku tidak terlalu ingat, ayah. Tapi sebelum pingsan, aku melihat cahaya terang." ucap Keira.


"Sebelum itu, Keira." ucap Raja.


Keira terdiam selama beberapa saat, sambil memegang tanganku.


"Apa, maksud anda adalah sesuatu yang berhubungan dengan para Maid?" tanyaku.


"Benar. Mengapa, seorang Tuan Putri, berperilaku kasar pada bawahannya? Apa, yang akan dikatakan rakyat bila mengetahui kejadian ini?" suasana mulai mencekam.


"Yang mul-- "


Aku memotong ucapan Riri, "Diam, Riri ...." aku menggenggam erat tangan Keira.


"Apa, anda sungguh berpikir Keira yang berperilaku kasar? Hah lucu sekali. Bolehkah saya bertanya, anda ini ayah dari Keira atau ayah dari para Maid itu?" Ucapku sinis.


"APA?!!"


"Tolong jangan mendengar cerita dari satu pihak saja, anda sangat peduli pada pandangan rakyat, tapi tidak peduli pada penderitaan yang di alami Keira selama ini."


"Nona."


"Dia bukan lagi anak kecil, yang harus di perhatikan setiap saat. Harusnya dia mengurus dirinya sendiri."


"BUKAN ANAK KECIL?!! UMUR 6 TAHUN BUKAN ANAK KECIL?!! LALU, MENURUTMU ANAK KECIL ITU DI BAWAH UMUR 6 TAHUN?!! JANGAN BERCANDA!! APA DI DUNIA INI, UMUR 6 TAHUN ADALAH UMUR KEDEWASAAN?!!" Teriakku, membuat mereka menatapku dengan mata melotot.


"HEI! Apa, di kerajaan ini tidak ada hukuman pada seseorang yang menyiksa anak kecil? Ah, walaupun ada pasti orang itu tidak akan di hukum atas apa yang dilakukannya pada Keira, Keira kan sudah bukan anak kecil." Ucapku meremehkannya.


"Nona, apa maksud anda?" Tanya Riri.


"Riri, bekas luka ini di akibatkan oleh Maid yang sangat di sayang Yang Mulia Raja Claude." ucapku, sambil memperlihatkan memar di tangan Keira, lalu melirik Raja sialan itu.


"Mereka sangat tidak sopan pada Keira, menyiksanya tiap hari, dan berkata kasar pada Keira."


"Tuan Putri, apa itu benar?"

__ADS_1


"Katakanlah, jangan takut." Ucapku.


"I-iya, itu benar. Mereka sering memukulku dengan kayu, Levy terluka karena melindungiku," ucap Keira sambil menunduk.


"Ceritakan semuanya, Keira."


"Setiap hari, mereka membawa cemilan hanya untuk mereka. Mereka mengatakan kami hanya alat, anak sial, masalah. Dan hanya harus patuh."


Apa ini? Mengapa tiba - tiba ruangan ini terasa sangat menakutkan? Batinku.


"Aku hanya menggigit tangan salah satu dari mereka, tapi aku tidak akan meminta maaf, walaupun harus menerima hukuman." ucapku.


Riri menangis lagi, lalu membawa aku dan Keira ke dalam pelukannya. Aku bisa merasakan betapa pedulinya Riri pada kami.


"Tidak, Nona. Jika memang kalian harus di hukum, maka saya yang akan menggantikan kalian menerima hukuman itu ...." ucap Riri, sambil melepaskan pelukannya.


"Yang mulia, saya bersedia menerima semua hukuman, menggantikan mereka." Riri membungkuk.


Tanpa mengatakan sepatah kata, Raja sialan itu langsung pergi dengan raut wajah yang sulit ku artikan.


"Riri, aku ingin berbicara berdua saja dengan Keira." ucapku.


"Baik, Nona. Kalau begitu, saya permisi keluar."


Aku, membalikkan badanku menghadap Keira.


"Kau tidak apa-apa?" tanyaku.


"Iya. Aku, tidak apa-apa. Terima kasih telah membela dan melindungiku." ucap Keira.


"Sekarang, kau, adalah saudariku. Sudah seharusnya kita saling melindungi."


"Iya."


Aku, mengedarkan pandanganku. Ruangan ini tampak asing bagiku. Bukan kamarku, juga bukanlah kamar Keira. Kamar ini terlihat sangat sederhana, banyak lukisan menggantung indah di dindingnya.


"Ini ... kamar siapa?" tanyaku.


"Aku, juga tidak tahu." ucap Keira sambil mengedarkan pandangannya.


"Levy ... Levy, bagaimana caranya kita bisa berbincang dengan mereka?" tanya Keira, sambil melihat kalungnya.


"Hmm ... Hei! Tuan singa putih, apa kau mendengarku?"


'Ada apa? Kalian baru saja kembali, mengapa sudah mencari kami?'


"Ah tidak. Aku, hanya penasaran bagaimana kita akan berbincang denganmu. Ternyata, tidak sesuai ekspetasiku."


'Apa yang kau harapkan?'


"Etto ... kau muncul di hadapan kami?"


"Seperti ini?"


Kemunculan yang sangat mendadak itu, membuatku dan Keira amat terkejut. Bisa-bisanya dia langsung muncul begitu saja.


"Ruangan ini sangat kecil."


"Tubuh anda yang terlalu besar." ucap Keira.


"Oh, hei kau! Mengapa, kau tidak memanggil Kyllin?"


"Kyllin? Siapa dia?"


"Serigala bodoh itu."


'Apa, maksudmu? Singa gila.'


Serigala biru atau yang di panggil Kyllin itu langsung muncul. Ruangan ini terasa sangat sesak sekarang.


"Namanya Kyllin?" tanyaku.


"Iya. Kenapa?!" ucap Kyllin sedikit melotot.


"Santai, Bro. Aku cuman mau memastikan saja."


"Bro?" beo mereka.


"Tidak, lupakan saja."


"Dasar aneh." cibir Kyllin.


"Apa, maksudmu? Dari pertama kali bertemu, yang keluar dari mulutmu hanya hinaan saja ya?"


"Kau sungguh aneh. Ada energi yang asing dari tubuhmu, seperti ada yang tercampur aduk."


Singa putih mengangguk setuju, "Dia benar. Apa, kau berasal dari dunia lain?"


TBC


Etto ... Jangan lupa tinggalkan jejak yah minna~~

__ADS_1


__ADS_2