World Of Animation

World Of Animation
Peran utama laki-laki


__ADS_3

Pertanyaan dari Asgaf membuatku terus memikirkannya. Ah, Asgaf adalah nama singa putih itu. Setelah dia bertanya seperti itu, pikiranku sangat kacau.


Bagaimana kalau mereka tahu aku bukan Levyanna yang asli? Apa yang akan di lakukan Raja sialan itu? Apa, dia akan membunuhku? Batinku.


Nyawaku serasa ingin keluar dari tubuh sekarang. Aku tidak sanggup memikirkannya. Bahkan, keira terlihat kaget saat mendengar perkataan mereka.


"Levy, ada apa? Akhir-akhir ini, kau sering melamun," ucap Keira.


"Y-ya? Ah, aku, hanya sedang memikirkan sesuatu." ucapku.


"Memikirkan apa?"


"Anu itu ... emm apa ya? Aah, mengapa, aku belum bisa melihat sihirku? Ya! Aku, sedang memikirkan itu." Alibiku.


"Tenang saja. Aku mengetahui sihirku belum lama ini. Tidak ada yang aneh dari mu kok."


Apa, dia menyemangatiku? Mengapa, mengatakan aku tidak aneh? Batinku.


"Iya, terima kasih."


Tok...tok...tok


"Tuan Putri, apa, saya boleh masuk?"


"Masuklah." sahut Keira.


Dia, adalah kepala pelayan. Di istana Rose, Istana para selir Raja. Tapi, sekarang Raja sialan itu tidak memiliki selir. Istana sebelumnya tempat ku dan Keira, yaitu istana Laven. Sudah hancur, aku juga tidak tahu karena apa. Hancurnya istana itu bertepatan dengan saat aku dan Keira memasuki dunia makhluk suci.


"Tuan Putri, Yang Mulia Raja, memanggil anda berdua."


"Ayah ada dimana?" tanya Keira.


"Ruang tamu istana, putri."


"Baiklah. Ayo, Levy."


Kami pun keluar dari Kamar baru Keira. Saat berada di luar, pengawal istana Rose, langsung mendatangi kami.


"Istana utama sangat jauh dari sini, Putri. Izinkan kami membawa anda berdua kesana." ucap salah seorang dari pengawal itu.


"Tidak apa-apa. Aku ingin berjalan." ucapku.


Walaupun di dunia ini, aku adalah anak kecil, tapi aku tidak ingin di gendong layaknya anak kecil.


"Tapi, Putri ...."


"Baiklah, aku juga ingin berjalan," sahut Keira


Ada apa dengannya? Mengapa, dia selalu mengikutiku? Batinku.


"Kalian cukup mengikuti kami." Kata Keira.


"Baik!" sahut para pengawal itu.


Jalan menuju istana utama sangatlah indah. Sepanjang jalan terlihat patung emas dan banyak bunga yang indah. Butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke istana utama.


"TUAN PUTRI PERTAMA DAN TUAN PUTRI KEDUA, TELAH TIBA!" seru ksatria yang berada di pintu masuk istana.


Pintu terbuka, walaupun ini bukan kali pertama aku kesini, tapi jujur istana ini sangatlah elegan dan mewah.


Di depan pintu Ruang tamu istana tidak memiliki ksatria penjaga.


Tok...tok


"Tuan putri, berada di sini." ucap kepala pelayan.


'Masuklah.'

__ADS_1


"Segala kemakmuran dan berkat pada cahaya Claude." Salamku dan Keira sambil membungkuk.


Ternyata si Raja Sialan sedang berbincang dengan, entahlah aku tidak tahu. Orang itu meskipun sudah tua, tapi dia masih berkharisma. Oh, ada anak kecil di sebelahnya.


"Kemarilah." kata si Raja sialan itu.


Keira pun melangkahkan kakinya menuju singgasana si Raja. Berbeda denganku yang masih berdiri di tempat.


"Apa yang kau tunggu? Apa, kau ingin aku yang membawamu kesini?"


"Tidak, Yang Mulia." Balasku.


Aku, mengambil tempat di sebelah Keira.


"Salam, Tuan Putri pertama dan Tuan putri kedua ...." ucap orang itu.


"Saya, Nathan Xavier dan ini putra saya." lanjutnya.


Xavier? Jadi, anak kecil itu pemeran utama laki-laki, dong?! Irwin Xavier. Batinku.


Oho. Ternyata lumayan juga, cocok sekali untuk Keira. Aku bahkan tidak berniat untuk tampil mencolok di hadapan mereka. Sebisa mungkin, aku harus terlupakan dan terasingkan disini. Hidupku lebih penting dari apapun saat ini.


"Salam, Yang Mulia Putri. Saya, Irwin Xavier." Salam anak kecil yang bernama Irwin itu.


"Saya berpikir mungkin saja, para putri sangat bosan karena selalu bermain berdua. Jadi, saya ingin menjadikan anak saya sebagai teman bermain mereka." ucap Nathan.


Tolong jangan membuatku kerepotan dengan menambah anak kecil lagi. Batinku.


Tiba-tiba saja aku tersadar akan sesuatu.


"Apa adegan ini ada dalam film? Bukankah pertemuan awal mereka di pasar malam?" gumamku.


"Ada apa, Levy?" bisik Keira yang ku balas dengan gelengan kepala.


"Terserah kalian. Hanya untuk omong kosong seperti ini, Kalian menghambat pekerjaanku ...." si Raja Sialan mulai berdiri.


Hah? Mengapa, aku? Biarkan aku sendirian. Batinku.


Aku, melihat kearah Keira ingin meminta pertolongan. Tapi ternyata nihil, tatapan Keira juga seakan meminta tolong.


"Cepatlah." Raja Sialan itu sudah berada di depan pintu, membuatku langsung berlari mengejarnya, tak lupa aku melambaikan tanganku pada Keira.


****


Sudah hampir setengah jam, dan Raja Sialan ini masih membuatku berjalan mengikutinya. Aku tidak tahu kemana tujuannya. Yang kubutuhkan saat ini, adalah istirahat sejenak. Tubuh ini masih sangat kecil. Apa, yang di pikirkan Raja Sialan ini? Teganya membuat anak kecil berjalan sangat lama.


Brughh


Haiih ... Aku terjatuh, mengapa dunia ini serasa ingin mempermainkanku. Mungkin karena lelah, aku sangat nyaman duduk di lantai ini. Aku sudah tidak sanggup berdiri. Aku ingin tidur saja disini.


Tidak lama kemudian, tubuhku sudah tidak menyentuh lantai lagi.


"Jangan membuatku malu," ucap Raja Sialan itu.


Aku hanya menatapnya tanpa berniat membalas ucapannya itu.


Kapan dia akan menurunkanku? Dan mengapa, dia hanya berdiri disini dengan aku di tangannya seperti karung beras? Batinku.


"Tolong turunkan aku, Yang Mulia." ucapku.


Bukannya menuruti ucapanku, Raja Sialan ini malah menggendongku. Lalu dia kembali berjalan. Sudahlah, aku terlalu lelah untuk mengerti maksudnya.


Apa ini? Mengapa, aku berada disini? Batinku.


Aku mengedarkan pandanganku, ini seperti kamar tidur. Tanpa sengaja, mataku menangkap objek yang berada di sebelahku.


Asdfghj. Manusia macam apa tidak sopan begini?!! Batinku menjerit.

__ADS_1


Raja Sialan ini tertidur di sebelahku, dengan pakaian yang aauh mata kecil ku ternodai. Kemejanya sudah tidak terkacing. bisa-bisanya, dia tidur seperti itu.


Aku segera menjauh darinya, aku takut pikiranku akan liar nantinya.


"Akhh." teriakku di saat sebuah tangan kekar menarikku kuat.


"Kau mau kemana, Putri nakal?" Tanya Raja Sialan itu dengan suara khas orang baru bangun tidur.


Tidak. Jangan berpikiran aneh, Choi Jina. Disini, dia adalah ayahmu. Hubunganmu dengannya tidak boleh menjadi lebih aneh lagi. Batinku.


"Ya-Yang Mulia, aku tidak bisa bernapas." ucapku.


Akhirnya, pelukannya sudah tidak erat lagi. Oh tidak, lagi-lagi mata kecil ku ternodai. Dada bidang yang sangat keras.


"Kau mau kemana tadi?" tanya Raja Sialan.


"Yang Mulia, bisakah anda melepaskanku?"


"Mengapa, kau membalas pertanyaanku bukan dengan jawaban, melainkan dengan pertanyaan?"


"Mengapa, Yang Mulia sangat banyak tanya? Bukankah Yang Mulia sudah tahu jawabannya?"


Apa yang kukatakan? Matilah aku. Batinku.


"Kalau begitu, aku akan bertanya hal yang tidak ku ketahui ...." Raja Sialan melepaskan pelukannya, lalu bangun dari tidurnya.


Sekali lagi, baru saja aku beranjak menjauh darinya, dia lagi-lagi menarikku. Kini aku berada di atas pangkuannya.


"Bukankah seorang ayah adalah cinta pertama bagi putrinya?" lanjutnya.


"Iya, itu benar." jawabku.


"Lalu, mengapa, cinta pertama mu bukanlah aku, ayahmu?"


Hah? Apa yang diucapkannya? Tentu saja, karena ayah asli ku adalah cinta pertama ku. Tapi, mengapa, dia bertanya seperti itu? Batinku.


"Siapa Asgaf? Apa, dia adalah cinta pertama mu?"


Mengapa, dia tahu nama Asgaf? Sebenarnya apa yang terjadi saat aku tidak sadar tadi? Batinku.


Semakin aku diam, suasana disini semakin mencekam. Aku tidak tahu harus berbuat apa.


"Apa kau juga tidak tahu jawabannya? Lalu, siapa yang mengetahui jawabannya? Apakah Asgaf bisa menjawabnya?"


Aku memberanikan diri untuk menatapnya. Tatapan matanya sangat menusuk, seakan dia ingin membunuhku.


"Kau menakutiku, ayah." ucapku.


"Jangan menatapku." Tangan kekarnya membuat kepalaku menempel pada dada bidangnya.


Situasi apa lagi ini, ya tuhan? Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran orang ini. Batinku.


'Levyanna ... hei Levyanna!'


"Hah? Ada apa?" tanyaku.


"Apa?" tanya balik Raja.


Siapa yang memanggilku? Batinku.


'Ini aku, Asgaf. Levyanna, saudarimu dalam bahaya.'


"Asgaf?"


TBC


jika berkenan silakan kritik dan sarannya minna~~

__ADS_1


__ADS_2