
"Istirahatlah, Levy. Biarkan kami yang pergi." Sudah kesekian kalinya Zero menyuruh Levy untuk beristirahat, dan sudah kesekian kalinya juga Levy menolak. Levy masih penasaran dengan keadaan desa aneh itu pada siang hari.
Aneh, desanya ramai penduduk, sangat berbeda dengan yang Levy lihat tadi malam. Zero pun pergi untuk mencari kepala desa, menanyakan rincian misi yang akan mereka lakukan.
Ternyata, misi mereka adalah mencari alasan mengapa sungai, sumber air penduduk desa, menjadi kering. Mereka pun menjadi heran, mengapa kepala desa itu, melakukan permohonan ke tempat yang sangat jauh hanya untuk memeriksa sumber air. Namun, mereka mengesampingkan pertanyaan itu dan langsung menyusuri sungai.
Cukup lama mereka menyusuri sungai, akhirnya, mereka sampai di luar gua yang merupakan asal sungai itu. Tanpa berpikir panjang, mereka memasuki gua yang gulita itu hanya dengan sebuah obor sebagai penerang.
Terdengar suara desiran air, mereka pun mempercepat langkah menuju asal suara tersebut. Terlihat sebuah balok es yang sangat besar menutup aliran sungai. Sebagian gua juga nampak tertutupi oleh lapisan es. Levy segera menghentikan langkahnya, dengan tangan yang bersiap untuk mengeluarkan pedangnya.
"Berhati-hatilah, sepertinya mereka ada disini," ucap Levy sambil melihat ke sekeliling gua.
Melihat Levy yang sangat siaga, membuat yang lainnya juga bersiap kalau-kalau ada bahaya yang datang. Begitu pun dengan para makhluk suci milik Levy, Blue menjaga Zero, Pega menjaga Loki, Pynix menjaga Magma, sedangkan Salamander, ia menjaga Elzel.
"Owner, dia ... dia ada tepat di depan sana," ucap Pynix.
"Siapa dia yang kau maksud?" Tanya Loki.
"Pemilik aura mengerikan semalam," jawab Elzel.
Mereka semakin dilema untuk memasuki gua semakin jauh. Mereka harus menyelesaikan misi, tapi mereka juga tidak mau berhadapan dengan kelompok mengerikan itu.
Setelah memantapkan hati dan mental, mereka melanjutkan perjalanan. Benar saja, para Ksatria itu ada di dalam gua. Wanita es itu sedang berusaha membekukan aliran sungai.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Levy membuat para Ksatria itu menoleh padanya.
Kau menggali kuburan untuk kita, Levy. Batin Magma.
"Kau masih hidup rupanya," kata pria yang memiliki ekor.
"Jangan membuatku, mengulangi pertanyaanku," kesal Levy.
Wanita es itu menghentikan kegiatannya, ia berbalik menatap Levy. Sedetik kemudian, ia menerjang Levy dengan berbagai serangannya.
"Levy!!" Teriak Elzel.
Mendengar nama itu, wanita es semakin melancarkan serangannya secara brutal. Pertarungan mereka sangat imbang, tanpa adanya penggunaan sihir. Rekan dari wanita itu hanya menonton, beda halnya dengan teman-teman Levy. Mereka mulai mengeluarkan semua senjata mereka, namun pergerakan mereka untuk menolong Levy dihentikan oleh pria yang memiliki ekor.
Tanpa disadari mereka, pria itu telah membuat garis menggunakan kekuatannya.
"Langkahi garis itu dan kalian akan mati," ucap pria itu.
Kalau bukan karena makhluk suci milik Levy, mereka pasti sudah melewati garis itu apa pun yang terjadi.
Pertarungan Levy dan wanita es masih berlanjut. Berbagai goresan menghiasi tubuh mereka, namun tidak ada luka serius. Hanya ada satu hal yang membuat para penonton itu heran, yaitu pergerakan Levy dan wanita es, sama persis. Cara bertahan, menangkis, bahkan pola serangan mereka tak memiliki perbedaan.
Merasa pertarungan itu tidak ada artinya, Zero memasang kuda-kuda selagi pria yang memiliki ekor mengalihkan pandangannya. Ia melakukan teleportasi, menghampiri Levy. Hanya dengan dua jari, ia bisa menghentikan pedang milik wanita es itu. Sama halnya dengan Levy, namun yang menghentikan pedang Levy bukanlah Zero. Melainkan rekan dari wanita es itu.
"Levy, lukamu belum sembuh. Jangan membuat dirimu menjadi beban," ucap Zero.
Levy memasukkan kembali pedangnya, menuruti perkataan Zero. Menjadi beban sangatlah memalukan bagi Levy.
"Menyingkirlah, Jin," kata wanita es itu.
"Sudah cukup, kalian hanya membuang-buang tenaga," ucap pria itu.
Wanita es berdecak kesal, lalu menghilangkan pedang esnya.
Ziing
"Cepat juga responmu," kata pria yang memiliki ekor, ia tiba-tiba saja melancarkan serangan pada Zero.
__ADS_1
Untung saja Zero langsung mengangkat pedangnya untuk menahan kuku dari pria yang memiliki ekor itu.
Bughh
Pria yang memiliki ekor itu terlempar jauh, bukan ulah Zero. Melainkan Levy yang menendangnya. Dalam hati, Levy bersorak bahagia telah menendang jauh pria itu. Ia seperti balas dendam akibat rasa takutnya semalam.
"Tendangan yang bagus, nona," kata rekan wanita es yang lain, sambil bertepuk tangan.
"Wanita sialan!!" Umpat pria yang memiliki ekor.
"Apa itu pujian? Oh, terima kasih," balas Levy.
Plakk
Zero menjitak kepala Levy, "Darimana kau belajar itu?"
"Entahlah, aku tidak ingat,"
"Groaaaarr ...." seisi gua bergetar karena raungan itu. Semua orang langsung memasuki mode siaga lagi.
"Apa itu?" Tanya Loki.
Hening, mereka hanya saling tatap. Sedetik kemudian, Levy berjalan mencari asal suara itu. Di ikuti oleh ke-empat temannya.
Bzzttt
Tubuh Levy terpental jauh kebelakang, tanda kutukan timbul lagi. Artinya, ada aura yang sangat besar menghalangi jalan. Ia mengambil jubahnya dari tas yang di bawa oleh Loki, memakainnya guna menutupi tanda itu. Sebelum melanjutkan perjalanan, ia merilekskan tubuhnya, menutup jalan keluar bagi aura sihirnya sendiri.
"Masih disini? Apa kalian takut?"
Mereka tak mau menjawab pertanyaan yang hanya akan berakhir dengan perdebatan, merasa Levy telah menyelesaikan kegiatannya, mereka pun pergi.
"Sembunyi," kata Levy, sontak mereka langsung bersembunyi di belakang bebatuan yang besar.
"Manticore," sahut wanita es.
"Mengapa makhluk sepertinya ada disini?" Kaget Magma.
Manticore adalah makhluk mitos bertubuh besar yang diselimuti oleh rambut, layaknya singa, namun ia memiliki wajah seperti manusia. Senjata mematikan manticore adalah, ia memiliki ekor kalajengking yang sangat beracun.
Manticore menceburkan dirinya di sungai, sedang membersihkan tubuhnya. Lalu, ia naik kembali untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Kalahkan dia," ucap pria yang memiliki ekor.
"Manticore tidak memiliki kelemahan," sahut Levy dengan pandangan yang tak lepas dari Manticore.
"Darimana kau tahu?" Tanya Zero.
"Entahlah." Levy mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang.
"Apa kau yakin, Levy?" Tanya Elzel yang dibalas anggukan oleh Levy.
Zero mulai memberi mereka arahan, Elzel akan tetap bersembunyi sekaligus melindungi mereka. Loki adalah penyihir angin, jadi ia akan bertarung sekaligus memberi jalan untuk Levy dan Zero. Magma pengguna Magi, posisinya sama seperti Loki. Sedangkan Levy dan Zero akan bertarung di garis depan.
Levy dan Zero perlahan mendekati Manticore.
"Bangunlah!!" Teriak pria yang memiliki ekor.
Sontak mata Manticore pun terbuka lebar, ia langsung berdiri menghadap Levy dan Zero. Ekornya terangkat, bersiap untuk menyerang Levy dan Zero.
Levy dan Zero pun berlari kesana-kemari guna mengecoh Manticore, namun karena level mereka berbeda, Manticore tidak terkecoh sedikitpun. Manticore mengejar Levy dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Diangkatnya cakar miliknya guna melukai Levy, untung saja sebuah dinding air yang telah berubah menjadi es siap melindunginya. Itu adalah sihir milik Elzel dan wanita es.
__ADS_1
"Sihir hitam : spear of darkness"
Zero menyerang Manticore dari belakang, serangannya mengenai punggung Manticore, namun serangan itu hanya memberi luka goresan saja.
"Zero, awas!!" Teriak Magma kala melihat Manticore menembakkan duri-duri beracun kearah Zero.
"Sihir angin : Wind blade"
"Wind Slash"
Kekuatan milik Loki dan Pega membuat serangan Manticore kembali pada pemiliknya.
"Sihir es : Ice Prison"
Wanita es mengurung Manticore, namun kurungannya tak bertahan lama. Hanya dengan satu kali serangan, kurungan itu telah hancur. Terlihat jelas bahwa cakar Manticore sangat berbahaya.
"Kalian sangat lemah," cibir Pria yang memiliki ekor.
Mendengar hal itu, tentu saja mereka sangat geram dan ingin menghantam pria itu, untung saja mereka sedang melawan Manticore.
"Kalau kau kuat, cobalah kalahkan dia dengan satu serangan saja!" Kesal Magma.
"Aku bisa saja melakukannya, tapi kalian tidak akan mendapat pengalaman bertarung dong," balas pria itu.
"Terbukalah gerbang kalajengking : Scorpio"
Pria yang memiliki rambut putih memanggil bintang Zodiak, membuat Magma sangat kagum.
"Yeey ... akhirnya kau memanggilku, Irwin." Scorpio, memiliki wujud seperti pria dengan ekor kalajengking.
"Serang dia," perintah pria yang dipanggil Irwin.
"Killer Sand"
Dari ekornya, Scorpio menembakkan pasir yang kuat bahkan sebutir pasirnya dapat menghancurkan batu. Manticore terlempar kebelakang saat terkena serangan itu. Lalu, ia berdiri lagi, melesat dengan cepat kearah Irwin.
"Groaaaar ...."
Tak sempat menghindar, akhirnya Irwin terkena cakaran di tangannya dan terlempar jauh kebelakang. Tak sampai disitu, Manticore seakan hanya melihat Irwin, ia pun kembali melesat kearah Irwin.
Ziingg
Decitan antara cakar dan pedang pun terdengar, Dengan sekuat tenaga Levy dan Zero menahan serangan Manticore. Mereka lalu menghempaskan Manticore.
"Menyedihkan," ucap Levy saat melirik Irwin.
Irwin sangat tidak suka dirinya direndahkan seperti itu, terlebih orang itu adalah seorang wanita.
"Engkau yang menguasai tanah, datanglah, Wahai Golem tanah"
"Hebat," kagum Magma.
Memanggil Golem tidaklah mudah, membutuhkan Magi yang sangat banyak. Diawal, Irwin sudah memanggil salah satu dari 12 bintang Zodiak, sekarang dia bahkan memanggil makhluk mitos. Terlihat jelas betapa besar dan kuatnya kekuatan Magi Irwin.
Melihat itu, Magma tak ingin kalah, ia pun berkonsentrasi dan memulai pemanggilan. "Aku memanggilmu, Wahai simbol masa lalu, masa kini, dan masa depan. Datanglah, Cerberus"
Cerberus, anjing penjaga berkepala tiga yang sangat ganas. Ia adalah makhluk mitologi yunani, yang dikhususkan untuk menjaga gerbang Dunia bawah atau lebih tepatnya Dunia orang yang telah mati. Untuk membuat kontrak dengan Cerberus membutuhkan waktu dan usaha yang sangat lama. Kontrak dengan Cerberus harus dilakukan dialam bawah sadar Pengguna Magi, jiwa mereka harus masuk ke Dunia bawah dan mengalahkan Cerberus atau bisa juga hanya dengan berbincang dan mereka telah sepakat.
"Hmph ... aku sangat kagum dengan diriku sendiri, memanggil makhluk mitologi, membuatku terlihat keren," gumam Magma sambil menyeka keringat di dagunya.
Dari luar, mereka terlihat seperti anak ingusan, tapi kemampuan mereka patut ku acungi jempol. Batin Pria yang memiliki ekor.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita lihat sampai mana batas kalian," gumam pria yang memiliki ekor.
To Be Continue