World Of Animation

World Of Animation
S2. Berhasil


__ADS_3

Di dalam penghalang terlihat seperti medan listrik, lingkaran sihir itu belum juga berhenti berputar. Teriakan demi teriakan terdengar, benturan tangan dan penghalang saling beradu tanpa ada yang mengalah. Keempat orang yang mereka sayangi belum juga memberi pertanda ataupun bergerak. Di saat seperti inilah rasa sakit di dada seakan menusuk-nusuk seluruh tubuh tanpa peringatan.


Keadaan mereka terlalu klasik, dimana mereka akan mengingat semua kenangan masa lalu mereka saat tertawa bersama dan akan berakhir dengan tangis yang menyayat hati bila kenangan itu berakhir dengan menyedihkan. Tidak sampai di situ, mereka juga akan melukai dan menyalahkan dirinya sendiri.


Bertepatan dengan hal itu, penghalang milik Levy perlahan menghilang begitupun dengan lingkaran sihir dan sihir Fuzionează. Keira dan yang lainnya segera berlari menghampiri keempat orang yang terkulai lemah di tanah. Tentu saja, yang pertama mereka hampiri adalah Levy, wanita yang bersimbah darah.


Jin duduk tepat di sebelah Levy yang hanya memandang lurus, diikuti oleh yang lainnya. Terlihat, tanda kutukan di tubuh Levy telah hilang, rupanya juga kembali seperti semula. Manik birunya yang semula bersinar terang, kini sinar itu hilang tergantikan dengan biru yang sangat redup tanpa ada cahaya sedikitpun.


"Kakak, jangan pergi lagi, kumohon," pinta Jin sembari menggenggam satu tangan Levy.


"Jinyoung, kau kah itu?" Tanya Levy dengan suara yang hampir tidak terdengar.


"Apa maksudmu, tentu saja ini aku. Tidakkah kau lihat wajah tampan adikmu ini?" Jin tersenyum hambar, satu tangannya terulur untuk merapikan rambut Levy.


Beda halnya dengan Keira yang melambai-lambai kan tangannya di depan mata Levy, namun tidak ada respon sama sekali. Keira dan Jin saling pandang dengan wajah terkejut.


"L-Levy? Apa kau bisa melihatku?" Tanya Keira.


"Tidak. Ah, sepertinya ini ulah Griffin. Dimana dia?" Balas Levy, padahal Griffin berada tepat di belakang Jin.


"Elzel, apa yang kau lakukan?!! sembuhkan dia, sekarang juga!!!" Teriak Jin.


"Aku tidak apa-apa. Aku tidak merasakan sakit sama sekali." Levy menampilkan senyum lebarnya.


Bukannya Elzel tidak mencobanya, tapi ia tidak bisa. Sebanyak apapun ia kerahkan Mana-nya, luka Levy tidak kunjung sembuh barang sedikitpun, bahkan darah terus keluar dari tubuh Levy.


"Kyllin, Pinky, lakukan sesuatu. Kalau seperti ini, Levy ... Levy, tidak akan selamat!!!" Keira menarik baju Kyllin, memohon dengan penuh kesungguhan.


Tangan Kyllin terkepal kuat, ia langsung menarik Keira ke dalam pelukannya. Ia tidak bisa mengatakan apapun, namun tangannya mengelus lembut punggung Keira yang menangis semakin keras.


"Jinyoung!" Panggil Levy.


"Aku di sini, Kak." Jin mengangkat tubuh Levy kedalam pelukannya.


"Maaf, sepertinya kau harus kembali sendirian. Maaf, aku tidak bisa menemanimu pulang. Maaf, selama ini kau pasti kesulitan karena mempunyai kakak sepertiku."


"Apa yang kau katakan?!! Kau harus kembali bersamaku ... karena itu, bertahanlah, Kak!!!"


"Choi Jina ... telah tiada." Penuturan itu berhasil membuat Jin menarik Levy dari pelukannya, ia menatap Levy tidak percaya.

__ADS_1


"Apa ... apa maksudmu? Itu bohong ..., kan? Tidak ... itu tidak mungkin terjadi." Jin menggelengkan kepalanya, tidak mau percaya dengan ucapan Levy.


"Tidak bisakah kau tinggal di sini saja? Aku tidak bisa menjagamu di sana," Pinta Levy dengan bulir air mata yang mulai jatuh.


"Terserah kau saja. Di manapun itu, asal ada kau, aku akan tinggal ..., jadi, hiduplah!"


"Berhentilah, Elzel. Itu hanya menguras Mana-mu." Levy tidak menyetujui ucapan Jin, juga tidak menolaknya.


"Tidak akan. Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk terus berjuang? Maka dari itu, aku tidak akan berhenti," balas Elzel.


"Sebanyak apapun Mana yang kau kerahkan, tidak akan bisa menyembuhkan ku. Di saat seperti ini, kau harus mendengarkan ucapan Magma, jangan semangat, tetaplah putus asa." Levy terkekeh pelan.


Magma yang berdiri hanya menatap sendu pada Levy, sembari berkata, "Itu hanya untuk orang bodoh, Levy."


"Aku lelah, biarkan aku tidur sejenak." Mata Levy perlahan mulai menutup.


"Tidak, jangan! Jangan tutup matamu, Levy!!!" Keira menepuk pelan pipi Levy.


"Aku sangat lelah, Keira."


"Kalau kau menutup matamu, kita tidak akan bertemu lagi!!!" Teriak Jin.


Manusia bodoh mana yang akan percaya dengan ucapan itu. Dilihat sebelah mata saja, kondisi Levy sangat tidak memungkinkan kalau ia mengatakan hanya sekedar tidur. Yah, mungkin ia memang hanya tidur, tapi tidur untuk selamanya dalam ketenangan.


"Jangan pergi ... aku menyayangimu, Levy," cicit Keira sembari menggenggam tangan Levy.


"Aku menyayangimu! Sangat menyayangimu!!" Teriak Jin yang sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya.


"Kami menyayangimu, Levy!!!" Teriak mereka semua bersamaan, kecuali Pinky yang hanya menatap Levy dengan tenang, air mata pun tidak ada.


"Tapi ..., aku ... tidak," kekeh Levy sebelum menutup matanya.


Mereka menangis meraung-raung, mereka sangat terpukul dengan kepergian Levy, cahaya mereka ikut sirna bersamaan dengan tertutupnya mata Levy. Dunia bawah itu kini dipenuhi oleh suara tangis dan perasaan yang bagai tersayat belati terasa begitu perih. Berhasil tidaknya mereka, itu tidak penting.


"Sampai akhir pun, kau tidak mau jujur, Levy," gumam Irwin.


Jin memeluk sangat erat tubuh mungil Levy, ia sudah kehilangan wanita itu untuk kesekian kalinya, "Kakak, setelah kau pergi meninggalkanku kesini, aku ... walaupun, aku bukanlah adik yang baik untukmu, tapi aku tetap menyayangimu. Sehari pun, aku tidak pernah melupakan suaramu yang memanggilku dengan penuh kelembutan!" Racau Jin.


Pinky berjalan melewati mereka yang masih berduka, ia menyeret ketiga orang yang juga tidak sadarkan diri itu. Ia menengok kesana-kemari, "Ah, sepertinya kontrak Levy sudah hancur," ucapnya saat tidak mendapati keberadaan Manticore, Blue, dan Pynix.

__ADS_1


"Kau, kemarilah!" Panggil Pinky pada Griffin.


Setelah Griffin menghampirinya, Pinky langsung menaruh Zero dan yang lainnya di atas tubuh Griffin. Ia lalu berdiri tegap dihadapan Keira dan yang lainnya sembari bertolak pinggang.


"Jangan berlebihan. Sampai air mata kalian menjadi sungai juga, belum tentu dia akan bangun," ucap Pinky.


"Diam kau! Berlebihan katamu?! Levy telah pergi dan kau malah berkata seperti itu?!!" Geram Kyllin.


"Apa yang kukatakan itu benar adanya. Apapun yang kalian ucapkan dan sekeras apapun itu tidak akan mengubahnya. Dia sedang tidur,"


"Apa itu ucapan yang pantas untuk pemilik mu, hah?!" Kesal Magma, tangannya terkepal sangat kuat hingga meneteskan darah.


"Rendahan, tidak punya hati," cibir Irwin.


"Tutup mulutmu! Kau tidak tahu apapun tentang Levy!!!" Teriak Keira.


"Aku sudah cukup mengenalnya selama dua tahu terakhir ini, bocah," kesal Pinky.


"Diamlah!!! Apa sekarang saat yang tepat untuk berdebat, sialan?! Dia ... kakak ku sedang mencari ketenangan," sahut Jin.


"Hei, bocah. Dia tidak akan bangun meskipun ada gunung yang meledak, jangan berlebihan. Dia akan-"


"Aku tahu itu! Kami semua tahu dia tidak akan bangun!" Potong Jin.


"Tidak, kalian tidak tahu," balas Pinky sembari mengurut keningnya.


"Sudahlah, Pinky!" Kyllin menatap Pinky dengan sangat tajam.


Hal itu membuat Pinky sangat kesal, "Dia hanya tidur!!! Sekeras apapun kalian bersuara, dia tidak akan bangun!!! Seperti itulah Levy kalau sedang tidur!!!" Teriak Pinky dengan sangat keras, sampai-sampai pita suaranya hampir putus.


Tangis mereka langsung berhenti, menatap Pinky dengan penuh tanya.


"Apa maksudmu?" Tanya Elzel.


"Dia ...." Pinky menunjuk Levy, lalu menyatukan kedua telapak tangannya dan menaruhnya di pipi sebelah kanan, "tidur, kalian tahu? Menutup mata untuk istirahat, tidur, tidur! Dia juga mengatakan kalau dia hanya tidur!!" Menjelaskan kepada mereka sangat menguras tenaga Pinky.


"Hah? Apa?!!!" Kaget mereka semua tanpa terkecuali.


TBC

__ADS_1


__ADS_2