
Terlihat seorang pria memasuki Guild, perasaan kesal dan khawatir tercampur. Bahkan, caranya membuka pintu saja sangat kasar, seperti mendobraknya.
"Kak Meldy!!" Teriak pria itu sambil mencari orang yang dipanggilnya.
"Ada apa, Zero?" Tanya Meldy.
"Apa kau melihat Levy? Setelah pesta, aku tidak lagi melihatnya," kata Zero.
Meldy diam sejenak, mencoba untuk mengingat, "Ahh ... kemarin pagi, dia mengambil beberapa misi. Ku kira dia bersama kalian," kata Meldy.
"Kenapa dia belum kembali?" Tanya Elzel.
Meldy mengambil buku, ia membolak-balikkan beberapa lembar, hingga akhirnya ia berhenti.
"Emm ... 3 misi lainnya cukup mudah, hanya Rank B. Ah ... misi terakhir yang dia ambil adalah Rank A. Tempatnya di kerajaan tetangga ...." Setelah mengatakan itu, Meldy merobek sedikit kertas, lalu menuliskan sesuatu disana.
" ... alamatnya sudah ku tulis disini. Kalian akan menyusulnya, kan?" Tanya Meldy sambil tersenyum.
"Tentu saja," balas Loki.
Mereka pun segera menyiapkan barang bawaan masing-masing. Setelah siap, Zero dan Loki langsung membuat lingkaran sihir yang besar. Itu lingkaran teleportasi. Mereka menginjak tepat di tengah lingkaran itu. Setelah merapalkan mantra, lingkaran itu bersinar, dan berpindah tempat.
"Wah, apa ini kerajaan Claude? Tempatnya sangat indah." kagum Elzel sambil menutup mulutnya.
"Fokuslah, Elzel. Kita kesini untuk membawa pulang Levy," ucap Zero.
Dengan pengalaman Zero, mereka pun menuju alamat yang di berikan oleh Meldy. Walaupun, terkadang mereka harus bertanya pada beberapa pemilik toko. Akhirnya, mereka sampai di tempat Levy menjalankan misi. Cukup lama mereka mengitari tempat itu, tapi batang hidung Levy tidak terlihat sedikit pun. Kekhawatiran semakin besar. Mereka bertanya pada pemilik tempat tersebut, namun belum ada seseorang yang menjalankan misi. Yang artinya, Levy belum sampai ke tempat tujuannya.
Mereka akhirnya memilih untuk beristirahat dulu. Namun, pikiran mereka masih menerka-nerka, dimana keberadaan Levy sekarang. Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kalau dia terluka.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Elzel, memecah keheningan diantara mereka.
Ketiga pemuda itu menunduk, tak tahu apa yang harus dilakukan.
"Sebenarnya, mengapa Levy mengambil misi sendirian?" Tanya Magma.
Elzel mengangguk, "walaupun tidak bersama Zero, dia akan mengajakku," kata Elzel.
Loki terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi ia ragu.
"Ada apa denganmu?" Tanya Zero yang melihat gelagat aneh Loki.
Loki menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya, "Hari itu, saat pesta, aku yang mengantarnya pulang ke asrama," ucap Loki.
"Bukan itu yang ingin kau katakan, kan?" ucap Zero.
"Katakan yang sebenarnya, Loki," tambah Magma.
"Dia menangis. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku melihatnya menangis ...." Loki menyeruput jus yang ada di depannya.
"Aku juga belum sempat mendengar ceritanya, dia sudah tertidur," tandas Loki.
"Apa, Levy sedang ada masalah? Sangat jarang baginya untuk menangis," kata Elzel.
"Sepertinya, kalian lupa. Kita tidak tahu apa-apa tentang Levy," ucap Loki, wajahnya terlihat sangat serius.
***
__ADS_1
"Hei, periku, kapan kau akan bangun?" Jin mencolek-colek pipi seorang wanita yang ia panggil peri. Siapa lagi, kalau bukan Levy.
"Enghhh ... sudah pagi ternyata." Levy meregangkan tubuhnya, lalu menguap sangat lebar.
Jin tersenyum, "matahari sudah berada diatas kepala, Levy. Kau tidur seperti orang mati. harusnya kau menghentikan kebiasaanmu itu," ucap Jin sambil menarik hidung Levy.
"Oh, ya? Kalau begitu, bawakan aku baju ganti. Aku mau mandi dulu." Levy berjalan sempoyongan kearah kamar mandi yang tak jauh dari tempat tidur.
Jin hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan wanita itu, lalu ia pergi untuk mencari bajunya yang bisa dipakai Levy.
Tak memakan waktu lama, Levy sudah berteriak memanggil nama Jin dari kamar mandi. Meminta pakaian ganti. Dengan sabar, Jin menuruti perintah Levy.
Begitu keluar dari kamar mandi, Levy terlihat seperti pria yang memiliki wajah cantik. Jin bertepuk tangan, mengagumi Levy.
"Cukup sudah tepuk tangannya. Bagaimana kalau kau memberiku alasan, mengapa kau membawaku kemari?" Levy duduk di tepi kasur, dengan tangan yang terlipat di depan dada.
Jin berdiri di hadapan Levy, "Keluarlah, dari Guild itu dan tinggal bersamaku," ucap Jin.
"Ku kira, kau hanya gila. Ternyata, kau sangat, sangat gila," balas Levy.
Jin malah menyunggingkan senyum hangatnya, ia menatap Levy dengan aneh, "Kau tahu, kan. Aku sangat menyayangimu," ucap Jin tiba-tiba.
"Tidak, aku tidak tahu, dan tidak mau tahu." Levy memalingkan wajahnya.
"Sekarang, kau sudah tahu,"
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau melepaskanku sekarang?"
Jin bergeming. Ia langsung memegang tangan Levy dan melakukan teleportasi. Kedua insan itu berada di jalanan yang penuh dengan penjual makanan. Jin menarik tangan Levy kesana-kemari hanya untuk membuat Levy merasakan semua makanan yang ada. Merasa tidak dirugikan, Levy pun hanya mengekorinya.
Selagi berjalan-jalan, tiba-tiba, Jin berhenti, lalu menoleh kearah Levy, "Apa aku boleh bersikap seperti anak kecil?" Tanya Jin.
Jin pun tersenyum, lalu kembali melanjutkan perjalanannya.
"Kalau begitu, aku menganggap kita sedang kencan," ujar Jin.
Levy terkejut, ia menghentikan langkahnya, "Ke-kencan?! Apa kau gila?"
"Kau yang bilang aku boleh bersikap semauku. Ya sudah, aku menganggap hari ini adalah kencan pertama kita." Jin mengedikkan bahunya enteng.
Levy menghela napas, "Terserah kau, tapi tidak ada untuk yang kedua kalinya," balas Levy.
"Aku tidak janji," ucap Jin.
Dasar gila. Batin Levy.
Jin mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang bagus untuk beristirahat. Hingga pandangannya terkunci pada sebuah toko kue. Toko itu memiliki tempat duduk di dalam dan di luar. Jin lebih memilih untuk duduk diluar. Ia pun membawa Levy kesitu, dengan tangan yang terus menggenggam erat tangan kecil milik Levy. Jin sangat suka menggenggamnya, menurutnya tangan itu sangat pas dengan tangannya yang besar.
Baru saja hendak duduk, sebuah suara mengintrupsi kegiatan mereka.
"Levy?!!"
Mendengar namanya disebut, Levy menoleh mencari asal suara tersebut. Itu Magma dan di belakangnya ada Zero, Elzel, dan Loki.
"Oh, hai!" Bukan Levy, melainkan Jin yang menyapa.
"Kau ... kau rekan si wanita es itu, kan?" Elzel menunjuk Jin.
__ADS_1
"Kau benar. Apa kabar?" Balas Jin.
"Cukup sudah, omong kosongmu. Apa yang kau lakukan bersama Levy?" Geram Zero.
Jin tersenyum lebar, "Tentu saja, kencan." Jin mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Levy.
Melihat itu, mereka semua terkejut. Sedangkan Levy, ia menghela napas lagi, entah apa yang harus ia katakan pada rekan-rekannya itu.
"Stt ... jangan bertanya, ataupun berpikiran aneh. Aku akan menjelaskannya nanti," potong Levy kala melihat Loki ingin mengatakan sesuatu.
Jin terlihat sangat senang, ia bahkan menampilkan senyum kemenangan pada Zero. Berniat untuk memprovokasinya.
Walaupun Levy terlihat biasa saja, namun dalam hatinya, ia masih merasakan sakit kala melihat Zero. Tidak mungkin, ia bisa melupakan perasaannya pada Zero semudah itu. Dan lagi, melupakan seseorang yang selalu ada untuk dirinya, sama saja dengan ia harus mengenal seseorang yang belum pernah ditemuinya.
Jin mengajak mereka untuk duduk bersama. Jin dan Levy duduk berhadapan dengan Zero, di kanan dan kiri mereka, ada Elzel, Loki, dan Magma.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Levy berusaha mengusir keheningan.
"Mencarimu, Levy. Kau tidak pulang kemarin. Tentu saja, kami khawatir," balas Elzel.
"Maaf, aku tidak tahu kalian akan mencariku,"
"Tidak apa-apa. Karena mencarimu, aku bisa melihat keindahan di Kerajaan Claude ini." Elzel masih menengok kesana-kemari. Mengagumi segala hal yang ia lihat.
"Sayangnya, Kerajaan ini, tak seindah yang kau bayangkan," sahut Jin.
"Apa maksudmu?" Tanya Elzel.
"Entahlah," balas Jin tersenyum aneh.
Tanpa Levy sadari, dirinya terus ditatap oleh Zero dan Loki. Namun, tatapan kedua pemuda itu memiliki makna yang berbeda.
Levy berdiri dari tempatnya, tindakannya itu langsung mengundang banyak tanya.
"Mau kemana?" Tanya Jin yang tak ingin melepas tangan Levy.
"Ada sesuatu yang ingin ku lihat," balas Levy.
"Akan ku temani," ucap kelima orang itu.
"Loki, ayo pergi!" Ajak Levy.
"Aku bisa menemanimu, Levy," sahut Jin.
"Apa kau tidak dengar? Dia ingin pergi bersama Loki. Lepaskan tangannya," ucap Zero.
Cup
Jin mencium punggung tangan Levy sambil menatap sinis pada Zero. Dia senang bisa melakukan itu. Dan, hal itu berhasil memancing amarah Zero.
"Apa kau mesum?" Cibir Zero.
"Apa aku mencium tanganmu? Mengapa kau yang marah?" Balas Jin.
Sebelum Zero sempat membalas perkataan Jin, Levy terlebih dahulu menghentikan mereka.
"Buang saja mulut kalian, kalau yang keluar hanya sampah." Setelah mengatakan itu, Levy pun menarik Loki pergi.
__ADS_1
"Wah ... perkataan Levy sangat menusuk," ujar Magma tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
TBC