
"Levy, apa kau sudah mengambil tanaman herbal untukku?!!" Teriak Elzel dari dapur.
"Sudah, tapi Zero mengambilnya!!" Teriak Levy dari halaman depan.
"Aku menaruhnya di meja!!" Teriak Zero yang sedang memotong kayu.
Levy sudah tinggal bersama mereka selama kurang lebih 1 bulan, dan ia sudah menganggap mereka keluarga. Begitupun dengan Elzel dan Zero yang menganggap Levy sebagai keluarga mereka.
"Masuklah, makanan sudah siap!!" Teriak Elzel.
Untung saja mereka tinggal di hutan, jadi tidak ada tetangga yang selalu memarahi mereka karena hampir setiap saat mereka berteriak. Ah, mungkin ada, para hewan yang berada di hutan.
"Zero, mari kita tinggal di kota," ucap Elzel di sela-sela makannya.
"Aku ingin ke kota, aku ingin melihat kota," kata Levy dengan girang.
Zero nampak berpikir sejenak, "Tapi, bagaimana kita akan hidup? Uang kita tidak banyak, Elzel."
"Guild, kita harus bergabung di Guild, Zero."
"Guild?" Heran Levy.
"Perkumpulan para penyihir dan pengguna Magi, Levy."
"Tapi, aku netral. Apa aku boleh bergabung?"
"Sepertinya kau penyihir, Levy. Tanda sihir kutukan itu buktinya, sihir kutukan akan aktif saat aura sihirmu bersentuhan dengan aura sihir orang lain," jelas Zero.
"Tapi, aku tidak bisa menggunakan sihir."
"Kau bisa belajar sihir panggilan, aku akan mengajarkanmu."
"Sihir panggilan? Sihir panggilan ...." Levy terlihat memikirkan sesuatu.
"Itu sihir yang bisa di gunakan oleh semua penyihir, kan?" Lanjut Levy.
"Eh? Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau pernah mempelajarinya?" Tanya Elzel.
"Mungkin? Itu hanya terlintas di kepalaku." Balas Levy dengan cengirannya.
Zero menatap Levy dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Baiklah, minggu depan kita akan ke kota, jadi habiskan makanan kalian cepat." Mendengar itu Levy dan Elzel bersorak kegirangan.
"Ah, iya. Selesai makan temui aku di dekat sungai." Levy dan Elzel hanya mengangguk dengan mulut yang penuh.
***
"Menurutmu, apa yang akan kita lakukan disana, Levy?" Tanya Elzel, mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat yang diberitahu Zero.
"Entahlah, mungkin memancing?" Balas Levy.
"Atau mengambil buah?" Tambah Elzel.
Mereka pun sampai di tujuan, terlihat Zero yang sedang mengasah pedangnya.
"Zero, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Levy.
"Aku akan mengajarkan kalian cara bertarung, di kota sangat berbahaya," ucap Zero sambil menghentikan kegiatannya, dan mulai berdiri.
"Apa di kota banyak hewan buas?" Tanya Elzel.
"Hewab buas tidak seberapa, yang paling mengerikan adalah manusia. Mereka terlihat baik, namun pada akhirnya mereka yang akan melukai kita, ingat itu."
"Bagaimana aku akan bertarung?" Levy menunjuk dirinya sendiri.
Zero langsung melemparkan pedang yang tadi di asahnya pada Levy, "Pakai itu. Elzel adalah penyihir air, jadi sebaiknya dia yang bertugas melindungi kit-."
"Bagaimana kalau ada musuh yang menyerangku?" Potong Elzel.
"Jangan memotong ucapanku, Elzel. Aku akan tetap mengajarimu sihir untuk menyerang."
"Wah, disaat seperti ini, Zero terlihat keren." Kagum Levy.
__ADS_1
"Iya, aku setuju. Dia seperti pria sejati." Tambah Elzel.
Lalu, disaat biasa aku seperti apa? Batin Zero.
"Mari kita mulai ...." Zero mulai mengatur mereka, menempatkan Elzel dibelakang Levy yang memegang pedang. Tanpa mengajarkan cara berpedang pada Levy, Zero sudah mulai menghujani Levy dengan serangannya.
"Zero, kau belum mengajariku," ucap Levy sambil menangkis serangan Zero.
Dia menangkis seranganku dengan sangat lincah, siapa sebenarnya kau, Levy? Batin Zero.
"Sihir air : Water Shield."
"Kerja bagus, Elzel." Puji Zero saat serangannya dihentikan oleh perisai air milik Elzel.
"Terima ini, Levy!" Seru Zero sambil menembakkan sebuah pedang berwarna hitam yang terbuat dari sihirnya.
"Sihir hitam : Dark Sword."
Secara tidak sadar, Levy menghindar dengan sangat cepat, lalu segera berlari kearah Zero. Menghujani Zero dengan serangannya, hingga Zero kesulitan untuk menahan semua serangan Levy. Dari belakang, Elzel sangat kagum melihat teknik bertarung Levy, ia tidak menyangka Levy memiliki kemampuan berpedang yang sangat hebat.
Ziiiing
Pedang Levy dan Zero saling bertemu, tidak ada dari mereka yang ingin mengalah. Akhirnya, Levy memasang kuda-kudanya, kemudian menarik pedangnya. Ia menendang perut Zero dengan keras, hingga Zero terdorong kebelakang. Tidak tinggal diam, Levy kembali menyerang Zero tanpa ampun.
Kini, tubuh Zero mengeluarkan aura sihir berwarna hitam, pertanda ia bersungguh-sungguh.
"Sihir hitam : Dark Sword."
Pedang Zero bertambah satu, keadaan berbalik lagi, kini Levy yang terpojok. Untung saja, Elzel masih setia memberikan perlindungan untuk Levy, kalau tidak, mungkin tubuh Levy akan penuh dengan luka.
"Sihir hitam : Explossion."
Duaarr
Levy terkena ledakan yang di keluarkan Zero dari pedang hitamnya, ia terpental kebelakang hingga punggungnya membentur pohon.
"Zero, kau curang!!" Teriak Levy, merasa pertarungan mereka berat sebelah.
"Iya, Zero curang. Kau bukan lagi pria sejati!" Tambah Elzel.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Zero sambil mengulurkan tangannya.
"Setelah apa yang kau lakukan, kau masih bertanya?" Kesal Levy.
Bugh ... bughh ....
Elzel ikut merasa kesal, ia melayangkan tinjunya pada Zero. Zero hanya bisa terkekeh.
"Levy, tadi kau sangat hebat. Kau hampir menyamai Zero." Elzel memberikan dua jempol pada Levy.
"Tubuhku bergerak sendiri, tadi," ucap Levy.
"Siapa sebenarnya kau, Levy?" Tanya Zero.
Levy menatap malas kearah Zero, "Kalau aku tahu siapa diriku, mana mungkin aku akan tinggal bersama kalian. Sudah pasti aku akan pulang."
"Benar juga, tapi bisa saja kau hanya tidak ingin pulang, karena terpikat dengan wajah tampanku." Zero menaik-turunkan elisnya, menggoda Levy.
Levy dan Ezel berlagak seperti ingin muntah.
"Kau terlalu narsis, Zero," ucap Elzel.
"Hei, aku mengatakan fakta. Lihatlah betapa kerennya diriku." Zero mulai menunjukkan beberapa gaya yang membuatnya nampak keren.
"Levy lebih keren daripada dirimu, tuan narsis. Dia memojokkanmu tanpa menggunakan sihir," ucap Elzel.
"Sulit bagiku untuk mengatakan ini, tapi Levy memang sangat hebat," ujar Zero.
"Sudah ku duga, dulu, aku adalah orang yang sangat kuat." Sombong Levy.
"Atau, bisa jadi, kau adalah orang jahat," celetuk Zero.
Levy terdiam, kemudian menatap Zero dengan mata yang berkaca-kaca, "Bagaimana kalau aku adalah orang jahat?" Tanya Levy.
__ADS_1
Plaakk
Elzel memukul punggung Zero, "Itu tidak mungkin, Levy. Orang bodoh ini hanya mengatakan hal aneh, jangan mempercayainya." Elzel menarik tangan Levy, membawanya untuk melihat air sungai.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Levy.
"Memancing ikan." Elzel mengangkat kedua tangannya di depan dada, air dari sungai itu terangkat, entah bagaimana caranya, tapi Elzel mendapat banyak ikan di air yang ia angkat. Air yang terbentuk bundar itu ia pindahkan, lalu ia tumpahkan tepat di atas kepala Zero. Akhirnya, Zero basah kuyup.
"Apa ini hukuman untukku?" Tanya Zero dengan mata yang memicing.
Sedangkan di depannya, Levy dan Elzel hanya menertawainya.
"Wah, pangeran ikan marah," ucap Levy sambil tertawa.
"Ah, kalian menyebalkan, aku malas berteman dengan kalian." Zero melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Levy dan Elzel.
"Sejak kapan kita berteman?" Tanya Elzel.
"Aku hanya berteman denganmu, Elzel. Lalu, siapa yang Zero maksud?" Tambah Levy.
"Aku mendengar kalian!!! Aku tidak memiliki teman!!! Yang bukan temanku tidak boleh memakan hasil buruanku!!!" Teriak Zero dari jauh.
Terlihat jelas Zero sangat kesal, inilah yang membuat Levy dan Elzel sangat suka menjahili Zero.
***
Malam pun tiba, rembulan dan bintang-bintang menghiasi bumantara yang gulita. Tinggal di tengah hutan sangat indah, namun juga menyeramkan. Sejauh mata memandang, hanya pepohonan yang terlihat, rumah kayu yang mereka tinggali hanya di terangi oleh alat sihir yang berbentuk obor.
Setiap malam, Levy selalu keluar untuk mencari angin dan memandangi bumantara yang luas. Entah apa yang di pikirkannya, tapi ia selalu melihat siluet biru di sebelahnya saat ia berada di luar. Mungkin, itu hanyalah potongan masa lalu Levy yang belum bisa ia kumpulkan menjadi satu.
Ia melepas kedua kalung yang selalu di pakainya, menatap lekat-lekat ukiran nama di kalung itu.
"Mengapa perasaanku sedih saat melihat kalung ini?" Tanya Levy pada dirinya sendiri.
'Atau, bisa jadi, kau adalah orang jahat,'
Tiba-tiba ucapan Zero terlintas di pikirannya, "Mungkinkah pemilik kalung ini terluka karena aku?"
Hampir setiap saat Levy selalu bertanya-tanya siapa dirinya? Apa yang terjadi padanya? Mengapa ia hilang ingatan? Mengapa ia tidak mengenali dunia ini? Dan banyak lagi. Tapi tidak satupun dari pertanyaan itu terjawab.
Levy juga sudah berusaha keras untuk mengingat siapa dirinya, bahkan ia pernah membenturkan kepalanya agar ingatannya kembali. Tapi, semua usaha yang ia lakukan tidak menghasilkan apapun. Entah itu jawaban, ataupun beberapa ingatan masa lalu.
"Apa yang kau lakukan, Levy?" Tanya seseorang dari belakang.
"Mencari jawaban, mungkin?" Balas Levy tanpa melihat lawan bicaranya.
"Jangan menganggap serius perkataanku siang tadi, Levy. Manusia sepertimu tidak mungkin seorang penjahat." Zero mendudukan dirinya di sebelah Levy.
"Bagaimana kalau itu benar adanya, Zero? Jauh di lubuk hatiku, aku selalu bertanya, apa aku pantas untuk hidup? Mengapa hatiku sangat gelisah? Aku seperti takut akan sesuatu, Zero." Levy menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.
Zero mengulurkan tangannya untuk mengelus surai lembut milik Levy, "Kami akan membantumu mencari jawaban dari semua pertanyaanmu, Levy. Tenanglah, jangan berpikiran negatif dulu."
"Hei, apa yang kalian lakukan?!!" Teriak seseorang dari belakang, siapa lagi kalau bukan Elzel.
Levy dan Zero berdiri, melangkahkan kaki untuk masuk kembali ke rumah.
"Anak kecil tidak boleh ikut campur. Ini urusan orang dewasa," ucap Zero menepuk kepala Elzel, lalu meninggalkannya.
"Umurku sudah 12 tahun, aku hanya beda 4 tahun dengan Levy!!" Seru Elzel, tidak terima dengan perlakuan Zero.
"Umur kedewasaan adalah 18 tahun, Elzel. Itu artinya kau masih kecil," sahut Levy.
"Kau juga masih kecil, tuh." Elzel memanyunkan bibirnya.
"Tidak, aku jauh lebih tua darim-" ucap Levy yang terpotong karena mengingat sesuatu.
'Yah ... walaupun, aku memang yang lebih tua sih.'
Levy teringat sesuatu, tapi hanya ingatan yang tidak jelas. Dan, hal itu membuat kepalanya sakit. Levy memegangi kepalanya, hidungnya mulai mengeluarkan darah.
"Levy, kau kenapa?" Tanya Elzel khawatir.
Levy segera menghapus jejak darah yang keluar, "Aku hanya lelah, aku harus istirahat sekarang." Levy berlalu pergi meninggalkan Elzel.
__ADS_1
TBC