
Baik Kaylia, maupun Irina sangat terluka melihat tangis Levy. Mereka seakan ikut merasakan sakit yang diderita oleh Levy, seperti itulah seorang Ibu. Walaupun anak mereka yang terluka, tapi mereka juga akan ikut terluka. Suka dan duka anak akan dirasakan Ibu, namun suka dan duka seorang Ibu jarang dirasakan oleh anaknya yang hanya merasakan sukacita Ibunya saja, tidak dengan duka itu.
Ibu yang sesungguhnya adalah mereka yang melahirkan kita, juga yang menganggap kita adalah berlian berharga mereka. Kadang, Ibu memang tidak tahu bagaimana rasanya seorang anak yang menangis tanpa suara agar tidak ketahuan, tapi bukan berarti Ibu tidak pernah merasakan hal itu saat beliau juga masih menjadi anak. Bahkan saat menjadi seorang Ibu, mereka juga akan menangis diam-diam memikirkan bagaimana kehidupan anak-anaknya di masa depan nanti.
Banyak anak-anak yang salah paham dengan Ibu mereka, hingga pada akhirnya menyalahkan Ibunya sendiri karena melahirkannya ke dunia. Padahal, Ibu juga tidak bisa memilih makhluk kecil apa yang akan beliau lahirkan. Beliau hanya tahu bagaimana agar mereka terus tersenyum tanpa perlu tahu derita yang dialaminya.
Begitu pula yang dirasakan oleh Kaylia dan Irina, mereka tidak tahu kalau mereka akan hidup seperti ini, terpisah dengan putri yang sangat mereka sayangi. Tidak bisa menghapus air mata, mengobati luka, ataupun merawat bila putri mereka sakit. Mereka hanya bisa melihat tanpa bisa menemani, sungguh penyiksaan yang kejam untuk seorang Ibu.
"Kami tidak bisa datang sesuka hati kami, Levyanna. Alam mimpi ini hanya muncul bila kalian menyadari keberadaan kami. Selama ini, kamu hanya menganggap sampah sebagai Ibumu, sedangkan Keira, ia menganggap orang lain sebagai pengganti kami. Lalu, bagaimana kami akan muncul di mimpi kalian? Hm?" Tutur Kaylia penuh kelembutan.
"Bagaimana bisa aku menyadari keberadaan Ibu, kalau aku saja tidak pernah melihat Ibu? Bahkan, tidak berada di dunia yang sama dengan Ibu?" Levy masih terisak.
"Tenanglah, Levyanna. Ini bukan salahmu, salahkan saja takdir yang membuat kita seperti ini," sahut Irina.
"Itu benar, sayang. Takdir lah yang mempermainkan kita, tapi ...." Kaylia mengangkat dagu Levy, membuat putrinya itu menatapnya, "takdir itu bisa diubah dengan usaha," lanjutnya sembari mencolek hidung Levy.
"Bukan berarti kami bisa hidup," sahut Irina lagi, ia tidak mau Levy mengharapkan sesuatu yang sia-sia.
"Aku tahu itu, Ibu. Jangan menganggap aku bodoh," cemberut Levy.
Namun, panggilan Levy pada Irina sangat membekas di hatinya. Ia sangat senang bisa mendengar panggilan Ibu untuk pertama kalinya, walaupun bukan dari anak kandungnya sendiri.
Kaylia terkekeh, "Tentu saja kamu tidak bodoh. Kalau kamu bodoh, lalu ayahmu itu apa? Gila?" Ucapnya.
Penuturan itu membuat Irina dan Levy tertawa terbahak-bahak, bagaimana bisa seorang istri mengatakan hal buruk pada suaminya di depan anaknya. Sungguh lucu.
"Iya, ayahmu sangat bodoh. Bisa-bisanya dia ditelan oleh iblis semudah itu," tambah Irina.
"Padahal, di istana ada dia, tapi kenapa Ishid bisa ditelan iblis?" Heran Kaylia.
"Dia siapa? Malaikat itu?" Tanya Levy yang dibalas dengan anggukan.
"Kenapa malaikat itu ada di istana? Apa yang dilakukannya?"
__ADS_1
Kaylia dan Irina nampak bingung, mereka saling pandang sejenak, lalu kembali menatap Levy.
"Apa kamu tidak tahu siapa dia?" Tanya Irina.
Levyanna menggelengkan kepalanya, "Tidak, Bagaimana rupanya?"
"Hm? Aneh, padahal dia selalu bersamamu dan Keira. Sangat dekat, tapi kalian tidak menyadarinya?" Kaylia menaruh satu tangannya di dagu.
Tok ... Tok ... Tok
"Levy, ada apa? Kenapa kau sangat lama?" Teriak Keira dari luar, membuyarkan lamunan Levy.
Pada akhirnya, aku masih tidak tahu dimana malaikat itu. Yah ... aku cukup senang bisa berbincang dengan Ibu, sih. Batin Levy.
"Aku akan keluar," sahut Levy sembari memakai gaun itu sembarangan.
Ceklekk
"Gaun ini sangat susah dipakai, apa tidak ada baju yang lain?" Tanya Levy dengan wajah yang sedikit kesal.
Tidak ada yang menjawabnya, semua yang ada di kamar terpana melihat Levy, mereka seakan membatu di tempat saking kagetnya melihat Levy yang memakai gaun, tidak terkecuali Kyllin dan Keira. Sayang sekali, di wajah cantik itu tidak ada senyuman.
Levy menatap mereka bingung, "Ada apa dengan kalian?" Tanyanya.
Akhirnya, mereka tersadar, "Ah ... tidak, hanya saja kau terlihat berbeda," sahut Magma memalingkan wajahnya.
"Hmmm ... entah itu pujian atau apa, tapi bisakah kita keluar dari kamar ini? Aku merasa sesak dengan kalian yang menghirup oksigen terlalu banyak." Mendengar itu, tanpa aba-aba, Jin langsung menggendong Levy dan membawanya keluar melalui jendela balkon, ia menuju taman yang dulunya sering ia kunjungi.
"Jin!!!" Teriak mereka tidak terima, mereka pun menyusul Jin dengan cara yang sama.
Belum sampai di taman, Levy dan Jin bertemu dengan Raja Ishid yang hendak menuju kamar Levy. Begitu melihat Levy, Raja Ishid langsung merebutnya dari Jin dan memeluk Levy erat dengan tubuh yang bergetar hebat.
Levy bisa merasakan betapa besar rasa khawatir ayahnya. Ia mengulurkan tangannya menepuk-nepuk punggung Raja Ishid layaknya sedang menenangkan anak kecil.
__ADS_1
"A ... Ayah sangat merindukanmu, sampai rasanya ingin mati. Maafkan Ayah yang tidak bisa melindungi mu!!" Raja Ishid menangis, ia merasa sangat bahagia sekarang, begitupun dengan Levy.
"Tidak apa-apa, ini bukan salah Ayah. Jika ingin menyalahkan, salahkan saja takdir," ucap Levy.
"Tapi ... tapi, Ayah-"
"Ayah bodoh, iya. Aku tahu itu, para Ibu yang memberitahuku," kekeh Levy.
Raja Ishid menatap Levy dengan terkejut, "Hah? A ... apa?"
"Tidak, bukan apa-apa. Kembalilah bekerja, Ayah, tapi jangan sampai kelelahan. Kami akan ke taman." Levy menarik tangan Jin.
Taaakkk
Raja Ishid menghempaskan tangan Jin sembari menatapnya garang, "Anak monyet dari mana ini? Berani sekali menyentuh putriku!" hardiknya.
Monyet? Batin Levy.
"Hah? M-monyet?" Jin seakan tidak mengerti apa yang didengarnya barusan, ia menunjuk Raja Ishid dan bertanya pada Levy, " ... dia memanggilku monyet? Aku? Monyet?" Jin tertawa, ia tidak habis pikir.
"Ayah!!! Levy diculik oleh monyet!!!" Teriak Keira sembari berlari menuju kearah mereka.
"Tidakkah kau sadar, kalian lebih terlihat seperti kumpulan monyet daripada aku!!!" Teriak Jin.
Akhirnya, timbullah pertengkaran yang membuat mereka terlihat seperti sekumpulan monyet yang berebut pisang. Levy dan Raja Ishid hanya melihat mereka, tidak ingin bergabung.
"Kembalilah bekerja, Ayah. Jika melihat mereka terus, Ayah akan lelah." Levy memijit pelipisnya.
Terdengar helaan napas dari Raja Ishid, "Jaga kakakmu," ucap Raja Ishid, sebelum pergi, ia mengecup singkat kepala Levy.
Levy menatap punggung Ayahnya yang mulai menjauh, ia sangat bahagia mempunyai Ayah dan keluarga yang begitu menyayanginya, namun di balik kebahagiaannya itu, ada kesedihan saat tahu bahwa dirinya dan Jin bukanlah saudara, dan Jin tidak memiliki siapapun di dunia ini.
TBC
__ADS_1