World Of Animation

World Of Animation
Kota


__ADS_3

~Akan ada saatnya kita bertemu, namun tak lagi saling mengenal~


Grizzy_AMD


"Bisakah, kalian bersikap biasa saja? Kalian membuatku malu," ucap Zero sambil menarik tangan Levy dan Elzel.


"Apa kau tidak merasa kota adalah tempat yang sangat hebat?" Tanya Elzel dengan senyum di wajahnya.


"Tidak," balas Zero.


"Apa Elzel tidak pernah ke kota?" Tanya Levy.


"Tidak, aku tumbuh dan besar di hutan," sahut Elzel.


"Lalu, Zero?"


"Kadang-kadang aku ke kota membeli bumbu masakan, kau pikir, bumbu yang selama ini kita makan dari mana?"


"Ternyata begitu." Levy mengangguk-anggukan kepalanya.


"Pakai tudung kalian." Zero memakaikan tudung dengan cara yang sangat jauh dari kata lembut.


"Kasar, cih!" Cibir Elzel.


"Aku sudah berbaik hati memperingati kalian," kesal Zero.


"Memangnya kenapa harus menutupi wajah? Apa karena kita pendatang?" Tanya Levy.


Zero menatap Levy dan Elzel bergantian, sejenak kemudian telinganya memerah. Ia langsung mempercepat langkahnya, meninggalkan dua wanita itu. Levy dan Elzel hanya saling menatap kebingungan, lalu segera berlari mengejar Zero.


Sudah hampir sejam mereka berjalan, telah banyak tempat mereka lewati, mulai dari pasar, hingga tempat yang hanya orang dewasa masuki. Namun mereka belum juga sampai di Guild yang ingin mereka masuki.


Tiba-tiba, Zero berhenti, kedua tangannya terulur untuk menarik Levy dan Elzel lebih dekat dengannya.


"Ada apa, Zero?" Tanya Levy.


Namun, Zero tak menggubris Levy, matanya terus menatap ke depan dengan alis yang berkerut, seperti sedang waspada. Levy mengikuti arah pandang Zero, ia mendapati beberapa orang yang berjalan ke arah berlawanan dengan mereka, diantara orang-orang itu, hanya ada dua wanita dengan wajah yang hampir tidak terlihat, akibat tertutup tudung.


"Siapa mereka, Zero?" Tanya Elzel.


"Mereka ksatria terhebat di kerajaan tetangga. Jangan menatap mereka, mereka sangat kejam." Zero menarik turun tudung Levy dan Elzel hingga mereka tidak bisa melihat ke depan.


Levy dan Elzel hanya menuruti perkataan Zero. Walaupun tidak bisa melihat ke depan, Levy dapat melihat kaki para ksatria yang melangkah tepat di sebelahnya. Setelah para ksatria itu sudah agak jauh, Zero kembali meregangkan uluran tangannya.


"Zero, pria yang di sebelahku tadi, dia mempunyai ekor," ucap Levy.


Zero membelalak, ia segera menoleh kebelakang, mendapati para ksatria tadi berhenti dan menoleh kearah mereka juga. Buru-buru Zero kembali mengeratkan uluran tangannya, lalu melakukan teleportasi sejauh mungkin dari para ksatria itu.


"Auranya seperti tidak asing," ucap pria yang disebut Levy, memiliki ekor.


"Hiraukan saja," ucap salah satu wanita bertudung hitam.


Para ksatria itu pun, melanjutkan kembali perjalanan mereka.


Sedangkan, ditempat lain, Levy, Zero, dan Elzel sedang berteduh dibawah pohon yang sangat rindang. Mereka menunggu Zero yang sedang mengumpulkan kembali aura sihirnya.


"Levy, untuk kedepannya, jaga mulutmu itu," ucap Zero.


"Baiklah, tapi mengapa kita lari?" Tanya Levy.


"Entahlah, hanya berjaga-jaga. Kita harus menghindari kemungkinan terburuk."


Levy hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Zero, apa itu sebuah Guild?" Tanya Elzel sambil menunjuk.


Zero berdiri, menghampiri Elzel. Ia menajamkan matanya, mencoba untuk membaca tulisan yang berada disebuah bangunan yang jauh disana.

__ADS_1


"Black Shadow."


"Guild gelap?" Tanya Levy.


"Dari mana kau tahu soal Guild gelap, Levy?" Tanya balik Zero.


Levy terlihat kaget, "Iya, ya. Dari mana aku tahu soal itu? ...." Levy menatap Zero dengan mata yang menunjukkan kesedihan.


"Zero, apa aku anggota Guild gelap?" Tanya Levy yang siap menumpahkan cairan bening dari matanya.


"Aku tidak bisa menjawabmu, Levy. Bisa jadi, kau mengingatnya karena Guild gelap yang membuatmu hilang ingatan."


"Zero benar, Levy. Kau jangan berpikiran negatif dulu." Elzel memegang erat tangan Levy.


"Jadi, apa kalian siap bergabung di Guild?" Tanya Zero, tak lupa dengan senyumnya.


***


"Bergabung? ...." pria yang tak lagi muda, memandang tiga orang di depannya.


"Aku bisa memaklumi pemuda ini, tapi kalian? Gadis kecil yang terlihat lemah, ingin bergabung di Guild?" Untuk kesekian kalinya mereka mengangguk membenarkan pertanyaan pak tua itu.


Pak tua itu memukul jidatnya, lalu menghembuskan napas, "Apa kalian sungguh-sungguh? Jangan berhenti ditengah jalan."


"Aku tidak akan berhenti ditengah jalan, tapi di pinggir jalan." Elzel menampilkan cengirannya.


Takk


"Dasar bodoh," ucap Zero setelah menyentil kening Elzel.


"Terserah kalian saja. Sana pergi, kalian harus memakai lambang Guild ini." Mendengar itu, mereka langsung saja bersorak gembira.


Mereka lalu memasuki bangunan yang akan menjadi tempat mereka untuk melakukan misi dan mendapatkan uang. Sesampainya didalam, terlihat anggota Guild yang sangat jauh dari ekspetasi Elzel. Dalam imajinasinya, anggota Guild adalah orang-orang yang menakutkan dan sangar, tapi ternyata tidak.


"Hm? Apa kalian datang untuk memberikan misi?" Tanya seorang wanita berambut biru, ia berdiri tak jauh dari papan yang di penuhi oleh misi.


"Ah, tidak. Kami ingin bergabung dengan Guild. Pak tua itu, menyuruh kami memasang lambang Guild." Zero menunjuk pak tua yang tadi.


Di ruangan itu, mereka di pasangkan lambang berbentuk bayangan yang mirip seperti Dementor di film Harry Potter. Yang membedakan hanyalah, warna dari lambang mereka. Levy memilih warna merah gelap, dilengan kanannya, Elzel memilih warna abu-abu, dipunggung tangannya, sedangkan Zero memilih warna biru di dadanya.


Ada rasa bangga tersendiri, saat melihat lambang yang terukir indah di tubuh mereka. Wanita itu, Meldy, mengajak mereka untuk berkeliling, mengenalkan ruangan-ruangan yang ada dalam Guild. Mulai dari aula utama, hingga ruang bawah tanah.


Setelah mendengar dan melihat banyak hal, Zero mengajak Levy dan Elzel untuk melakukan misi bersama. Meldy pun menyarankan mereka untuk melakukan misi rank B, yang terbilang mudah. Di kertas misi itu, tertulis seorang tuan rumah yang membutuhkan bantuan untuk menangkap para pencuri yang sering keluar-masuk dirumahnya.


Karena sihirnya masih dalam pemulihan, Zero mengajak Levy dan Elzel untuk menaiki kereta kuda. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke lokasi tujuan, karena tempatnya berada di kota yang berbeda.


"Kita sudah sampai di tujuan," ucap kusir itu.


Begitu turun dari kereta, Zero pun memberikan koin perak sejumlah 27 berry. Lalu, mereka melanjutkan perjalanan.


"Zero, bukankah itu rumah tujuan kita?" Elzel menunjuk ke sebuah rumah yang sangat besar nan megah.


"Wah, sepertinya kita akan mendapat bayaran yang banyak," ucap Zero.


Mereka berdiri didepan gerbang rumah itu, terlihat seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas, berjalan kearah mereka.


"Siapa kalian? Ada perlu apa?" Tanya pria baya itu.


Zero mengangkat kertas misi itu, "Melakukan misi," ucap Zero.


Pria baya itu hanya mengangguk, lalu menepuk tangannya, membuat gerbang itu bergerak sendiri, memberikan jalan pada mereka. Pria baya itu, menuntun mereka ke dalam rumah. Zero dan Elzel sangat kagum dengan iterior dan eksterior rumah itu, sedangkan Levy hanya biasa saja, tanpa adanya rasa kagum sedikit pun.


Tok ... tokk ....


"Tuan, anggota dari sebuah Guild datang untuk melakukan misi," ucap Pria baya itu.


"Biarkan aku melihat mereka," sahut seseorang dari dalam.

__ADS_1


Krieeet


Pintu terbuka, menampilkan seseorang yang sedang duduk membelakangi mereka.


"Kalian dari Guild apa?" Tanya orang itu.


"Black shadow," jawab Zero.


"Ah, Guild berantakan itu rupanya. Apa kalian yakin bisa mengatasi masalahku?"


Levy sangat membenci cara bicara orang itu, dia seakan meremehkan mereka.


"Kalau kami tidak yakin, kami tidak akan datang kesini," ucap Levy.


Sontak, orang itu langsung berbalik, menatap Levy. Saat orang itu berbalik, Levy dan Ezel hampir saja membuka mulut mereka saking kagetnya. Bagaimana tidak, orang yang meremehkan mereka sangat jauh dari kata sempurna, bahkan untuk standar saja orang itu tidak akan berada dalam kata standar. Dengan perut buncit, kepala yang hanya botak di tengah, tinggi yang bahkan tidak bisa menyamai Elzel, jangan lupa dengan raut wajahnya yang seakan habis memakan jeruk.


Buru-buru, Levy dan Elzel memegang tangan Zero. Bagi Zero, makhluk seperti itu sudah biasa baginya, bahkan ada yang lebih buruk dari pada makhluk yang berada di depan mereka saat ini.


"Kau sangat cantik, rambut silver. Bagaimana kalau kau menjadi istriku, ku jamin kau tidak akan kekurangan apapun," ucap Pria itu dengan tingkat percaya diri yang sangat tinggi.


Hidup bersamamu akan membuatku kekurangan segalanya. Batin Levy.


"Kami datang untuk melakukan misi, bukan untuk mencarikanmu pengantin, Pak tua," balas Zero.


Pria itu langsung menatap sengit pada Zero, "Dasar manusia rendahan, apa kau tidak kasihan padanya? Wanita secantik dia, harus merasakan lelah hanya untuk makan. Jika dia menjadi istriku, semua keinginannya akan terpenuhi."


"Aku ingin bertemu dengan Raja Herver, ingin memasuki istana kerajaan lain. Apa kau bisa memenuhinya, Pak tua?" Tanya Levy.


"Tentu saja tidak, Levy. Bahkan untuk menginjakkan kaki di depan istana saja dia tidak akan bisa," Elzel terkekeh.


Pria itu kesal, ia merasa harga dirinya di injak-injak begitu saja oleh manusia rendahan. Ia tersenyum jahat.


"Baiklah, selesaikan pekerjaan kalian sebelum sore hari. Kalau kalian tidak bisa, wanita berambut silver akan ku jadikan istriku," ancam Pria itu.


"Kalau kami bisa, anda harus membayar sesuai dengan nominal yang kami inginkan. Deal?" Ucap Levy.


"Deal," balas Pria itu.


Mereka langsung keluar dari ruangan itu, menuju tempat-tempat dimana pencurian sering terjadi. Seperti kata kepala pelayan itu, di perpustakaan lah tempat yang sering di masuki pencuri. Entah barang apa yang dicari pencuri itu.


Saat sampai di perpustakaan, Mereka berpencar, Levy bersama Elzel, sedangkan Zero sendirian. Cukup sulit untuk mencari bukti di ruangan yang luas itu.


2 jam telah berlalu, tapi mereka tak kunjung menemukan bukti atau jejak pencuri itu. Bahkan perpustakaannya sangat rapih, seperti tidak pernah ada orang yang memasuki ruangan tersebut. Zero sudah memeriksa semua tempat, termasuk bagian atas ruangan.


"Benarkah rumah ini sering di masuki pencuri?" Tanya Levy, baginya semua ini hanya membuang-buang waktu saja.


"Secuil jejak pun tidak ada. Atau, semua ini hanya kebohongan belaka?" Levy melihat-lihat judul buku.


"Ya, ini sangat aneh. Lubang tikus pun tidak ada di ruangan ini, lalu bagaimana pencuri bisa masuk? Apa pencuri itu bisa menembus tembok?" Kata Zero masih dengan mata yang menelisik ke segala penjuru ruangan.


"Mungkin ... pak tua itu hanya berbohong," celetuk Elzel yang duduk di lantai karena kelelahan.


Dugh ... dugh ....


Tiba-tiba terdengar suara orang menendang tembok. Mereka saling bertatapan, lalu mencari asal suara tersebut. Elzel pergi keluar dari perpustakaan, mungkin saja itu suara dari luar. Tapi sayang, ia tidak menemukan seorang pun diluar. Levy membuka jendela, ia menengok kanan-kiri, tidak ada hewan apapun diluar. Sedangkan Zero, ia berkeliling perpustakaan sekali lagi.


"Dari mana asal suara itu?" Tanya Elzel yang baru masuk.


"Entahlah, tapi suaranya sangat dekat, tadi," jawab Levy.


"Levy, Elzel, kemarilah!" Teriak Zero.


Levy dan Elzel bergegas menghampiri Zero yang berada di sudut belakang perpustakaan.


"Ada apa, Zero?" Tanya Levy.


Zero nampak menempelkan telinganya di dinding, mencoba untuk mendengar sesuatu. Melihat itu, Levy dan Elzel pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Dugh ... Dughh ....


TBC


__ADS_2