
Mengapa, seperti ini? Ini tidak ada dalam film, aku bertemu dengannya masih 5 tahun lagi. Lalu kenapa? Ada yang salah?
"Tidak ku kira kau sudah sebesar ini. Kalau saja aku tidak melihatmu kemarin, mungkin kita tidak akan pernah bertemu."
Orang yang sedang duduk di singgasana nan megah itu adalah ayahku, Raja Claude. Dia menyuruh ksatria istana sebanyak ini hanya untuk memanggilku? Apa dia sedang bercanda?
"Apa, lantai itu lebih bagus dibanding wajahku? Mengapa, kau hanya menatap lantai?"
Tentu saja karena aku tidak ingin melihat wajah orang yang akan membunuhku.
"Levyanna." panggilnya.
Tunggu ... tunggu sebentar, sepertinya aku mengenali suara ini.
Aku mulai mengangkat wajahku untuk menatapnya. Mataku sukses di buat melotot olehnya, bukan karena aku terkejut dengan wajah tampannya, tapi yang membuatku terkejut adalah, aku sudah pernah bertemu dengannya.
Bola mata emas itu serta rambut emas keperak - perakan. Benar, dia adalah orang pertama yang ku lihat saat pertama kali ke dunia ini.
"Segala keagungan dan berkat kepada cahaya Claude." salamku.
"Oho, siapa guru etikamu? Robert? Enisha?"
Raja sialan ini senang sekali bercanda yah. Mereka adalah guru yang sangat terkenal, mana mungkin Putri yang dikucilkan seperti ku bisa bertemu mereka?
Muak. Aku sangat muak dengannya. Tanpa sadar aku menatapnya sinis, satu tanganku meremas baju Riri yang sedang menemaniku.
"Maaf yang mulia, tapi Nona sepertinya kelelahan," ucap Riri
"Sejak kapan Putri dari Seorang Raja hanya di panggil Nona?" matanya mulai menatap tajam Riri, tapi Riri tidak takut.
"Aku menyukai panggilan Riri untukku," ucapku.
Tatapannya mulai beralih padaku,
"AYAAH!!"
"Ternyata ayah disini, aku mencari ayah dari tadi."
aku bukan tidak tahu siapa anak kecil itu, benci? Aku tidak membencinya. Dia sangat imut, oh tidak, aku terlihat seperti pedofil.
"Kemarilah Keira." Keira langsung berlari menuju Raja sialan itu, wah mereka sangat mirip, tapi sayang warna mata Keira berwarna Silver persis seperti ibunya.
"Riri, aku lelah dan mengantuk." Ucapku pelan.
"Yang Mulia Raja belum memperbolehkan kita pergi, Nona. Apa anda sangat lelah? Riri akan menggendong anda."
Itu hanya alibiku, Riri. Aku tidak mengantuk sedikitpun, aku hanya merasa aneh melihat pemandangan di depanku ini. Batinku
"Tidak, Riri nanti kelelahan. Aku tidak ingin Riri sakit."
Riri tersenyum, "aah Nona sedang mengkhawatirkan ku, Riri sangat bahagia sekarang." ucapnya.
"Ayah, siapa dia?" tanya Keira.
"Dia adalah adikmu. Mulai hari ini, dia akan menempati kamar yang berada di sebelah kamarmu,"
Mendengar perkataannya membuat aku dan Riri sangat terkejut, rasanya seperti jantung kami keluar dari mulut. Tapi, Keira terlihat sangat senang.
***
"Levy, ayo kita main!" ajak Keira, dia sudah sedari tadi mengajakku, tapi aku tidak ingin menjalin hubungan persaudaraan dengannya. Hubungan itu hanya akan membunuhku.
"Tidak mau, aku ingin tidur."
"Kalau begitu, aku akan tidur bersamamu disini."
Hufft ... dia anak yang sangat keras kepala. Aku, tahu dia seperti ini karena dia tidak memiliki teman yang sebaya dengannya.
"Baiklah."
"Yeaaay!!" Teriaknya.
"Riri, nyanyikan lagu pengusir mimpi buruk dong." pintaku.
"Lagu? Aku juga ingin mendengarnya." ucap Keira.
"Baiklah." Riri mendekat dan mulai menyanyikan lagu. Tidak lama kemudian, Keira tertidur tapi tidak denganku.
"Mengapa anda belum tidur?" tanya Riri heran, karena biasanya saat lagu selesai aku sudah tertidur.
Aku beranjak dari tempatku secara perlahan, agar tidak membangunkan Keira. Lalu menarik Riri menuju sofa yang berada di dekat jendela.
__ADS_1
"Riri, jangan mati." aku memeluknya erat.
Riri terkekeh, "Iya, iya. Riri akan selalu berada di dekat nona." ia mulai mengusap kepalaku.
"Tidak,"
"Mengapa? Apa Nona tidak menyukai Riri?"
"Aku sangat sangat menyukai Riri, Varah juga, Flora juga ...." aku mengangkat kepalaku sejenak untuk menatap Riri lalu kembali menyembunyikan wajahku di perut Riri.
"Tapi, kalau kalian bersamaku kalian akan mati."
Meskipun mereka tidak nyata, tapi mereka telah merawatku dengan sepenuh hati. Aku tidak suka jika orang yang baik padaku harus mati, hanya karena menyayangiku.
"Ya?"
"Tidak, bukan apa - apa."
"Nona, apa ada yang mengganggu pikiran anda? Anda terlihat aneh."
"Ku harap Riri bisa terus hidup bahagia, bersama Varah, Flora dan yang lainnya. Meskipun aku tidak ada."
Riri langsung menarikku dan membuatku menatapnya.
"Apa yang ada katakan, Nona? Mengapa anda mengatakan hal seperti itu?"
"Aku menyayangi kalian." ucapku layaknya tidak terjadi apa - apa.
"Nona, sebenarnya ada apa?" Resah Riri.
"Tidak ada apa - apa, hoaamm ... Riri, aku mengantuk,"
Riri pasrah, dia pun memelukku sambil mengelus kepalaku agar aku tertidur.
***
Kali ini, aku yang berada di kamar Keira. Tentu saja karena paksaan darinya, apa boleh buat, lagian aku juga tidak akan lama tinggal disini.
"Levy, apa yang kau lakukan?" tanya Keira terus memperhatikan semua pergerakanku.
"Entahlah, mungkin benda kenang - kenangan?" balasku seadanya.
"Kita tidak akan bisa selalu bersama, kan. Maka dari itu, aku membuat ini." ucapku mengangkat benda itu.
"Wahh ... kalung yang sangat indah." kagum Keira.
"Yang warna silver untukku ...." aku langsung memakai kalung itu, "dan yang warna emas ini untukmu." Keira menerimanya dengan sangat senang.
"Terima kasih. Ini ... ini pertama kalinya aku mendapatkan hadiah." ucap Keira mulai meneteskan air mata.
Ada apa ini? Apa Keira berbohong? Tapi itu tidak mungkin. Mengapa alur ceritanya berbeda? Batinku.
"Kau tidak mau memakainya?"
"Akan ku pakai." balasnya secepat kilat, membuatku terkekeh.
Blaam
"Hei, tuan putri kami datang."
Apa - apaan mereka ini? Mengapa Maidnya terlihat sangat berkuasa? Batinku.
"Oh, Hai Putri yang terlupakan." ucap salah satu Maid itu dengan sombongnya.
Keira terlihat ketakutan, ia mulai menggenggam erat tanganku.
Apa ini perbuatan mereka? Keira tidak pernah mendapatkan hadiah karena mereka juga? Batinku.
"Apa seorang Maid pantas untuk melakukan itu?" ucapku, sambil menatapnya remeh.
"Apa? Kau berani padaku?" ucapnya marah sambil menunjukku, sungguh itu sebuah perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang Maid.
"Apa semua Maid di istana ini tidak punya etika? Mengapa Maid di yang bekerja di istana pengasingan lebih tahu etika ya?"
Prangg
Dia mulai melempar teko teh yang berada di dekatnya.
"Levy," cicit Keira.
"Tenanglah, aku ada bersamamu."
__ADS_1
"Hoho ... lihat mereka, ternyata mereka sangat akrab. Sangat cocok, yang satunya Putri penakut dan satunya lagi putri terlupakan. Sungguh drama yang memilukan." ucap Maid berambut merah.
"Kalau begitu, apa kita harus memberi pelajaran bagi putri - putri ini?" usul Maid berambut coklat.
Maid berambut hijau mulai berjalan ke arah jendela, disana dia mengambil sebuah kayu kecil yang tersembunyi di balik tirai.
"Putri penakut sudah terbiasa, tapi putri terlupakan mungkin akan menyesali perbuatannya." ucap Maid berambut hijau, sambil tersenyum.
Terkejut? Tentu saja aku terkejut. Itu artinya mereka sudah biasa menganiaya Keira.
"Hee ... jadi selama ini, kalian selalu menyiksa Putri dari Raja Claude toh. Sulit di percaya kalian masih hidup, tapi kurasa kematian kalian akan datang sebentar lagi."
"Dasar anak nakal ini." Maid rambut hijau itu langsung memukulku dengan kayu yang tadi di ambilnya.
"LEVYANNA!!" teriak Keira.
Rasanya teriakan Keira lebih menyakitiku. Batinku
"Wah, wah, Putri penakut anda mau kemana?" Maid rambut merah mencengkram tangan Keira dengan kuat.
"Sakit ... Kumohon lepaskan Levy, hukum saja aku." pinta Keira.
"Mengagumkan! Putri penakut ingin melindungi adiknya. Hahahaha ... kalian terlihat seperti serangga."
Serangga? Akan ku perlihatkan siapa yang serangga. Batinku.
Aku berlari menuju Maid rambut merah dan menggigit tangannya yang mencengkram Keira.
"Argghh ... dasar anak kecil sialan."
Dia menamparku dengan sekuat tenaganya hingga tubuhku sedikit terhempas.
"Kalian hanya anak sial yang tidak pernah mendapat kasih sayang orang tua, kalian hanya masalah yang muncul secara tidak sengaja, dan kalian hanya akan menjadi alat untuk kekaisaran ini." ucap Maid berambut coklat.
Darahku mulai memanas, mungkin saat ini wajahku sudah sangat merah karena marah.
"Anak sial? Masalah? Alat? Ini hidupku, pilihanku, urusanku. Mengapa aku harus hidup seperti itu? Aku akan jadi anak baik, di saat perlakuan terhadapku juga baik, dan begitu pula sebaliknya."
Kreeek
Kreeek
Btooom
"LEVYY!!" itulah suara terakhir yang ku dengar sebelum kesadaranku menghilang.
"Levy ... Levy, jangan tinggalkan aku hikss,"
"Aku belum mati, bisakah kau diam." ucapku mulai membuka mataku.
"Ini ... tempat apa ini, Keira?" tanyaku saat melihat sekitar.
Apa aku berpindah dimensi lagi? Oh tuhan, apa engkau sangat membenciku? Batinku.
"Tunggu dulu ... mengapa kau juga berada di sini?" tanyaku melihat Keira.
"Aku juga tidak tahu, Levy." ucap Keira menunduk.
"Hufft ... sudahlah itu tidak penting. Yang lebih penting adalah, mengapa kau membiarkan para Maid itu menyiksamu? Mengapa kau tidak pernah menghukum atau melaporkan mereka pada ayahmu?"
"Ayahku adalah ayahmu juga, dan aku tidak memberitahu siapapun karena mereka mengatakan ...." Keira menundukkan wajahnya, "aku adalah anak haram yang harus patuh, jika tidak ingin di buang."
"TIDAK! ITU TIDAK BENAR! KAU ADALAH PUTRI YANG SANGAT DI SAYANG OLEH YANG MULIA RAJA, YANG MULIA RAJA TIDAK AKAN PERNAH MEMBUANGMU!" Keira sangat terkejut, lalu ia tersenyum.
"Ya! Kau benar, kita adalah anak kesayangan ayah." ucapnya sambil menggenggam tanganku.
Padahal aku tidak bermaksud membuatnya berpikir seperti itu. Batinku.
"Nah, sekarang mari kita pikirkan cara untuk kembali." ucapku.
"Tadi, sebelum kita di sini, aku melihat cahaya terang sekal- " ucapan Keira terpotong, matanya melotot dan mulutnya terbuka lebar.
"Ada apa?" tanyaku.
"Itu ... itu ... di belakangmu." Keira menunjuk sesuatu yang berada di belakangku.
Wuuuss ....
TBC
Sepertinya kurang menarik ya minna~~😂
__ADS_1