
~Tidak terlihat bukan berarti tidak ada~ AMD
"Levy, ayo kita bermain di luar!" Ajak Keira, sambil melompat-lompat di atas tempat tidur Levy.
"Aku tidak mau. Dan berhentilah melompat, nanti kau jatuh." Balas Levy yang masih setia duduk.
"Aku tidak akan berhen- kyaaa!!" Kaki Keira terkilir, membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Awas!!!"
Dengan sigap, Levy langsung menarik tangan Keira, agar tidak terjatuh dari tempat tidur.
"Sudah ku katakan untuk berhenti. Mengapa, kau tidak juga berhenti? Hampir saja kau terjatuh, kalau kau jatuh, aku akan ma-" Karena kesal, hampir saja Levy keceplosan.
"Maaf, aku hanya ingin bermain denganmu," Keira menunduk hingga rambut panjangnya menutupi wajahnya.
"Jangan menangis. Dan panggil saja Kyllin atau Asgaf, untuk menemanimu bermain."
"Mengapa?"
"Hah? Apa?"
"Mengapa, kau berubah? Apa, karena kau terluka saat melindungiku? Tapi, saat itu, kau mengatakan itu bukan salahku. Lalu, mengapa kau seperti ini? Ini bukan seperti dirimu, Levy," Keira, mencurahkan semuanya dengan berlinang air mata.
Mengapa, dia terlihat sangat nyata? Sadarlah Choi Jina, semua yang ada di dunia ini, tidak nyata. Mereka hanya karakter yang telah di atur. Batin Levy
Levy tenggelam dalam pikirannya, mengabaikan pertanyaan Keira. Levy terlalu sibuk memikirkan cara untuk kembali pulang, hingga menolak untuk menerima kenyataan, bahwa dunia ini nyata adanya.
Apa, yang terjadi dengan tubuhku? Apa, aku dalam keadaan koma? Sebenarnya siapa yang membawaku kesini? Batin Levy.
Tanpa Levy sadari, Keira telah keluar dari kamar. Cairan bening kembali menghiasi wajah cantiknya. Yang ia inginkan hanya satu, kembali ke rumahnya, tinggal bersama keluarga aslinya.
Lama Levy merenungi dan menangisi nasibnya, hingga matanya sembab.
Tok...tok...
"Nona ...." betapa terkejutnya Riri melihat penampilan Nona kecilnya itu.
"Apa yang terjadi, Nona? Mengapa, anda menangis?" Riri terlebih dahulu menaruh nampan berisi cemilan di atas nakas, lalu segera menghampiri Levy.
Levy tak menjawab, matanya menerawang. Ia memikirkan sesuatu yang tak diinginkan akan benar-benar terjadi kepada, dirinya.
Hatinya sangat hancur dan kesal. Andaikan bisa memutar waktu, ia tidak akan berdoa pada Tuhan untuk menjauhkan dirinya dari Ayah dan Ibunya. Penyesalan itu benar-benar ia tumpahkan dengan luapan airmata. Mengutuk diri sendiri lah yang akan dilakukannya.
"Nona, tolong jawab pertanyaanku!" Riri membuyarkan lamunan Levy.
Levy menoleh ke depan dan menemukan Riri yang juga di banjiri oleh airmata kekhawatiran.
"Riri ...." Levy langsung menghambur pelukan pada Riri. Tentu saja, Riri dengan senang hati mendekap Nona-nya itu dengan Kasih sayang.
"Ini semua karena aku. Aku lah penyebabnya, Riri. Semuanya salahku, seandainya aku tidak melakukan hal bodoh itu. Mungkin saja, hari ini, aku masih bersama, mereka,"
"Apa maksud anda, Nona?" Riri sangat tidak mengerti apa yang di maksud oleh Nona-nya.
"Nona, melakukan kesalahan apa? Sepertinya tidak ada." Riri terlihat seakan-akan ia menangis karena tidak mengerti.
"Bukan Levy. Tapi, aku yang melakukan kesalahan. Huaaa ... apa yang kukatakan?"
"Aku juga tidak tahu, apa yang Nona katakan."
***
"Hati-hati!" Ucap Levy, menahan tangan Keira yang hampir terluka karena menyentuh mawar berduri.
Keira menarik tangannya, "berhentilah." Ucap Keira lalu memalingkan wajahnya.
"Berhenti apa?" Heran Levy.
"Berhentilah menolongku!" Seru Keira, lalu berlari meninggalkan Levy di taman.
"Ada apa dengannya?" Bukan Levy yang bertanya, tapi Asgaf.
"Entahlah, dan bisakah kau jangan muncul tiba-tiba?"
"Aku sudah sedari tadi disini. Apa, kau tidak sadar?"
"Sejak kapan? Mengapa, aku tidak melihatmu?"
"Apa, yang kau pikirkan Sehingga tidak menyadari keberadaanku?"
__ADS_1
Cara untuk pulang. Batin Levy.
"Tidak ada." Bohong Levy.
Levy pun langsung saja berjalan meninggalkan Asgaf di taman.
"Hahahahah ...." Wajah Asgaf berubah masam kala mendengar suara tawa itu.
"Kau sudah berganti spesies ya? Dari makhluk suci, menjadi makhluk tak kasat mata." Ejek Kyllin di selingi tawanya.
Asgaf berbalik, sedetik kemudian ia langsung menembakkan bola api dari mulutnya. Karena terlalu asik tertawa, Kyllin tidak menyadari serangan Asgaf, akhirnya ia terkena serangan itu hingga terlempar jauh.
"Kucing sialan!" Geram Kyllin berusaha bangun kembali.
"Rasakan in-" Baru saja Kyllin berniat menyerang balik, sayang, Asgaf sudah tidak berada di tempatnya.
"Awas saja kau, kucing!" Gerutu Kyllin.
Di tempat lain, tepatnya di kamar. Seorang gadis kecil sedang menangis sesegukan, sambil memeluk boneka panda miliknya.
"Aku hanya ingin memiliki teman," lirih gadis kecil itu.
Ia membenamkan wajahnya pada boneka Panda, agar suara tangisnya tidak terdengar keluar.
"Mungkin, lebih baik kalau aku hidup sebagai rakyat biasa. Dengan begitu, aku bisa memiliki teman dan hidup bahagia."
"Apa yang kau katakan?" Sahut seseorang dari arah pintu.
Keira, gadis kecil itu langsung mengangkat wajahnya dan mendapati saudarinya sedang berjalan kearah-nya.
"Mengapa, kau menangis?" Tanya Levy.
"Karena kau membenciku." Keira melepas bonekanya dan berganti memeluk Levy.
"Kata siapa?"
"Aku. Terlihat jelas bahwa kau membenciku, kau hanya ramah pada Riri, Asgaf, dan Kyllin. Hari di saat aku hampir terjatuh, kau terlihat marah padaku. Dan kau juga tidak menjawab pertanyaanku. Kau membenciku karena kau terluka, kan? Dan itu semua karena aku."
Levy menghembuskan napas, lalu menarik Keira dari dekapannya hingga ia bisa menatapnya.
"Kau salah paham, Keira. Pertama, aku marah karena kau melakukan hal konyol, yang dapat membuatmu terluka. Kedua, aku tidak menjawab pertanyaanmu, karena sedang memikirkan sesuatu. Ketiga, aku tidak membencimu,"
"Iya. Dan bisakah kau bersikap layaknya seorang kakak? Mengapa, seorang kakak harus menangis seperti ini? Hufft ... aku bingung siapa sebenarnya yang lebih tua." Levy memijit keningnya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
yah ... walaupun, aku memang yang lebih tua sih. Batin Levy.
"Baiklah, aku kan menjadi kakak yang terbaik untukmu. Aku akan melindungi dan menjagamu." Keira membusungkan dadanya.
"Kita harus saling melindungi, dengan begitu, tidak akan ada yang terluka di antara kita,"
"Ayo kita bermain!"
Tanpa mendengar jawaban Levy, Keira langsung menarik tangan Levy dan membawanya keluar dari kamar.
Bughh ....
Begitu membuka pintu, Keira menabrak sesuatu yang membuat Levy juga menabrak Keira.
"Aduh ...." rintih Keira sambil memegang hidungnya, lalu ia berbalik melihat Levy.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Keira.
"Iya."
"Mau kemana kalian?" Suara itu sukses membuat Levy dan Keira terdiam, tak berani melihat pemilik suara itu.
"Masih tidak mau menjawab?"
Keira berbalik, lalu melirik sekilas pemilik suara itu.
"Kami bosan di kamar," ujar Levy menurunkan volume suaranya.
"Mengapa, kalian sangat keras kepala? Cepat masuk kembali."
Tubuh Levy dan Keira seakan menyatu dengan lantai hingga tidak bisa beranjak dari situ.
"Huftt ...." Raja Ishid mengangkat kedua putri kecilnya, lalu membawa mereka masuk ke dalam kamar. Menurunkan mereka tepat di atas kasur yang empuk.
"Apa yang akan kalian lakukan di luar?" Tanya Raja Ishid.
__ADS_1
"Bermain," kata Keira sambil menunduk.
"Bagaimana kalau ada yang menyerang kalian lagi?"
Apa-apaan ini? Mengapa, dia sangat perhatian? Sebelumnya dia sangat cuek dan dingin. Batin Levy.
"Apa?" Tanya Raja Ishid yang melihat raut wajah Levy.
"Ah tidak, Yang Mulia." Balas Levy.
"Tenang saja, penyerang yang waktu itu sudah di temukan, dan dia akan menyesali perbuatannya seumur hidup."
"Hah?" Levy memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti.
"Bukankah kau penasaran dengan orang itu?"
Tentu saja, tidak. Dan lagi, bisa-bisanya kau berkata seperti itu di hadapan anak kecil seperti kami(?). Batin Levy.
Levy tidak sanggup lagi menghadapi Sang Raja, ia lebih memilih diam dan tidak menunjukkan raut wajah seperti itu lagi.
"A-ayah, ada urusan apa kesini?" Tanya Keira.
"Apakah, harus ada alasan di saat seorang ayah ingin menemui anaknya?" Tanya balik Raja Ishid.
"Tumben sekali anda ingin menemui, Keira," sahut Levy.
Eh? Apa yang barusan ku katakan? Mengapa, aku selalu menggali kuburanku sendiri? Batin Levy.
Levy merutuki kebodohan dirinya. Mengapa, ia harus mempunyai mulut yang banyak omong ini?
"Apa, di mata kalian, Ayah ini seseorang yang seperti itu?"
Tolong bicaralah yang jelas. Berbicara denganmu bagaikan mengerjakan soal latihan 100 nomor dengan waktu 10 menit, benar-benar membuatku gila. Batin Levy.
"Apa, ayah bukan orang seperti itu?" Tanya Keira dengan polosnya.
Izinkan aku menangis. Apa, hanya aku yang tidak menengerti?Siapapun, tolong keluarkan aku dari sini. Batin Levy.
"Ayah tidak tahu."
Lalu, siapa yang tahu? Apa, aku tahu? Tentu saja tidak. Apa, Riri tahu? Batin Levy.
Benar saja kata Levy, ia sudah seperti orang gila sekarang. Rasa ingin menangis, tapi airmata seakan tidak ingin keluar. Percakapan ayah dan anak itu membuat keinginan Levy untuk pulang semakin besar.
"Ada apa denganmu?" Tanya Raja Ishid yang melihat Levy menutup matanya.
"Levy, apa kau sakit?" Tanya Keira.
Levy masih tidak bergeming.
Takk ....
"Aduh," Levy langsung membuka matanya dan memegangi kening yang di sentil oleh Sang Raja.
"Ada apa denganmu?" Raja Ishid mengulangi pertanyaannya.
"Hah?" Levy masih belum terhubung dengan alam sadarnya, ia terlihat seperti orang bodoh.
"Apa, kau memang sebodoh ini?" Tanya Raja Ishid.
Mendengar kata "bodoh", ruh Levy langsung kembali ke tubuhnya. Ia menatap Sang Raja sengit.
"Aku tidak bodoh," sinis Levy.
"Iya." Balas Raja Ishid.
"Ayah, bolehkah aku lihat sihirmu?" Pinta Keira.
Sang Raja mengangkat tangan kanannya, sedetik kemudian, lingkaran sihir berwarna emas muncul di atas tangannya. Sihirnya memenuhi seisi ruangan, rasa hangat terpancar dari sihirnya. Sangat tidak cocok dengan Raja dingin dan kejam sepertinya, pikir Levy.
Tanpa seizin Levy, cairan bening keluar begitu saja, membasahi pipi mulus Levy. Cahaya emas itu, memiliki banyak kasihsayang. Membuat Levy, semakin rindu dengan keluarganya. Sama halnya dengan Keira, yang juga meneteskan airmata. Ia merindukan sosok ibu, yang tidak pernah ia dengar suaranya, tidak pernah ia peluk tubuhnya, tidak pernah mengobati rasa sepinya.
Mereka bertanya-tanya, mengapa, sihir emas Sang Raja membuat mereka seperti itu. Apa, Sang Raja sedang merindukan seseorang? Tapi, raut wajahnya tidak menujukkan ekspresi apapun.
Mengapa, cahaya emas ini tidak memberikan kebahagiaan? Dan malah memberikan rasa kerinduan yang menimbulkan sakit di hati? Batin Levy.
TBC
Semoga suka ya minna~~
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, agar Grizzy tambah semangat nulisnya~~