World Of Animation

World Of Animation
Akibat Mengganggu Seorang Wanita


__ADS_3

"Ini sangat aneh, kemana perginya penduduk desa ini? Mengapa tidak ada satupun manusia yang terlihat?" Levy keluar dari rumah penduduk desa. Ini sudah rumah yang terakhir di masukinya, namun tak menemukan satu pun manusia.


"Kemana perginya mereka? Padahal ini malam hari." Levy masih berjalan mengelilingi desa tersebut.


Tiba-tiba, ia terpikir untuk kembali ke tebing yang tadi. Buru-buru ia berlari, dan kembali memanjati tebing. Betapa terkejutnya Levy saat tak melihat desa itu. Terlebih, ada dinding transparant yang mengelilingi hutan, tempat desa itu berada. Di luar dinding itu, tempat Levy berada, cahaya bulan tidak lah seterang saat berada di dekat desa.


Levy semakin di buat curiga oleh dinding aneh itu, ia mengeluarkan pisau kecilnya. Melemparkannya kearah dinding itu, saat melewati dinding, pisaunya langsung menghilang seperti ditelan bumi. Levy kembali turun dari tebing, namun masih berada di luar dinding.


Tukk


Sebuah pisau tertancap di pohon, tapat di sebelah wajahnya.


"Maaf, aku tidak mengenai kepalamu." Terlihat lima orang sedang berjalan Kearah Levy.


Levy sangat tahu siapa mereka, mereka adalah Ksatria yang pernah ia temui di jalan, saat pertama kali ke kota. Levy segera memasang kuda-kudanya.


Salah satu dari ksatria itu melesat dengan cepat kearah Levy, untung saja Levy sudah bersiap. Wanita bertudung itu menyerang Levy menggunakan pedang yang terbuat dari es.


"Siapa kau?" Tanya wanita itu.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu," balas Levy sambil menyerang wanita itu.


Pria yang memiliki ekor tak tinggal diam melihat rekannya kesulitan, ia langsung menyerang Levy dengan banyak bola api. Dengan lihai, Levy menghindari semua bola api itu.


"Mengapa kalian menyerangku?" Kesal Levy.


Sunyi, tak ada jawaban atau pun sahutan dari orang-orang itu. Wanita es itu, langsung menyerang Levy, meninggalkan bekas luka yang amat besar di perut Levy.


Levy terjatuh ke tanah, berusaha berdiri dengan pedang sebagai penopang tubuhnya. Ia tak cukup kuat untuk melawan mereka. Tubuhnya kembali terjatuh ke tanah.


Wanita es itu mengangkat wajah Levy menggunakan pedangnya, "Siapa kau?" Tanya wanita itu lagi.


Levy tak menjawab, ia melemparkan pisau kecil hingga menancap di kaki wanita es itu. Terlihat pria yang memiliki ekor mengeluarkan aura yang sangat besar. Auranya mengintimidasi siapa saja yang berada di hutan ini. Tubuh Levy gemetar, ia ingin lari dari tempatnya sekarang juga.


Baru kali ini, ia merasakan aura yang sangat besar seperti itu. Tubuhnya seperti terkena sengatan listrik, pertanda kutukan sihir mulai terukir lagi di tubuhnya. Sungguh memprihatinkan keadaan Levy saat ini.


"Tenanglah, aku tidak apa-apa. Ayo kita pergi," ucap wanita es itu.


Pria yang memiliki ekor langsung mengangkat wanita es, dan segera meninggalkan Levy sendirian. Begitu pun dengan rekan-rekannya tadi.


Akhirnya, Levy bisa bernapas lega. Ia belum menemui ajalnya kali ini. Ia lebih memilih untuk beristirahat disitu sampai matahari terbit.


***


"Kemana Levy?" Tanya Zero sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Levy.


"Loki, kau terjaga, kan? Apa kau melihat Levy?" Tanya Magma.


"Sebelum aku tidur, Levy masih berada disini," balas Loki.


"Blue, keluarlah!" Seru Elzel.


Tapp


Dari atas pohon, Blue turun bersama ketiga makhluk suci lainnya. Elzel membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Empat makhluk suci? Dimana Levy?!" Tanya Elzel.


"Dia pergi ke suatu tempat," jawab Blue.


"Kemana?!" Seru Zero.


Ke-empat makhluk suci itu menggeleng, pertanda mereka tidak tahu.


"Lalu, mengapa kalian disini?" Tanya Loki.

__ADS_1


"Levy menyuruh agar kami melindungi kalian," jawab Salamander.


"Melindungi? Dari apa? Mengapa ia selalu bertindak sendirian?" Geram Zero.


"Sepertinya, ada yang aneh di tempat ini. Tadi malam, Levy terus saja melihat kearah desa," ujar Loki.


"Apa kalian merasakan aura menakutkan tadi malam? Aura itu sangat besar, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Levy." Elzel terlihat sangat cemas memikirkan Levy.


Sekarang, tingkah makhluk suci milik Levy terlihat aneh. Wajah mereka juga nampak sangat cemas.


"Ada apa?" Tanya Zero.


"Owner ... Owner sedang terluka," ucap Pynix.


"Dimana dia?!!" Seru Zero dan Elzel.


"Aku merasakan auranya dari sana, dan aura menakutkan semalam juga berasal dari sana." Pynix menunjuk kearah tebing.


Mereka pun langsung berlari kesana, mencari dimana keberadaan Levy. Dengan arahan dari Pynix, mereka dengan cepat sampai di tempat Levy. Betapa terkejutnya mereka melihat kondisi Levy. Perut yang terluka dan tanda kutukan sihir yang memenuhi seluruh tubuhnya.


Elzel segera mengeluarkan peralatan medisnya, lalu merobek setengah baju Levy, tempat luka itu berada. Dengan telaten, Elzel mengobati luka Levy tanpa menggunakan sihir penyembuh.


"Levy, bertahanlah," ucap Zero.


"Kembalilah, kalian. Agar Levy tidak terluka semakin parah," kata Elzel pada makhluk suci.


"Kami tidak bisa, melakukan perintah Owner adalah kewajiban kami. Tanpa perintahnya, kami tidak bisa bertindak seenaknya," kata Salamander.


"Lalu, kalian ingin menguras habis Mana Levy, iya?!!" Kesal Zero.


"Yo, Elzel," sapa Levy dengan mata yang tidak terbuka sempurna.


"Levy! Levy, apa yang terjadi padamu? Mengapa kau memanggil makhluk suci sebanyak ini?" Tanya Elzel yang telah selesai membalutkan perban di luka Levy.


"Tidak sekarang, Pega. Mereka mungkin masih berada disini." Levy memaksakan tubuhnya untuk bersandar pada pohon.


"Mereka siapa? Apa mereka yang menyerangmu? Penduduk desa itu?" Desak Loki.


"Bukan, mereka bukan penduduk desa. Mereka adalah Ksatria yang pernah kami temui di jalan."


"Mereka? Mengapa?!" Kaget Zero.


"Mana ku tahu. Saat aku bertanya, mereka hanya diam. Dan, wanita es itu bertanya siapa aku, lalu menyerangku begitu saja."


"Hanya itu? Lalu, apa yang kau lakukan semalam?"


Levy pun menceritakan apa yang di selidikinya semalam, namun tak percaya. Bahkan, Magma menaiki tebing, tapi dia dapat melihat desa itu dari sana, juga tidak ada dinding transparant seperti yang di katakan Levy. Mereka mulai berspekulasi bahwa Levy hanya berhalusinasi, karena kelelahan.


Levy tetap keukeh dengan pendiriannya, yang dilihatnya semalam bukanlah halusibasi belaka. Akhirnya, ke-empat rekannya hanya berpura-pura percaya. Levy sangat benci sifat seperti itu, jika tidak percaya cukup katakan saja, jangan berbohong padanya.


"Anu ... Owner," panggil Pynix.


"Ada apa?" Tanya Levy.


Pynix menunjuk baju Levy yang hanya menutupi buah dadanya saja, sontak Levy menutupi tubuhnya menggunakan kedua tangannya.


"Apa yang kalian lihat, dasar mesum?!!" Umpat Levy pada ketiga pria di depannya yang tak melepaskan pandangan mereka kearahnya.


Levy melemparkan mereka batu hingga mereka lari dari hadapan Levy.


"Tubuhmu lumayan juga, Levy," ucap Salamander dengan tangan yang ia taruh dibawah dagunya, tak lupa dengan matanya yang hanya memandang buah dada Levy.


"Lenyapkan dia," perintah Levy pada ketiga makhluk sucinya yang imut.


Blue, Pega, dan Pynix langsung menyerang Salamander tanpa ampun. Mereka menjauhkan Salamander, sangat jauh dari Levy. Mengapa harus ada makhluk suci yang mesum seperti itu, dan Levy sangat menyesali kontrak yang telah ia buat dengan Salamander.

__ADS_1


"Owner, makhluk hina itu telah lenyap," kata Blue yang datang bersama dengan Pega dan Pynix.


"Terima kasih," ucap Levy.


"Levy, apa kau tahu darimana aura mengerikan semalam?" Tanya Elzel.


"Aku tahu. Aura itu milik pria yang mempunyai ekor. Sekilas auranya terasa seperti aura makhluk suci, tapi juga berbeda. Rasanya sangat aneh." Levy kembali merinding mengingat posisinya semalam.


"Kau benar, Owner. Dia adalah makhluk suci, tapi dia melakukan hal terlarang bagi makhluk suci," sahut Pega.


"Apa kalian mengenalnya?" Tanya Elzel.


Ketiga makhluk suci itu mengangguk.


"Salamander, kemarilah sekarang juga," panggil Levy.


Sedetik kemudian, datang Salamander dengan kecepatan penuh.


"Ada apa, Seksi?" Tanya Salamander, ia mengubah panggilannya.


"Kau masih hidup rupanya," cibir Levy menatap tak suka pada Salamander.


"Tentu saja, Seksi. Aku belum puas melihat tubuhmu," balas Salamander tersenyum genit.


"Lucuti pakaiannya." Bukan Levy, melainkan Elzel yang memberikan perintah itu. Sama seperti tadi, kini Salamander sedang di lucuti oleh ketiga rekannya.


Setelah melepas baju milik salamander, Blue memberikan baju itu pada Levy. Levy pun menerimanya dengan senang hati.


"Jangan bercanda, Salamander. Aku ingin berbicara serius padamu," kesal Levy.


Salamander membersihkan badannya dari tanah yang menempel, ia langsung duduk dihadapan Levy. Wajahnya terlihat sangat serius sekarang.


"Dia adalah makhluk suci terkuat, dulu. Namun, karena ia terlalu lama terlibat dalam masalah manusia, ia menjadi seperti sekarang. Yah ... nasibnya masih lebih baik dari pada rekannya," ucap Salamander.


"Ada apa dengan rekannya?" Tanya Elzel.


"Dia kehilangan kekuatan makhluk sucinya dan pergi entah kemana, akibatnya dunia makhluk suci seperti neraka sekarang ini. Dulu, mereka berdua lah yang biasa membuat dunia makhluk suci damai."


"Mengapa tidak ada yang tahu kemana perginya?" Tanya Levy.


"Ada yang tahu, tapi dia menyembunyikannya. Pinky, makhluk suci yang telah lama bersama mereka," tambah Blue.


"Levy," panggil Salamander wajahnya seperti akan mengatakan sesuatu yang sangat serius.


"Apa?" Tanya Levy.


"Bolehkah aku mencium bibirmu?"


"Sihir air: Water slice"


"Tebasan angin"


"Seribu tombak bambu"


"Hembusan api"


Berbagai macam serangan langsung mengenai tubuh Salamander. Hal itu tak luput dari penglihatan ketiga pria yang tadinya di usir. Mereka bergidik ngeri melihat kondisi Salamander.


"Perpaduan mereka sangat mengerikan," ucap Magma.


"Wanita sangat lah menyeramkan," ucap Loki.


"Aku harus berhati-hati mulai sekarang," ucap Zero.


TBC

__ADS_1


__ADS_2