
Grizzy minta maaf baru hari ini bisa up lagi, seterusnya juga masih belum bisa up secara teratur. Mohon jangan lupakan Grizzy dan jangan lupa untuk dukung Grizzy selalu, Minna~~
selamat membaca~~
***
"Misi seperti apa yang kau ambil, Zero?" Tanya Elzel.
"Di kertasnya tidak ada keterangan, Kak Meldy juga tidak tahu. Ini seperti misi rahasia," jawab Zero.
"Tempatnya jauh?"
"Lumayan, sepertinya kita akan menginap di hutan."
"Kereta? Bagaimana dengan kereta?"
"Kereta kuda hanya bisa mengantar kita setengah jalan, selebihnya kita harus berjalan kaki. Maka dari itu aku mengajak mereka."
Levy dan Elzel pun melihat siapa 'mereka' yang dimaksud oleh Zero.
"Bersama mereka? Mengapa?" Tanya Elzel seperti tidak terima.
"Tentu saja, karena kami akan sangat membantu kalian nantinya," sahut salah seorang itu.
"Membantu? Atau hanya akan jadi beban? Dasar penipu ulung," cibir Levy tanpa melihat mereka.
"Kami punya nama, dasar wanita gila." siapa lagi kalau bukan Loki dan Magma.
"Sudahlah, ayo kita pergi." Mereka pun menurut dan mulai menaikkan barang bawaan mereka keatas kereta kuda.
Di sepanjang jalan tak ada percakapan, semuanya sibuk dengan pikiran dan imajinasi masing-masing. Seperti Levy, yang hanya menatap jalan.
Hari mulai sore, mentari hampir tenggelam. Dan, mereka bahkan belum sampai setengah jalan. Tempatnya sangat jauh, sepertinya. Rasa bosan mulai berdatangan, sudah tidak tahan dengan keheningan ini. Tapi, tak ada salah satu dari mereka yang mau membuka suara.
"Hei, wanita gil- maksudku, Levy. Apa benar kau hilang ingatan?" Loki memulai percakapan.
Levy hanya meliriknya sekilas, lalu berdehem. Kemudian kembali menatap jalan setapak yang telah di lalui kereta kuda. Ia merasakan kesadarannya perlahan menghilang, pikirannya membawanya entah kemana. Ia hanya merasa dirinya seperti melayang dalam ruangan yang sangat gelap. Tak ada secercah cahaya apa pun, sejauh mata memandang.
'Kalau begitu, aku akan mengubah ... Mulai hari ini, aku, Keira ... akan berjanji untuk selalu menyayangi dan melindungi saudariku, Levy ... Jika ada yang melukainya, aku akan membalas orang itu'
Suara itu menggema di kepala Levy, suara yang membuat Levy merasakan kerinduan. Namun, ia tidak tahu siapa orang yang dirindukannya itu. Tubuhnya berpindah tempat lagi, kini ruangannya putih dan terasa hampa. Di depannya berdiri seorang pemuda yang sedang membelakanginya, pikirnya, orang itu adalah Zero.
Levy mendekati orang itu, tapi semakin ia berusaha mendekat, orang itu semakin menjauh, sangat jauh. Ia berlari, mengejar orang itu. Sama seperti tadi, Levy juga merasakan kerinduan yang sangat besar, hampir tak terbendung. Tiba-tiba, jauh dalam lubuk hatinya, terbesit sebuah nama 'Jinyoung'. Merasa tak asing dengan nama itu, namun tak terlintas satu pun ingatan tentang nama itu.
'Sudah kubilang, kan? Aku akan melindungimu, apa pun yang terjadi'
Levy merasa kepalanya akan pecah saat ini, badannya terasa panas. Kini kepalanya di penuhi oleh suara-suara yang tak asing baginya.
__ADS_1
"Levy! Hei? Levy?"
"Levy, ada apa?"
Levy terbangun dari mimpi yang aneh dan terasa sangat nyata, badannya penuh dengan keringat. Napasnya tak beraturan, tak lupa dengan air mata yang masih meninggalkan jejak di wajahnya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Zero.
"Memangnya ada apa denganku?" Tanya balik Levy.
Terlihat ke-empat orang didepannya saling pandang.
"Se-sepertinya kau mimpi buruk," ucap Elzel.
"Ah, mungkin saja. Tapi, itu terasa sangat nyata." Levy memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
"Tidurlah lagi, kita masih belum sampai." Zero menarik tubuh Levy kedalam dekapannya, memberi Levy tempat nyaman untuk beristirahat.
Levy pun mulai menutup kembali matanya. Tanpa sepengetahuannya, ke-empat orang itu seperti saling menyalahkan akan sesuatu.
"Mengapa tidak memberitahunya?" Tanya Loki dengan nada kesal.
"Untuk apa? Tidakkah kau lihat keadaannya? Dia tidak berpura-pura," balas Zero agak berbisik agar tidak membangunkan Levy.
"Haruskah kita mencari tahu, siapa itu Jinyoung?" Tanya Magma.
"Kapan? Menunggu sampai nyawanya melayang?" Geram Loki.
"Diamlah, kita lanjutkan pembicaraan ini nanti saja," tegas Zero mengakhiri topik aneh itu.
***
Mereka sudah hampir sampai di tujuan, kali ini mereka hanya harus berjalan sekitar 2 kilometer untuk sampai ke desa yang tertera di kertas misi tersebut.
"Levy, apa kau tidak enak badan?" Tanya Elzel yang sedari tadi melihat Levy yang lesu.
"Tidak, aku baik-baik saja," balas Levy.
"Mau ku gendong?" Tanya Loki sambil mengulurkan tangannya pada Levy.
"Terima kasih, tapi aku tidak apa-apa, sungguh," tolak Levy halus.
Bugh
Levy menabrak Magma yang berhenti tiba-tiba.
"Bukankah desanya masih jauh? Lalu, yang di sana itu apa?" Tanya Magma menunjuk sebuah desa yang berada di tengah hutan.
__ADS_1
"Mungkin, ada beberapa desa di tempat ini," sahut Loki.
"Tidak, di kertas ini mengatakan hanya ada satu desa, Kata Kak Meldy juga." Zero memeriksa sekali lagi kertas misi itu.
Tanpa aba-aba, Levy segera turun dari tebing yang cukup tinggi. Ia turun melalui pohon-pohon yang tinggi, hingga akhirnya ia mendarat dengan selamat. Tak tinggal diam, ke-empat orang itu pun mengikuti jejak Levy.
Mereka segera menuju desa itu, namun begitu sampai, desanya terlihat sangat sepi dan sunyi, seperti tidak ada kehidupan di desa itu. Mungkin, karena hari sudah malam, pikir Mereka. Zero mengajak mereka untuk kembali ke dalam hutan, menginap disana.
Mereka tak menyalakan api, karena bulan sangat terang hari ini. Binarnya membuat sang malam tidaklah gulita dan menakutkan. Dan para bintang yang menghiasi bumantara membuatnya seperti lukisan.
Elzel tidur dengan bersandar di pohon, Magma lebih memilih menaiki pohon, Zero sama halnya dengan Elzel, Loki belum tertidur, ia lebih memilih untuk mengasah pisaunya. Sedangkan Levy, ia masih berdiri sambil terus memperhatikan desa itu.
Aku seperti mengenali aura ini, tapi dimana? Dan, siapa? Batin Levy.
"Tidurlah, masih ada hari esok untuk menyelidikinya," sahut Loki yang mulai membereskan barang-barangnya, bersiap untuk tidur.
Levy hanya berdehem, dengan pandangan yang masih tertuju pada desa itu. Dalam hatinya, ia merasa lebih baik jika dirinya tak terlelap.
Semakin ia memfokuskan dirinya pada desa, dirinya semakin melihat banyak hal aneh. Seperti, desa itu terlihat jelas di malam hari, padahal tak ada satu pun cahaya yang menerangi. Walaupun cahaya bulan terang, tapi tidak mungkin menerangi hingga dalam rumah yang ada di desa.
Levy menaiki pohon, hingga ke ujung. Mengedarkan pandangannya ke rumah-rumah yang ada, tapi tidak ada lagi yang aneh. Ia berbalik, melihat tebing tempat mereka turun tadi. Aneh, tebingnya tidak ada, hanya ada pepohonan yang terlihat sejauh mata memandang.
Levy menaruh telapak tangannya di batang pohon, terukir lah lingkaran sihir dengan bermacam-macam warna. Ia sedang memanggil makhluk suci.
"Blue, Pega, Pynix, Salamander, datanglah."
Levy memanggil empat makhluk suci sekaligus, pemanggilan yang sangat jarang di lakukan oleh pengguna Magi sekalipun. Walaupun Levy adalah penyihir, tapi ia bisa memanggil makhluk suci .
"Owner, mengapa kau melakukan ini? Kau bisa kehilangan nyawamu," ucap makhluk suci berbentuk kuda dengan warna coklat, Pega.
"Pega benar, Levy. Kau bahkan memanggilku juga. Bukankah kau sudah tahu? Memanggilku sama dengan memanggil 2 makhluk suci?" Ucap pria dengan lidah seperti ular, Salamander.
"Apa kalian lupa siapa aku?" Tanya Levy dengan tatapan yang sangat menakutkan.
Mereka langsung menunduk takut, tak biasanya Owner mereka menunjukkan sisi menyeramkan seperti itu.
"Apa yang terjadi, Owner?" Tanya burung yang menyerupai burung Phoenix, Pynix.
"Jaga teman-temanku, jangan sampai ada bahaya yang mendekati mereka. Pergilah, sekarang juga," titah Levy.
"Bagaimana denganmu? Kau sudah memanggil kami, kau juga tidak memiliki penjagaan, di tambah tubuhmu terkena sihir kutukan. Biarlah Salamander menjaga dua orang, dan aku akan menjagamu," usul Blue.
"Iya, Levy. Kami tidak bisa membiarkan dirimu tanpa penjagaan," tambah Salamander.
"Cukup lakukan perintahku, jangan membantah. Aku bisa menjaga diriku sendiri, dan ada yang harus kulakukan. Aku pergi dulu." Levy meninggalkan para makhluk sucinya begitu saja.
Mau tidak mau, para makhluk suci itu harus menjalankan perintah pemiliknya. Walaupun dengan berat hati.
__ADS_1
TBC