
Levy dan yang lainnya masih belum sampai di puncak tebing. Kelihatannya saja dekat, tapi nyatanya mereka harus berjalan sangat jauh untuk sampai. Belum lagi, banyak hama yang menghalangi jalan.
Levy menangkap gerak-gerik Elzel yang kelelahan akibat berjalan, ia menarik baju Elzel, lalu melemparkannya ke atas Manticore. Seperti dulu.
Keira yang melihat itu merasa tidak suka, lebih tepatnya, ia cemburu. Padahal, dia juga lelah, terlebih dia adalah kakaknya Levy.
"Cih ... Tidak adil," gumam Keira.
"Pega, kakakku kelelahan," ucap Levy menekan kata 'kakak'.
Pega pun segera menundukkan badannya dihadapan Keira, memudahkan wanita itu untuk naik ke tubuhnya. Tentu saja, Keira sangat senang saat Levy memperhatikannya.
"Kakak," panggil Jin.
Merasa terpanggil, Levy segera menghampiri adiknya yang berada di atas tubuh Manticore.
"Ada apa?" Tanya Levy.
"Kita perlu bicara berdua saja,"
Levy menganggukkan kepalanya, "Kami ada urusan sebentar. Kami akan menyusul kalian nanti." Wanita itupun menarik tangan Jin turun dari Manticore.
"Terlalu berbahaya, Levy. Bisa saja mereka menyerang kalian," ucap Kyllin diangguki yang lainnya.
"Hanya sebentar, tidak akan terjadi apa-apa,"
"Aku akan menemani kalian," sahut Irwin.
" Tidak usah, ini masalah pribadi." Setelah mengatakan itu, Levy menjauhkan dirinya dari mereka.
Masalah pribadi? Memangnya siapa Jin itu? Batin Keira.
Begitu temannya sudah tak terlihat, Jin langsung mendudukkan dirinya di batu. Wajahnya terlihat sangat cemas. Ia menggenggam kuat kedua tangannya.
"Ada apa?" Tanya Levy.
"Dunia ini tidak beres, kerajaan Claude bagian dari animasi ...." Jin tidak dapat melanjutkan perkataannya.
"Apa maksudmu? Bicaralah yang jelas!"
"Zero of the end. Kau ingat? Animasi yang kita tonton setelah We love you,"
"Tentu saja, itu animasi yang sedih. Tokoh utamanya dibuang oleh ibunya sendiri saat ia masih bayi. Ia besar di hutan bersama seorang anak perempuan, mereka dibesarkan oleh kakek tua yang kemudian meninggal saat Zero berumur 7 tahun."
"Dan, Zero itulah yang akan kita selamatkan sekarang," tandas Jin.
Levy terkejut, bagaimana mungkin ia tidak sadar. Ia bertemu dengan Zero dan Elzel di dalam hutan. Mereka hanya sebatang kara.
__ADS_1
"Tidak hanya itu .... " ucap Jin.
"Apa lagi? Bukan sesuatu yang buruk, kan?"
"Animasi itu berjalan sesuai alurnya, Loki bagian dari animasi itu. Dia bukannya menghilang, tapi mati. Dia berusaha menghentikan Zero yang menyerap kekuatan iblis dan Zero membunuhnya."
"Tidak mungkin, Jin. Animasi We love you tidak berjalan sesuai alur aslinya, karena ada kita. Bagaimana mungkin Zero of the end masih stabil?" Levy tidak mau menerima kenyataan pahit itu.
"Kau salah. Karena adanya kau lah animasi itu malah stabil. Zero menjadi iblis karena kehilangan salah satu temannya, dan itu adalah dirimu. Dan yang akan menyelamatkannya adalah wanita berambut emas dengan kekuatan cahaya, itu juga adalah dirimu."
"Jadi ... Kita menghancurkan alur yang satu dan malah membantu alur yang ini?"
"Iya, dan kau tahu hal terburuk? Raja iblis yang mengendalikan Zero adalah ayah Levy dan juga Asgaf,"
Sekali lagi, Levy tertampar oleh kenyataan. Bagaimana mungkin lawan mereka sangat menyusahkan. Melawan Asgaf saja belum tentu mereka bisa menang, apa lagi harus melawan Ayah Levy yang dijuluki penyihir terkuat.
"Kalau tidak salah, saat menyelamatkan Zero, salah satu temannya mati. Aku tidak ingin itu terjadi, Jin. Walaupun mereka hanya karakter, mereka sangat baik padaku."
"Maka dari itu, sebaiknya kita berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan satu orang lagi. Yang lebih penting, jangan mengorbankan dirimu, Choi Jina!" Tegas Jin.
Takk
Levy memukul kepala Jin, "aku kakak mu, jangan memanggilku seperti itu."
Jin mengelus kepalanya, "disini, aku lebih tua darimu. Sangat aneh jika kau yang menjadi kakak."
"20 tahun,"
"Ah, aku tidak peduli. Ayo kita pergi!"
Mereka pun berjalan mengejar teman mereka. Diperjalanan, mereka mengobrol ria. Bahkan, sempat melupakan masalah mereka.
Saat mereka telah berkumpul kembali, mereka memilih untuk beristirahat. Selain karena kelelahan, hari pun sudah malam. Duduk dibawah bulan, walaupun gelap, tapi sangat indah sejauh mata memandang.
Beberapa dari mereka sudah tidur, Elzel tidur dengan memeluk Blue. Magma lebih memilih tidur di atas pohon. Riri bersandar di pohon. Keira menghampiri adiknya, memeluknya erat. Tidak ingin melepaskan tangannya barang sedetikpun.
"Keira, aku lelah," ucap Levy yang mulai risih dengan perlakuan Keira.
"Tinggal tidur saja, mudah, kan." Keira masih mengeratkan pelukannya.
"Hei, dia risih. Lepaskan saja dia, dasar gila!" Umpat Jin.
Keira langsung menatap tajam Jin, "Kau iri, kan? Aku akan memeluknya sepanjang malam," ejek Keira.
Jin berjalan mendekati mereka, lalu menarik Levy keluar dari kurungan Keira, "Dia kakakku!! Dia akan tidur bersama ku!!!" Teriak Jin.
Keira tidak tinggal diam, ia kembali memeluk Levy sangat erat, "Dasar gila, dia adikku!!! Pergi kau!!" Balas Keira.
__ADS_1
"Diam kalian, aku lelah," ucap Levy dengan sangat dingin.
Keira dan Jin langsung terdiam, lalu melepaskan Levy.
"Dreamy! Buat mereka tidur," kata Levy.
Dreamy muncul, ia menyiapkan sedotannya, lalu menembakkan jarum kecil agar Keira dan Jin tertidur. Setelah dua pengacau itu masuk ke alam mimpi, Levy akhirnya bisa bernapas lega. Ia menutup kembali gerbang Dreamy.
"Levy, siapa sebenarnya Jin? Mengapa dia menyebut dirimu kakak? Sejak kecil kau tumbuh bersama Keira dan Irwin, lalu dimana kau bertemu dengannya?" Tanya Kyllin, wajahnya terlihat sangat serius.
"Dimana tanda kutukan mu? Lalu, bagaimana kau melakukannya tadi?" Timpal Irwin.
"Aku bisa menjelaskan tentang kutukan itu, tapi tidak dengan pria bernama Jin," sahut Pinky yang menjaga Keira dan Jin bersama Pega.
Levy terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin kan dia langsung berkata, "Kalian hanya animasi yang aku tonton bersama Jinyoung!"
Levy bahkan belum tahu bagaimana mereka bisa sampai ke dunia ini, siapa yang membawa mereka dan mengapa.
"Aku akan menjelaskannya kalau masalah kita sudah selesai. Lagipula, aku juga harus memberitahu temanku sesuatu yang sangat penting," ucap Levy.
"Kuharap semua kekacauan ini bukan ulahmu, Levy." Kyllin melipat tangannya di depan dada.
Levy tertawa, "Jangan mengharapkan hal itu, semua ini terjadi karena aku dan Jin ada di dunia ini."
"Apa maksudmu, Levy?" Tanya Irwin.
"Entahlah, aku ingin tidur." Levy berjalan menghampiri Irwin, ia ikut membaringkan tubuhnya dengan Irwin sebagai gulingnya.
Dasar, apa wanita ini tidak punya malu? Batin Irwin.
Irwin memperbaiki posisinya, ia menaruh kepala Levy di lengannya, lalu ia memejamkan matanya.
"Waw, mereka sangat mesra. Padahal dulu mereka sering bertengkar," gumam Kyllin yang melihat posisi Levy dan Irwin.
"Kyll, tidakkah kau sadar, Levy sangat aneh. Auranya dan jiwanya, apa mungkin dia dari dunia lain?" Kata Pinky.
"Aku tahu itu. Dulu, aku dan Asgaf juga berpikir demikian. Jin muncul tiba-tiba, dia berambut dan bermata hitam, ciri khas yang tidak seperti penghuni dunia ini."
"Tapi, apa dunia lain itu benar adanya?"
"Itulah yang menghalangi kecurigaan kami. Dunia ini, dunia makhluk suci, dan dunia bawah, hanya itu dunia yang benar adanya."
"Bagaimana kalau mereka benar dari dunia lain? Apa yang akan kau lakukan? Kau sudah menyayangi Levy dengan tulus, bagaimana kalau dia memakai topeng?"
Kyllin terdiam sejenak, tangannya terkepal, "Aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu."
Sunyi, Pinky tidak ingin melanjutkan percakapan itu lagi, dan membiarkan percakapan tadi hilang di telan sang malam.
__ADS_1
TBC