World Of Animation

World Of Animation
Awal dari hidup baru


__ADS_3

~Melupakan sesuatu bukanlah hal mudah. Sewaktu-waktu, ingatan yang kau hapus akan kembali secara perlahan-lahan~


Grizzy_AMD


"Hutan ini sudah sering ku lewati, tapi tak pernah sekalipun aku melihat ada mayat disini." Pemuda berambut coklat itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh 'mayat' yang di temuinya.


"Hm? Manusia ini belum menjadi mayat," ucapnya kala melihat ada sedikit pergerakan dari seseorang yang terkulai lemah ditepi sungai.


Dia segera mengangkat orang itu dan membawanya ke tempat tinggalnya.


"Elzel, kemarilah!" Teriak pria berambut coklat itu.


Seorang gadis muda berambut merah segera datang saat mendengar namanya terpanggil.


"Ada apa? ... hm? Dia siapa, Zero?" Tanya gadis itu memiringkan kepalanya.


"Aku juga tidak tahu. Gantikan bajunya dengan baju yang lebih layak, setelah itu sembuhkan dia." Pria yang di panggil Zero itu langsung pergi kembali ke hutan untuk berburu.


"Rambut yang sangat indah," ucap Elzel di sela-sela kegiatannya.


Dengan telaten, Elzel membersihakan bercak darah di tubuh orang itu. Setelah merasa tubuh orang itu sudah bersih, Elzel mulai memakaikannya baju. Kemudian, ia tinggal menyembuhkannya.


Elzel menjulurkan tangannya tepat di atas tubuh orang itu, "Mentari di malam hari. Rembulan di siang hari. Kembalikan binarnya, ambillah binarku. Sembuhkan lukanya, darahku bayarannya," ucapnya.


"Hm? Tanda apa ini? Mengapa aku tidak bisa menyembuhkannya?" Heran Elzel, pasalnya di tubuh orang itu muncul tulisan yang aneh.


Elzel mendekatkan kepalanya agar dapat melihat dengan jelas tulisan itu. Matanya melotot lebar.


"Ini ... tidak seharusnya aku melihat ini." Elzel langsung berlari keluar mencari Zero, tapi ia tak kunjung melihat batang hidungnya.


Langit senja mulai tergambar di bumantara, menandakan hari mulai sore. Elzel masih setia duduk di sebelah orang itu, sambil menunggu kepulangan Zero.


"Aku pulang!" Mendengar suara yang di kenalnya, Elzel langsung berlari keluar.


"Zero!!" Teriaknya.


"Jangan berlari seperti itu, Elzel. Ada apa?"


Elzel menarik napasnya dalam-dalam Sebelum berbicara.


"Itu ... di tubuh orang itu muncul tulisan aneh saat aku menyembuhkannya, dan tubuhnya juga tidak sembuh."


"Tenanglah, Elzel. Kau terlalu panik." Zero langsung masuk untuk melihat keadaan orang itu.


Zero menundukkan tubuhnya, "Pantas saja kau panik, rupanya kau tidak bisa membacanya." Zero menatap datar Elzel yang hanya menampilkan cengirannya.


"Apa kau bisa membacanya, Zero?" Tanya Elzel.


Zero menyilangkan tangannya di depan dada, " Tentu saja, tidak," ucap Zero dengan sombongnya.


"Ah, aku lupa kalau kau sama bodohnya denganku," ucap Elzel menepuk jidatnya.


"Hufft ... ambilkan aku buku sihir, semuanya." Elzel langsung mengambil semua koleksi buku sihir mereka.


Cukup lama Zero membolak-balikkan halaman di buku sihir, tapi ia tak kunjung mendapatkan apa yang di carinya.

__ADS_1


"Apa tanda di tubuhnya adalah sihir kutukan?" Tanya Elzel yang terus menatap orang itu.


"Mungkin saja, tapi kita belum bisa memastikannya ... eh, lihat ini, tulisannya sama, kan? Tandanya juga." Zero menunjukkan sebuah gambar pada Elzel.


"Benar tebakanku, dia terkena sihir kutukan. Hm? Zero, coba kau baca ini." Elzel menujuk tulisan yang berada di paling bawah.


"Ah, jika ingin membatalkan sihirnya, kita harus membunuhnya." Mereka terdiam dan saling menatap sejenak.


Elzel terkekeh, "Hoho, ternyata itu toh caranya. Zero, cepat lakukan."


"Tidak, tidak, Elzel. Kau saja yang melakukannya. Aku tidak ingin menghabisi orang yang sudah ku selamatkan."


"Lalu, untuk apa menyelamatkannya? kalau pada akhirnya kita akan menghabisinya!!" Elzel merasa frustasi. Mengapa ia harus menghadapi situasi macam ini?


"Mana ku tahu dia terkena sihir kutukan?!!"


"Harusnya kau tahu itu, dasar bodoh!!" Pertengkaran antara Elzel dan Zero pun terjadi, mereka saling menjambak rambut, melempari satu sama lain, hingga sesekali mereka saling menggigit.


"Enghh ...." mendengar suara itu, Elzel dan Zero menghentikan pertengkaran mereka.


"Zero, cepat habisi dia sebelum dia bangun," bisik Elzel.


"Kau saja, aku tidak pernah menghabisi manusia." Zero mendorong Elzel.


"Aku wanita, tidak mungkin seorang wanita tega menyakiti wanita lain."


"Ya, wanita memang tega. Tidakkah kau lihat di luar sana? Banyak wanita yang menyakiti wanita lain dengan cara merebut kekasih wanita lain."


"Itu beda lagi, Zer-"


"Cepat habisi dia!!" Teriak Elzel dan Zero bersamaan. Namun, tak ada dari mereka berdua yang bergerak.


"Kalian terlihat seperti orang bodoh," ucap orang itu masih dengan tubuh yang tidak bisa bergerak.


Zero berdehem, "Kau akan mati," ucapnya.


"Siapa diantara kalian yang akan menghabisiku?"


"Mengapa kau menanyakan hal itu?" Tanya Elzel


"Karena siapapun yang menghabisiku, aku akan menghantuinya sampai dia mati."


Elzel dan Zero bergidik ngeri mendengar hal itu. Mereka saling menatap lagi.


"Ka-kalau begitu, bagaimana kalau kau bunuh diri saja?" Saran Elzel.


"Bunuh diri dan menghantui kalian berdua bukanlah ide buruk, aku akan mencobanya." Orang itu menggerakkan badannya, berusaha untuk bangkit.


Elzel dan Zero langsung menahan tubuh orang itu, "Jangan lakukan itu. Itu adalah ide terburuk yang pernah ada. Mengapa kau mendengarkan ide dari orang bodoh sepertinya?!!"


"Mengapa kau tidak memberikan ide yang lebih bagus, Zero? Kau kan pintar!!"


"Betapa bodohnya kalian, mana ada hantu di zaman sekarang?"


"Ada, hantu itu ada!!" Teriak Elzel.

__ADS_1


"Ya, hantu itu ada!!" Teriak Zero.


"Terserah kalian saja. Lalu, mengapa kalian ingin menghabisiku?" Tanya orang itu.


"Tidakkah kau lihat tubuhmu yang penuh ... eh? Kemana perginya tanda aneh itu?" Heran Elzel sambil membolak-balikkan tangan kiri orang itu.


"Kau terkena sihir kutukan, dan sihir itu hanya bisa hilang jika kau mati," jelas Zero.


"Sihir? Kutukan? Apa yang kalian katakan? Siapa yang akan percaya pada hal aneh itu?"


"Di dunia ini siapa yang tidak percaya pada sihir? Hanya kau saja yang mengatakan hal itu. Apa kau hilang ingatan?" Tanya Zero.


Orang itu tertawa canggung, "Aku memang tidak ingat apapun, tapi aku tidak sebodoh itu."


"Apa kau berasal dari kerajaan lain?" Tanya Zero.


Orang itu baru saja tersadar, dia tidak berada di tempat yang seharusnya. Bahkan, warna mata kedua orang yang berada di depannya bukanlah warna mata pada umumnya.


"Kerajaan?" Tanya orang itu.


"Ya, kau berada di kerajaan Herver."


"Herver? Sepertinya pernah ku dengar, dimana ya?" Gumam orang itu.


"Levy, apa kau tidak merasakan sakit?" Tanya Elzel.


"Siapa Levy?" Tanya balik Zero.


Elzel menunjuk orang itu, "Dia."


"Aku? Tahu dari mana?."


"Di kalung milikmu tertulis nama Levy," Elzel kembali menunjuknya.


Orang itu memeriksa kalungnya, "Hm? Aku mempunyai dua kalung. Keira DSC? Levyanna DSC? Yang mana namaku?"


"Sepertinya Levyanna DSC. Warna kalungnya mirip dengan rambutmu, silver."


"Sudahlah, aku lapar. Pakai saja nama apapun itu." Zero mulai berdiri dari tempatnya.


"Kau tidak jadi menghabisiku?" Tanya orang itu.


"Nanti saja. Elzel cepatlah masak!"


"Iya, iya!" Teriak Elzel.


"Sepertinya telingaku akan sakit, jika bersama mereka terus," gumam orang itu.


"Aku mendengarmu, Levy!!" Teriak Zero.


"Kami punya telinga yang tajam, Levy. Ingat itu!!" Teriak Elzel.


"Lalu, mengapa kalian selalu berteriak?!!" Teriak Levy.


"Hanya ingin!!" Teriak Elzel dan Zero bersamaan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2