World Of Animation

World Of Animation
Misi untuk Levy dan Elzel


__ADS_3

Gurin, kota yang terdapat banyak Guild dan merupakan kota yanh sangat ramai penduduk, kota ini berada di kerajaan Herver. Kota inilah yang menjadi tempat tinggal Levy, Zero, dan Elzel selama 4 bulan lamanya. Levy dan Elzel tinggal di asrama wanita sedangkan Zero, tinggal di asrama pria. Uang sewanya cukup mahal, yaitu 1,5 juta Berry per bulan. Oleh karena itu, hampir setiap hari mereka selalu mengambil misi, mulai dari Rank D sampai Rank A. Mereka belum bisa mengambil misi Rank S dan SS, karena dalam Guild terdapat Rank untuk para penyihir. Hanya penyihir Rank S yang bisa memilih misi yang disukainya, Rank apa pun itu.


"Zero, ayo kita mengambil misi," ajak Levy dengan kepala yang berada diatas meja.


Di depannya, Zero sedang melahap makanannya, "Hm," dehem Zero dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Dari dua hari yang lalu kau selalu begitu, tapi tidak pernah mengambil misi." Levy menghentak-hentakkan kakinya dibawah meja.


"Mau bagaimana lagi? Aku sedang malas."


Levy menghembuskan napas, lalu menelungkup kan kepalanya.


"Levy, apa kau sangat membutuhkan uang?" Tanya Elzel dengan jus jeruk di depannya.


"Iya, uang sewa untuk bulan depan sudah habis, bagaimana kalau kita diusir?" Balas Levy tanpa mengangkat kepalanya.


"Mau melakukan misi bersamaku? Hanya kita berdua." Mendengar itu, Levy langsung mengangkat kepalanya.


"Benarkah? Ayo ... ayo, kita lakukan," balas Levy yang terlihat hampir menangis.


"Jangan mengambil misi yang berbahaya, terlalu jauh, ataupun keduanya," peringat Zero.


Ikutlah dengan kami jika kau ingin membatasi misi yang akan kami ambil. Batin Levy.


"Jangan menatapku seperti itu, hari ini aku ingin beristirahat," sahut Zero mulai membaringkan badannya.


Levy dan Elzel segera menuju papan misi, mencari dan memilih misi yang akan mereka lakukan hari ini. Elzel mengambil dua kertas, sedangkan Levy hanya satu. Setelah memutuskan misinya, mereka lalu pergi menuju tempat Meldy untuk meminta izin mengambil misi.


Meldy menjelaskan dan memberitahu lebih jelas tentang tempat dan misi itu. Setelah paham, mereka pun berangkat. Tempatnya berada di kota ini, dan tidak berbahaya. Mereka lebih memilih jalan kaki untuk menuju ke tempat misi.


Sesampainya di tujuan, misi pertama, yaitu menangkap ikan terbang yang selalu meresahkan pemilik perkebunan. Ikan ini benar-benar terbang, melayang di langit, keuntungan itulah yang memberi mereka kesempatan untuk merusak buah-buahan, ikan terbang itu hanya menggigit setengah, lalu membiarkan buah itu busuk di atas pohon.


"Mereka sangat banyak," ucap Levy sambil melihat keatas.


"Dan, sangat tinggi," tambah Elzel.


Mereka saling tatap, "Tangkap mereka!!" Seru mereka bersamaan.


Levy dan Elzel berlari kesana-kemari dengan jaring di tangan mereka. Sekilas, mereka nampak bermain-main dengan ikan itu, padahal jika dilihat lebih teliti, saking kesalnya, mereka sampai memiliki niat untuk meledakkan dunia ini. Untung saja mereka tidak mempunyai kekuatan sebesar itu.


"Kemari kau, ikan sialan!!" Geram Levy, ia berlari dan melompat sekuat tenaga untuk menangkap ikan-ikan itu.


"Levy! Hanya tersisa dua ikan!" Teriak Elzel.


Levy menaruh telapak tangannya di rumput, lalu terukir lah lingkaran sihir yang besar, "Blue, datanglah!" Seru Levy.


Cahaya terpancar dari lingkaran itu, kemudian muncul lah makhluk suci berbentuk panda berwarna merah, sangat tidak nyambung dengan namanya, Blue.


"Tangkap ikan jelek itu, Blue!" Seru Levy sambil menunjuk kedua ikan di langit yang bergoyang-goyang seperti mengejeknya.


"Siap, laksanakan, owner." Blue melesat dengan cepat, dengan tongkat yang terbuat dari bambu di genggamannya.


Blue memukul kedua ikan itu hingga terjatuh ke tanah, betapa senangnya Levy melihat kedua ikan yang jatuh itu. Untung saja rasa daging ikan itu sangat tidak enak, kata Zero, rasanya seperti muntahan dan air got.


Begitu Blue mendarat di tanah, Levy dan Elzel menghampirinya dan memeluknya. Blue sangat lembut, itulah mengapa Levy dan Elzel sangat suka memeluknya.

__ADS_1


"Terima kasih, Blue," ucap Levy.


"Sama-sama, owner. Tapi mengapa kalian tidak menggunakan sihir dari awal?" balas Blue.


"Misi selanjutnya sepertinya akan susah, kami tidak ingin menguras sihir kami," sahut Elzel.


"Mau ku temani?" Tanya Blue.


"Kekuatanmu tidak cocok untuk misi selanjutnya, Blue. Dan, kalau kau terlalu lama disini, kau hanya akan menguras Mana Levy."


"Tenanglah, aku tidak selemah itu, Elzel. Ayo kita ambil bayaran dan pergi ke tempat selanjutnya," ucap Levy.


***


"Hufft ... tersisa misi terakhir," ucap Levy yang duduk di bawah pohon.


"Siapa yang mengambil misi ini? Kita kan jadi harus menangkap kucing garong," gerutu Elzel.


Levy menatap dasar Elzel, "Mulutmu mau ku jahit? Kan, kau sendiri yang pilih misi ini," kesal Levy.


Elzel nampak mengingat, sedetik kemudian ia terkekeh, "Ah, ternyata aku," ucap Elzel tanpa beban.


"Hari sudah mau gelap, lebih baik jika kalian menyelesaikan misi terakhirnya sekarang," ucap Blue.


Levy dan Elzel mengangguk, mereka pun melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah rumah yang berada di hutan. Hanya satu rumah, seperti rumah mereka dulu, bedanya rumah ini masih agak dekat dengan kota.


Levy mengetuk pintu, lalu pintunya terbuka sendiri. Levy menatap Elzel dan Blue.


"Kita masuk?" Tanya Levy.


Mereka pun masuk, tak lupa mengucapkan salam. Seisi rumah itu gelap, hingga memaksa Blue untuk menggunakan kemampuannya menerangi rumah itu. Mereka menoleh kesana-kemari, mencari si pemilik rumah, namun tak terlihat sedikit pun tanda-tanda adanya kehidupan.


"Levy, apa benar ini tempat misi terakhir?" Tanya Elzel memastikan.


"Benar, kak Meldy juga mengatakan tempatnya disini." Levy masih menelisik ke segala penjuru.


"Dia datang," ucap Blue.


"Hah? Siapa? Dimana?" Tanya Elzel.


"Diatas,"


Mereka kompak melihat keatas, betapa terkejutnya mereka saat mendapati seorang pria tua sedang duduk di sofa dalam keadaan terbalik.


"Makhluk suci ya? Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka," ucap pria tua itu.


"Emm ... kakek? Maksudku, tuan, misi apa yang akan kami lakukan?" Tanya Levy.


"Duduklah dulu, gadis kecil. Aku akan menjelaskannya."


Levy dan Elzel saling pandang, tatapan mereka seakan saling bertanya, dimana mereka harus duduk. Semua kursi dan sofa berada diatas.


"Ah, maaf ...." pria tua itu menjentikkan jarinya, sedetik kemudian ruangan itu berubah. Sama seperti ruangan pada umumnya, tidak ada yang berada diatas, kecuali lampu.


Woah, keren. Batin Elzel.

__ADS_1


Mereka pun langsung duduk, dengan Blue diatas pangkuan Levy.


"Misi kalian sangat mudah, seperti yang tertulis di kertas itu, kalian hanya harus mengambilkan permata hijau untukku. Permata itu berada dalam gua yang tak jauh dari sini," jelas pria tua itu.


"Seberapa banyak, kami harus mengambilkannya?" Tanya Elzel.


"Cukup satu saja. Ah, kalian juga harus berhati-hati saat di sana." Setelah mengucapkan itu, pria tua itu kembali menjentikkan jarinya, kini dia telah hilang dari tempatnya.


"Sepertinya misi ini agak mudah," ucap Elzel.


"Ingatlah perkataan pria itu, kalian harus selalu waspada. Aku tidak bisa menemani kalian, aura di sana nampak aneh, dan membuatku seperti tidak mempunyai kekuatan," ucap Blue.


Blue sangat menyayangkan dirinya yang masih kurang kuat hanya untuk melawan aura aneh dari hutan.


"Tidak apa, kembalilah, Blue." Levy menutup gerbang Blue, lalu pergi ke dalam hutan untuk mengambil permata hijau.


Kata pria tua itu, gua nya tidak jauh, tapi sedari tadi mereka masuk hutan, belum juga menemukan gua. Terlebih, dalam hutan sudah mulai gelap, namun itu hal biasa bagi mereka yang sudah terbiasa tinggal di hutan.


"Levy, itu guanya." Elzel menunjuk ke depan, nampak sebuah mulut gua yang hampir tertutupi sepenuhnya oleh tanaman merambat.


Srrekk ... srekk ....


Baru saja Levy dan Elzel melangkahkan kaki untuk menuju ke gua, dari belakang terdengar seperti ada sesuatu dibalik semak belukar itu. Mereka terus memperhatikannya sambil bersiap siaga.


"Ini aku," ucap orang yang keluar dari semak belukar.


"Zero? Mengapa kau disini? Bukannya kau tidak ingin mengambil misi?" Tanya Elzel yang senang melihat kehadiran Zero.


"Aku khawatir pada kalian, bisa saja nanti kalian ketakutan saat berada di hutan." Zero mengedikkan bahunya sambil berjalan mendekat.


"Ayo kita masuk," ucap Levy.


"Tunggu dulu," sahut Zero.


"Ada apa?" Tanya Levy.


Zero menarik Levy dan Elzel mendekat ke sebuah pohon yang sangat besar untuk bersembunyi di belakangnya.


"Aku punya rencana, sebaiknya ada satu orang yang masuk kesana. Dan sisanya menunggu disini, berjaga-jaga," ucap Zero.


"Mengapa?" Tanya Levy.


"Banyak orang yang mengatakan hutan ini adalah tempat berkumpulnya bahaya, banyak yang tersesat dan tertipu hingga akhirnya mereka tidak kembali."


Elzel bergidik ngeri mendengarnya, sedangkan Levy nampak memikirkan sesuatu.


"Aku saja yang masuk, kalian tunggu disini," ucap Levy setelah mempertimbangkan sesuatu.


"Tapi, Levy, tidakkah sebaiknya kita yang berjaga? Dan biarkan Zero yang masuk,"


"Aku bisa mengatasinya, sebaiknya kau berhati-hati, Elzel."


"Kau pasti bisa, Levy." Zero menyemangati Levy dengan mengepalkan kedua tangannya di udara. Sedangkan Levy hanya mengangguk, lalu mulai berjalan memasuki gua itu.


TBC

__ADS_1


maaf atas keterlambatan updatenya minna~~


__ADS_2