
~Cukup tahu, cukup sabar, cukup perih, cukup sekian dan terima kasih~
Di sebuah rumah sakit, terlihat seorang gadis muda yang terbaring lemah di kasur. Ada berbagai macam selang yang terhubung dengan tubuhnya bertujuan membantunya tetap hidup.
Tit ... tit ... tiiit ....
Terdengar suara mesin yang menampilkan detak jantung sang pasien, layarnya kini telah menampilkan garis lurus. Pertanda jantung pasien itu tak lagi berdetak.
Suster yang tadinya datang untuk memeriksa keadaan, kini telah panik dan segera berlari keluar untuk memanggil dokter. Beberapa saat kemudian, beberapa dokter telah datang dengan napas yang memburu.
Dengan cekatan dan teliti, mereka menyiapkan segala alat yang akan membantu mereka untuk mengembalikan detak jantung sang pasien. Hampir menyerah dengan keadaan, akhirnya detak jantung yang mereka perjuangkan telah kembali. Napas lega telah terdengar dari para dokter itu.
Detak jantung pasien itu kembali normal, jemarinya yang kurus nan pucat itu bergerak, hal itu tak luput dari penglihatan salah satu dokter.
"Sepertinya dia akan siuman," ucap salah satu dokter.
"Setelah dua tahun lamanya, akhirnya dia akan bangun dari komanya. Suster Anna, segera panggil keluarga pasien," ucap dokter yang sedang melepas penutup kepalanya.
Suster Anna segera keluar untuk memanggil keluarga pasien tersebut.
"Enghh ...." mata gadis itu perlahan terbuka, menyesuaikan intensitas cahaya di ruangan.
"Syukurlah, dia sudah siuman ...." Dokter wanita itu langsung mendekati sang pasien.
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu, nona. Anda baru saja bangun dari koma." Lanjutnya.
"Koma? Aku?" Tanya gadis itu dengan suara serak.
"Iya, anda men-"
Brakk
"Jina! Oh, Jinaku sudah bangun. Terima kasih tuhan," ucap seorang wanita paruh baya sambil memeluk gadis itu.
"Terima kasih atas kerja keras kalian, Dokter," ucap Pria paruh baya.
Pria paruh baya itu berbincang sejenak dengan para dokter, lalu mengantar mereka keluar.
"Jina, apa kau masih mengingat Ibu?" Tanya wanita paruh baya.
Gadis itu tersenyum, "Tentu saja, Ibu. Tapi Ibu, apa yang terjadi padaku?"
"Kau mengalami kecelakaan, sayang. Ibu sangat khawatir, kau koma selama dua tahun."
"Ibu, selama koma, aku memimpikan sesuatu. Tapi aku lupa, mimpi seperti apa itu."
"Jika kau melupakannya, artinya itu tidak penting bagimu, sayang."
"Ibu benar. Hm? Ibu, dimana adikku, Jinyoung?"
Seketika wajah wanita yang di panggilnya Ibu itu langsung menunjukkan kesedihan. Ia menoleh ke kanan dengan tatapan sendu. Membuat gadis itu ikut menoleh.
Airmatanya menetes, melihat keadaan orang yang di carinya. Ya, adiknya, Jinyoung juga dalam kondisi koma.
"Jina, jangan bergerak dulu. Kau baru saja bangun dari koma,"
Jina, Lebih tepatnya Choi Jina, ia tidak mengindahkan larangan Ibunya itu. Di sibakkannya selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya, lalu mulai menuruni kasurnya.
Brughh
__ADS_1
Kakinya masih sangat lemah untuk menopang tubuhnya. Merasa kasihan dengan sang anak, Ibu Jina langsung membantu anaknya itu berjalan.
"Jinyoung, bangun! Hei, bocah nakal, bangunlah!" Gadis itu masih setia menggoyang-goyangkan tubuh adiknya, berharap sang adik akan bangun.
"Jina, tenanglah. Adikmu akan bangun saat waktunya telah tepat. Mungkin, dia masih dalam pemulihan," ucap Ibu Jina mencoba untuk menenangkan sang anak.
Tangis mulai pecah, tubuh gadis itu gemetaran, hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya lagi.
"Ayah! Ayah!" Teria Ibu Jina.
"Ada ap- Jina!" Ayah Jina segera mengangkat tubuh anaknya ke atas kasur.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ayah Jina.
"Sepertinya dia syok melihat keadaan adiknya, cih menyusahkan saja," jawab Ibu Jina.
"Sudah ku bilang, kan, harusnya saat itu kita menambah dosisnya lagi."
"Mana aku tahu kalau mereka akan bertahan. Tapi, sepertinya Jinyoung tidak akan bertahan lama," Ibu Jina menampilkan senyum jahatnya.
***
Begitu sadar dari pingsan, Jina kembali mendekat pada sang adik. Di tatapnya wajah tampan Jinyoung, membuat hatinya kembali teriris.
"Jina," panggil seseorang dari belakang.
"Ada apa, Ibu?" Jina berbalik menatap pemilik suara tersebut.
Ibu Jina mengambil kursi, lalu mendudukkan dirinya tepat di sebalah Jina.
"Adikmu seperti ini karena menyelamatkanmu. Saat itu, tepatnya pada hari ulang tahunmu, kau mengatakan kalau kau lelah dan ingin kembali ke kamar ...." Ibu Jina menampilkan raut wajah sedihnya.
"Aku. Ini semua karena aku yang selalu melakukan hal bodoh, Ibu." Jina kembali menumpahkan airmatanya.
"Sayang, ada satu hal yang ingin Ibu katakan."
"Apa?"
"Sepertinya pengobatan Jinyoung akan di hentikan, Ibu dan Ayah sudah berusaha sekuat mungkin, tapi uang yang di butuhkan sangat besar. Kami tidak sanggup untuk menanggung biaya pengobatannya lagi."
"Tidak, jangan hentikan. Bagaimana Jinyoung akan bertahan tanpa ini semua?"
"Tidak ada lagi yang bisa Ayah dan Ibu lakukan , Jina."
"Aku ... aku akan melakukan sesuatu, Ibu. Aku akan membantu kalian mencari uang."
Ibu Jina tersenyum mendengar itu, tapi buru-buru ia normalkan ekspresinya,"Tidak, Jina. Kau baru saja sembuh. Kau tidak akan bisa bekerja dengan tubuh lemah seperti itu."
"Aku bisa. Aku akan melakukan apapun demi Jinyoung, Ibu."
"Jina sayang, sebenarnya Ibu tidak ingin mengatakan hal ini, tapi hanya dengan ini, kita bisa mendapatkan uang untuk Jinyoung."
"Apa itu, Ibu?"
***
Jina nampak termangu di dalam kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya di cermin.
"Apa-apaan itu? Mengapa aku melupakan sifat asli kedua manusia itu?" Jina nampak tersenyum miris.
__ADS_1
"Apanya yang berusaha? Apa ini yang mereka sebut dengan keluarga? Aku memang menawarkan diri untuk membantu, tapi ...." kakinya serasa lemas, ia terduduk di lantai. Memeluk kakinya dan menenggelamkan wajahnya di antara lututnya. Ia kembali teringat dengan perkataan sang Ibu.
'Kau bisa menjual dirimu, dengan begitu kita akan mendapatkan uang untuk Jinyoung ....'
'Atau, kau bisa membuat dokter disini memberi kita uang, dengan cara membunuh dirimu. Jika kau mati, Ibu akan menuntut mereka.'
Jina kembali meratapi nasibnya. Tapi, jika dia tidak melakukan satu dari dua pilihan tersebut, nyawa adiknya yang akan terancam.
"Jual diri? Lebih baik aku mati, dari pada harus melakukan hal tersebut."
Namun, hati kecilnya merasa kasihan pada dokter yang telah merawat mereka. Bagaimana bisa dengan liciknya ia harus melakukan sesuatu yang mengancam profesi para dokter demi uang.
'Kita bukanlah anak kandung mereka.'
Seketika Jina mengingat kembali perkataan yang selalu Jinyoung ucapkan. Jika itu benar, lalu, dimana orangtua kandung mereka?
"Jina sayang, kau di dalam?" Panggilan yang terasa lembut, namun sangat menjijikan bagi Jina.
Setelah menyuruh anaknya yang tidak-tidak, dia masih memanggilku seperti itu? Memuakkan. Batin Jina.
"Iya," jawab Jina seadanya, lalu bergegas keluar dari kamar mandi.
Saat keluar, ternyata sudah ada seorang dokter yang menunggunya. Jina menaiki kembali kasurnya, berbaring sesuai arahan dokter. Sang dokter pun langsung memeriksa keadaan tubuh Jina.
"Tubuhnya sudah lebih baik sekarang, dia akan cepat sembuh jika rutin meminum obatnya," ucap dokter itu, lalu menulis sesuatu di kertas.
"Syukurlah, terima kasih dok," sahut Ibu Jina.
"Bawa ini ke apotek, ini resep obat untuk anak anda," Ibu Jina menampilkan senyum jahatnya.
"Baik, dok."
"Saya permisi ya, bu"
Merasa dokter itu telah pergi jauh, Ibu Jina langsung mencari pulpen, lalu mengikuti tulisan sang dokter. Ia menambahkan obat yang seharusnya tidak di campur dengan obat asli Jina. Setelah itu, Ibu Jina pergi untuk mengambil obat.
Jina merasa takut, tapi ia terus mengulang kata-kata 'demi Jinyoung' dalam hatinya. Dengan begitu, hatinya akan sedikit tegar. Di lihatnya sang adik yang masih setia menutup mata, senyum miris terukir di wajahnya.
Bertahanlah, Jinyoung. Kakak akan segera mendapatkan uang untukmu. Semoga dengan pengorbananku, kau bisa bangun lagi. Batin Levy.
"Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, adikku tersayang," ucap Jina.
***
Terlihat seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menumpahkan airmata sambil memeluk sebuah batu nisan, sanak saudara yang melihatnya seakan ikut merasakan kesedihan yang tengah di rasakannya. Panggilan demi panggilan ia lantunkan, berharap seseorang yang telah tertidur di bawah tanah itu kembali.
Belum rela ia melepaskan kepergian orang itu, ia sudah di paksa untuk pulang ke rumah. Adik dari wanita itu terus memeluknya sepanjang perjalanan pulang, guna menyalurkan kekuatan.
Setibanya di rumah, tak memakan waktu yang lama, sanak saudara telah kembali ke rumah masing-masing, menyisakan dirinya berdua dengan sang suami.
"Kau sungguh hebat, istriku." Bangga sang suami.
"Oh, tentu saja, suamiku. Terima kasih pada Jina, kita mendapatkan banyak uang." Tawa mulai memenuhi seisi ruangan.
"Bodoh sekali anak itu. Ah, bagaimana dengan Jinyoung? Apa kau sungguh akan membiayai pengobatan anak itu?"
"Entahlah, sayang. Kita lihat saja nanti."
Sungguh keji kelakuan dua manusia itu, membuat anak gadisnya yang baru saja siuman, bunuh diri. Tanpa adanya rasa penyesalan, uang hasil memeras seorang dokter mereka gunakan untuk berfoya-foya.
__ADS_1
TBC