World Of Animation

World Of Animation
Misi yang membawa kebaikan


__ADS_3

"Jadi, apa kalian menemukan pencurinya?" Tanya Pria itu, Agentine.


Agentine tersenyum menang, bisa dilihat dari raut wajah tiga orang yang berada di depannya, jika mereka tidak menemukan apa pun. Ia menghampiri Levy yang masih terduduk lelah di lantai perpustakaan. Menarik dagu Levy agar ia dapat melihat wajah ayu milik Levy.


"Pulihkan tenagamu, agar kau bisa bertahan menghadapiku, sayang."


Betapa jijiknya mendengar dan melihat kelakuan makhluk di depannya ini. Levy menghempaskan tangan Agentine, tak lupa dengan tatapannya yang sangat tajam. Ia mencengkram kerah baju Agentine.


"Tahukah kau? Wajahmu sangat buruk rupa. Sangat tidak pantas makhluk sepertimu bersanding denganku," ucap Levy, lalu mendorong tubuh Agentine kebelakang.


"Kasar, tapi aku menyukainya. Aku akan mendidikmu dengan benar, jadi aku mempercepat acara pernikahan kita, besok kita akan menikah, sayangku." Agentine tersenyum dengan tatapan yang sangat menjijikan bagi siapa saja yang melihatnya.


"Suamiku telah mendidikku, jadi aku tidak membutuhkan didikan darimu, Sialan."


Agentine membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan, "Kau masih sangat muda, tidak mungkin kau sudah menikah. Jangan membodohiku, sayang."


"Untuk apa dia membodohimu? Kau kan bodoh dari lahir. Singkirkan wajah sampahmu dari hadapan istriku, Sialan," sahut Zero, berjalan mendekati Levy.


"Kami sudah menyelesaikan pekerjaan kami, dan kami ingin bayarannya sekarang juga." Elzel menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena debu.


"5 juta Berry, tunai. Jika kau tidak bisa memberikannya, maka aku menginginkan kepalamu menjadi makanan untuk anjingku," ucap Levy.


Agentine tertawa sambil memegangi perutnya, "Apa kalian bercanda? Mana pencurinya? Kalian pikir, aku akan percaya ucapan kalian, tanpa adanya bukti?" Seisi ruangan kini dipenuhi oleh gelak tawa Agentine.


"Kehadiranku sudah cukup sebagai bukti, kan? Agentine ...." Suara itu berhasil menghentikan tawa Agentine.


Agentine membeku, ia tidak dapat menggerakkan badannya untuk menoleh kebelakang.


"Kejutan. Bagaimana? Apa kau suka dengan kejutanku?" Tanya orang itu, ia semakin memperkuat kekuatan Magi yang ia tujukan pada Agentine.


"Raizo? Bagaimana bisa?" Tanya Agentine, tak percaya, lebih tepatnya, ia menolak untuk percaya.


"Tentu saja, bisa, Agentine. Mereka juga sudah menemukan pencurinya, tidakkah kau harus memberi mereka imbalan?"


"Kalian? Cih, dasar manusia rendahan," cibir Agentine.


"Kami tidak lebih rendahan darimu, tuan pencuri," balas Levy, tersenyum sinis.


"Sialan!!" Teriak Agentine.


Beberapa jam sebelumnya ....


Dugh ... Dughh ....


"Kalian mendengarnya?" Bisik Levy, menatap Zero dan Elzel bergantian.


Zero dan Elzel mengangguk, Zero menjauhkan telinganya, lalu ia mengetuk tembok itu.


Tuk ... tukk ....


Dugh ... Dughh ....

__ADS_1


Ketukan Zero dibalas, mereka semakin yakin jika ada ruang rahasia disini. Mereka mencari tuas yang bisa membuka ruangan itu. Tapi sayang, mereka tak menemukannya.


"Bagaimana ini? Hari sudah hampir menampilkan senja," ucap Elzel, khawatir.


"Tenanglah, Elzel," kata Levy sambil mengelus punggung Elzel.


"Mengapa kau sangat tenang, Levy? Apa kau senang, karena sebentar lagi kau akan menjadi istri dari pria tua itu?" Tanya Zero menampilkan raut kesalnya.


"Apa maksudmu, Zero? Mengapa kau berpikir seperti itu?" Balas Levy tidak suka dengan ucapan Zero barusan.


"Siapa saja yang melihat tingkahmu, mereka akan berpikiran sama denganku. Bukankah tebakanku benar, Levy?"


Levy mengepalkan tangannya, "Serendah itukah diriku di matamu, Zero?! Aku tahu, kita memang belum lama kenal, tapi bisakah kau hilangkan pikiran seperti itu terhadapku?!"


Elzel tidak tahu harus memihak siapa, seperti biasa, jika dua keluarganya itu bertengkar, ia hanya bisa melihat mereka tanpa mengatakan apa pun.


"Pergilah, Levy. Jika itu yang kau inginkan, jangan menampilkan drama murahan di depan kami."


"Zero!!! Jika dari awal aku berniat untuk menikah dengan sialan itu, sudah sedari tadi aku terima tawarannya, tanpa menengok kebelakang. Aku hanya memiliki kalian berdua, aku tidak ingin jauh dari keluargaku untuk kedua kalinya!!" Cairan bening mulai berjatuhan, wajah Levy memerah, sama halnya dengan Zero.


Karena keduanya tidak bisa mengontrol emosi, aura sihir mereka mulai menampilkan diri. Ini pertama kalinya mereka melihat aura sihir keluar dari tubuh Levy, tapi aura itu, tak seindah wajah Levy. Aura hitam pekat, lebih pekat daripada aura milik Zero.


"Le-Levy, tubuhmu," cicit Elzel kala melihat tubuh Levy yang dipenuhi oleh tanda dari sihir kutukan. Elzel tahu, Levy sedang menahan rasa sakit akibat munculnya tanda itu.


Drrrttt ....


Tembok disebelah mereka bergeser, memberikan akses untuk masuk ke ruangan rahasia itu. Terlihat seorang pria tua dengan tubuh yang tegap, terbaring dilantai dengan kaki dan tangan yang terikat, serta mulut yang di sumpal kain putih.


Buru-buru, mereka menghampiri orang itu, memotong tali dan melepaskan sumpalannya. Lalu, Elzel segera menyembuhkannya.


"Anggota Guild Black Shadow, anda sendiri? Mengapa anda berada di ruangan itu? Siapa anda?" Balas Elzel.


Zero membantu orang itu keluar dan duduk di kursi, "Saya pemilik rumah ini, Raizo. Agentine, pria sialan itu menjebak saya, hingga akhirnya saya berakhir seperti ini."


"Agentine? Apa dia pak tua cebol dengan wajah asam?" Tanya Levy.


"Wajah asam? ...." Raizo nampak berpikir sejenak, lalu sedikit terkekeh, "Iya, dia pria dengan wajah asam itu, apa kau mengenalnya?"


"Dia yang menawari kami untuk menangkap pencuri, hufft ... pada akhirnya, dialah pencurinya."


"Ah, tidak. Yang melakukan permohonan di Guild adalah saya. Saat itu, dia selalu keluar-masuk mengambil harta benda saya. Entah sihir apa yang digunakannya."


"Anda netral?" Tanya Zero.


"Tentu saja, bukan. Saya adalah pengguna Magi." Mereka hanya menganggukan kepala.


"Kita sudah tahu siapa pencurinya, lalu, sekarang apa?" ucap Elzel.


Levy dan Zero tersenyum, "Melanjutkan pekerjaan kita, menangkap pencurinya," balas Levy dan Zero bersamaan.


Kembali ke beberapa jam setelahnya ....

__ADS_1


Zero berjalan kearah Agentine, "Sihirmu cukup menarik, tapi ternyata sangat tidak berguna. Pelayan tadi, dia hanya ilusi, kan?" Zero tersenyum meremehkan Agentine.


"Dasar ren-" Ucapan Agentine terpotong karena Zero memasukkan kain di mulutnya, sama seperti yang Agentine lakukan pada Raizo.


"Terima kasih, kalian adalah penyelamatku," Raizo membungkuk.


"Jangan seperti itu, Tuan. Kami hanya kebetulan datang kesini," balas Elzel.


"Saya akan memberi imbalan, karena kalian telah memenuhi permohonan saya."


"Terima kasih," balas mereka.


Raizo menuntun mereka ke ruang tamu, disana ia menjamu mereka. Di rumah yang sangat besar ini, ia hanya tinggal seorang diri. Setelah selesai makan, Raizo pamit sebentar, lalu, saat datang kembali, ia membawa dua koper hitam di kedua tangannya.


"Sekali lagi, terima kasih, karena telah menyelamatkan saya, mungkin hanya ini yang bisa saya berikan, maaf kalau sedikit." Raizo memberikan mereka kedua koper itu, saat dibuka, ternyata isinya uang yang tidak bisa dibilang sedikit oleh mereka. Bahkan, ini melebihi 5 juta Berry.


"Tuan, ini terlalu banyak, kami tidak enak harus menerimanya," ucap Zero di angguki oleh Levy dan Elzel.


"Terimalah, hanya dengan itu saya bisa berterimakasih. Kalian bahkan menyalurkan aura sihir kalian padaku, gunakan uang itu untuk membeli makanan yang banyak, agar kalian cepat pulih." Raizo tersenyum tulus.


Akhirnya, dengan berat hati, mereka menerima uang itu. Sebelum pulang, Raizo sempat berbicara empat mata dengan Levy. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi raut wajah mereka terlihat sangat serius.


"Levy, maaf, soal tadi," ucap Zero dengan pandangan menunduk.


Kini mereka telah berada di kereta kuda, hendak kembali ke Guild mereka.


"Tidak masalah, itu bukan salahmu. Salahkan saja kekuatan Tuan Raizo. Kau tahu, kan? Magi lebih seperti kutukan. Dia menggunakan kekuatannya untuk mencuci otakmu," balas Levy.


"Tuan Raizo? Ah, ternyata itu yang kalian bicarakan," sahut Elzel.


"Tapi, tetap saja, aku telah berkata kasar padamu." Zero nampak sangat menyesali perkataannya, siang tadi.


"Perkataanmu tidak sebanding dengan usaha kalian saat merawatku. Itu hanya kesalahan kecil, dan aku tidak akan melihatnya, karena kebaikan kalian padaku sangat besar. Terima kasih telah menyelamatkanku, waktu itu."


Elzel nampak berkaca-kaca, "Huaaa ... aku menyayangimu, Levy," serunya sambil memeluk Levy.


"Aku juga." Zero berpindah tempat dan memeluk Levy dan Elzel.


"Hei, apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku, hufft ... situasi ini sangat memalukan." Levy menggoyang-goyangkan badannya, berusaha lepas dari pelukan mereka.


"Kau yang membuat situasinya seperti ini, Levy." Elzel semakin mengeratkan pelukannya.


"Bukan aku, tapi Zero."


"Tapi, kau yang meledakkan dunia," sahut Zero.


"Perumpamaan macam apa itu? Haiih ... lepaskan aku."


"Tidak akan," balas Zero dan Elzel.


"Hei, bocah, bisakah kalian berhenti bergoyang?! Kalau kalian ingin jatuh, jatuh saja sendiri, jangan mengajakku!" Teriak kusir itu dengan kesal.

__ADS_1


Sedangkan, ketiga orang yang berada dalam kereta hanya tertawa dan berhenti bergoyang-goyang.


TBC


__ADS_2