World Of Animation

World Of Animation
S2. Dunia Bawah


__ADS_3

"Tinggallah jika kalian takut melewati portal ini," kata Kyllin.


"Haiih ... Terlalu banyak bicara," sahut Levy lalu melewati portal itu tanpa beban.


Mereka pun mengikuti Levy, begitu masuk ke portal, mereka merasakan guncangan hebat yang membuat mual. Begitu membuka mata, mereka telah sampai ke dunia bawah.


Dunia bawah sangat jauh berbeda dengan dunia manusia. Di sini, terasa seperti malam hari, sunyi dan mencekam. Begitu mereka melihat ke atas, betapa terkejutnya mereka saat melihat sungai.  Atas adalah bawah dan bawah adalah atas. Sungguh membingungkan.


Kompas tidak bekerja, yang artinya, tidak ada arah yang benar di dunia ini. Mereka hanya mengikuti firasat mereka saja.


Drtttt


Tanah bergetar, membuat Pinky dan Kyllin menghentikan langkah mereka.


"Ada yang datang," kata Pinky.


Mereka pun bersiap-siap menyerang. Dalam sekejap mata, tempat mereka berubah-ubah.


"Berhati-hat-" Kyllin terkejut, saat berbalik ke belakang, ia tidak mendapati siapapun di sana.


Baru saja ia hendak menyuruh mereka waspada, ia malah terpisah dengan temannya. Sama halnya dengan yang lain, mereka semua terpencar.


Elzel sang penyihir air malah berpindah ke tepat yang sangat kering. Hanya terdapat pasir sejauh mata memandang. Terik matahari menusuk kulitnya. Ia berjalan tak menentu, memanggil nama temannya, sayang, tidak ada sahutan ataupun tanda-tanda kehidupan.


Tidak hanya Elzel, semuanya berpindah dimana mereka akan melemah akibat jenis sihir dan tempat mereka yang saling bertolak belakang. Tapi hal itu tidak terlalu mempengaruhi penggunaa Magi.


Di sisi lain, Kyllin sedang bertarung dengan iblis yang ia sebut teri. Mereka memang tidak terlalu kuat, tapi jumlah mereka yang banyak, membuat Kyllin agak kesulitan menghadapi mereka.


"Ciih ... Mereka tidak ada habisnya!" Gerutu Kyllin.


Terpaksa ia harus memberantas teri itu sampai habis atau mungkin kekuatannya yang duluan habis.


Tempat yang bagaikan lautan api, tempat yang sangat tidak disukai penyihir es, siapa lagi kalau bukan Keira. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, tiba-tiba, Keira berlari begitu melihat sosok yang dikenalnya.


"Levy!! Kau baik-baik saja?!" Teriak Keira.


Ia memeluk adiknya itu, takut terjadi apa-apa.


Jleebb


Sayangnya, malah terjadi sesuatu yang buruk padanya. Besi tajam tertusuk di perutnya, katana milik Levy. Keira perlahan melepaskan pelukannya.


"L-Levy?" Mata Keira membelalak melihat Levy yang tersenyum senang dengan tindakannya.


"Harusnya kau mati saja, aku tersiksa karena mu. Apa kau menyayangiku? Tidak, kan?" Kata Levy.


Keira menahan rasa sakitnya, "tentu saja, aku menyayangimu, Levy."

__ADS_1


"Lalu, mengapa, dulu kau melakukan hal jahat padaku? Kau membuang kalung pemberianku!"


"Saat itu aku masih kecil, Levy. Aku salah, maafkan aku," Keira jatuh terduduk karena luka di perutnya.


Levy menundukkan tubuhnya, "ada satu syarat agar aku memaafkan mu,"


"Apa itu?"


"Biarkan aku membunuhmu,"


"Sihir es: Tombak beku"


Keira menyerang Levy agar jarak mereka menjadi jauh. Satu tangannya memegang lukanya, ia berdiri menatap tajam Levy.


"Kau bukan adikku!" Teriak Keira.


"Keira, apa kau tega melukaiku lagi?" Tanya Levy memelas.


Dalam hati, Keira tidak sanggup melukainya, walaupun dia hanyalah halusinasi. Keira tidak sanggup melakukan sesuatu yang buruk pada adiknya untuk kali kedua.


Tapi, demi menyelamatkan adiknya yang asli. Apapun akan ia lakukan, mengorbankan nyawa pun akan ia lakukan. Keira menyerang Levy palsu dengan membabi buta, matanya tertutup, ia hanya menyerang dengan merasakan aura. Semua ia lakukan agar tidak melihat wajah adiknya kesakitan.


"Akhh ... Kakak, sakit!!!" Teriakan itu sukses membuat Keira membuka matanya.


Di depan sana, Levy bersimbah darah dengan lengan kanannya yang sudah tidak bersatu dengan tubuhnya. Keira menangis, ia tak kuat melihat pemandangan itu, hatinya goyah.


***


Di depan Levy ada seorang wanita, ia segera menghampirinya. Bukan temannya yang ia lihat, melainkan dirinya sendiri.


"Sihir cahaya: Kilatan cahaya"


Layaknya peluru, kekuatan Levy melesat dengan cepat menuju wanita yang mirip dengan dirinya sendiri. Sayang, bukan hanya rupa yang mirip dengannya. Sihir mereka pun sama, bagaikan melawan diri sendiri. Pertarungan yang hanya menguras tenaga. Walau begitu, Levy tidak menyerah, baginya inilah saatnya untuk melawan dirinya sendiri. Dengan begitu, mungkin ia akan tahu sampai batas mana kekuatannya.


Pertarungan terus berlanjut tanpa memberi kesempatan pada satu sama lain untuk menyeka keringat. Mungkin, karena melawan dirinya sendiri, Levy tidak dapat menemukan celah apapun. Ia juga tidak ingin memanggil makhluk kontraknya, takut mereka akan terluka.


Merasa sihir hanya membuang tenaga, Levy menarik katana-nya. Seakan cermin, Levy palsu ikut menggunakan katana.


Di sisi lain, di tempat yang penuh dengan air, Jin sedang bertarung dengan iblis yang mengendalikan air. Betapa sulitnya pertarungan itu bagi Jin yang merupakan penyihir pasir.


"Dasar para kutu sialan, mereka sangat lihai dalam memisahkan kami," kata Jin sambil menahan serangan.


Duaaarr


Penghalang pasir Jin tidak mempan pada serangan air dari iblis itu, ia terlempar jauh. Baru saja ia hendak berdiri, iblis itu malah melancarkan serangannya lagi. Jin tidak dapat melawan balik, ia sadar, dirinya masih belum cukup kuat untuk melindungi kakaknya. Dia masih jauh dari kata kuat.


Jin sangat marah pada dirinya sendiri, ia hanya bisa terombang-ambing terkena serangan. Benturan dan hempasan terpahat di tubuhnya.

__ADS_1


"Tidak mungkin!! Tidak mungkin aku kalah dari kalian!!!" Teriak Jin.


Matanya memutih, ia tidak bisa mengontrol emosinya. Ia telah dikuasai oleh api kemarahan. Jin berteriak, ia berdiri kembali. Tempat itu bergetar, lalu, dari bawah air, muncul pasir yang sangat banyak. Pasir itu seperti meledak dari bawah air.


Bersamaan dengan hal itu, terdengar suara teriakan wanita yang sangat melengking. Wanita berambut merah yang ikut keluar bersama pasir.


"Air!!! Akhirnya aku melihat air!" Seru Elzel.


Entah bagaimana ia bisa sampai ke tempat Jin. Yang penting, saat ini, Elzel telah mendapatkan kembali kekuatannya. Tapi, begitu ia melihat ke dapan, terdapat badai pasir yang sangat besar. Di dalam pasir yang berputar itu, ada Jin yang kehilangan kendali.


"Sihir pasir: Tornado"


Badai pasir itu bagai bola yang dilempar oleh Jin menuju iblis tadi. Tidak sampai disitu, Jin kembali membentuk pasir menjadi runcing, lalu melesatkannya.


"Enyahlah, kau!!!" Teriak Jin.


"Jin!!!" Panggil Elzel.


Elzel segera membuat pelindung dari air untuk Jin. Saking kuatnya kekuatan Jin, bahkan dirinya sendiri ikut terkena serangan itu.


"Apa yang terjadi padanya?" Bingung Elzel.


Bukannya berhenti, Jin malah menghancurkan pelindung Elzel, lalu melesat dengan cepat menyerang Elzel.


"Arrggh!!" Elzel terlempar jauh.


"Hancurlah kau, iblis sialan!" Jin masih berusah menyerang Elzel.


"Dasar bajingan ini, dia hilang kendali sangat mudah," gerutu Elzel.


Elzel berdiri, memasang kuda-kudanya, kedua tangannya ia rentangkan.


"Sihir air: Water Nebula"


Duaaarr


Kekuatan mereka saling beradu, tubuh yang semula mulus, kini penuh dengan sayatan-sayatan kecil. Darah segar mengalir keluar, keringat mengucur deras, namun keduanya masih melanjutkan pertarungan.


Kreeetakk


"Langitnya?" Kaget Elzel.


Bagaimana tidak kaget, langit yang berada di atas mereka malah retak, sedikit lagi akan hancur. Saat serangan Jin dan Elzel beradu, kombinasi serangan itu malah memperparah keretakan langit. Hancur, langit itu hancur, menumpahkan tanah, pohon, dan beberapa puing bangunan.


Duaaaarrr


"Hentikan!!!" Teriak seseorang.

__ADS_1


TBC


Kembali lagi besok!!!!


__ADS_2