World Of Animation

World Of Animation
Sihir panggilan


__ADS_3

~Bertahan atau berhenti, semua itu sama saja. Sama-sama salah di mata mereka~


"Sihir teleportasi ...." Levy mengangkat buku itu, lalu, melihat buku yang berada di bawahnya.


"Sihir penyembuh? sihir penghancur tubuh? Mengapa cara penggunaan sihir ini di tuliskan di buku? Ataukah sihir ini adalah sihir panggilan seperti kata Asgaf?"


Karena penasaran, Levy pun mengambil beberapa buku yang berisi sihir panggilan. Sihir panggilan adalah sihir yang bisa digunakan oleh semua penyihir, tapi sihir panggilan memerlukan banyak tenaga dan aura sihir.


"Mentari di malam hari, Rembulan di siang hari. Kembalikan binarnya, ambillah binarku. Sembuhkan lukanya, darahku bayarannya? Mantra macam apa ini? Sangat aneh," ucap Levy.


Levy melihat halaman selanjutnya, terlihatlah gambar lingkaran sihir. Dengan petunjuk yang ada, Levy mulai menggambar lingkaran itu di secarik kertas.


"Seperti ini, ya?" Heran Levy.


Di lihatnya petunjuk yang lain, ia harus membentuk simbol piramid menggunakan jarinya.


Levy menghela napas, menetralkan detak jantungnya sebelum memulai percobaan.


"Levy,"


"Kyaaa ...." Teriak Levy saat Asgaf memanggil namanya.


Brukk


Levy terjatuh dari kursi saking kagetnya.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Asgaf.


"Bisakah kau memberi tanda sebelum datang?!" Seru Levy, kesal melihat Asgaf.


"Salahmu, mengapa kau terlalu serius? Akhirnya tidak menyadari keberadaanku," kata Asgaf membela dirinya sendiri.


Levy berdiri sambil memegang kakinya yang sakit, "Iya, iya, aku yang salah," pasrah Levy.


"Ada apa mencariku?" Tanya Levy, kembali duduk di kursinya.


"Kemana pelayanmu itu? Mengapa aku tidak pernah melihatnya?"


"Riri? Varah? Flora? Siapa?"


"Ketiga orang yang kau sebutkan,"


"Riri sedang berlibur di kampung halamannya. Varah juga, dan Flora ditugaskan di Istana lain. Memangnya ada apa?"


"Oh, kau sedang belajar sihir panggilan rupanya," bukannya menjawab Asgaf malah mengalihkan topik.


"Jawab dulu pertanyaanku." Levy menutup buku yang tadi di bacanya.


"Mau ku bantu?"


"Apanya?"


"Belajar sihir panggilan,"


Dasar makhluk sialan ini. Mengapa dia sangat suka merahasiakan sesuatu? Apanya yang makhluk suci? Cih. Batin Levy.


Sreet


Asgaf melukai tangannya sendiri menggunakan cakarnya.


"Apa yang kau lakukan?!" Seru Levy.


"Membantumu belajar. Lakukan seperti yang dibuku untuk menyembuhkan tanganku. Cepat!"


Levy buru-buru menggambar lingkaran sihir. Lalu, membentuk simbol piramid menggunakan jarinya.


"Mentari di malam hari. Rembulan di siang hari. Kembalikan binarnya, ambillah binarku. Sembuhkan lukanya, darahku bayarannya." Levy mulai merapalkan mantranya.


Perlahan-lahan, lingkaran sihir itu keluar dari kertas dan luka milik Asgaf menutup. Tapi, belum sempat menutup sempurna, aura sihir Levy telah habis. Levy masih memaksakan untuk menyembuhkan luka Asgaf, hingga hidungnya mengeluarkan darah.


Dengan segera, Asgaf membakar kertas yang di pakai Levy, dan lingkaran sihir itupun menghilang.


"Jangan pernah memaksakan dirimu, Levy. Jika tadi kau meneruskannya, kau bisa mati." Asgaf menjauhkan buku dari hadapan Levy, lalu ia duduk di depannya.


Asgaf mulai menuntun Levy melakukan resonant breathing atau menarik napas dalam-dalam, lalu, menahan napas beberapa detik, kemuadian menghembuskan napas, agar realisasi tubuh Levy tetap rileks. Namun, jantungnya berdetak sangat cepat. Dengan tangan yang mengeluarkan keringat dingin dan tak bisa di rasakannya lagi.


Levy ambruk ke lantai. Asgaf membuat tubuh Levy melayang, dan menurunkannya di atas meja. Kemudian memberikan sedikit aura makhluk sucinya pada Levy agar pengumpulan aura Levy berjalan cepat.


"Apa kau yang membuatnya mempelajari sihir panggilan?" Tanya Asgaf pada sosok yang berada di belakangnya.


"Ya, akulah orangnya. Memangnya kenapa?"


"Tidakkah kau lihat keadaannya sekarang?! Dia bahkan belum bisa melihat sihirnya, dan sekarang dia ingin melakukan sihir panggilan. Itu sangat berbahaya." Asgaf masih enggan untuk menatap sosok di belakangnya.


"Kau yang paling tahu tentang sihirnya, Asgaf. Jangan berlagak baik di depanku. Dia berhutang sesuatu padaku, Asgaf."


"Hutang? Hutang apa?" Akhirnya Asgaf menatap lawan bicaranya itu.


"Kau akan tahu pada saatnya, Asgaf. Dan, tenang saja, aku juga mengabulkan satu permintaanya, serta menjamin keselamatannya."


"Apa itu? Katakan!"


Orang itu tersenyum, "Tidak akan kuberitahu." Dia langsung menghilang dari hadapan Asgaf.

__ADS_1


"Sial!" Geram Asgaf.


Asgaf beralih menatap Levy, "Perjanjian apa yang kau lakukan dengan makhluk sepertinya, Levy?"


Terlihat dari raut wajah Asgaf, betapa ia sangat menyayangi Levy. Ia mengelus kepala Levy dengan sayang.


Kau seperti senja, sangat indah dan menawan. Tapi hanya muncul sesaat, sangat mirip denganmu, kau hanya memberiku kesempatan untuk mengenalmu, bukan untuk menyayangimu, Levy. Batin Asgaf.


***


"Putri, Yang Mulia Raja memanggil anda," ucap Ksatria yang baru saja datang menghampiri Levy di perpustakaan.


"Dimana keberadaan Yang Mulia?" Tanya Levy.


"Kamar Putri Keira."


"Aku akan kesana, kembalilah ke tempatmu." Levy membereskan buku yang tengah di bacanya, lalu segera memenuhi panggilan Sang Raja.


Tok ... tok ... tokk


"Ini aku, Levy," ucap Levy sebelum masuk ke dalam.


"Kemarilah, Levy." Itu Bibi Ellia, ia sedang duduk berdampingan dengan Keira yang terlihat bahagia.


"Ada apa memanggilku?" Tanya Levy sambil mendudukan dirinya di sebalah Sang Raja.


"Apa kau tak suka?" Tanya Keira sedikit sinis.


Levy hanya menatapnya sekilas.


"Ulang tahun kalian tinggal beberapa hari lagi, mari kita diskusikan bersama mengenai pestanya," kata Bibi Ellia dengan girangnya.


"Terserah kalian saja, aku akan mengikuti kemauan kalian."


Toh mungkin hidupku tidak akan bertahan sampai hari itu. Batin Levy.


"Tuh kan, sudah kubilang aku saja yang menentukan temanya. Levy bahkan tidak tahu apa-apa tentang pesta. Dia juga tidak pernah pergi ke pesta." Keira mulai menyindir Levy.


"Oh? Benarkah itu?" Tanya Bibi Ellia.


"Benar," sahut Levy.


"Mengapa kau tidak pergi?"


"Dia malu dengan tatapan orang lain. Ah, lebih tepatnya dia takut, Bibi." Bibi Ellia mulai menatap Levy dengan pandangan kasihan.


"Kalian ingin bergosip atau berdiskusi tentang pesta? Jangan membuang-buang waktu," sahut Raja Ishid.


"Ah, iya, Ayah."


Levy mulai lelah, matanya perlahan mulai menutup.


Tukk


Tubuhnya jatuh bersandar pada Sang Raja.


"Ah, maaf, Yang Mulia." Saking lelahnya, tanpa sadar Levy tak memanggil Sang Raja dengan sebutan 'Ayah'.


"Tidak biasanya kau tidur di jam segini, Levyanna. Apa yang kau lakukan tadi?" Tanya Raja Ishid.


"Mempelajari sihir panggilan," jawab Levy.


Sihir panggilan? Batin Keira.


"Mengapa kau mempelajari sihir panggilan, Levy?" Tanya Bibi Ellia.


"Levy belum bisa melihat sihirnya, Bibi. Mungkin, dia berkecil hati makanya dia belajar sihir panggilan," sahut Keira tersenyum sinis pada Levy.


"Putri dari seorang Raja tidak bisa melihat sihirnya? Itu sungguh memalukan, Levy. Pantas saja kau tidak pernah ke pesta," ucap Bibi Ellia sambil menutup hidung dan mulutnya menggunakan kipas di tangannya.


"Mempelajari sihir panggilan bukanlah hal yang buruk. Sihir apa saja yang kau pelajari?" Kata Sang raja.


"Sihir penyembuh, teleportasi ... hmm, hanya itu yang bisa ku lakukan saat ini. Aku sedikit kesulitan mempelajari sihir pengubah."


"Ayah bisa melakukannya,"


Seketika mata Levy langsung membelalak, "Benarkah? Tunjukkan padaku," pinta Levy.


"Ayah akan mengubah warna mata dan rambutmu, apa kau mau?"


"Tentu saja, aku ingin mataku berwarna biru dengan rambut silver,"


Sang Raja mengulurkan tangannya tepat di depan wajah Levy, sedetik kemudian lingkaran sihir mulai terbentuk. Manik emas dan surai pirang milik Levy perlahan berhanti warna.


"Sudah?" Tanya Levy.


"Lihatlah rambutmu."


Levy sangat kagum saat melihat rambutnya telah berubah warna. Bukan hanya Levy, tapi Keira juga.


"Ayah tidak merapalkan mantra, bagaimana bisa?" Heran Levy.


"Ishid adalah penyihir terkuat di kerajaan ini, Levy. Jangan meremehkannya," ucap Bibi Ellia tersenyum.

__ADS_1


"Ayah, aku juga mau!" Seru Keira.


"Kemarilah,"


Tok ... tok ...


"Masuklah," kata Bibi Ellia.


Ksatria yang tadi mengetuk pintu langsung masuk, lalu menunduk hormat, "Yang Mulia, kami sudah menangkapnya. Dia berada di ruang tamu istana. Kami akan membawanya ke penjara bawah tanah sekarang."


"Tidak usah, aku akan membuatnya menyesal telah hidup di dunia." Sang Raja langsung berdiri dari tempatnya.


"Ayah ada urusan, nanti saja kita lanjutkan," ucap Raja Ishid sebelum berlalu pergi bersama Ksatria tadi.


Keira hanya bisa mendengus kesal.


"Sampai kapan sihir ini akan bertahan?" Tanya Levy sambil memainkan rambut silver-nya.


"Sampai Ayahmu membatalkan sihirnya," jawab Bibi Ellia.


"Ada yang salah dengan wajahku?" Tanya Levy yang merasa risih dengan tatapan Bibi Ellia.


"Kau tidak hanya belajar ketiga sihir panggilan yang kau sebutkan tadi, kan?" Tanya Bibi Ellia.


"Wah, tahu dari mana?"


"Kepada siapa, kau akan menggunakan sihir itu?" Bibi Ellia menatap Levy dengan sangat tajam.


"Ah, apa sihir itu bisa di gunakan ke orang lain?"


"Jangan bodoh, Levy. Sihir itu memang di gunakan untuk orang lain. Tidak ada manusia gila yang akan menggunakan sihir itu pada dirinya sendiri ...." Bibi Ellia berpindah tempat ke sebelah Levy


"Apa yang akan kau lakukan dengan sihir itu, Levy? Jangan bertindak gegabah, sihir itu bahkan belum sempurna."


Levy menunjukkan telapak tangannya pada Bibi Ellia, "Sudah saatnya aku untuk memenuhi keinginanmu, Bibi tersayang."


Mata Bibi Ellia membulat sempurna, "Tidak! Jangan gila kau, Levyanna! Hentikan semua itu!" Seru Bibi Ellia.


"Bibi, ada apa ini?" Tanya Keira yang tidak mengerti apapun.


"Aku menyayangimu, dan kau akan bahagia sekarang, Keira." Levy tersenyum penuh arti pada Keira.


"Tidak! Levyanna, jangan melakukan itu!" Larang Bibi Ellia.


"Aku tidak akan melakukannya sekarang, Bibiku tersayang. Seperti katamu, ini belum sempurna. Aku tidak tahu kapan sihir ini akan aktif."


Ya, sihir itu belum sempurna. Ada kemungkinan sihir itu akan menghilang. Batin Bibi Ellia.


"Aku ingin menemui Ayah, apa kalian ingin ikut?" Tanya Levy yang sudah berdiri dari tempatnya.


"Ah, aku ingin menyampaikan sesuatu pada Ayah kalian. Keira, jangan berdiam di kamar terus. Ikutlag dengan kami," ucap Bibi Ellia pusing dengan sesuatu.


Aku harus mempertanggungjawabkan sesuatu. Batin Bibi Ellia.


"Sebaiknya Bibi ingat dengan persyaratan awal kita." Levy langsung berlalu dari hadapan Bibi Ellia.


"Keira, mari kita menyusul Levy." Bibi Ellia terlihat sedikit gelisah.


Keira yang tidak tahu apapun hanya menuruti keinginan Bibinya itu.


Ketiga wanita cantik itu berjalan berdampingan, melewati bunga-bunga dan beberapa burung yang melintasi langit.


Saat sampai di depan pintu ruang tamu istana, mereka dihentikan oleh Ksatria yang menjaga.


Tumben sekali ada yang menjaga. Batin Levy.


"Maaf, Duchess, Tuan Putri. Kalian tidak boleh masuk, Yang Mulia Raja telah memerintahkan untuk melarang siapa saja yang ingin masuk," ucap Ksatria itu sopan.


"Ayah sedang menghukum seseorang, kan? Aku hanya akan mengatakan sesuatu, lalu pergi. Jadi, buka pintunya," ucap Levy.


"Aku juga memiliki hal penting untuk ku beritahu Raja, segeralah menyingkir." Bibi Ellia mulai jengah dengan Ksatria itu.


"Maaf, kami tidak berani melakukannya," kata Ksatria yang lain.


Levy maju selangkah, "Buka atau kalian akan menggantikan orang yang sedang di hukum oleh Yang Mulia Raja?" Levy menunjukkan senyum jahatnya tak lupa dengan tatapan tajam dari matanya.


Buru-buru Ksatria itu membukakan pintu untuk mereka.


Krieet


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Raja Ishid dengan bercak darah di wajahnya.


Keira sedikit takut dengan sisi Sang Raja yang kejam, tanpa sadar ia menempel pada Levy.


"Aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Levy sambil mengangkat kakinya hendak berjalan.


"Ayah akan menyelesaikan ini dengan cepat, tunggulah di situ." Sang Raja mengangkat tangan kanannya pertanda ia akan menggunakan sihirnya.


Sebenarnya Levy sangat tidak tahan dengan pemandangan di depannya itu. Levy melirik orang yang sebentar lagi menemui ajalnya itu.


Degg


Dia ... dia .... Batin Levy.

__ADS_1


TBC


__ADS_2