
~Benci datang begitu cepat, sama halnya dengan cinta. Itulah misteri dunia~ Grizzy
Sudah 2 minggu sejak Levy terluka, dan selama itu pula sikapnya sangat aneh. Dia menjadi gadis yang dingin dan irit bicara, bahkan pada Raja Ishid dan Keira sekalipun.
"Nona, Tuan Putri, sudah waktunya untuk mandi!" Seru Riri dari dalam kamar mandi.
"Baik!" Sahut Keira lalu berdiri.
"Nona? Apa, anda tidak ingin mandi?" Tanya Riri pada Levy yang masih duduk santai di sofa.
"Aku bisa mandi sendiri," Ucap Levy tanpa adanya semangat. Padahal mandi adalah kegiatan kesukaannya.
"Anda tidak akan melihat sihir Flora, kalau anda mandi sendiri." Ucap Flora baru datang.
"Tidak apa, aku sudah bukan anak kecil lagi."
Semua usaha telah mereka lakukan agar Levy kembali pada dirinya sendiri lagi, tapi sayang, Levy seakan membangun dinding yang kokoh dan menjaga jarak dari mereka.
Riri memberi isyarat pada Flora agar memandikan Keira, lalu dia mendudukkan dirinya di sebelah Levy.
"Nona, maaf atas kelancangan saya, tapi apa yang terjadi? Mengapa, sikap anda seperti ini? Ini seperti bukan anda saja,"
"Ya, ini memang bukan aku," ini bukan pertama kalinya Levy menjawab seperti itu, Riri sangat tahu ada masalah yang tidak bisa Nona kecilnya itu ceritakan. Tapi Riri sangat berharap Nona kecilnya dapat kembali seperti semula.
"Nona, kumohon jawablah pertanyaan saya dengan benar dan jelas." Pinta Riri yang berpindah duduk di hadapan Levy.
"Aku tidak apa-apa." Bukan. Itu bukan jawaban yang Riri inginkan. Riri pun menyudahi pertanyaannya dan memilih untuk menyiapkan pakaian untuk Levy dan Keira.
***
"Levy ... Levy, ayo kita ke taman." Ajak Keira, sudah lama mereka tidak keluar kamar. Ah lebih tepatnya, sudah lama Levy tidak keluar dari kamarnya.
Levy memilirik sekilas pada Keira yang menunggu jawabannya, terdengar helaan napas dari Levy. Tak lama kemudian, dia mengangguk menyetujui ajakan Keira. Betapa senang kakaknya itu, setelah berhasil membuat sedikit perubahan pada adik kecilnya.
Tidak ada yang istimewa dari jalan-jalan ke taman, tapi Keira sangat bahagia bahkan dia bersenandung kecil sambil memegang tangan Levy.
"Ah, maaf, saya tidak tahu Tuan Putri akan kesini."
"Tidak apa." Balas Keira tersenyum.
Orang itu melirik seseorang yang sedang bersama Keira, betapa terkejutnya dia setelah tahu bahwa itu adalah Levy.
"Tuan Putri, sudah lama tidak bertemu." Sapa Irwin, hanya di balas anggukan kecil oleh Levy.
"Ada urusan apa anda kesini?" Tanya Keira mencairkan suasana.
"Hanya menemani ayah saya, dia sedang rapat bersama Yang Mulia Raja dan petinggi lainnya."
"Kalau begitu, ikutlah dengan kami." Tawar Keira.
"Dengan senang hati, Tuan Putri."
Taman istana utama sangatlah luas di banding istana Rose, taman ini di dominasi oleh bunga Lily. Sangat tidak cocok dengan watak Sang Raja, begitu pikir Levy.
Levy tersenyum miris, lalu berhenti di sebelah sungai, membuat Keira dan Irwin ikut berhenti.
__ADS_1
"Kyllin." Panggil Levy, membuat Keira terheran.
Kyllin pun langsung muncul, masih dengan bentuk chibi nya.
"Hm? Mengapa, kau memanggilku? Dan bukannya si singa gila itu?" Tanya Kyllin.
"Entahlah ...." Levy mengangkat Kyllin, lalu memeluknya. "Mungkin, aku merindukanmu." Lanjutnya.
"Akhem ... baiklah kalau kau begitu merindukanku, aku menginjinkan mu untuk menyentuhku. Ingatlah, hanya kau dan Keira manusia yang ku izinkan." Ucap Kyllin dengan wajah tersipu.
Keira sedikit lega, setidaknya Levy tidak lagi bersikap dingin. Sore ini, mereka habiskan hanya dengan memandangi sungai dan menikmati semilir angin yang berhembus, menghempaskan rambut mereka.
Rembulan dan bintang telah datang. Binar cahaya-nya menerangi bumantara yang gulita. Waktu yang tepat untuk mengistirahatkan tubuh, tapi tidak dengan Levy yang masih terjaga.
Levy masih merenungi hidupnya yang seakan di permainkan oleh misteri dunia. Tidak mudah menerima kenyataan yang datang tanpa peringatan. Terlebih jika kenyataan dan fiksi bercampur aduk. Tidak tahu apa yang harus di lakukan.
"Kyllin, bisakah kau menemaniku?" Ucap Levy dengan tatapan kosong.
Kyllin pun datang, "Sebenarnya ada apa denganmu?" Tanya Kyllin melihat kondisi Levy bak mayat hidup.
"Apa yang akan kau lakukan? jika kau terpisah jauh dari keluargamu, sangat jauh. Bahkan, kau tidak bisa melihat mereka lagi." Tanya Levy tanpa melirik Kyllin.
"Aku tidak tahu, karena makhluk suci tidak berkeluarga layaknya manusia. Tapi satu hal yang aku tahu, jika benar kau merindukan keluargamu, maka kau harus berusaha kembali pada mereka. Jangan membuang-buang waktu, bergegaslah temui mereka. Kesulitan apapun yang menghalangimu, percayalah, kau pasti akan kembali dan menemui mereka lagi,"
"Apa itu benar?" Suara Levy kini bergetar menandakan air matanya akan menerobos keluar.
"Hei! Mengapa, kau menangis? Bukankah kau tidak jauh dari keluargamu, Levy?"
"Ya, Levy tidak jauh dari keluarganya ...." Levy berbalik membelakangi Kyllin.
"Apa? Bicaralah yang jelas, Levy." Kyllin berpindah agar Levy dapat menatapnya.
"Tidak, sudah waktunya tidur." Levy mengulurkan tangannya, lalu menarik Kyllin dalam dekapannya.
"Jangan memendam masalahmu, kalau tidak ada yang bisa membantumu, setidaknya kau harus menceritakannya, agar hatimu merasa lebih tenang." Ucap Kyllin sebelum berlabuh di pulau mimpi.
Mendengar itu, Levy tersenyum miris. Pada siapa dia akan menceritakan masalahnya? Di umur yang baru menginjak 5 tahun, siapa yang akan mempercayai cerita anak ingusan sepertinya?
Malam yang kelam mengajarkannya untuk memiliki batasan dalam berharap, karena ujung dari harapan hanyalah kekecewaan.
Baru saja Levy merasa dirinya memasuki alam mimpi, tapi kini tubuhnya seakan melayang lagi. Di bukanya mata cantiknya itu, pemandangan yang menyakitkan kini terjadi lagi, tepat di depan matanya.
Perselisihan antara kedua orang tua dan adiknya, membuat hati yang rapuh kini semakin hancur berkeping-keping. Entah masalah apa yang mengakibatkan perselisihan itu.
Sakit rasanya melihat pemandangan yang menusuk jantung itu, Levy hanya bisa berharap jika semua ini mimpi dan saat membuka matanya, semua kembali normal.
"Levy ... Levy, bangunlah."
"Hei! Bocah, cepatlah buka matamu."
Akhirnya, Levy terbangun dari mimpi buruk itu.
"Ada apa?" Tanya Levy seperti manusia tanpa nyawa.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kyllin terlihat marah.
__ADS_1
"Apa yang ku lakukan?" Bukannya menjawab, Levy malah balik bertanya. Tentu saja, dia bahkan baru bangun dari mimpi buruk.
"Kau hampir sa-"
"Tidak apa-apa, kau berkeringat banyak. Apa, kau mimpi buruk?" Potong Asgaf yang telah menendang Kyllin turun dari tempat tidur.
"Dasar singa sialan." Gerutu Kyllin kembali naik.
"Mimpi buruk? Bahkan, saat ini aku belum terbangun dari mimpi burukku." Ucap Levy.
Asgaf dan Kyllin saling pandang, sebenarnya apa yang terjadi pada gadis kecil itu, pikir mereka.
"Apa, Kyllin mengganggumu? Mengapa, kau tidak memanggilku saja? Dan malah memanggil perusuh ini?" Tanya Asgaf melirik Kyllin sengit.
"Tentu saja, karena tingkatanku berada di atasmu, dalam segala hal." Sahut Kyllin.
"Sepertinya, aku tidak berbicara dengan anjing gila."
"Anjing katamu? Aku ini serigala, tahu!!"
"Ah, apa aku tadi menyebutmu anjing? Sepertinya, tidak. Mengapa, kau tersinggung?" Asgaf menampilkan senyum liciknya.
Kyllin merasa geram dengan tingkah Asgaf, dia mulai menerjang Asgaf dengan cakarnya. Terjadilah perkelahian antara singa dan serigala. Mereka saling menggigit dan mencakar satu sama lain.
"Pfft ...." Levy tak kuasa menahan tawanya melihat perkelahian itu. Bagaimana tidak, mereka bertengkar dalam bentuk chibi. Siapa saja yang melihatnya akan menertawakan mereka.
"Tidakkah kalian sadar? Kalian terlihat seperti anak kecil yang memperebutkan sebuah mainan." Lanjut Levy.
Asgaf dan Kyllin langsung menghentikan aksi mereka, lalu duduk berjauhan.
"Jangan tertawa. Apa, kau mau mati?" Kesal Kyllin.
"Apa, kau ingin menutup usia?" Tanya balik Asgaf pada Kyllin.
Kyllin terdiam sejenak.
"Diamlah, kucing garong." Seru Kyllin.
Tidak ingin melanjutkan perdebatan, Asgaf pun mendekat pada Levy.
"Ada apa denganmu? Sejak hari itu, kau menjadi aneh." Ucap Asgaf.
"Aku tidak ingin membahasnya. Ini masih dini hari, aku harus tidur." Levy kembali membaringkan tubuhnya.
Asgaf hanya menghela napas, melihat tingkah manusia satu ini. Dia pun menyentuh kepala Levy dan muncul lah cahaya putih yang membuat Levy tertidur pulas tanpa adanya mimpi buruk.
"Hei! Mengapa, kau menyembunyikan hal itu darinya?" Tanya Kyllin.
"Aku akan memberitahunya jika waktunya sudah tepat." Balas Asgaf.
"Aku masih penasaran dengannya dan Keira. Di umur yang masih belia itu, mereka dapat memasuki alam kita dan masih hidup sampai sekarang."
"Diamlah, Kyllin. Itu bukan hal yang harus kita permasalahkan, masih ada sesuatu yang harus kita selidiki,"
...TBC...
__ADS_1
Sepertinya kurang seru ya minna~~