
"Bukankah sudah kubilang jangan mengambil misi berbahaya?!! Mengapa kalian tidak pernah mendengarkanku?! Hutan Kabut?! Seseorang yang mirip denganku?! Apa kalian bercanda?!"
Levy dan Elzel hanya bisa menunduk, tak berani menjawab atau pun hanya sekedar menatap sang pemilik suara.
"Mulai hari ini, aku tidak memperbolehkan kalian mengambil misi," tandas Zero yang tak ingin dibantah.
"Bukankah kau terlalu posesif? Kawan," sahut seseorang dari belakang.
"Untuk orang yang telah melukai mereka, kau tidak pantas mengatakan hal itu," balas Zero.
Orang itu adalah Zero palsu, Loki namanya. Sedangkan disebelahnya, ada Magma yang tertawa mendengar ucapan Zero.
"Melukai mereka? Sepertinya perkataanmu terbalik. Mungkin, maksud mu adalah 'orang yang di lukai mereka' bukankah seperti itu?"
Zero menatap remeh mereka, "Oh, ternyata kalian selemah itu rupanya."
"Kami tidak lemah, kami hanya tidak ingin melukai wanita," sahut Loki.
"Tidak ingin atau tidak bisa?"
Magma tidak tahan lagi diremehkan oleh Zero. Ia mengepalkan tangannya dan maju berhadapan dengan Zero.
"Tidak bisakah kau menyaring perkataanmu, kawan? Semua yang keluar dari mulutmu seperti sampah," kata Magma menatap tajam Zero.
"Sampah? Bukankah yang ku katakan adalah fakta? Manusia lemah," balas Zero.
"Zero sudahlah, jangan bertengkar disini. Kita sesama anggota Black Shadow, loh," ucap Elzel menengahi mereka.
"Sesama anggota, tapi mereka menyerang kalian." Zero menatap Elzel, membuat Elzel menunduk takut.
"Ma-maaf," cicit Elzel.
"Zero, tenanglah. Ini salahku, tidak mendengarkanmu dan membuat Elzel dalam bahaya," kata Levy.
Zero menghela napas, menetralkan emosinya, "Tidak, ini salahku. Maaf, aku tidak menemani kalian tadi. Sudahlah, sana kembali ke asrama kalian, Ini sudah malam."
Levy dan Elzel mengangguk, lalu pergi ke asrama tak lupa mengucapkan selamat malam pada Zero.
"Ternyata si gila bisa bijak juga," celetuk Magma dengan mata yang masih melihat Levy dari belakang.
"Si gila? Apa maksudmu?" Tanya Zero, ada perasaan tak suka saat Levy di juluki seperti itu.
"Diamlah, Magma," sahut Loki sambil menarik kursi untuk di dudukinya.
"Bukankah julukan itu darimu, Loki? Ah, aku jadi teringat keadaanmu tadi, sangat menggelikan."
"Apa yang Levy lakukan pada kalian?" Tanya Zero.
Loki mulai menceritakan kejadian sore tadi, mulai dari ia mengikuti mereka masuk ke hutan, hingga perlakuan Levy padanya. Zero yang mendengar cerita dari Loki nampak tak percaya, namun dengan adanya Magma yang semakin menguatkan perkataan Loki, Zero pun akhirnya percaya.
"Sudah berapa lama dia menutupi identitasnya?" Tanya Loki.
__ADS_1
"Bukan menutupinya, dia hanya tidak ingat siapa dirinya," jawab zero.
"Aku penasaran, siapa yang mengubah wajahnya. Orang itu pasti sangat kuat," ujar Magma.
"Mengubah? Apa maksudmu?"
Loki dan Magma saling menatap heran, "Jangan bilang kau tidak tahu, kalau itu bukanlah wajah aslinya?" Tanya Loki.
Zero menggelengkan kepalanya, "Benarkah? Darimana kau tahu?"
"Kau kurang pengalaman kawan, sepertinya selama ini, dia adalah sebuah kepalsuan yang hidup bersama kalian," ucap Loki.
"Yap, bahkan auranya seperti transparant. Sekilas memang berwarna hitam, tapi itu aura dari sihir kutukan di tubuhnya, bukan aura miliknya," tambah Magma.
"Tapi, dia bahkan tidak bisa melihat aura apa pun di tubuhnya. Sebelumnya dia mengira dirinya adalah netral."
"Itulah mengapa aku penasaran dengan orang yang mengubah wajahnya. Perubahannya hampir tidak terlihat dan sepertinya sudah lama wajahnya diubah."
Zero hanyut dalam semua opini yang muncul di kepalanya, dia sudah menyayangi Levy seperti adiknya sendiri, bahkan mungkin lebih dari itu. Tapi disaat yang bersamaan, ia takut. Bagaimana jika Levy hanya berpura-pura, dan memiliki tujuan yang lain. Semuanya masih samar, apakah Levy kawan atau lawan. Tidak ada yang tahu.
"Teknik berpedangnya juga sangat hebat, mengalahkan Loki. Apa kau yang mengajarinya?" Tanya Magma, membuyarkan lamunan Zero.
"Hah? Eh, iya, tapi saat pertama kali latihan, aku hampir kalah jika tidak menggunakan sihir. Terlebih, saat itu ia tidak menggunakan sihir apapun."
Mendengar itu, Loki dan Magma kagum sekaligus merinding mendengarnya. Bagaimana bisa seorang gadis sepertinya memiliki teknik berpedang yang hebat tanpa menggunakan sihir.
Malam semakin larut, ketiga pemuda itu masih setia nongkrong di Guild, hanya untuk menebak-nebak siapa sebenarnya gadis bernama Levy itu. Dan, karena rasa penasaran itu, mereka menjadi sangat dekat, seperti tidak ada perdebatan diantara mereka tadi.
***
Doorr ... doorrr ....
Seseorang di balik pintu masih setia menggedor pintu itu, menunggu para gadis cantik itu membukanya. Merasa gedorannya tak cukup untuk membangunkan para makhluk itu, ia pun mulai mengeluarkan suaranya.
"Levy!!! Elzel!!! Bangun!!! Dasar tukang tidur!!! Matahari sudah berada di atas kepala!!!" Siapa lagi kalau bukan Zero, pemuda yang sangat disayangi dua gadis cantik itu.
"Iya!" Teriak salah satu dari mereka dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Buka atau ku hancurkan pintunya!" Ancam Zero.
Mau tak mau, Levy mengibaskan selimutnya, lalu turun dari kasur untuk membukakan pintu.
"Ada apa?" Tanya Levy masih dengan pintu yang terbuka setengah dan kepala yang ia julurkan keluar.
"Ayo, kita akan mengambil misi, tempatnya sangat jauh, bawa pakaian secukupnya saja."
Merasa Zero telah menyelesaikan kalimatnya, Levy segera mengangguk dan kembali menutup pintu itu. Bukannya menyiapkan pakaian, Levy malah menaiki kasur dan tenggelam dalam mimpi bersama Elzel.
2 jam kemudian
Brakk
__ADS_1
Pintu terbuka dengan paksa, hampir saja pintu itu terlepas dari tempatnya. Terlihat seorang pemuda dengan napas yang sangat berat menatap dua gadis yang masih tertidur pulas.
"Levy!!! Elzel!!!" Teriak orang itu yang tak lain adalah Zero.
Dua gadis yang tadinya tertidur, kini telah terbangun dengan perasaan campur aduk. Mereka menoleh kesana-kemari, mencoba untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Pagi, Zero," sapa Kedua gadis itu.
"Pagi?!! Matahari hampir saja terbenam lagi, dan kalian bilang pagi?!!"
"Oh, begitu ya. Kalau begitu, selamat malam, Zero." Levy mencoba untuk membaringkan tubuhnya lagi, namun sayang, Zero menggagalkan usahanya itu.
Zero menarik baju Levy sekuat tenaganya, "Mandi sekarang juga atau aku yang memandikan kalian?"
"Hm,"dehem Levy yang berusaha untuk melepaskan tangan Zero.
Zero tersenyum jahat, "Baiklah, karena aku baik hati, aku akan membantumu untuk mandi." Zero mulai menggunakan kedua tangannya untuk melepaskan baju Levy.
Seketika, mata Levy membelalak. Ia memberontak, menjauhkan tangan Zero dari bajunya. Sayang, kekuatan fisik Zero lebih besar daripada dirinya.
"Hm? Kau tidak mau melepasnya disini? Apa kau malu dilihat oleh Elzel? Ya sudah, mari kita ke kamar mandi." Zero menarik tangannya dari baju Levy, beralih untuk mengangkat tubuh Levy.
"Tidak, aku bisa mandi sendiri, Zero." Levy meronta-ronta agar ia diturunkan.
"Tidak apa-apa, aku bisa memandikanmu. Aku akan membersihkan seluruh kotoran dari tubuhmu." Suara Zero terdengar sangat aneh, dan suaranya berhasil membuat Levy merasakan debaran aneh juga, walaupun hanya sebentar.
"Kau mesum, Zero. Elzel, tolong aku!" Teriak Levy, namun Elzel nampak belum sepenuhnya sadar.
"Aku akan melakukannya dengan sangat lembuh, hingga kau tidak ingin keluar."
"Zero!" Tetesan air mata mulai keluar, saat Zero sudah berhasil memasuki kamar mandi.
"Jangan menangis, aku hanya bercanda," kali ini, suara Zero terdengar sangat lembut, tidak seperti biasanya.
Levy masih saja menangis dengan tangan yang berulang kali menghapus jejak air mata di wajahnya. Zero mendekatkan tubuhnya pada Levy, memeluknya erat, mengelus punggung Levy lembut.
"Aku tidak akan melakukannya, kalau ...."
"Hah? Apa?" Tanya Levy saat tidak mendengar jelas ucapan Zero.
Cup
Zero mengecup kening Levy, "Mandi sana, aku akan menyiapkan pakaian kalian," ucap Zero sebelum keluar dari kamar mandi, meninggalkan Levy yang masih terkejut dengan tindakannya.
Deg ... degg
Jantung Levy berdetak sangat cepat, ia mulai merasakan debaran aneh lagi. Baru kali ini ia merasa seperti itu.
Mungkin, karena aku menganggapnya kakak. Batin Levy.
Levy pun tak mau terlalu lama memikirkan hal itu, ia lebih memilih untuk mandi, membersihkan dirinya, sebelum Zero melakukan hal aneh lagi.
__ADS_1
TBC
Terima kasih udah mampir di novel grizzy, minna~~