
"Hei! Apa kau tidak bisa membedakan mana rekan dan mana musuh?!!" Kesal Pria yang memiliki ekor, pasalnya setiap melancarkan serangan, Levy selalu saja melancarkan serangan kearah pria itu juga.
"Dasar tidak tahu malu," ucap Levy menatap sinis pada pria itu.
"Arghh!!!" Teriak Wanita es.
Manticore terlihat sangat murka, bahkan kekuatannya bertambah.
"Ck, dasar pria sialan itu." Levy berlari dengan sangat cepat kearah pria yang memiliki ekor, ia melancarkan tendangannya dan tepat mengenai tulang rusuk pria itu.
"Hentikan sekarang juga, dasar brengsek!!" Umpat Levy.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Irwin sambil menghalangi pergerakan Levy.
"Menyingkirlah dari hadapanku," ucap Levy, tak lupa dengan tatapan tajamnya.
"Jika kau maju selangkah saja, aku akan langsung menyerangmu." Wanita es itu mengarahkan pedangnya ke Levy.
"Bersihkan jalanku," ucap Levy, memberi perintah pada rekannya.
Perintahnya itu di terima dengan sangat cepat oleh Zero dan Loki. "Oke!" Kata mereka.
"Hei! Kalian ingin bertarung disaat seperti ini, hah?!!" Kesal Irwin yang masih menghindar dari serangan Loki.
"Jangan menghalangi jalannya," sahut Zero.
"Dasar sekelompok orang gila," umpat Wanita es.
Begitu jalannya telah terbuka, Levy kembali melancarkan serangan pada pria itu. Tentu saja, pria itu tak tinggal diam. Pria itu hanya menghindari serangan Levy tanpa adanya niat untuk membalas menyerang.
"Kyaaa!"
Levy segera mengalihkan pandangannya, ia dapat melihat Elzel yang terkulai lemah di tanah akibat serangan Manticore.
"Salamander!!" Teriak Levy, kala Salamander terkena tusukan dari ekor Manticore.
"Ups, maaf, Levy. Aku tidak bisa melindunginya," ucap Salamander sebelum menghilang.
Levy seakan terbakar api kemarahan, ia langsung menyerang Manticore dengan membabi buta. Namun, sebanyak apapun sayatan dan tusukan yang ia lancarkan, Manticore tetap berdiri tegak seakan tubuhnya kebal terhadap serangan apapun.
Zero, Magma, dan Loki pun ikut membantu Levy. Serangan demi serangan mereka kerahkan dua jam lamanya. Kini tubuh mereka hampir mencapai batasnya, sedangkan Manticore tidak terlihat lelah sedikitpun.
"Mana-ku hampir habis. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Loki.
"Membunuh pria sialan itu," ucap Levy menatap pria yang memiliki ekor.
"Kenapa dia?" Tanya Zero.
"Dialah yang membuat Manticore itu menjadi gila. Entah apa yang ada di pikirannya."
"Aku dan Zero akan menahan Manticore, lakukanlah apa yang menurutmu benar, Levy." Loki pun menarik Zero pergi.
Irwin dan wanita es itu sedang sibuk menghadapi Manticore, Levy pun segera berlari kearah pria itu.
"Apapun yang ada di dalam kepalamu, aku yakin isinya hanyalah sampah," ucap Levy pada pria itu.
"Benarkah itu? Wah, aku sangat jijik dengan kepalaku," ucap pria itu dengan tawanya.
Pertarungan antara Levy dan pria itu terjadi lagi, terlihat jelas perbedaan kekuatan diantara mereka. Levy tahu jika dirinya hanya dianggap 'mainan' oleh pria itu.
"Pergerakanmu sangat mudah dibaca, kau bahkan tidak menggunakan sihir. Apa kau pikir dirimu kuat? Jangan bercanda." Pria itu menendang punggung Levy, hingga Levy terlempar jauh.
"Sebenarnya apa yang mereka lakukan?" Tanya wanita bertudung yang sedari tadi hanya menonton.
"Entahlah, bermain mungkin," jawab pria yang berada di sebelahnya.
"Dunia sangat kejam, anak ingusan sepertimu akan menangis jika berada di tempat yang berbahaya." Pria itu masih menyerang Levy.
"Dan pria seperti dirimu hanyalah sampah di dunia yang kejam ini," balas Levy dengan pedangnya sebagai perisai.
Seketika, wajah pria itu terlihat masam, "Ya, akulah sampah. Apa kau tahu rasanya menjadi sampah? Rasanya sangat menyiksa!!" Kata pria itu.
Pria itu tak terkendali, tingkahnya seperti binatang buas. Kukunya memanjang dan sangat tajam, kecepatannya bertambah. Dia tidak ada bedanya dengan Manticore. Levy mulai kewalahan menghadapinya, sampai akhirnya wajahnya terkena cakar pria itu. Tudungnya sobek, memperlihatkan tanda kutukan yang terukir di wajahnya.
Degg
Saat melihat tulisan diwajah Levy, pria itu menghentikan gerakannya, "Ta-tanda itu ... kau ... siapa kau?" Tanya pria itu.
__ADS_1
Levy tak menjawab, ia malah menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan serangannya. Akhirnya, pria itu terjatuh ke tanah akibat serangan Levy.
Levy duduk tepat diatas tubuh pria itu, dengan pedangnya yang tertancap di sebelah wajah pria itu.
"Mengapa kau masih hidup?" Pertanyaan itu membuat Levy bingung.
"Apa maksudmu?" Tanya Levy.
"Kutukan itu. Harusnya kau sudah mati karena kutukan itu. Mengapa kau bisa bertahan hidup dengan kutukan itu di tubuhmu? Dan mengapa Levy tidak?"
Levy semakin bingung dengan perkataannya, "Apa orang yang kau kenal terkena kutukan seperti ini juga?" Tanya Levy.
"Menyingkirlah," ucap seseorang dari belakang.
Itu pria yang menghentikan pertarungannya dengan wanita es tadi.
"Hentikan permainanmu, mereka sudah mencapai batasnya," ucap pria itu.
Pria yang memiliki ekor itu menjentikkan jarinya. Tiba-tiba, dari kepala Manticore keluar sebuah cahaya biru kecil, tak lama kemudian Manticore pun tumbang. Mereka akhirnya bisa bernapas lega.
"Ternyata kau dalangnya," ucap Irwin dengan sedikit raut kesal di wajahnya.
"Kekanak-kanakan," cibir wanita es.
***
"Apa!!!" Teriak Loki, Magma, dan Elzel.
"Darimana kau tahu?" Tanya Zero.
"Kepala desa itu." Levy menunjuk ke belakang Zero.
Entah darimana munculnya, para penduduk desa dan kepala desa telah berkumpul di dalam gua.
"Terima kasih, akhirnya kami bisa hidup dengan tenang," ucap kepala desa.
"Tidak, kau salah," bantah Levy.
"Ada apa?" Tanya salah satu penduduk.
Secara bersamaan, Levy dan wanita es menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, "Beristirahatlah dengan tenang," ucap mereka berdua kompak.
"Seperti kataku tadi, para penduduk desa ini telah mati. Manticore menyebarkan racunnya di aliran sungai yang merupakan sumber air mereka. Setelah tubuh mereka lumpuh, Manticore pun datang untuk mengisi perutnya," jelas Levy.
Mereka terlihat kaget, para penduduk desa bahkan tak menyadari bahwa mereka telah mati. Rasa marah pada Manticore lah yang membuat arwah mereka tidak tenang dan berkeliaran seolah masih hidup.
"Lalu, bagaimana dengan desa mereka yang tidak terlihat?" Tanya Magma.
"Itu adalah pelindung desa kami secara turun-temurun. Desa kami akan terlihat jauh bagi orang yang memiliki niat jahat, dan pada malam hari, desanya hanya bisa terlihat jika menuruni tebing," ucap kepala desa.
Setelah mendengar penjelasan dari kepala desa itu, hening mulai melanda. Tak tahu apa yang akan mereka katakan pada arwah di hadapan mereka. Terdengar isak tangis dari penduduk desa itu. Mereka masih tidak mempercayai kenyataan pahit yang terjadi.
"Sekali lagi, terima kasih telah menyelamatkan desa kami dan membuat kami sadar. Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian." Perlahan-lahan, tubuh mereka mulai menghilang.
"Terima kasih," dua kata itu terus terucap hingga tubuh mereka hilang sepenuhnya.
"Kasihan," ucap Elzel.
"Semoga arwah mereka tenang," ucap Magma.
Di saat pandangan mereka masih tertuju pada tempat penduduk desa tadi, tiba-tiba cahaya terang terpancar dari arah belakang tepatnya dari tempat Manticore tumbang.
"Levy? Sejak kapan?" Kaget Magma.
Tanpa mereka sadari, Levy telah membuat kontrak dengan Manticore itu.
"Dasar kau, aku duluan yang mengincarnya!" Teriak Magma.
"Apa-apaan kau? Aku yang sudah mengalahkannya, seharusnya aku yang membuat kontrak itu!" Ucap Irwin tak terima.
"Siapa cepat, dia dapat," ucap Levy mengejek Mereka.
"Levy, apa tubuhmu baik-baik saja?" Tanya Elzel menghampiri Levy.
"Iya, makhluk suci ku juga telah kembali. Jangan khawatir." Levy tersenyum.
"Sebenarnya apa kau ini?" Tanya pria yang memiliki ekor.
__ADS_1
"Manusia," balas Levy.
"Bukan itu maksudku, dasar bodoh."
"Lalu, aku harus jawab apa, dasar gila?"
"Kau memiliki Mana, tapi mengapa kau bisa memanggil makhluk suci, membuat kontrak, dan memiliki kekuatan Magi?"
"Karena aku adalah peri yang sangat cantik," balas Levy, lalu meninggalkan mereka.
Peri yang sangat cantik? Batin seseorang.
Mereka pun berpisah tanpa adanya salam perpisahan, semuanya seakan tidak pernah terjadi. Mereka kembali ke tempat masing-masing.
Guild Black Shadow
"Manticore? Benarkah itu?!!" Kaget para anggota Guild, ketika mendengar cerita Loki.
"Tentu saja, kami mengalahkannya. Levy bahkan membuat kontrak dengannya," ucap Loki dengan bangganya.
"Uwaaah ... kalian sangat hebat!!!" Puji mereka.
"Apa Levy baik-baik saja?" Sahut seseorang dari belakang.
Mereka sontak melihat pemilik suara tersebut, "Master," ucap mereka bersamaan.
Master Kilua, ia adalah Master ke-4 Guild Black Shadow, seorang penyihir yang dapat mengendalikan tumbuhan. Walaupun rambutnya telah memutih, wajahnya penuh dengan kerutan, tapi kekuatannya masih sangat sulit untuk ditandingi.
"Emm ... iya, katanya setelah pertarungan, tanda 'itu' langsung hilang," jawab Elzel.
Tidak banyak yang mengetahui kondisi tubuh Levy, hanya Meldy dan Master mereka yang tahu. Semua itu karena larangan dari Sang Master.
"Bukan itu, tapi kontraknya. Apa dia bisa menahan rasa sakit akibat kontrak Manticore?"
"Ya? Apa maksudmu, Master?" Tanya Loki.
"Jika membuat kontrak dengan makhluk apapun itu, pasti tubuh pembuat kontrak akan merasakan sakit tergantung dari makhluk yang dipilih. Kalau si pembuat kontrak tidak dapat menahan damage-nya, maka besar kemungkinan dia akan lumpuh atau bahkan mati," jelas Magma.
Tentu saja Magma tahu, dia adalah seorang pengguna Magi. Dan dia tahu betapa menyiksanya saat membuat kontrak dengan Makhluk Mitologi atau makhluk-makhluk kuat lainnya.
"Ya, itu benar. Manticore memiliki damage yang hampir sama dengan 12 bintang Zodiak. Dengar-dengar, si pembuat kontrak tidak dapat bergerak selama beberapa hari. Magma, bukankah kau juga seperti itu?" Kata seorang pria bernama Pain.
"Ya, kontrak Cerberus membuatku merasa hampir mati." Magma merinding mengingat keadaanya saat itu.
"Elzel, pergilah lihat keadaan Levy," ucap Zero.
"Ada apa denganku? Dan, mengapa kalian berkumpul?" Siapa lagi kalau bukan Levy yang bertanya.
"Levy?!!" Kaget mereka.
"Apa aku hantu, hah? Tidak sopan sekali kalian ini," kesal Levy.
"Mengapa kau bisa berjalan?" Tanya Magma masih sedikit terkejut.
"Karena aku punya kaki," balas Levy.
Takk
Magma menyentil dahu Levy dengan sangat keras, hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Apa-apaan sih?!" Kesal Levy.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Master Kilua.
"Apakah ada alasan untuk tidak baik-baik saja?" Tanya balik Levy yang kebingungan.
"Bagaimana dengan kontrakmu dan Manticore?"
"Berjalan mulus, sama seperti biasanya. Memangnya ada apa?"
"Seperti biasanya? Apa kau merasakan damage-nya?" Tanya Loki.
"Damage apa?"
"Sudahlah bukan apa-apa," ucap Master Kilua, ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu lagi.
Levy menatap Elzel seakan bertanya apa yang terjadi, dan hanya di balas gelengan oleh Elzel.
__ADS_1
"Levy, ikutlah denganku sebentar." Master Kilua langsung berjalan keluar dari Guild, diikuti oleh Levy.
TBC