World Of Animation

World Of Animation
hati yang hancur


__ADS_3

     Hanya dalam mimpi


Ketika pagi menggeliat, sang mentari mengajariku cinta lewat binarnya yang hangat ....


Pada sang mentari aku bertanya, apakah angin mampu membawaku menemui seseorang yang telah memikat hatiku?


Menapaki jalanan di antara ribuan bunga, sembari mengurai gelak tawa bersamanya.


Angin ....


Di sini, aku hanya bisa menatap langit yang tak sama dengan langitnya.


Angin ....


Bawalah aku menemuinya, ingin kujelajahi dunia yang membingungkan ini, mengukir sejarah cinta dengannya.


Tapi, rembulan menyuruhku untuk menutup mata, berlabuh di pulau mimpi ....


Dan meluapkan keinginanku pada malam yang kelam.


****


Pagi, hari ini sangat cerah. Ayam jantan berkokok, membangunkan sang pemimpi. Dengkuran halus telah berhenti, tergantikan dengan hembusan napas yang ringan. Itulah definisi pagi yang cerah menurut sebagian orang. Sedangkan, bagi Levy, pagi ini adalah pagi terburuk yang pernah ia alami. Bangun pagi dan mengingat apa yang ingin dilupakan semalam adalah perasaan terburuk.


Hembusan napas berat terdengar darinya, diliriknya Elzel yang masih tertidur. Beberapa saat kemudian, ia langsung mandi dan berganti pakaian. Tidak memakan waktu yang lama, Levy sudah siap dan hendak pergi keluar untuk menenangkan pikirannya.


Setelah berjalan tanpa tujuan, Levy malah berhenti didepan Guild-nya, Black Shadow. Tanpa pikir panjang, ia pun masuk dan mengambil beberapa misi untuk dirinya seorang.


Sepanjang jalan, matanya terlihat kosong, Seperti mayat hidup. Walaupun seperti itu, ia tetap menyelesaikan misinya dengan sangat baik. Hingga akhirnya, ia melihat misi terakhirnya. Tempatnya sangat jauh, dan berada di kerajaan tetangga. Levy yang ingin menyibukkan dirinya pun memantapkan hati untuk menyelesaikan misi tersebut.


Ia pergi ke dermaga, menyewa sebuah perahu. Tak ada makanan ataupun minuman yang ia bawa untuk bekalnya di perjalanan. Bahkan, sepeser uang pun tak ada.


"Mau kemana kau?" Tanya seseorang dari belakang.


Levy menoleh, "Siapa kau?" Tanya Levy.


"Pengawal sang peri," jawab orang itu.


Levy yang tak ingin membuang-buang waktunya mengakhiri percakapan itu. Ia segera menaiki perahu yang di sewanya tadi. Begitu duduk, Levy segera meraih kedua dayung yang berada di depannya. Baru saja ia hendak mendayung, perahunya sudah bergoyang. Ia menoleh ke belakang, mendapati orang tadi ikut menaiki perahunya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Levy, ada sedikit nada kesal dari suaranya.


"Sudah kubilang, kan. Aku adalah pengawal sang peri. Kemanapun peri itu pergi, aku akan selalu melindunginya," balas orang itu.


"Mana perinya, hah?!" Kesal Levy.


Pria itu memajukan wajahnya kearah Levy, tidak banyak tersisa ruang diantara wajah mereka. "Aku sedang menatap perinya. Peri yang sangat cantik," ucap orang itu dengan senyum simpul terukir di wajahnya.


Sejenak, Levy terpaku dengan manik hitam milik orang itu. Lalu, ia pun mengenali pria itu.


"Haih ... kau, rekan si pria sialan itu rupanya," ucap Levy sambil menghembuskan napas berat.


"Jin, itu namaku." Orang itu, Jin, mengulurkan tangannya untuk mengambil alih kedua dayung yang berada di tangan Levy.

__ADS_1


Levy yang merasa pria itu tidak berbahaya membiarkannya mengambil alih.


Jin mulai menggerakkan tangannya, mendayung perahu kecil itu agar bergerak. Tak sampai semenit mendayung, ia sudah menghentikan dayungannya. Levy pun mulai menatapnya bingung.


"Mengapa kau tidak menggunakan teleportasi?" Tanya Jin.


"Terlalu jauh dan aku belum pernah kesana," jawab Levy.


"Oh ...." Jin pun kembali mendayung. Kali ini, ia tidak menggunakan tangannya untuk mendayung, melainkan menggunakan sihir.


Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan. Hanya ada suara desiran ombak yang menghantam perahu. Levy sibuk dengan pikirannya, hingga ia tak menyadari, dirinya selalu diperhatikan oleh Jin. Jin pun tak pernah melepaskan pandangannya dari wajah ayu nan elok milik Levy. Matanya membulat sempurna kala melihat setetes air mata yang lolos keluar, membasahi pipi Levy.


"Ada apa?" Tanya Jin yang terdengar sangat khawatir, tangannya memegang kedua tangan Levy.


"Bukan apa-apa. Jangan menghiraukanku," balas Levy tanpa melihat pria di depannya.


Jin melepaskan tangan Levy, lalu tangannya menangkup kedua pipi wanita itu. Membuat Levy menatap matanya.


"Apa kau sedang memikirkan kejadian tadi malam?" Tanya Jin.


Levy menundukkan kepalanya, "Darimana kau tahu? Apa kau mengikutiku?" Tanya balik Levy.


"Kau tidak perlu tahu itu. Yang harus kau lakukan adalah melupakan perasaan itu,"


Bagaimana aku bisa melupakannya kalau itu terjadi di depan mataku? Bahkan, perasaanku saja baru tumbuh. Batin Levy.


Flashback


Orang itu berjalan memasuki gang yang sempit dan gelap. Cukup lama mereka melewati gang, akhirnya jalan keluar pun terlihat, begitu juga dengan seseorang di depan sana. Levy menghentikan langkahnya, ia berada tak jauh dari kedua orang tersebut.


Mereka sepertinya sedang berbincang, tapi Levy tak dapat mendengar dengan jelas pembicaraan mereka. Cairan bening lolos begitu saja, kala melihat kedua orang itu berciuman. Tangan yang tak bisa berhenti saling meraba tubuh dan kaki mereka yang bergerak kesana-kemari, membuat Levy melihat dengan jelas rupa kedua orang tersebut.


Zero, pria itu adalah Zero. Pria yang mencium sang wanita dengan rakusnya, seakan tak ada hari esok untuk mereka. Namun, Levy tak mengenal siapa wanita itu. Tubuhnya gemetar, ia sudah tak sanggup melihat pemandangan di depannya. Dengan segera, ia pergi menjauh dari situ dan pulang ke asrama-nya.


Belum sampai di asrama, Levy sudah menghentikan langkahnya. Mata yang masih mengeluarkan cairan itu, menatap bulan yang tergantung di sudut langit. Binarnya temaram terselimuti awan. Membuat malam terasa sangat kelam. Ditambah kerlip bintang yang seakan tak mampu menghiasi bumantara. Levy masih setia memandangi bulan yang sebentar lagi tertutup sempurna oleh awan. Ia duduk ditepi jalan, bayangan kejadian tadi, terus terputar di pikirannya.


"Levy?"


Mendengar namanya disebut, Levy pun menoleh.


"Loki ..." ucap Levy dengan suara yang sangat pelan, hampir tak terdengar.


"Sakit. Dadaku terasa sakit sekali" Levy meletakkan salah satu tangannya di dada.


Tangan Loki terulur untuk menghapus jejak air mata di wajah ayu milik Levy.


"Ada apa? Hm? Siapa yang membuat mu merasakan sakit?" Tanya Loki lembut.


Levy menggeleng, ia tak ingin memberitahu apapun pada siapapun itu. Melihat itu, Loki hanya tersenyum. Tangannya menarik tubuh Levy kedalam dekapannya.


"Menangislah. Jangan menahannya, itu hanya akan membuatmu lebih menderita." Loki menepuk lembut punggung Levy.


"Aku ... aku ...." untuk berbicara pun, Levy merasa tak sanggup.

__ADS_1


"Sttt ... sudah kubilang, kan, kau hanya perlu menangis. Terkadang, kau tak perlu menceritakan semua luka dan air matamu." Suara hangat Loki membuat Levy tak kuasa menahan tangisnya.


Sangat lama Levy menumpahkan air matanya, hingga akhirnya, ia tertidur dalam dekapan Loki.


"Setelah ini, kuharap kau bahagia, Levy." Loki pun mengangkat tubuh Levy dan memulangkannya ke asrama.


Flashback off


"Bagaimana cara melupakannya?" Tanya Levy.


"Tinggal lupakan saja, apa susahnya? Lagipula, dia tidak pantas untukmu," Balas Jin sambil mengedikkan bahunya.


"Pria seperti apa yang pantas untukku?"


"Tampan, baik, keren,"


"Dimana aku bisa menemukan pria itu?"


Jin tersenyum, ia kembali memajukan wajahnya, "Kau sudah menemukannya. Di depanmu," ucapnya.


Bukannya tersentuh, Levy malah merasa jijik dengan tingkah Jin.


"Apa-apaan wajah mu itu?" Tanya Jin sambil tertawa.


"Kau sangat menjijikan," balas Levy.


"Aku tampan, dan aku tahu itu. Tapi, jangan jatuh cinta padaku."


"Mengapa?"


Jin terlihat kaget, "apa kau sudah cinta mati padaku? Oh tidak. Aku tahu mencintai seseorang itu tidak salah, tapi kau tidak boleh mencintaiku," balas Jin dengan lebaynya.


Levy meletakkan telapak tangannya di atas perahu, ia memanggil makhluk suci.


"Pynix, datanglah," ucap Levy.


Muncullah bola api kecil yang sedetik kemudian langsung berubah menjadi burung.


"Hai! Owner, apa kabar?" Sapa Pynix.


"Sangat tidak baik, berkat makhluk di depanku," balas Levy.


"Wah, kau pacaran dengannya? Awww ... kalian sangat romantis. Hanya berdua diatas perahu." Pynix terlihat sangat antusias, ia terbang kesana-kemari.


Jin tersenyum menang melihat reaksi Levy yang putus asa.


"Kembalilah," ucap Levy.


"Cih! Owner, kau hanya ingin memamerkan pacarmu, kan? Dasar jahat." Pynix pun menghilang setelah mengatakan itu.


Levy hanya menghela napas, bagaimana bisa makhluk suci bertingkah seperti itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2