World Of Animation

World Of Animation
S2. Dia milikku


__ADS_3

Siang yang begitu panas, terlihat beberapa orang sedang melintasi tebing yang sangat curam.


"Nona Keira, apa anda mau beristirahat sebentar? Anda kelihatan lelah," ucap salah satu dari mereka.


"Ini bukan apa-apa bagiku, Riri," balas wanita yang dipanggil Keira.


"Jangan terlalu memanjakannya, Riri. Dia bukan anak kecil lagi," sahut seorang pria yang memiliki ekor, siapa lagi kalau bukan Kyllin.


"Tuan Kyllin benar, Riri. Jika ingin mengembalikan Ayah dan Tuan Asgaf, aku harus kuat,"


Kyllin yang memimpin jalan menghentikan langkahnya, ia menoleh kesana-kemari.


"Aura ini, tidak salah lagi. Ini aura miliknya." Kyllin langsung berlari diikuti oleh Keira, Riri, dan Irwin.


Mereka berlari secepat mungkin, tanpa takut terjatuh. Aura yang Kyllin rasakan semakin dekat, debaran jantung penuh harap semakin tak menentu. Jauh didepan sana, orang yang mereka cari mungkin sedang menunggu kedatangan mereka.


Akhirnya terlihat, sosok berambut emas yang menawan. Air mata langsung lolos begitu saja, mereka berlari bagaikan singa yang akan menerkam mangsanya. Hanya satu nama, mereka hanya perlu menyebutnya dan memeluk pemilik nama tersebut.


"Levy!!!"


Bruukk


"Hei! Apa yang kalian lakukan pada Levy?!!" Teriak Jin.


"Aah, padahal aku tidak ingin bertemu dengan kalian dulu," ucap Levy yang terbaring di tanah dan tertindih tubuh Keira dan Kyllin.


"Kau ... kau masih hidup," ucap Keira dengan tangisannya yang begitu keras.


"Aku minta maaf, Levy," kata Kyllin.


"Anu ... Levy sepertinya akan mati kalau kalian tidak segera pindah," sahut Elzel yang tidak tega melihat Levy, walaupun ia sendiri tidak mengerti situasi apa ini.


Keira dan Kyllin segera berdiri. Tentu saja, begitu Levy berdiri, mereka kembali memeluknya erat.


"Kenapa selama ini kau menipu kami?!! 4 tahun ... 4 tahun kami selalu berduka untukmu! Sedangkan kau malah mengembara!" Teriak Irwin.


"Nona, tolong berikan penjelasan yang masuk akal, agar saya tidak menghukum anda!" Tambah Riri dengan air mata yang berderai.


"Dia membenci kalian, hanya itu yang sangat jelas," kata Jin, lalu melepaskan Levy dari Keira dan Kyllin.


"Ah, ternyata kau ada disini, aku baru sadar," ucap Kyllin yang di angguki oleh Keira.


Elzel dan Magma berdiri didepan Levy, "jangan menyentuhnya," kata mereka.


Mereka terlihat seperti anak kecil yang saling berebut mainan, dan mainan itu adalah Levy. Tatapan mata mereka seakan mengeluarkan listrik.


"Aku hilang ingatan saat itu. Dan sihir pengubah milik Ayah masih aktif," Kata Levy singkat, padat, dan jelas.


"Kalian tidak berarti baginya, makanya ingatan tentang kalian hilang," kata Jin dengan wajah yang menyebalkan.


Magma berbalik, menepuk pundak Jin, "kawan, dia juga melupakan tentangmu. Jangan lupakan fakta itu." Jin tertampar kenyataan yang tidak bisa dibantahnya.


"Levy, apa kau bisa menjelaskan bagaimana kau menghilang saat itu?" Tanya Kyllin.


Levy memasang wajah remehnya, ia menatap Kyllin seolah berkata 'tentu saja tidak, dasar bodoh'

__ADS_1


"Levy sialan!!" Kesal Kyllin.


"Singkirkan tanganmu dari adikku." Keira mengarahkan pedang esnya pada Jin.


Elzel membalas tindakan Keira dengan mengarahkan pedang airnya pada leher Keira, "Jauhkan pedangmu dari Levy," kata Elzel.


"Kalian ingin berkelahi, hah?!!" Kata Kyllin.


Entah sejak kapan, tapi mereka semua dalam mode siap tempur, tanpa terkecuali. Sedangkan Levy tidak mengerti lagi apa yang ada di kepala mereka. Padahal mereka bisa bicara baik-baik.


"Singkirkan tanganmu, Levy milikku!!" Teriak Keira yang tidak dapat menahan emosinya.


Hawa dingin mulai keluar dari tubuh Keira, pijakannya jadi beku.


Jin tertawa remeh, "Milikmu? Sejak kapan? Jangan mimpi, dia milikku!"


"Hah?! Candaan mu tidak lucu, brengsek," kata Elzel sambil menatap tajam Jin.


"Bajingan kecil, kau sudah melewati batas. Nona ku bukan milik siapapun, kecuali milikku," sahut Riri yang sudah mengeluarkan makhluk sucinya. Ryo, rubah api berekor sembilan.


Pertengkaran mereka sangat menarik bagi dua orang yang sedang menonton mereka dari belakang. Irwin dan Magma tidak ingin ikut campur, bahkan mereka terlihat bersemangat dengan pertengkaran dihadapan mereka. Beda halnya dengan Levy yang lelah dengan tindakan para manusia itu.


"Ice Floor." Keira mengubah pijakan mereka menjadi es yang sangat licin.


Tidak sampai disitu, sekarang malah turun hujan. Tubuh Elzel bagaikan air, apapun yang mengarah padanya akan tembus begitu saja. Pasir yang begitu banyak mengelilingi tubuh Jin dan Levy. Hal itu membuat api milik Ryo semakin membesar pertanda pemiliknya marah besar. Angin kemarahan milik Kyllin berhembus sangat kuat.


"Seru," ucap Magma dan Irwin.


Ini sangat menyiksaku. Batin Levy.


Entah apa yang terjadi, tapi saat ini, Levy sedang digendong oleh Irwin. Sedangkan, para manusia yang tadi memperebutkannya sedang bertarung. Tidak ada kawan diantara mereka.


Levy yang tadinya tertidur pulas, tiba-tiba langsung membuka matanya, "Datanglah!" Seru Levy.


Sedetik kemudian, para makhluk kontrak Levy bermunculan. Salamander, Pynix, Blue, Pega, Jinx, Manticore, dan Pinky. Masing-masing dari mereka berdiri berdekatan dengan teman-teman Levy, tanpa terkecuali.


"Ada apa, Levy?" Tanya Magma.


"Zero. Dia ada disini," ucap Levy sambil turun dari gendongan Irwin.


"Ah, dia temanmu? Mereka ada bawah sana," sahut Kyllin dengan mata yang melirik ke bawah tebing.


"Kau tahu, tapi diam saja?!" Kesal Elzel.


"Mereka berpindah-pindah tempat, tapi selalu mengawasi kalian," kata Pinky.


"Aku menunggunya loh, dari tadi." Kyllin berdiri diujung tebing.


"Levy, apa kau tidak percaya pada kami? Mengapa kau mengeluarkan mereka semua? Kau akan membebani dirimu sendiri lagi?!" Kesal Magma.


"Aku tidak menyuruh mereka melindungi kalian, tapi mereka akan membawa kalian kalau kita terdesak, bodoh," balas Levy.


"Apapun itu, pokoknya aku tidak mau bersama Salamander," sahut Elzel yang sudah tahu kelakuan Salamander.


"Levy, temanmu meremehkan ku?" Tanya Salamander.

__ADS_1


"Aku jijik padamu, aku mau bersama Blue!"


Levy berjalan kesana-kemari, dengan mata yang terus melihat langit yang jauh di sana.


Mungkin hanya perasaan ku saja. Batin Levy.


"Jin, kemarilah. Jangan berjauhan dariku," ucap Levy yang merasakan firasat buruk.


"Aku bukan anak kecil lagi, harusnya aku yang melindungi mu. Aku tahu kau menyayangiku, tapi jangan memanjakanku," balas Jin.


Semua pasang mata kini memperhatikan dua insan tersebut, penasaran dengan hubungan diantara keduanya.


"Aku tidak memanjakanmu, kau tahu, kan, aku hanya tidak ingin kehilanganmu lagi,"


Semua terkejut mendengar hal itu, namun tidak berselang lama firasat Levy benar, sebuah serangan menuju kearah mereka, tapi ia tidak menyangka kalau sasaran mereka adalah adiknya, Jinyoung.


Jin tertusuk tombak hitam dari belakang, tak sampai disitu, tubuhnya sekarang ditarik turun. Tentu saja, Levy tidak tinggal diam. Ia langsung melompat meraih tubuh Jin, memeluknya guna melindungi Jin saat terjatuh nanti.


"Levy!!!" Teriak mereka.


Riri yang menunggangi Ryo segera menangkap Levy dan Jin. Lalu membawa mereka kembali ke tebing tadi.


"Jinyoung, bangun! Kau tidak akan mati semudah ini, kan?" Levy mengguncangkan tubuh Jin.


Elzel duduk disebelah tubuh Jin, merapalkan mantra penyembuh. Namun, tombak tadi dilapisi oleh sihir kutukan.


"Hentikan, Elzel. Itu tidak ada gunanya," kata Levy yang tahu persis seluk beluk sihir kutukan.


Itu sihir yang sama dengan Levy, dulu. Batin Keira.


"Dia tidak akan bisa bertahan, kemati-"


"Diam kau! Sebaiknya perbaiki mulutmu itu," potong Levy sambil menatap tajam Kyllin.


Levy menaruh tangannya tepat di atas luka Jin, ia menyalurkan sihirnya pada luka itu. Kutukan kecil itu tidak akan bisa menandingi kekuatannya yang sekarang. Tangan Levy bersinar, tak lama kemudian, luka Jin menutup, tanda kutukan pun menghilang. Mereka yang melihat itu tentu saja terkejut, sihir kutukan yang seakan tidak ada obatnya, tapi Levy dengan mudah menyembuhkan nya.


"Uhuuuk ...." Jin mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Kau memang masih kecil. Jangan membantah ku lagi," ucap Levy penuh kasih sayang dan penekanan.


Jin menghela napas, "tadi hanya kebetulan,"


" Terserah kau saja. Manticore, bawa dia,"


"Kita akan kemana?" Tanya Magma.


Levy menunjuk ke atas, puncak dari tebing tempat mereka berpijak.


"Di sana ada portal menuju dunia iblis, kan, Pinky?" Tanya Levy, yang dibalas anggukan oleh Pinky.


"Baiklah, tunggu apa lagi? Ayo kita selamatkan Zero!" Kata Elzel bersemangat.


Menyelamatkannya? Semoga saja aku bisa menahan diri untuk tidak membunuhnya. Batin Levy.


TBC

__ADS_1


__ADS_2