
Di ambang pintu, berdiri sosok pria berperawakan tinggi, terlihat jelas kalau ia habis berlari, napasnya tidak beraturan. Ia masih tetap berdiri sembari menatap Levy.
"Bagaimana kabarmu, Zero?" Sapa Levy, tak lupa dengan senyum di wajahnya.
"Kau lebih tahu bagaimana kabarku, Levy," balas Zero sembari melangkahkan kakinya mendekati Levy.
Levy tidak mengatakan apa-apa lagi, ia hanya tersenyum tipis dengan mata yang terpejam, ia seakan membangun dinding pemisah. Tindakannya itu membuat suasana menjadi canggung. Selama beberapa saat, Keira dan yang lainnya hanya saling pandang.
Jin mulai risih dengan suasana di ruangan itu, akhirnya ia membuka suara, "Kau sangat bau, pergilah mandi dulu," ucapnya sembari menunggu hidungnya.
"Mandi? Sendirian?" Tanya Levy.
"Tentu saja, memangnya kau akan memanggil para rakyat untuk mandi bersamamu?!!" Sahut Kyllin.
"Aku akan menemanimu," tambah Loki, pria itu tidak menyerah juga.
"Tolong musnahkan dia." Irwin dibuat geleng kepala oleh Loki.
"Otaknya belum berfungsi dengan benar, kasihanilah dia," ucap Magma.
"Aku tidak mengenalnya," tambah Elzel, ia tidak ingin melihat Loki.
Levy terkekeh, ia lalu meminta bantuan Jin untuk pergi ke kamar mandi. Keira pergi mengambilkan gaun untuk Levy, setelah itu membawanya masuk ke dalam kamar mandi dan menyeret Jin keluar dari tempat sakral itu.
Setelah selesai mandi, Levy mengangkat gaun yang dibawakan oleh Keira, gaun yang simpel dan tidak ribet. Walau begitu, Levy tetap kesusahan memakainya.
"Bantu aku, Rir-" ucapan Levy terpotong saat menyadari bahwa Riri telah tiada.
Bukan hanya tentang Riri, Levy juga mengingat tentang mimpinya yang entah hanya mimpi atau kenyataan.
Flashback
Di suatu tempat yang dipenuhi oleh bunga dengan berbagai macam bentuk dan warna, juga dihiasi oleh kupu-kupu cantik yang menari di udara, nampak seorang wanita berdiri diantara ribuan bunga itu. Wanita itu melihat kesana-kemari dengan wajah kebingungan. Ia mulai melangkahkan kakinya, mencari orang lain.
Cukup lama ia berjalan, akhirnya ia melihat siluet dua wanita lain di depan sana. Langkah kakinya semakin cepat membawanya menghampiri kedua wanita itu. Kedua wanita itu berbalik, menatapnya dengan senyum terpancar dari wajah mereka.
"Levyanna sayang, kemarilah!!!" Seru wanita berambut silver.
Levy, wanita itu langsung menghentikan langkahnya, ia menatap wanita dihadapannya bingung.
Wanita yang satunya malah tertawa, "Kau menakuti anakku, Irina," ucapnya.
"Kaylia, anakmu sangat mirip denganmu," ucap wanita berambut silver.
Anak? Hah? Siapa? Batin Levy.
Levy meneliti wajah wanita berambut biru gelap yang dipanggil Kaylia itu, kening Levy berkerut, samar-samar ia seperti pernah melihat wajah Kaylia.
"Dimana aku pernah melihat wajahnya, ya?" Gumam Levy.
__ADS_1
"Pftt ... dia sangat lucu," wanita yang dipanggil Irina menarik Levy kedalam pelukannya, ia menggosokkan pipinya di kepala Levy.
"Apa kalian mengenalku?" Levy menunjuk dirinya sendiri.
"Apa kau tidak mengenal kami?" Tanya balik Irina.
"Tidak," jawab Levy sembari menggelengkan kepalanya, seberapa keras pun Levy mencoba untuk mengingat, ia tetap tidak tahu siapakah kedua wanita itu.
Kedua wanita itu hanya tersenyum tipis, masing-masing dari mereka menggenggam satu tangan Levy, membawanya ke tempat yang jauh lebih indah lagi. Sesampainya di sana, mereka duduk di rumput dan memandangi Levy sembari terus tersenyum.
"Anu ... Anda berdua terlihat seperti ..., penculik anak," ucap Levy, namun ia mengecilkan suaranya diakhir.
Kedua wanita itu tersentak, "Oh? Sepertinya kami terlalu bahagia bertemu denganmu sampai-sampai kami lupa menjelaskan sesuatu padamu," ucap Irina.
"Menjelaskan apa?"
Kaylia menggenggam tangan Levy, "Choi Jina dan Levyanna adalah orang yang sama," ucapnya sembari menatap Levy.
Levy sangat terkejut dengan penuturan itu, "I-itu ... bagaimana kalian tahu Choi Jina? Siapa kalian?"
"Levyanna sayang, tidakkah kau sadar kalau wajahmu sangat mirip denganku?"
Mata Levy melotot, ia baru sadar, wanita bernama Kaylia itu sangat mirip dengannya, hanya rambut dan warna mata yang membedakan mereka. Begitu pula dengan wanita bernama Irina yang sangat mirip dengan Keira.
"J-jadi ..., maksudnya Anda adalah Ibu kandung Levy?"
Kaylia mengulurkan satu tangannya, mengelus pipi Levy, "Aku adalah Ibu kandungmu, Levyanna sayang."
"Sudah Ibu bilang, kan. Choi Jina dan Levyanna adalah orang yang sama,"
Levy menggeleng-gelengkan kepalanya, "tidak ... tidak mungkin, bagaimana bisa kami adalah orang yang sama. Jelas-jelas aku berasal dari dunia lain dan mempunyai keluargaku sendiri."
Wajah Kaylia dan Irina berubah drastis, wajah mereka terlihat sedang kesal.
"Jangan menyebut sampah itu sebagai keluarga, Levyanna," geram Kaylia.
"Mereka adalah sampah paling busuk diantara sampah lainnya," tambah Irina.
Levy masih tidak bisa mencerna ucapan mereka, ia terlihat kebingungan. Tentu saja kedua wanita itu menyadarinya, mereka menghela napas. Sepertinya akan butuh penjelasan panjang agar Levy mengerti.
"Levyanna, dengarlah perkataan Ibu. Kamu adalah anak yang lahir dari rahim wanita bernama Kaylia Eclat. Tentang kamu dari dunia lain itu memang benar, tapi bukan berarti kamu berasal dari sana."
"Apa maksudnya lagi itu?"
"Demi menyelamatkanmu, Dia membawamu kesana. Aku dan Irina terkena sihir kutukan yang sama denganmu, kamu akan terluka jika berada di dunia ini."
"Sihir kutukan? Aku masih tidak mengerti. Apa Keira juga mengalami hal yang sama sepertiku? Tidak, sepertinya tidak. Sejak aku berada di sini, dia tidak memiliki ingatan lain, seperti anak yang baru lahir. Lalu, bagaimana dengan umurku di dunia Choi Jina?"
"Kami akan menjelaskan pelan-pelan, jadi tenanglah dulu," ucap Irina.
__ADS_1
Levy mengatur napasnya yang tadinya tidak terkontrol, lalu menganggukkan kepalanya pertanda ia sudah tenang.
"Dia yang membawamu ke dunia lain, kami memanggilnya malaikat. Dia bukanlah Dewa di dunia ini, namun dia mempunyai kekuatan yang sangat besar dan hanya satu tingkat di bawah Dewa. kami bertemu dengannya secara tidak sengaja di sebuah hutan, saat itu, Irina sedang mengandung Keira, dan dia mengajakku jalan-jalan."
"Tunggu, tunggu, tunggu!!! Sejak awal, Anda berdua memiliki hubungan yang baik? Bagaimana bisa?" Kaylia dan Irina terkekeh mendengar pertanyaan Levy.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Levyanna, tapi kedua Ibumu ini akrab sejak awal. Tidak ada yang namanya rasa iri diantara kami, walaupun memiliki suami yang sama."
"Ah, iya juga. Lagipula, di animasi itu tidak diceritakan kalau kedua istri Raja Ishid saling membenci, eh? Tunggu dulu, bagaimana animasi yang aku tonton itu bisa ada?"
"Animasi? Ah, Ibu tahu! Itu pasti manusia yang ada di dalam kotak kecil, kan?" Seru Irina.
"Kotak kecil? Ah, maksudnya tv," gumam Levy.
"Itu pasti ulahnya, entah apa tujuannya membuat sesuatu seperti itu. Dia memang agak aneh," ucap Irina.
"Baiklah, kita lanjut lagi. Kami yang sedang berjalan-jalan di hutan, tidak sengaja melihat kucing putih yang terluka. Kebetulan, Irina tahu sihir penyembuhan, dia pun menyembuhkannya. Ibu hanya bisa menyalurkan Mana padanya,"
Irina menaruh satu tangannya di pipi, "Siapa yang sangka kalau kucing malang itu ternyata adalah malaikat," ucapnya.
"Malaikat itu adalah kucing?" Tanya Levy.
"Tidak, dia bisa mengubah wujudnya kapanpun dia mau," jawab Kaylia.
"Lalu, apa yang terjadi? Kenapa malaikat itu bisa terluka? Bukankah dia sangat kuat?"
"Waktu itu dia bertengkar dengan Dewa dan turun ke dunia manusia, sayangnya dia belum bisa beradaptasi dengan lingkungan manusia. Kekuatannya seakan terkuras dari tubuhnya, dia pun mengecilkan tubuhnya agar kekuatan yang dipakainya tidak terlalu besar. Berhari-hari dia tidak makan dan minum, hingga akhirnya tersesat di hutan itu. Untung saja kami menemukannya,"
"Itu benar, untung saja kami bertemu dengannya. Kalau tidak, dia tidak akan selamat begitu pula dengan kedua putri kami," tambah Irina.
"Memangnya kami kenapa?"
"Kami berdua terkena sihir kutukan sejak menikah dengan ayahmu. Katanya, yang mencelakai kami adalah Luhel Orvel, Marchioness yang tinggal di wilayah timur. Sebelum menikah dengan Marquess Orvel, dia sangat mendambakan ayahmu yang berakhir dengan obsesi mengerikan. Yah ... bisa dikatakan dialah yang membuat kalian kehilangan kedua Ibu kalian," Kaylia dan Irina terlihat murung.
"Kami bukanlah Ibu yang baik, kami bahkan tidak bisa mendengar suara tangis pertama kalian," tambah Irina.
"Setidaknya, kalian selalu mengawasi kami, kan?" Levy mencoba menghibur kedua Ibu yang murung itu.
"Tentu saja! Kami selalu mengawasi kalian dari sini, tapi ... kami tidak bisa menolong kalian. Terutama kamu, Levyanna sayang. Kamu tinggal bersama sampah, aku memang bukan Ibu kandungmu, tapi melihat mereka yang memperlakukan mu seperti barang itu membuatku ingin membunuh mereka. Kaylia bahkan mengeluarkan kata makian yang tidak pernah kudengar selama beberapa tahun ini, wajahnya seakan ingin menghancurkan dunia saat melihatmu tersiksa."
"Kenapa hanya aku yang dibawa ke neraka itu?" Tanya Levy yang kembali mengingat masa kelamnya.
"Kami bukan pilih kasih, Levyanna. Malaikat itu sudah menolong Keira dengan kekuatan penuhnya, tapi setahun kemudian, kamu juga lahir, dia tidak punya pilihan lain selain menjauhkan mu dari dunia ini." Kaylia memeluk Levy sangat erat, ia tidak sanggup bila melihat putri kecilnya bersedih.
"Aku punya pertanyaan yang sangat penting, apa Ibu bisa menjawabnya?"
"Tentu saja!!" Seru Kaylia dan Irina.
"Kenapa Ibu baru muncul sekarang? Aku tersiksa begitu lama, aku hampir merasakan semua yang namanya rasa sakit. Kenapa saat aku pertama kali merasakan kematian, Ibu tidak datang? Saat aku hilang ingatan? Atau, saat aku harus melawan ayah dan teman-temanku, kenapa baru sekarang?!!" Levy menangis sejadi-jadinya, ia sampai meremas kuat kedua tangannya.
__ADS_1
TBC