
6 tahun kemudian
Kini Levy telah ber-umur 11 tahun, dan Keira 13 tahun. Yang artinya hidup Levy tersisa 1 tahun lagi. Ada satu hal yang Levy terlambat ketahui, yaitu dirinya dan Keira lahir di tanggal dan bulan yang sama. Saat, umurnya akan menginjak 6 tahun, Sang Raja memberitahunya.
"Benarkah?" Kaget Levy saat mengetahui hal itu.
"Waah ... kita memang saudara, Levy," girang Keira.
"Pesta seperti apa yang kalian inginkan?" Tanya Raja Ishid.
Levy dan Keira berpikir sejenak, "aku ingin pesta biasa saja, tanpa mengundang orang lain. Hanya orang dari istana saja," ujar Keira.
"Aku juga," sahut Levy.
Sang Raja menatap Levy, "keberadaan mu belum di ketahui oleh rakyat, pesta itu akan menjadi batu loncatan bagimu agar di kenal oleh seluruh kerajaan." Ucap Raja Ishid.
"Ah, iya. Ayah benar, Levy."
"Tidak perlu, Yang Mulia."
Sang Raja menatap Levy dengan penuh tanya, hingga membuat keningnya berkerut.
"Baiklah, jika itu yang kau mau. Lalu, kalian ingin hadiah apa?"
"Aku ingin selalu bersama Ayah dan Levy," seru Keira, sambil mengangkat tangannya.
"Aku ingin hidup," sahut Levy membuat keheningan yang teramat hening.
"Bukankah kau sudah hidup, Levy? Mengapa, kau mengatakan hal itu?" Heran Keira.
"Aku ingin hidup hingga melewati umur 12 tahun,"
"Kau akan hidup lama, Levyanna. Tidak ada yang akan melukaimu." Ucap Raja Ishid.
"Ada, orang itu akan membunuhku karena tuduhan tidak mendasar," sanggah Levy, sambil menatap Sang Raja.
"Jika memang ada yang melukai kalian, sejauh apapun tempatnya bersembunyi, aku akan menghampiri-nya."
"Terkadang, orang terdekatlah yang lebih berbahaya, karena orang yang kita percaya mengetahui semua kelemahan dan akan dengan mudah mengkhianati kita," sahut Levy sambil menatap langit nan jauh disana.
Sekiranya seperti itulah percakapan mereka yang berakhir dengan banyak tanya di kepala Sang Raja dan Keira.
"Levy!!!" Teriak Keira dari kejauhan, sambil berlari menuju tempat orang yang di panggilnya.
"Hat ...." baru saja Levy ingin memberitahu Keira agar berhati-hati, Keira sudah tersandung oleh batu dan terjatuh hingga mencium tanah tercinta.
Levy menutup buka yang tengah di bacanya tadi, lalu segera menghampiri Keira untuk membantunya.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil, Keira," Levy segera menepuk-nepuk gaun Keira yang terlihat kotor.
Keira hanya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sambil tertawa, "batu itu yang membuatku terjatuh. Mengapa, dia harus berada di situ?"
"Kemarin, kau menyalahkan meja dan pohon. Sekarang, batu. Lalu, besok apa lagi? Ah, mungkin, nanti kau akan menyalahkan ku."
"Tentu saja tidak akan ku lakukan, Levy. Kau adalah saudariku yang sangat ku sayang." Keira memeluk Levy dengan erat.
"Ah, kau akan membunuhku, Keira."
Keira segera melepaskan pelukan mautnya, " maaf," ucapnya sambil tersenyum.
Levy menarik tangan Keira menuju tempatnya tadi, "ada apa mencariku? Sampai kau berlari seperti tadi." Tanya Levy.
"Bibi Ellia akan berkunjung ke sini, Levy. Ah, Bibi Ellia adalah adik dari ibuku. Aku sangat senang," girang Keira, tapi tidak dengan Levy yang ketakutan mendengar kedatangan mautnya itu.
Tubuh Levy gemetar dan mengeluarkan keringat dingin.
Tidak, jangan takut, Choi Jina. Mungkin saja, kalau kau mati disini, kau akan kembali ke dunia asalmu. Prosesnya tidak akan lama, saat pisau besar itu jatuh, maka ... maka .... Batin Levy, ia tak sanggup membayangkannya.
Levy bukan tidak pernah memikirkan cara itu, tapi tetap saja, siapa yang tidak akan takut, jika harus menghilangkan nyawanya hanya untuk sesuatu yang belum pasti.
Kepala Levy di penuhi oleh gambaran-gambaran saat kematian Levyanna. Darah yang mengucur deras dari leher yang sudah terpisah dengan kepala, membuatnya semakin ketakutan. Di lubuk hatinya, ia juga tidak ingin mengubah alur cerita animasi ini, tapi dari awal alurnya memang sudah sangat berubah. Mulai dari pertemuannya dengan Sang Raja, sampai dengan keberadaan Asgaf dan Kyllin.
"Levy, apa kau tidak senang? Mengapa, kau gemetaran?" Tanya Keira murung.
Levy tidak mempunyai keluarga selain aku dan Ayah, pasti dia sedih. Batin Keira.
Keira merasa bersalah pada Levy.
"Ah ... aku sangat senang, hanya saja aku takut kalau Bibi Ellia tidak suka padaku," jawab Levy tertawa canggung.
"Bibi Ellia pasti akan menyukaimu dan akan menyayangimu juga, kau, kan saudariku,"
"Kapan dia akan datang?"
"Kemungkinan dia akan datang di pesta ulang tahun kita,"
"Aah ... ternyata masih lama, ya."
Aku masih sempat bernapas. Batin Levy.
__ADS_1
"Levy!"
"Kyaaa ...." teriak Levy dan Keira akibat kemunculan suatu makhluk yang tiba-tiba.
"Diamlah, ini aku, Asgaf."
"Asgaf ...." panggil Levy lembut tak lupa dengan senyum manis yang menghias di wajahnya.
Melihat itu, Asgaf langsung merasa merinding. Benar saja, sedetik setelah memanggil Asgaf, wajah Levy terlihat sangat menakutkan, di tambah dengan aura hitam dari Keira yang tak kalah menakutkannya dari Levy.
"Yoo ... Keira, aku datang," seru Kyllin.
Baru saja datang, Kyllin sudah merasa tidak nyaman dengan suasana ini.
Sepertinya, aku datang di waktu yang tidak tepat. Batin Kyllin.
"Hufftt ...." untung saja Levy dan Keira memilih untuk sabar.
"Ada apa?" Tanya Levy.
"Sudah waktunya untuk latihan," jawab Asgaf.
"Ah, iya juga. Baiklah, ayo kita ke ruang latihan."
Mereka semua pun berpindah tempat, ke ruang latihan. Latihan yang mereka lakukan adalah mengendalikan sihir, yah itu untuk Keira. Sedangkan Levy, dia masih berusaha untuk mengetahui jenis sihirnya.
Sudah bertahun-tahun lamanya, tapi Levy masih belum bisa mnegeluarkan sihirnya. Selain latihan tentang sihir, mereka juga berlatih menggunakan Katana. Walaupun hal itu sudah di larang oleh Sang Raja, tapi mereka tetap latihan secara diam-diam.
Levy dan Keira sudah siap dengan pakaian latihan mereka. Bahkan, Asgaf dan Kyllin berubah ke ukuran semula mereka. Untung saja ruang latihannya sangat luas.
Decitan Katana yang saling ber-adu tajam memenuhi seisi ruangan. Levy dan Keira saling berhadapan, tatapan mereka sangat fokus, tapi tanpa adanya niat membunuh. Tubuh mereka begitu lincah saat menyerang dan menghindar, seakan menggunakan sihir.
Keringat bercucuran, deru napas yang tak beraturan, dan kekuatan yang semakin meningkat. Asgaf dan Kyllin, takjub pada peningkatan mereka. Mungkin, karena di dalam tubuh mereka mengalir darah dari Raja-Raja terdahulu. Pertarungan Levy dan Keira imbang, tidak ada yang kalah maupun yang menang.
"Waktunya istirahat," sahut Asgaf, menghentikan pergerakan Levy dan Keira.
Prangg
Mereka langsung saja melepas Katana yang tadi di gunakan, lalu merebahkan tubuh di lantai berdampingan.
"Kau semakin kuat, Keira," ujar Levy.
"Begitu juga denganmu, Levy," sahut Keira.
"Apa kau merasakan sesuatu saat latihan tadi, Levy?" Tanya Asgaf kembali ke bentuk Chibi.
Asgaf dan Kyllin saling pandang dengan tatapan heran. Terlalu banyak rahasia yang ingin mereka ungkap, tapi tidak bisa. Bahkan, mereka sendiri sedang merahasiakan sesuatu.
"Memangnya dia harus merasakan apa?" Tanya Keira.
"Sihirnya," jawab Asgaf.
"Sudah ku bilang, kan? Aku tidak peduli, jika aku terlahir Netral. Yang paling penting untukku hanyalah, hidup sampai umurku melewati 12 tahun." Ucap Levy dengan mata tertutup.
"Mengapa, kau selalu mengatakan itu, Levy?" Tanya Keira, di angguki oleh Asgaf dan Kyllin.
"Karena, aku akan mati," ucap Levy dengan begitu santainya.
Berbeda dengan tiga makhluk yang mendengar ucapannya itu, mereka sangat penasaran, apa arti dari perkataan Levy.
"Ayah akan selalu melindungi kita, Levy," ujar Keira.
"Bukan kita, Keira. Tapi, hanya kau,"
"Itu tidak benar, Levy!" Seru Keira bangun dari tidurnya. Ia langsung duduk menghadap Levy.
"Ayah menyayangi kita, Sangat sayang. Dan, kalaupun kau mengatakan Ayah tidak sayang padamu, maka aku yang akan menyayangimu hingga tidak ada satupun orang yang bisa melukaimu!" Keira terlihat sangat bersunggguh-sungguh dan tulus mengatakannya.
Levy hanya tersenyum kecil, "terimakasih, tapi jangan menyayangiku. Karena, rasa sayang itu akan membuatku terluka." Levy ikut duduk berhadapan dengan Keira, ia menepuk pelan pundak Keira.
"Bagaimana bisa rasa sayang membuatmu terluka?" Tanya Kyllin.
"Kau akan merasa bahagia, Levy," sahut Asgaf.
"Ya, aku bahagia. Tapi, rasa sayang itu akan menjadi benci nantinya. Bukankah akan lebih menyakitkan jika berawal dari sayang, dan berakhir pada kebencian?"
"Be-benci? Mengapa, aku membencimu? Itu tidak mungkin, Levy. Selamanya aku akan sayang padamu."
"Jangan mengatakan sesuatu yang menyakitkan, bocah." Kesal Kyllin.
"Itu sudah takdir. Dan, takdir di antara kita akan berakhir seperti itu ...." Levy mengambil Katana miliknya dan Keira.
"Hmm baiklah, mari kita latihan lagi." Ajak Levy.
"Jangan lari dari topik ini, Levy. Setiap membicarakan hidupmu, kau selalu mengatakan hal aneh. Dan, pada akhirnya kau tidak memberi penjelasan apapun ...." Keira ikut berdiri, lalu mengambil kedua Katana dari Levy dan membuangnya jauh.
"Katakan yang sebenarnya, Levy. Sikapmu mulai berubah sejak terkena panah itu." Keira memegang kedua tangan Levy.
"Sebelum terkena panah, kau berbicara empat mata dengan Asgaf, kan? Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Kyllin.
__ADS_1
"Aku hanya menanyakan siapa sebenarnya Riri, dan pekerjaan apa yang di lakukannya sebelum menjadi Maid." Jelas Asgaf.
"Apa itu benar, Levy?"
"Iya, dan aku bisa menjawabnya, karena aku tidak tahu. Lalu, raut wajah Asgaf menjadi aneh," jawab Levy.
"Wajahnya memang seperti itu," celetuk Kyllin, membuat Asgaf menatapnya tajam.
"Levy, jawab pertanyaanku juga," sahut Keira.
"Sepertinya, aku akan mati. Kemungkinan hal itu terjadi sangat besar. Dan, dirimu terlibat, Keira."
Mereka terkejut, sangat terkejut mendengar penuturan Levy. Tidak mungkin Keira akan melukai Levy, pikir Asgaf dan Kyllin.
"Ta-tapi, bagaimana bisa? Ah, tidak. Bagaimana kau bisa tahu hal itu? Apa kau bisa melihat masa depan?"
"Aku tidak bisa melihat masa depan, keira. Hanya saja, takdirku sudah tertulis seperti itu. Hidupku layaknya daun yang terbang di hempaskan sang angin, daun tak bisa menentukan kemana ia akan pergi, angin-lah yang menentukan kemana ia harus pergi."
"Kalau begitu, aku akan mengubah takdirmu. Mulai hari ini, aku, Keira De Severus Claude, akan berjanji untuk selalu menyayangi dan melindungi saudariku, Levyanna De Severus Claude. Jika ada yang melukainya, aku akan membalas orang itu." Dengan lantang dan tegas, Keira mengucapkan kata itu. Tak lupa dengan tatapannya yang mencerminkan Sang Raja.
"Jangan berjanji, Keira. Kau tahu, kan? Tidak menetapi janji adalah tindakan yang pengecut dan ia akan di cap sebagai pembohong," peringat Levy.
"Lalu, seseorang yang selalu menyimpan rahasia, disebut apa, Tuan Putri?" Sahut seseorang dari arah pintu masuk.
Mereka menoleh, melihat pemilik suara itu.
Levy menatap orang itu datar, "apa, di kediaman Duke Xavier tidak mengajarkan sopan santun, Tuan Irwin?" Sindir Levy pada pria berperawakan tinggi itu.
Irwin, pria itu malah tersenyum mendengarnya, lalu ia berjalan mendekat ke arah Levy dan Keira.
"Ah, maaf mengganggu waktu latihan kalian, Tuan Putri." Irwin menunduk hormat.
"Hanya mengganggu? Bukankah kau juga menguping, Tuan Irwin? Itu tindakan yang tidak sopan. Iya, kan, Levy?"
"Sangat tidak sopan, Keira."
Asgaf dan Kyllin hanya menatap malas ketiga manusia itu. Mereka lebih memilih untuk duduk dan hanya memandangi mereka.
"Saya hanya tidak sengaja mendengar percakapan kalian, Tuan Putri. Mohon ampuni saya, jangan memberi saya hukuman mati." Irwin tersenyum mengejek, membuat Levy dan Keira mengepalkan tangan.
"Berhentilah bertengkar. Sebaiknya jangan bertemu, jika kalian hanya ingin beradu mulut," sahut Asgaf menengahi mereka.
"Bukankah saat kecil, mereka lumayan akrab? Bahkan, mereka pernah tidur bersama." Heran Kyllin sambil memandang Asgaf.
"Kau benar," jawab Asgaf.
"Lumayan akrab? Tolong jangan bercanda, Tuan Kyllin. Saya terpaksa mengenal mereka, karena Ayah saya berpikir kalau mereka berdua butuh teman. Tidak kah kau ingat? Saat pertemuan pertama, aku sampai pingsan selama berhari-hari, karena ada Tuan Putri yang tidak bisa mengendalikan sihirnya." Irwin melirik sekilas pada Keira.
Keira terkekeh, "Putra Duke yang berumur 8 tahun, pingsan karena terkena aura sihir dari seorang Tuan Putri berumur 7 tahun. Sangat lucu, bagaimana kalau publik tahu, yah?"
"Putri dari Raja yang di kagumi belum bisa melihat sihirnya. Mau taruh dimana muka Raja, jika publik mengetahuinya?"
Levy yang sedang diam itu, merasa jika dirinya lah yang sedang di sindir oleh Irwin.
Bagaimana bisa pemeran utama pria-nya seperti ini? Dia sangat menyebalkan. Batin Levy.
"Aku tidak ingin meladenimu, Tuan Irwin ...." ucap Levy, sambil berjalan kearah Asgaf.
"Kembali lah ke bentuk semula mu, Asgaf," lanjut Levy.
Sebenarnya Asgaf heran dengan penuturan Levy, tapi dia tetap saja mengikutinya.
Begitu Asgaf kembali ke bentuk nya yang sangat besar, Levy langsung saja menaiki tubuh Asgaf. Ia merebahkan tubuhnya, seakan sedang berada di atas kasur.
"Pftt ...." Kyllin hampir saja meledakkan gelak tawanya, kala melihat tindakan Levy.
"Tidurlah di kamarmu, bocah!" Kesal Asgaf, lalu berdiri dari duduknya.
"Diamlah, Asgaf. Bulumu sangat lembut dan harum ...." Levy menggerakkan tubuhnya kesana kemari mencari posisi nyaman, "biarkan seperti ini dulu, aku sangat lelah. Bulu milik Kyllin tak selembut ini,"
"Levy, benar," sahut Keira.
Mendengar dirinya di puji, Asgaf tersenyum bangga lalu melihat Kyllin dengan tatapan remehnya.
"Tentu saja. Aku merawat tubuh ku, tidak seperti anjing yang kotor itu,"
Walaupun Asgaf tidak menyebutkan bahwa anjing yang ia maksud adalah Kyllin, tapi Kyllin tahu, dirinya lah yang sedang di sindir. Susah payah ia tahan amarahnya, agar Levy tidak terganggu.
Awas saja kau, Asgaf. Batin Kyllin.
Keira melihat Levy sangat nyaman, membuat dirinya penasaran dan tanpa sadar, kakinya membawanya naik ke atas tubuh Asgaf. Begitu pun dengan Irwin, yang sudah menempatkan dirinya dalam kenyamanan.
TBC
Haii~~
Apa kabar? Semoga baik, yah~~
Grizzy cuma mau bilang jaga jarak dan jaga kesehatan~~
__ADS_1