
"Hahahaha!! Jin, tidak ku sangka, kau akan sejauh itu." Elzel sudah menceritakan pada Levy semua perbuatan Jin.
Saat ini, mereka masih di Guild, duduk dan berbincang sejenak hingga lupa waktu.
Jin terlihat murung, "Ya mau bagaimana lagi. Ini sudah ke-tiga kalinya kau meninggalkanku," ucap Jin.
Levy langsung memeluk adiknya itu. Ya, Jin adalah Jinyoung. Saat Levy sudah mengingat semuanya, ia segera menemui Jinyoung, melepas rindu. Namun, ada beberapa hal yang ia sembunyikan dari Jinyoung.
"Kalian terlihat sangat dekat," ujar Elzel tak suka.
"Tentu saja, di dunia ini, hanya aku yang paling dekat dengannya. Hanya aku yang disayangi nya, hanya aku." Jin tersenyum menang pada Elzel dan Magma.
Mereka terlihat memperebutkan Levy. Lebih tepatnya, kasih sayang Levy. Terlebih, sikap Jin sangat jauh beda dengan saat pertama kali mereka bertemu.
"Apa hubunganmu dengannya, Levy?" Tanya Magma.
"Hubungan yang kalian tidak akan mengerti, jadi diam saja kau!" Bukannya Levy, malah Jin yang menjawab.
"Apa-apaan kau! Harusnya kau yang diam, Magma tidak bertanya padamu tuh," timpal Elzel.
Dan terjadilah adu mulut diantara mereka bertiga, sedangkan Levy, dia bersikap acuh tak acuh. Kepalanya penuh dengan masalah-masalah, sekilas ia melirik Jin, lalu menghela napas berat.
Brakkk
Levy menggebrak meja, "Ayo kita pergi, jangan membuat mereka menunggu lama!" Ajak Levy.
"Ayo!!" Balas ke-tiga manusia yang tadinya beradu mulut.
Mereka pun mulai menyiapkan barang bawaan, tidak terlalu banyak, hanya makanan yang mereka bawa. Untuk keperluan lainnya mereka akan pikirkan saat diperjalanan nantinya.
Kata Master Kilua, jejak terakhir Zero ada di kota Oliv. Kota yang penuh dengan penyihir gelap. Tempat yang biasa dijadikan sebagai perdagangan manusia dan hal-hal gila lainnya. Dewan sihir pun kewalahan menangani kota tersebut. Bukti kejahatan mereka selalu hilang tanpa jejak. Mereka perlu
Levy beserta temannya menaiki kereta kuda, walaupun tidak akan langsung sampai ke kota yang mereka tuju, tapi itu bukan masalah. Mungkin saja, diperjalanan akan ada hiburan. Mereka bukan lagi orang yang sama dengan dua tahun lalu, kekuatan mereka telah bertambah.
Siang berganti malam, kereta kuda berhenti tepat di depan hutan. Mereka harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.
"Hutan ini sangat gelap," ucap Elzel.
Jin menertawainya, "Apa kau takut, bocah kecil?"
Plakk
Elzel memukulnya, "Diam kau!"
Levy menjentikkan jarinya, warna rambut dan matanya kini berubah. Ia lalu mengulurkan tangannya, dari telapak tangannya muncul sebuah bola kecil yang bersinar terang, layaknya matahari mini.
Mereka langsung terkagum-kagum melihat Levy, ia baru saja menggunakan sihir.
__ADS_1
"Bukannya kau pengguna Magi?" Tanya Magma.
"Sihir dan Magi, aku bisa keduanya," balas Levy lalu mendahului mereka memasuki hutan.
"Wah, bagaimana bisa?" Kagum Elzel.
Mempunyai Sihir dan Magi merupakan hal yang luar biasa dan sangat jarang ditemukan orang yang seperti itu. Kemungkinannya hanya 1:10.000, hal itu masih menjadi misteri.
Hutan yang kelam dan sepi, membuat siapa saja merinding. Mereka masih melanjutkan langkahnya, hanya sihir milik Levy yang menerangi jalan. Bulan ditutupi oleh awan sepenuhnya.
"Kalian masih lemah?" Tanya Levy tiba-tiba.
"Tentu saja, tidak. Kami berlatih setiap hari," balas Magma.
"Hmm ... Kau pasti akan kaget dengan perkembangan kami," tambah Elzel.
"Bagaimana denganmu, Jin? Soal beradaptasi, kau pasti bisa. Tapi kekuatanmu, apa kau punya?"
Jin merasa kesal dengan pertanyaan Levy, "aku baru saja membereskan hama, kau pasti tidak sadar, kan?"
Levy meliriknya, "hee ... Jadi kau penyihir pasir. Sangat cocok bila kau dan Elzel membuat pertanian," Levy tertawa dengan keras membayangkan sesuatu yang sangat aneh.
Jin dan Elzel saling pandang, tatapan mereka hanya menyiratkan rasa kesal.
"Kerja bagus, Elzel, Magma," ujar Levy.
Ia tahu, sepanjang perjalanan banyak hama tidak berguna yang mengincar mereka. Dan mereka saling melindungi tanpa mengatakan apa-apa. Mereka bahkan hanya berjalan, tapi sudah menumbangkan banyak musuh.
Tiba-tiba, Levy menghentikan langkahnya. Ia memberi isyarat pada temannya untuk menunduk, tangan kanannya terulur untuk memegang katana yang tergantung indah di pinggangnya.
Ziiiinng
Pohon disekitar mereka langsung tumbang, mata mereka membelalak. Mereka bahkan tidak melihat Levy menarik katana-nya.
Jauh di depan sana, terlihat seorang wanita berdiri. Aura iblis terpancar darinya, ia juga memiliki tanduk. Senyumnya terlihat sangat mengerikan.
"Bersiaplah," kata Levy.
Mereka mulai memasang kuda-kuda, bersiap untuk bertarung. Namun, wanita itu menghilang, sedetik kemudian, Levy langsung terlempar sangat jauh. Wanita itu muncul dihadapan Elzel.
Elzel langsung memasang penghalang air, wanita iblis itu menghancurkannya. Elzel terlempar jauh akibat serangan iblis itu. Jin menyerang iblis itu bertubi-tubi, namun wanita itu kembali menghilang dan menyerang Jin.
"Cerberus form!" Magma bersatu dengan makhluk kontraknya, wujudnya berubah, ia memiliki telinga dan ekor anjing.
"Membosankan," kata Iblis itu, lalu membuat panah dari sihirnya dan menembakkannya tepat diperut Magma.
Begitu Magma terduduk, wanita itu tertawa sangat keras, ia memandang remeh lawannya.
__ADS_1
"Hahaha ... Manusia lemah, kalian bahkan tidak bisa menyentuh tubuhku. Matilah!!" Teriak wanita iblis itu diselingi dengan tawanya.
"Kau yakin?" Kata Magma dengan senyuman sombongnya.
"Hah?" Wanita iblis itu tak menyadari kalau dirinya terkena jebakan. Dirinya kini berada dalam kurungan air milik Elzel, disekelilingnya penuh dengan anak panah yang siap menusuknya, tentu saja itu sihir milik Jin.
Magma menunjuk perut wanita iblis itu, betapa kagetnya wanita itu saat melihat perutnya yang terluka akibat cakaran.
"Skakmat," ucap Levy yang berada di udara berkat bantuan Pynix yang mencengkram pundaknya.
***
"Levy! Hei, Levy!" Panggil Jin dengan kesal.
Namun, si pemilik nama tersebut masih bengong, tidak menghiraukan panggilan dari Jin.
"Choi Jina!!" Teriak Jin, usahanya itu berhasil, Levy langsung menoleh kearah suara.
"Ada apa?" Tanya Levy.
"Choi Jina? Siapa dia?" Tanya Elzel dan Magma serempak.
"Aku," balas Levy santai.
Jin berjalan kearah Levy yang sedang duduk di atas pohon tumbang, "biar aku yang berjaga, kau tidur saja."
"Jinyoung, bagaimana perasaanmu kalau kita tidak bisa kembali?" Tanya Levy tiba-tiba, suaranya terdengar sendu dan pelan.
"Entahlah, asal bersama kakak, aku tidak peduli kita kembali atau tidak. Dunia apapun itu, jika bersama kakak, aku akan bahagia," balas Jin tersenyum hangat.
"Misalnya, hanya kau yang bisa kembali, apa kau mau?"
Jin mengerutkan keningnya, ia menarik tangan Levy, "Kakak, berjanjilah, kau tidak akan meninggalkan ku sendiri. Apapun yang terjadi, kembali atau tidak, kau akan selalu bersamaku!"
"Hei! Apa yang kalian bicarakan? Terlihat jelas kalau Levy lebih muda darimu, mengapa kau memanggilnya kakak?" Tanya Magma.
Jin berbalik kearah Magma dengan wajah yang super menyebalkan, "Bukan urusanmu," ucapnya.
Tentu saja hal itu langsung memicu amarah Magma, "Apa kau ingin berkelahi, hah?!" Kata Magma.
Jin langsung berdiri, "jangan menangis kalau kau kalah," balas Jin tersenyum sombong.
"Diamlah! Aku lelah!" Teriak Elzel yang sedang bersiap untuk tidur.
Jin dan Magma pun mengurungkan niat mereka untuk beradu jotos. Jin menuntun Levy agar tidur dipangkunya, selagi dia berjaga. Magma menggunakan waktunya untuk meningkatkan ruang Maginya.
Malam semakin larut, Untung saja tidak ada hama yang datang mengganggu. Mungkin, karena bos mereka telah kalah. Jin terlihat memandangi wajah Levy dalam-dalam. Ia merasa ada yang janggal dengan perkataan kakaknya tadi.
__ADS_1
Ia tahu kakaknya akan melakukan sesuatu untuk dirinya, semua hanya untuk adiknya, walaupun nyawa taruhannya. Ia selalu bertanya-tanya, apa yang terjadi pada kakaknya saat di istana, mengapa ia menghilang, dan bagaimana ia bisa kembali lagi. Yang lebih penting adalah, siapa yang membawa mereka ke dunia ini.
TBC