
"Kapan dia akan bangun?" tanya Keira pada Levy, kini mereka sedang menunggu Irwin siuman. 4 hari lamanya Irwin tidak sadarkan diri. Karena kejadian yang menimpanya di akibatkan oleh sihir Keira, maka sang Raja membiarkan Irwin dirawat di istana utama oleh Dokter istana.
"Aku juga tidak tahu." jawab Levy, mereka masih setia menunggu Irwin siuman.
"Apa yang kalian lakukan?" Levy dan Keira yang semula terus menatap Irwin, kini beralih pada makhluk chibi di belakang mereka.
"Sttt ... diamlah Kyllin, suara mu akan mengganggu istirahatnya." kata Levy sambil menaruh jari telunjuknya di bibir.
Kyllin terlihat kesal dan hanya mendengus kasar.
"Dia baik-baik saja. Kalian terlalu khawatir padanya." ucap Asgaf.
"Tapi, dia terluka karena aku," lirih Keira.
"Dia tidak terluka, bodoh. Dia hanya syok ...." kata Kyllin lalu menatap Keira dan Levy penuh selidik.
"Apa kalian menyukainya? Ah, tidak. Kalau Keira wajar saja, karena dia merasa bersalah. Tapi kau, Levy. Apa kau menyukainya?" tandas Kyllin.
"Tentu saja tidak." balas Levy
"Lalu kenapa kau sangat khawatir?"
"Karena aku baik hati dan tidak sombong."
Tentu saja, karena dia adalah orang penting dalam film ini. Bagaimana kalau dia mati, mungkin aku juga ikut mati. Batin Levy
Yah begitulah manusia, lain di mulut lain juga di hati.
"Enggh ...." mendengar suara itu, kami langsung berbalik menatap pemilik suara itu.
"Apa dia sudah bangun?" tanya Keira berbisik.
"Sepertinya sudah." jawab Levy
"Ah, matanya terbuka." kata Kyllin
"Mengapa, kalian bisik-bisik tetangga?" tanya Asgaf.
"Kau juga berbisik." kata mereka bertiga.
Karena mendengar sesuatu, Irwin pun menoleh mencari asal suara tersebut.
"Siapa ...." begitu melihat sosok Levy dan Keira, Irwin langsung berusaha bangun untuk memberi salam.
"Tidurlah lagi, tak perlu memberi salam. Kau sedang sakit." ucap Keira.
"Maaf, Tuan Putri."
"Seharusnya aku yang meminta maaf, hufft ... maaf, karena aku, kau jadi seperti ini."
Waah ... lihat nuansa pink-pink cinta itu, pemeran utama memang yang terbaik. Batin Levy.
"Tidak, Tuan Putri. Ini kesalahan saya. Saya tidak cukup kuat untuk menolong Tuan Putri." sesal Irwin.
"Jangan seperti itu, ini bukan salahmu." sanggah Keira.
"Cih! Sampai kapan kalian akan saling menyalahkan diri? Sampai malam? Sampai pagi lagi? Atau sampai kalian menikah?" kesal Kyllin.
Kalimat terakhir Kyllin membuat wajah Keira dan Irwin memerah, beda dengan Levy yang berusaha menahan gelak tawanya agar tidak keluar.
Hening. Rasa canggung memenuhi ruangan. Tidak ada percakapan, hanya saling menatap satu sama lain. Mungkin mereka akan saling menatap hingga wajah mereka mirip.
"Akheem ...." dehem Levy berusaha mengusir rasa canggung.
Seketika pandangan tertuju padanya.
Mengapa, menatapku seperti itu? Aku kan hanya tidak ingin kita bertatapan sampai wajah kita mirip. Batin Levy.
"Apa, kau merasakan sakit di bagian tertentu?" tanya Levy pada Irwin.
"Tidak, Tuan Putri."
"Sudah ku bilang, kan? Dia tidak terluka." sahut Kyllin
Irwin langsung menatap Asgaf dan Kyllin penuh arti.
"Apa?" hardik Kyllin.
"Anjing dan kucing yang sangat lucu." ucap Irwin tersenyum.
"Pfttt ...." Levy dan Keira saling pandang, lalu memberi kode agar tidak tertawa.
__ADS_1
"Apa? Sepertinya aku salah dengar." ucap Kyllin, menahan emosinya.
"Tidak, kau mendengarnya dengan baik." kata Asgaf kesal.
"Mereka adalah makhluk suci, kan? Siapa yang memanggil mereka?" tanya Irwin.
Levy dan Keira saling pandang lagi, sedetik kemudian mereka menatap Asgaf dan Kyllin bergantian.
"Kami tidak bisa di panggil oleh siapapun, magi manusia tidak cukup kuat untuk memanggil kami." kata Asgaf.
"Tapi, kalian sangat kecil. Pfft ... Bahkan, aku sudah bisa memanggil makhluk suci yang lebih besar dari kalian." Irwin sedikit tertawa mendengar penuturan Asgaf.
"Sudahlah, jangan berdebat lagi." Ucap Levy menengahi.
"Maaf, Putri."
"Tidak apa-apa."
"Apa, kau sudah bisa berjalan? Mau jalan-jalan di taman?" Tanya Keira.
"Bisa, Putri. Mari kita kesana."
"Levy, ayo."
Mereka berlima pun berjalan menuju taman, tak lupa dengan para ksatria yang mengawal mereka sesuai perintah Raja.
Lelah berjalan-jalan, akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat sambil menikmati cemilan.
"Levy, ada yang ingin ku bicarakan berdua denganmu." Ucap Asgaf yang berada di pundak Levy.
"Baiklah, ayo kita bicara ...." Levy berdiri dari tempatnya.
"Keira, Irwin, aku pamit sebentar. Nikmati waktu kalian." Lanjut Levy.
Beberapa menit kemudian, Levy dan Asgaf kembali. Tapi raut wajah Asgaf terlihat aneh.
'Ada apa?' Tanya Kyllin lewat telepati.
'Bukan apa-apa.' Balas Asgaf.
"Aah, ini sudah sore. Mari kita kembali, Levy, Tuan Irwin." Ucap Keira lalu mulai berdiri dari tempatnya.
"Kau benar, Kei-" ucapan Levy terpotong kala melihat sebuah anak panah mengarah pada Keira.
Jlebb
Anak panah itu tertancap indah di pundak Levy, sedetik kemudian anak panah itu langsung menghilang seperti debu, meninggalkan luka yang dalam di tubuh Levy.
"Levy, bertahanlah." Ucap Keira dengan air mata yang mulai membasahi wajah cantiknya.
"Apa yang kalian lakukan?! Segera panggil dokter istana!" Ucap Irwin pada ksatria yang berada di tempat itu.
Asgaf dan Kyllin mendekati Levy yang terkulai lemas di lantai. Asgaf mencoba menyentuh luka Levy, tapi sayang, baru saja ia menyentuhkan sedikit bulu dari tubuhnya, dari luka Levy muncul lingkaran sihir yang mengeluarkan listrik.
"Apa ini?" kaget Asgaf.
"Mengapa sentuhan dari makhluk suci berakibat seperti kutukan untuknya?" Tanya Kyllin.
"Hei bocah, bawa dia ke kamarnya." Titah Asgaf pada Irwin.
Irwin pun mengangguk dan langsung menggendong tubuh Levy.
"Tenanglah, Keira. Levy adalah anak yang kuat." hibur Kyllin.
"Aku, tahu. Tapi, hikss hikss." tangis Keira.
"Apa, kalian akan terus berdiam di sini? Atau melihat keadaan Levy?" kesal Asgaf.
"Tidak kah kau lihat? Dia sedang bersedih." balas Kyllin.
Seketika tangis Keira semakin keras.
"Mengapa, kalian selalu bertengkar?" Tanya Keira lalu meninggalkan mereka.
Asgaf dan Kyllin hanya bisa menghela napas berat.
***
"Enggh ...."
"Levy, kau sudah bangun? Apa, kau merasakan sakit? Dimana yang sakit? Mau makan?" Baru saja bangun, Levy sudah di hujani dengan pertanyaan dari Keira yang bertubi-tubi.
__ADS_1
"Nona, mengapa, anda selalu berada dalam bahaya?" Tangis Riri yang berada di sebelah Keira.
"Apa, kau tidak apa-apa, Keira?" Tanya Levy membuat Keira menangis.
"Huaaa ... mengapa, kau menanyakan keadaan ku disaat kau sedang terluka? Dasar bodoh." Ucapan Keira sukses membuat Levy terkekeh.
"Kau tertawa?" Suara bariton itu langsung menyita semua perhatian.
Irwin dan Riri langsung menunduk hormat, lalu sedikit menjauh dari Levy.
Levy sendiri sudah tidak tahu alasan apa lagi yang akan keluar dari mulut mungilnya.
"Mengapa, kalian berdua selalu berada dalam bahaya?" Tanya Raja Ishid.
"Apa, itu salah kami?" Tanya Keira dengan polosnya.
"Tentu saja bukan. Kita kan hanya minum teh di taman, kita tidak tahu akan ada serangan seperti itu." Sahut Levy.
"Hufft ... mulai hari ini, kalian akan tinggal bersamaku di istana utama." Bagai tersambar petir, Levy terkejut dengan mata yang membulat sempurna begitupun dengan mulut mungilnya.
"Le-Levy?" Keira melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Levy.
Kepala Levy seperti mengeluarkan asap, lalu kesadarannya pun menghilang.
"LEVY!!" Seru Keira.
****
'Ini dimana?' Tanya Levy, tubuhnya melayang di sebuah ruangan berwarna putih.
Drrrtttt
Seketika ruangan itu tergantikan dengan ruangan lain.
'Ini ... ini rumahku ....' Levy mulai mengedarkan pandangannya ke segala arah.
'Ayah! Ibu! Ini aku, Jina! Jinyoung! Hei aku disini!' Begitu keras usaha Levy agar keluarganya melihat dia, tapi sayang tubuhnya saat ini bagaikan angin.
Levy terduduk pasrah, cairan bening mulai membasahi wajahnya.
'Jangan bertengkar! Lihatlah aku, aku ada disini ....' Levy bangun dan berjalan kearah ayahnya.
'ayah, marahi aku seperti biasanya ....' Ia lalu berganti dan mencoba menyentuh Ibunya.
'ibu, hukum aku sesukamu, tapi tolong jangan abaikan aku seperti ini ....' tangisnya semakin memenuhi ruangan.
'Hei jinyoung, bukankah kau berjanji untuk selalu melindungiku dan menjagaku?!! Jangan abaikan aku.'
Plakk
Ayah menampar jinyoung hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipinya.
'Sebenarnya apa yang kalian perdebatkan? Berhentilah, kumohon ... jinyoung berhentilah berteriak pada ayah.'
Levy tidak kuat melihat perdebatan antar kedua orang tua dan adiknya. Perselisihan mereka menimbulkan retak di hati Levy, terlebih dia tidak tahu, siapa yang salah dan siapa yang benar. Dunia seakan sedang bercanda dengan hidupnya.
Dulu, dia sangat benci di perlakukan kasar oleh kedua orang tuanya, dan meminta agar ia terbebas dari 'neraka' itu. Tapi sekarang, disaat sudah terbebas, mengapa ia harus bersama seorang ayah yang nantinya akan membunuhnya, dan menyaksikan perselisihan keluarga aslinya. Terkadang dunia sebercanda itu.
Untuk kedua kalinya, Levy terduduk lagi di lantai dingin, yang dulunya sangat ia benci. Menutup telinga, dan mengeluarkan semua tangisnya seakan tidak ada hari esok untuk menangis lagi. Tidak, Levy sangat tidak ingin melihat apa yang terjadi di depannya. Tapi, mengapa, semuanya terus saja terjadi?
Seandainya, dia tidak mengajak Jinyoung untuk menonton animasi itu, mungkin sekarang dia akan berada di dunia yang sama dengan adiknya, lalu menghentikan pertengkaran mereka. Tapi, semua itu telah terjadi, Levy hanya bisa berandai-andai dan menyesali semuanya.
'Hentikan, kumohon hentikan semua drama sialan ini. Aku ... aku hanya ingin bahagia bersama keluargaku.' Cicit Levy.
"Tuan Putri, tenanglah."
Levy membuka matanya, di lihatnya seisi ruangan.
"Kamarku." ucap Levy.
"Iya, Tuan Putri. Ini kamar anda. Apa, anda mimpi buruk?"
"Tuan Irwin, mengapa, kau ada disini? Dimana yang lain?" Ya, orang yang berada di depannya adalah Irwin.
"Putri Keira sedang bersama Yang Mulia Raja memilih kamar di istana utama. Pelayan anda, Riri sedang menyiapkan makanan ...." Irwin baru saja sadar, ia sedang memegang tangan Levy. Sedetik kemudian, ia langsung melepasnya dan berdiri dari tempatnya.
"Ma-maaf, Tuan Putri. Saya tidak melakukannya dengan sengaja. Sa-saya masuk kesini karena mendengar suara Tuan Putri." Bungkuknya pada Levy.
"Tidak apa, Terima kasih telah membangunkan ku. Bisakah kau keluar? Aku ingin sendiri." Ucap levy, tak lupa dengan senyum palsunya.
"Baik, Tuan Putri. Kalau begitu, saya permisi."
__ADS_1
TBC
Semoga suka yaa minna~~